Hari ke empat puluh satu di pesisir, hujan turun dari jam empat sore dan nggak ada tanda-tanda mau berhenti. Bukan hujan manis ala puisi, tapi hujan pesisir yang jahat, anginnya kencang, airnya nyerong, suaranya kayak ada yang ngelempar kerikil ke jendela nonstop.
Tara lagi duduk di lantai ruang tengah, punggung nyender ke sofa, buku biru navy di pangkuan. Laptop sudah tiga hari nggak dibuka sejak Julian ngirim email cuti paksa ke seluruh board PT Komunikasi Utama. Tim Jakarta nurut, nggak ada yang berani w******p kecuali Bu Ratna, itu pun cuma kirim laporan singkat tiap jam enam sore. “Urgent only,” katanya, sambil nyelipin emot senyum kecut.
Jadi kerjaan Tara sekarang cuma satu: nulis.
Naskahnya udah masuk bab sembilan. Tokoh ceweknya, yang dia kasih nama Alya, baru saja tahu kalau tokoh cowoknya, Damar, diam-diam bayarin semua tender yang dia menangin. Alya marah, kabur, panic attack di terminal, dijemput Damar pakai motor butut. Persis hidup Tara, cuma nama dan kotanya diganti biar nggak malu-maluin.
Tara nulis adegan Alya bengong di teras vila sambil hujan-hujanan, terus pulpennya berhenti.
Karena di dunia nyata, atap vilanya bocor lagi.
Tik.
Tara mendongak. Dari sudut dapur, pojok yang minggu lalu udah dibenerin Julian, netes air. Satu tetes. Dua tetes. Terus makin cepat.
“Ya ampun, Jul,” desis Tara ke langit-langit. “Kerjaan kamu nggak ada garansinya?”
Dia ambil ember plastik biru yang sekarang jadi properti tetap vila, taruh tepat di bawah tetesan. Tik. Tik. Tik. Suaranya nyatu sama suara hujan di genteng, jadi musik latar yang pas banget buat nulis adegan galau.
Tapi lama-lama ganggu juga. Embernya udah seperempat penuh dalam dua puluh menit. Tara cek HP. Jam tujuh malam. Di luar udah gelap total, jalanan pasti becek, bar The Driftwood kemungkinan sepi.
Dia iseng buka chat. Nama Julian di w******p masih ada, chat terakhir isinya cuma satu baris dari tiga hari lalu: “Tutup laptopnya.” Nggak ada chat lain. Nggak ada “udah makan belum”, nggak ada stiker lucu. Mode pesawatnya masih on.
Gengsi dong kalau minta tolong duluan. Kan dia yang salah. Kan dia yang setting karier gue tujuh tahun.
Tara balik ke buku catatannya, maksa nulis. Satu paragraf, dua paragraf. Tapi matanya malah ngelirik ke ember terus. Tik. Tik. Tik. Lama-lama kayak suara detak jantung yang bocor.
Jam delapan lewat, ketukan tiga kali di pintu. Pelan, tapi tegas. Kode yang cuma satu orang di pesisir ini punya.
Tara buka pintu tanpa nanya siapa.
Julian berdiri di teras, pakai jas hujan kuning yang sama kayak seminggu lalu, basah kuyup dari kepala sampai kaki. Di pundaknya ada tangga aluminium dilipat. Di tangan kanannya ada kantong kresek item, isinya nggak kelihatan.
Dia nggak senyum. Nggak ngucapin hai. Matanya langsung jelajah ke dalam vila, nyari sumber suara.
“Dapur,” kata Tara, duluan. “Pojok yang kemarin kamu benerin.”
Julian ngangguk sekali, lewat samping Tara tanpa nyenggol, kayak tukang servis AC beneran. Naik ke kursi, terus ke meja dapur, terus ngilang ke loteng lewat lubang plafon yang dibuka paksa.
Dari bawah, Tara cuma denger suara hujan di genteng, suara langkah Julian pelan di atas, terus suara palu. Tok. Tok. Tok. Saingan sama suara tetesan di ember.
Sepuluh menit, lima belas menit. Tara berdiri di bawah, meluk buku biru navy di d**a, nggak tahu harus ngapain. Mau nawarin teh anget, tapi gengsi. Mau ngomong makasih, tapi masih marah. Mau ngusir, tapi atapnya bocor.
Akhirnya Julian turun. Jas hujannya dia lepas, digantung di gagang pintu. Kaos hitamnya basah, nempel di badan, rambutnya netes-netesin air ke lantai vila. Di tangannya ada seng bekas yang penyok, paku bengkok, sama satu potongan kayu lapuk.
“Kayunya udah rapuh,” katanya, datar. “Air rembes dari sela-sela. Tadi aku tutup pakai seng baru, dobel. Harusnya tahan sampai musim hujan selesai.”
“Makasih,” jawab Tara. Suaranya kecil, kalah sama suara hujan.
Julian naruh barang-barang bekas itu di pojok, terus jalan ke wastafel, cuci tangan. Selesai, dia lap pakai lap dapur yang ngegantung, persis kayak seminggu lalu. Bedanya, kali ini dia nggak langsung pergi.
Dia balik badan, natap Tara yang masih berdiri kaku sambil meluk buku catatan. Matanya turun ke buku itu.
“Nulis apa?”
Tara reflek sembunyiin bukunya ke belakang badan. “Nggak ada. Jelek.”
Julian alisnya naik dikit. “Yang kemarin kamu bacain bagus.”
