Sinar matahari pagi yang kejam menusuk tajam melalui celah tirai yang lupa ditutup Tara semalam. Cahaya itu jatuh tepat di kelopak matanya, memaksanya mengerang pelan dan memalingkan wajah ke bantal. Kepalanya berdenyut menyakitkan, sebuah ritme konstan yang berdetak seirama dengan detak jantungnya. Kombinasi dari kurang tidur berhari-hari, kelelahan emosional, dan segelas penuh double bourbon di perut kosong rupanya bukanlah ide yang brilian untuk memulai hari pertama pelariannya.
Dengan susah payah, Tara memaksakan diri untuk duduk di tepi ranjang. Ia menatap kosong ke arah lantai kayu vilanya. Suara deburan ombak terdengar lebih jelas di siang hari, tak lagi menyeramkan seperti semalam, melainkan membawa ritme alam yang seharusnya menenangkan. Sayangnya, tidak ada satu pun hal di pesisir ini yang terasa menenangkan bagi Tara sejak ia membuka pintu bar The Driftwood dua belas jam yang lalu.
Satu bulan.
Kata-katanya sendiri semalam terngiang kembali di telinganya, menyatu dengan raut wajah Julian yang mengeras akibat amarah dan keterkejutan. Tara mengusap wajahnya dengan kasar. Di Jakarta, ia adalah negosiator ulung. Ia selalu memikirkan tiga langkah ke depan sebelum bertindak. Namun semalam, didorong oleh ego yang terluka dan keputusasaan, ia malah menjatuhkan bom waktu ke pangkuannya sendiri. Berada lima puluh langkah dari pria yang hatinya pernah ia hancurkan sama saja dengan mengurung diri di dalam kandang singa.
Tara menyeret langkahnya menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan. Pantulan dirinya di cermin di atas wastafel membuatnya meringis. Matanya bengkak, sisa eyeliner luntur di sudut mata, dan kulitnya pucat pasi tanpa nyawa. Ia memutar keran air dingin, membasuh wajahnya berkali-kali hingga napasnya sedikit tersengal.
"Kau bisa melewati ini, Tara," bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. Suaranya serak dan pelan. "Kau hanya perlu menghindarinya. Ini desa yang sepi, tapi bukan berarti kalian harus terus bertatap muka. Hindari bar itu, dan semuanya akan baik-baik saja."
Setelah mandi singkat dengan air pancuran yang tekanannya menyedihkan, Tara mengganti pakaian tidurnya dengan sweater kebesaran berbahan rajut tebal warna abu-abu dan celana legging hitam. Ia membutuhkan kopi. Kopi sungguhan yang mengandung kafein murni, bukan bubuk kopi instan yang ia temukan mengeras di dalam toples kaca di dapur vilanya.
Ia meraih dompet dan kunci vilanya, lalu melangkah keluar menuju beranda depan.
Udara pagi di pesisir itu terasa sangat kontras dengan udara malam. Anginnya sejuk dan bersih, membawa aroma garam dan pinus yang menyegarkan paru-paru. Hamparan laut biru gelap membentang tanpa batas di depan matanya, dihiasi buih putih ombak yang pecah di bibir pantai berbatu. Pemandangan itu luar biasa indah, seakan diambil langsung dari lukisan kartu pos.
Namun, mata Tara tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke sisi kanan.
Di bawah sinar matahari pagi, jarak antara vilanya dan The Driftwood terlihat jauh lebih intim dan tidak masuk akal. Bangunan kayu itu berdiri kokoh, membelakangi bukit kecil dan menghadap laut. Lampu-lampu vintage-nya sudah dimatikan, namun pesona rustic-nya justru semakin menonjol. Dan sialnya, rute tercepat untuk mencapai jalan utama yang menuju ke pusat minimarket desa harus melewati jalan setapak berkerikil yang persis melintasi halaman belakang bar tersebut.
Tara menghela napas panjang, menundukkan kepalanya, dan mulai berjalan menyusuri kerikil dengan langkah cepat. Ia berharap keberuntungan berpihak padanya pagi ini. Bar biasanya baru beroperasi menjelang sore, jadi Julian pasti masih tertidur.
Pikirannya terbukti salah saat ia mendengar suara benda berat yang diturunkan ke tanah, disusul suara decit logam.
Langkah Tara otomatis melambat. Di pelataran samping bar, sebuah mobil bak terbuka usang terparkir. Dan di sana, sedang memindahkan sebuah tong kayu besar yang Tara duga berisi pasokan bir atau anggur, adalah Julian.
Di bawah cahaya matahari jam sembilan pagi, pria itu terlihat semakin mengintimidasi. Ia hanya mengenakan kaus putih polos yang sedikit kotor di bagian perut, memeluk tubuh atasnya dengan sangat pas. Keringat membuat bahan kaus itu menempel, mencetak jelas otot d**a dan bahunya yang lebar. Otot bisepnya menegang keras setiap kali ia mengangkat kotak kayu dari bak mobil. Lengan bawahnya yang berurat terlihat kokoh, bergerak dengan efisiensi yang lahir dari kerja keras fisik selama bertahun-tahun.
