Aku nyata, Julian."
Suara Tara akhirnya keluar. Terdengar jauh lebih serak dari yang ia harapkan, namun setidaknya ia berhasil menghentikan getaran di dagunya. Ia membalas tatapan pria itu, menolak untuk menunduk, menolak untuk terlihat selemah perasaannya saat ini. "Ini aku. Dan aku bukan mimpi burukmu."
Julian terdiam. Rahangnya yang ditumbuhi bayangan cambang mengeras hingga urat di lehernya terlihat menegang. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, pria itu hanya menatapnya, mencari kebohongan atau mungkin sisa-sisa gadis yang ia kenal sepuluh tahun lalu di balik wajah Tara yang pucat pasi.
Lalu, seolah baru saja terbangun dari sebuah lamunan yang menyakitkan, Julian mendengus pelan—sebuah tawa sinis yang hampa dan dingin. Ia menarik kembali tubuhnya, menjauh dari meja bar, dan secara bersamaan menarik serta seluruh kehangatan dan aroma tubuhnya dari indra penciuman Tara. Kehilangan kedekatan fisik itu anehnya membuat Tara merasa sedikit kedinginan.
"Nyata," gumam Julian, mengulang kata itu seolah rasanya pahit di lidah. Ia membalikkan badan, mengambil gelas kristal tebal dari rak, dan meraih sebotol bourbon yang tadi ia letakkan. "Tentu saja kau nyata. Mimpi burukku biasanya tidak masuk melalui pintu depan dan memesan minuman."
Suara cairan keemasan yang dituang ke dalam gelas memecah kebisuan di antara mereka. Tara memperhatikan tangan Julian. Tangan itu kini terlihat lebih besar, lebih kasar, dengan urat-urat yang menonjol tegas dan sebuah bekas luka pudar di punggung tangannya. Tangan itu bukan lagi tangan pemuda yang dulu sering membelai rambutnya hingga ia tertidur di kamar kos mereka yang sempit. Ini adalah tangan seorang pria yang bekerja keras, tangan yang terbiasa menghadapi realitas dunia yang tidak ramah.
Julian meletakkan gelas kristal itu di hadapan Tara dengan suara denting yang cukup keras. Tanpa es, persis seperti permintaannya.
"Minumlah," perintah Julian datar. Ia menyilangkan kedua lengan kokohnya di depan d**a, menatap Tara dengan sorot menilai yang membuat wanita itu merasa ditelanjangi. "Kau terlihat mengerikan. Pucat, berantakan, dan seperti akan pingsan kapan saja di atas mejaku. Aku tidak ingin berurusan dengan polisi pesisir malam-malam begini jika kau mati mendadak di sini."
Kata-katanya tajam, mengiris langsung ke ulu hati. Namun Tara tahu ia tidak punya hak untuk memprotes. Ia sadar betul penampilannya saat ini jauh dari kata elegan. Rambutnya lepek, kantung matanya menghitam, dan pakaiannya kusut setelah delapan jam menyetir sambil membawa beban mental yang meremukkan kewarasan.
Di Jakarta, Tara tidak akan pernah membiarkan siapa pun melihatnya dalam keadaan tidak sempurna. Ia adalah lambang kendali dan ketangguhan. Namun di sini, di bawah tatapan mata gelap Julian, seluruh topeng Public Relations-nya seolah meleleh tak bersisa.
Tara tidak menjawab. Ia meraih gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, mengangkatnya ke bibir, dan menenggak isinya dalam satu tegukan panjang. Cairan bourbon murni itu membakar tenggorokannya dengan ganas, turun ke dadanya dan meninggalkan jejak panas yang menyengat. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa panas itu menampar kesadarannya dan memberinya sedikit kehangatan buatan.
"Pelan-pelan," tegur Julian, suaranya terdengar sedikit lebih pelan, meski nada dinginnya tidak hilang. "Alkohol itu usianya lebih tua dari penyesalanmu."
Tara meletakkan gelas yang kosong ke atas meja, mengembuskan napas panjang saat efek alkohol perlahan menenangkan debar jantungnya. Ia membuka mata dan menatap Julian kembali.
"Apa yang kau lakukan di sini, Tara?" tanya Julian akhirnya. Pertanyaan itu lolos begitu saja, sarat akan kecurigaan yang tebal. "Jakarta tidak cukup besar lagi untuk menampung ambisimu? Atau kau baru saja menghancurkan hidup seseorang lagi dan butuh tempat untuk bersembunyi?"
Dada Tara serasa dihantam palu godam. Menghancurkan hidup seseorang. Sindiran itu begitu jelas mengarah pada perpisahan mereka sepuluh tahun lalu, saat Tara memutuskan sepihak untuk menerima tawaran pekerjaan di firma besar dan meninggalkan Julian yang saat itu sedang merintis mimpinya.
Namun ironisnya, kali ini bukan Tara yang menghancurkan hidup seseorang. Kali ini, hidupnyalah yang baru saja dihancurkan hingga berkeping-keping.
"Aku sedang cuti," jawab Tara pelan, suaranya terdengar serak. Ia menolak menceritakan tentang perselingkuhan Rian. Ia menolak memberikan Julian kepuasan melihat karma yang sedang menimpanya. Egonya, satu-satunya hal yang tersisa dari dirinya saat ini, menolak untuk terlihat menyedihkan di depan pria yang pernah ia buang. "Aku hanya butuh tempat yang sepi untuk beristirahat."