“Yang kemarin itu norak,” balas Tara cepat. Pipi dia panas. “Udah jangan bahas naskah aku. Kamu udah selesai, kan? Mau hujan-hujanan lagi?”
Julian nggak jawab. Dia malah jalan ke meja kopi, buka kantong kresek item yang dia bawa tadi. Keluar dua bungkus Indomie goreng, dua telor, sawi hijau, sama satu plastik cabai rawit merah.
“Laper,” katanya singkat. “Kamu makan malam belum?”
Tara bengong. “Kamu mau masak di sini?”
“Kompor kamu masih nyala, kan? Atau mau aku benerin juga?”
Tara mau ngomong pedas, tapi perut dia bunyi. Keras. Dia belum makan dari siang, karena kelamaan nulis dan lupa waktu.
Julian udah nyalain kompor tanpa nunggu jawaban. Air dituang ke panci, nunggu mendidih. Gerakannya luwes, kayak udah apal dapur ini di luar kepala. Padahal dia cuma dua kali benerin genteng di sini.
Tara akhirnya nyerah, duduk di kursi meja makan, buku biru navy ditaruh di meja. Dia natap punggung Julian yang lagi ngaduk mie. Basah, lebar, tenang. Dulu punggung ini yang gue peluk tiap malam sepuluh tahun lalu. Sekarang punggung ini yang ngebenerin atap gue waktu bocor, yang nganter gue pulang waktu panic attack, yang masakin mie waktu gue kelaparan tapi gengsi ngaku.
Gue benci banget dia masih bisa bikin d**a gue sakit kayak gini.
“Mie kamu berapa cabai?” tanya Julian tanpa nengok.
“Dua,” jawab Tara otomatis. “Kamu masih ingat?”
Julian diem dua detik, terus jawab, “Gue ingat semua tentang kamu, Ra. Itu masalahnya.”
Kalimat itu jatuh di dapur yang sempit, nyampur sama bau mie rebus dan suara hujan. Tara nggak bisa jawab apa-apa.
Dua piring mie goreng akhirnya naik ke meja. Telurnya setengah matang, sawinya masih hijau, cabainya dipotong kecil-kecil di atasnya. Persis kayak yang biasa Julian bikin dulu waktu mereka masih kuliah, kere, masak di kosan.
Mereka makan diem-dieman. Nggak ada musik. Nggak ada HP. Cuma suara sumpit ketemu piring sama hujan di luar.
Pas suapan terakhir, Julian naruh sumpitnya, nengok ke Tara. “Kamu masih mau ke Jakarta?”
Tara kaget ditanya langsung gitu. Dia taruh sumpitnya juga. “Nggak tahu. Kemarin mau. Terus panic attack. Terus kamu jemput. Sekarang nggak tahu lagi.”
Julian ngangguk, kayak jawaban itu masuk akal buat dia. “Kalau kamu mau, bilang. Gue anterin. Pakai mobil. Siang-siang. Nggak pas subuh.”
“Kamu nggak takut aku pergi lagi?”
Julian senyum tipis, senyum capek yang sama kayak waktu di terminal kemarin. “Takut. Tapi gue lebih takut kamu kenapa-kenapa di jalan sendirian. Jadi ya mending gue anter. Biar gue yang sakit hati, daripada kamu yang sakit beneran.”
Tara nggak kuat natap mata dia lama-lama. Dia nunduk, ngaduk sisa kuah mie yang udah dingin.
“Jul,” panggil Tara pelan.
“Hm?”
“Atapnya beneran udah nggak bocor?”
Julian ngerti maksud gue bukan soal atap. Dia diam sebentar, terus jawab, “Kalau bocor lagi, panggil gue. Berapa kali pun bocor, gue benerin. Sampai kamu nggak butuh gue lagi.”
Tara ketawa kecil, patah-patah. “Terus kalau aku butuh kamu selamanya, kamu benerin genteng selamanya?”
“Iya,” jawab Julian gampang. Nggak ada jeda, nggak ada mikir. “Gue tukang paling setia yang kamu punya.”
Habis makan, Julian cuci piring. Tara mau bantu, dilarang. “Tangan kamu buat nulis, bukan buat kena sabun colek.”
Selesai beres, Julian pakai lagi jas hujan kuningnya. Mau pergi.
Di pintu, dia berhenti, nengok. “Ra.”
“Hm?”
“Tidur. Jangan nulis sampai jam empat lagi. Mata kamu udah kayak panda, nanti tokoh cewek di naskah kamu jadi nggak cantik.”
Tara mau ngamuk, tapi keburu Julian udah buka pintu, ketawa kecil, terus hilang di balik hujan.
Tara nutup pintu, nyender ke situ dua menit. Dengerin suara hujan, suara ember yang udah nggak netes lagi. Atapnya beneran nggak bocor.
Dia jalan ke meja, buka buku biru navy. Di halaman baru, dia nulis adegan barusan. Tukang servis genteng yang masakin mie, yang ngaku bakal benerin bocor berapa kali pun.
Di bawah adegan itu, Tara nulis satu kalimat buat dirinya sendiri:
“Mungkin dia dingin di luar. Tapi dia selalu datang waktu rumahku bocor. Mungkin itu definisi baru dari rumah.”
Jam satu malam, Tara kebangun karena hujan. Bukan karena insomnia, tapi karena kebiasaan. Dia otomatis cek atap. Kering. Ember kosong.
Dia senyum sendiri, balik tidur. Untuk pertama kalinya sejak map Project T.A. kebuka, Tara tidur tanpa mimpi buruk. Cuma mimpi hujan, mie goreng, sama jas hujan kuning yang nunggu di depan pintu.