Hari ke empat puluh lima Tara di pesisir, buku biru navy itu akhirnya habis.
Halaman terakhirnya kepakai jam tiga dua puluh pagi, tepat setelah Tara nulis adegan hujan, mie goreng, dan jas hujan kuning. Pulpennya berhenti di tengah kalimat: “Mungkin dia dingin di luar. Tapi dia selalu datang waktu —”
Tinta habis. Pulpennya ngambek.
Tara bengong lima detik, terus ketawa kecil, patah-patah, di ruang tengah yang sepi. Kayak naskahnya sendiri ngasih kode: udah, Ra, tidur.
Dia nutup buku itu pelan-pelan. Sampulnya yang dulu mulus sekarang udah lecek, ujung-ujungnya nekuk, ada noda kopi di pojok kanan bawah bekas nggak sengaja ketumpahan seminggu lalu. Tapi isinya penuh. Dari halaman satu yang isinya cuma umpatan jelek ke Julian, sampai halaman terakhir yang isinya pengakuan paling jujur yan