"Ketenangan," Julian mengulanginya dengan nada mengejek. Sudut bibirnya tertarik ke atas, menciptakan senyum miring yang tidak mencapai matanya. "Dan kau memilih pesisir yang tidak pernah masuk dalam brosur wisata mana pun, di saat kau bisa menyewa resort bintang lima di Bali. Sangat tidak mirip dengan Tara yang kukenal."
"Tara yang kau kenal hidup sepuluh tahun yang lalu, Julian. Waktu mengubah orang," balas Tara tajam, insting bertahannya mulai mengambil alih.
"Benarkah?" Julian mencondongkan wajahnya, matanya menyipit berbahaya. Tatapannya turun sejenak ke arah bibir Tara sebelum kembali mengunci matanya. "Kau masih lari dari masalah saat segalanya menjadi sulit. Bagiku, itu tidak terlihat seperti sebuah perubahan."
Sebelum Tara sempat membalas ucapan pedas itu, terdengar suara kursi berderit dari sudut ruangan. Pasangan paruh baya yang sejak tadi mengobrol dalam bisikan kini bangkit berdiri dan berjalan menuju meja bar. Mereka mengenakan mantel tebal dan tersenyum hangat ke arah Julian, sama sekali tidak menyadari ketegangan beracun yang menguar di udara.
"Kami pulang dulu, Julian," sapa pria tua itu ramah sambil meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. "Kopi racikanmu malam ini luar biasa seperti biasa. Jaga dirimu baik-baik."
Ekspresi Julian berubah drastis dalam sepersekian detik. Wajah yang sebelumnya mengeras dan dingin kini melembut. Ia tersenyum—sebuah senyum hangat, tulus, dan tampan yang membuat napas Tara kembali tercekat karena betapa ia merindukan lengkungan bibir itu.
"Terima kasih, Pak Arthur. Hati-hati di jalan, jalanan di luar cukup licin karena hujan," balas Julian dengan nada suara yang begitu sopan dan bersahabat.
Ia adalah pria yang sama sekali berbeda ketika berbicara dengan pelanggannya. Namun, segera setelah lonceng pintu bergemerincing dan pintu tertutup di belakang pasangan tua itu, senyum Julian lenyap seketika. Ia menoleh kembali ke arah Tara, dan topeng bajanya kembali terpasang rapat.
Kini, mereka benar-benar berdua. Hanya mereka berdua, ditemani alunan musik jazz yang nyaris berakhir dan suara hujan yang mulai kembali menderas di luar, memukul atap kayu bar dengan ritme yang gelisah.
"Bar sudah tutup," kata Julian datar. Ia meraih kain lapnya kembali dan mulai mengelap permukaan meja kayu, seolah berusaha membersihkan jejak kehadiran Tara dari sana. "Kau sudah mendapatkan minumanmu. Sekarang pulanglah ke mana pun kau menginap, kunci pintumu, dan anggap saja kita tidak pernah bertemu malam ini."
Tara menunduk menatap gelas kosongnya. Ada sebagian dari dirinya yang ingin tetap duduk di sana, menatap wajah pria itu lebih lama, meskipun tatapan pria itu penuh dengan kebencian. Namun kelelahan di tulangnya akhirnya menang. Tubuhnya terasa seringan kapas, dan kepalanya mulai berputar ringan akibat kombinasi bourbon dan perut yang kosong.
Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan dompet, dan meletakkan selembar uang seratus ribu di atas meja.
Julian berhenti mengelap meja. Matanya menatap uang tersebut dengan tatapan jijik. "Ambil uangmu. Aku tidak butuh bayaran darimu. Anggap saja ini amal untuk seseorang yang sedang tersesat."
Kata-kata itu menyentil sisa-sisa kebanggaan Tara. Rahangnya mengeras. Ia bangkit berdiri, kakinya terasa sedikit goyah namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia merapatkan mantel wolnya, menatap Julian dengan dagu terangkat—pose andalannya saat menghadapi wartawan yang agresif.
"Aku selalu membayar apa yang aku konsumsi. Simpan kembaliannya," ucap Tara dingin.
Ia membalikkan badan dan melangkah perlahan menuju pintu. Udara dingin dari celah pintu sudah mulai terasa, namun langkahnya terhenti saat tangannya menyentuh gagang kuningan. Ia menoleh dari atas bahunya, menatap punggung tegap Julian yang masih berdiri kaku di balik meja bar.
"Aku menyewa vila di sebelah," kata Tara pelan, suaranya nyaris teredam oleh suara hujan di luar. "Vila beratap biru. Yang hanya berjarak lima puluh langkah dari sini."
Julian membeku. Bahunya yang lebar terlihat menegang di balik kemeja flanelnya. Perlahan, ia memutar tubuhnya, menatap Tara dengan sorot mata yang kini bercampur antara keterkejutan dan kemarahan yang tertahan. Fakta bahwa wanita itu tidak sekadar lewat, melainkan akan menetap tepat di sebelahnya, jelas menghancurkan ekspektasinya tentang sebuah pertemuan singkat yang bisa segera dilupakan.
"Berapa lama?" Suara Julian rendah, berat, dan dipenuhi peringatan.
Tara menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata gelap yang dulu pernah menjadi rumahnya itu.
"Satu bulan," jawabnya singkat.
Tanpa menunggu balasan dari Julian, Tara mendorong pintu bar dan melangkah keluar, kembali ditelan oleh malam pesisir yang basah dan dingin. Meninggalkan Julian yang berdiri terpaku dalam kesunyian yang tiba-tiba terasa jauh lebih menyiksa dari sebelumnya. Ejekan takdir baru saja dimulai, dan satu bulan ke depan akan terasa seperti hukuman seumur hidup bagi mereka berdua.