Tara tanpa sadar menahan napas. Jantungnya berdetak tidak nyaman di balik tulang rusuknya. Daya tarik fisik pria itu tidak pernah pudar, malah terasa semakin matang dan berbahaya. Julian yang berusia dua puluhan dulu adalah pria tampan dengan garis wajah yang lembut. Namun Julian yang berdiri di hadapannya sekarang memancarkan aura maskulinitas mentah yang membuat perut Tara bereaksi dengan cara yang sangat tidak ia inginkan.
Kerikil di bawah sepatu kets Tara berderit cukup keras.
Gerakan Julian terhenti. Pria itu menurunkan kotak kayu di tangannya, menegakkan tubuh, dan menoleh. Mata gelapnya langsung mengunci sosok Tara yang mematung beberapa meter darinya.
Tidak ada sapaan selamat pagi. Tidak ada senyum formalitas bertetangga. Julian hanya mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap Tara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot menilai yang dingin.
"Jalan utama ada di sebelah kiri ujung sana, menanjak bukit," suara bariton Julian membelah suara angin laut. Terdengar datar, sarat akan ketidaksukaan yang tak ditutup-tutupi. "Kalau kau sedang mencari kopi yang bisa diminum, satu-satunya kafe ada di dekat pelabuhan kecil. Sekitar dua kilometer jalan kaki. Tidak ada drive-thru atau ojek daring di sini."
Tara memiringkan dagunya, insting defensifnya langsung menyala. Egonya benci nada meremehkan dalam suara pria itu.
"Terima kasih atas informasinya, tapi aku tidak ingat meminta bantuan petunjuk arah darimu," balas Tara dingin, kembali melanjutkan langkahnya.
Julian mendengus geli, melipat lengan kokohnya di depan d**a sambil bersandar santai pada sisi mobil bak terbukanya. Matanya mengikuti setiap pergerakan Tara.
"Hanya mencoba menjadi tetangga yang baik untuk nona kota yang sedang tersesat," cibir Julian ringan, meski matanya menyorotkan sesuatu yang jauh dari kata ramah. "Lagi pula, dari caramu berpakaian dan berjalan pagi ini, kau terlihat seperti butuh kafein darurat sebelum kau pingsan di jalanan desaku dan membuatku harus repot-repot memanggil dokter lokal."
Langkah Tara terhenti seketika. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah pria itu. Matanya menyipit marah.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku, Julian. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Selalu bisa."
"Oh, aku tahu itu," sahut Julian cepat, nada suaranya mendadak berubah tajam, kehilangan sisa-sisa nada meremehkannya. Kata-kata itu meluncur layaknya belati yang sudah diasah selama sepuluh tahun. "Kau sangat ahli mengurus dirimu sendiri, Tara. Sampai-sampai kau tidak peduli siapa yang harus kau injak dan kau buang di sepanjang jalan asalkan agendamu sendiri tercapai, bukan?"
Udara di antara mereka tiba-tiba terasa begitu padat hingga Tara nyaris tidak bisa bernapas. Serangan verbal itu terlalu mendadak, menampar wajahnya dengan realitas betapa dalam luka yang ia tinggalkan pada pria itu.
Tara membuka mulutnya untuk membalas, untuk melemparkan argumen logis atau memutarbalikkan narasi seperti yang biasa ia lakukan di ruang sidang dan konferensi pers. Namun, menatap sepasang mata Julian yang menyorotkan rasa sakit yang tertutup lapisan es kemarahan, semua kosakata yang ia miliki lenyap. Ia tak punya pembelaan. Apa yang Julian katakan seratus persen benar.
"Aku tidak datang ke sini untuk bertengkar denganmu," ucap Tara akhirnya, suaranya sedikit bergetar, pertahanannya nyaris runtuh. Ia merapatkan sweater-nya, tiba-tiba merasa sangat rentan di bawah sinar matahari terang ini.
"Kau datang ke sini membawa masalahmu, Tara. Tempat ini mungkin tersembunyi dari peta, tapi tidak bisa menyembunyikanmu dari dirimu sendiri," Julian menatapnya dingin, lalu berbalik kembali ke bak mobilnya, memutus kontak mata mereka seolah kehadiran wanita itu tak lagi penting. "Jangan pikir hanya karena kita tanpa sengaja menjadi tetangga sekarang, aku akan membantumu saat kau menangis karena pemanas air di vilamu mati atau atapmu bocor."
Punggung lebar Julian yang membelakanginya seolah menjadi dinding beton yang memutus seluruh akses interaksi. Pria itu menggeser tong bir dengan kasar, enggan menatapnya lagi.
"Aku tidak akan meminta bantuanmu, meskipun kau pria terakhir di pesisir ini," desis Tara dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki.
"Bagus. Berarti kita sepakat," balas Julian tanpa menoleh. "Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan di sini sebelum kau berlari pulang kembali ke kehidupan sempurnamu di ibu kota."
Tara membalikkan badannya dengan cepat, sepatu ketsnya menendang kerikil dengan kasar saat ia setengah berlari menjauh dari pelataran The Driftwood. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu, dan dadanya terasa sesak oleh amarah sekaligus rasa bersalah yang mencekik.
Ini baru hari pertama dari tiga puluh hari yang ia jadwalkan, dan Tara sudah menyadari satu hal dengan sangat jelas. Pelariannya ke tempat terpencil ini tidak akan menyembuhkan lukanya. Tempat ini justru menjadi medan perang baru, di mana hantu dari masa lalunya siap merobek setiap lapis pertahanan yang ia miliki hingga tak tersisa.