Tiga hari cuti paksa yang dikirim Julian lewat email HRD ke seluruh direksi PT Komunikasi Utama itu awalnya kerasa kayak hukuman.
Hari pertama, Tara bangun jam tujuh pagi karena kebiasaan badan, langsung reflek nyari HP buat cek email. Baru ingat, semalam Julian berdiri di teras vila sambil nyodorin cokelat panas dan bilang, “Kamu cuti tiga hari. Gue sudah email HRD kamu. Jangan buka laptop.”
Email itu beneran ada. Masuk jam sepuluh pagi, dari alamat adhitama.holdings, CC ke seluruh board. Bahasanya rapi, dingin, sangat CEO: “Ibu Tara Amalia, Owner PT Komunikasi Utama, mengambil cuti kesehatan terhitung hari ini. Seluruh keputusan operasional dialihkan ke Ibu Ratna. Urgent only.”
Urgent only. Tiga kata itu digarisbawahi tebal.
Tara ngamuk dalam hati lima menit, terus sadar dia nggak punya tenaga buat ngamuk beneran. Badannya masih remuk habis panic attack di terminal kemarin. Kepalanya masih dengung. Jadi ya sudah. Cuti.
Hari pertama cuti itu dihabiskan Tara dengan tidur. Beneran tidur, bukan pingsan karena capek. Bangun jam sebelas siang, makan bubur ayam yang entah kapan ditaruh Julian di meja makan, masih anget, terus tidur lagi sampai ashar. Bangun-bangun badan rasanya kayak habis di-reset pabrik. Enteng, tapi kleyengan.
Sorenya Tara iseng buka laptop, niatnya cuma cek email sebentar, lima menit aja. Baru buka sss, notifikasi langsung numpuk dua puluh tiga. Tim Bank Bina nanya revisi, tim HRD nanya tanda tangan, satu klien lama nanya rate card. Jari Tara gatal pengen balas. Kebiasaan sepuluh tahun nggak bisa hilang dalam tiga hari.
Sebelum sempat klik reply, ada chat masuk di w******p. Nomor yang nggak gue save, tapi gue hafal di luar kepala karena tiga minggu lalu nomor itu yang ngebom inbox gue tiap jam.
Julian.
Isinya cuma satu baris, tanpa emot, tanpa basa-basi: “Tutup laptopnya.”
Tara langsung noleh ke jendela. Dari beranda bar The Driftwood, sekitar lima puluh meter, kelihatan siluet Julian lagi berdiri sambil nelpon, tapi matanya natap lurus ke arah vila Tara. Ketahuan.
Tara ngedumel, “Satpam nggak dibayar,” terus nutup laptop dengan agak keras. Dari jauh Julian kelihatan senyum tipis, terus balik badan lanjut nelpon.
Malamnya insomnia datang lagi, seperti biasa. Jam satu kebangun, jam dua masih melek natap langit-langit. Bedanya, kali ini Tara nggak panik. Nggak scroll email, nggak nangis di dapur. Dia bangun pelan, nyalain lampu meja kecil, ambil buku biru navy dari nakas.
Buku itu udah setengah penuh. Halaman-halaman awal isinya curhatan jelek, coret-coretan marah, daftar hal-hal yang bikin Tara kesel sama Julian, lengkap dengan tanda seru tiga biji. Makin ke belakang, tulisannya berubah. Jadi observasi. Jadi adegan. Jadi dialog.
Malam itu Tara nulis adegan terminal. Cewek PR gagal kabur ke kota, panic attack di pinggir jalan, dijemput cowok penjaga bar pakai motor butut. Dia tulis dialognya persis kayak yang kejadian kemarin, cuma dia tambahin satu kalimat yang nggak sempat dia ucapin waktu itu karena napasnya sesak:
“Terima kasih sudah selalu muncul, bahkan waktu aku nyuruh kamu pergi.”
Tulisannya jalan terus sampai jam empat lewat. Tiga halaman penuh, tangan udah pegal, mata perih, tapi d**a enteng. Kayak habis muntah, jijik tapi lega.
Pas nutup buku, Tara baru sadar, ini udah bukan diary lagi. Alurnya nyambung. Tokohnya konsisten. Cewek PR yang kabur ke desa pantai, cowok penjaga bar yang ternyata beli satu kota buat jagain dia, tarik-ulur, marah, kangen, nulis tengah malam. Lah ini kan hidup gue sendiri, cuma diganti namanya.
Gue nulis novel, batin Tara, kaget sama kesimpulannya sendiri. Gue lagi nulis novel tentang hidup gue yang berantakan.
Pikiran itu bukannya bikin malu, malah bikin semangat. Kayak nemu mainan baru waktu lagi bosan setengah mati.
Hari kedua cuti, Tara resmi mengubah ruang tengah vilanya jadi markas nulis. Laptop tetap ditutup, dipindah ke pojok meja biar nggak goda-godain. Yang buka cuma buku biru navy, pulpen cadangan dua biji, sama segelas air putih gede.
Pagi sampai siang dia nulis. Bukan nulis rapi, nulis muntah aja, semua yang keingat dituang. Adegan di bar waktu pertama kali ketemu Julian lagi setelah sepuluh tahun. Adegan Rian datang teriak-teriak bawa SUV hitam. Adegan map Project T.A. kebuka dan dunia Tara runtuh. Adegan atap bocor, adegan kopi thermos jam tiga pagi, adegan terminal.
Tangannya sampai kram. Punggung pegal karena kelamaan bungkuk. Tapi kepalanya jernih. Lebih jernih daripada setelah delapan jam meeting Zoom.
Jam tiga sore, ketukan tiga kali di pintu. Kode Julian.
Tara buka, udah siap ngomel “aku nggak buka laptop kok satpam”, tapi yang berdiri di depan bukan Julian mode kulkas. Julian bawa nampan. Di atasnya ada dua piring nasi goreng, telur mata sapi setengah matang di atasnya, sama dua gelas es teh manis yang udah ngembun.
“Makan,” katanya singkat, terus masuk aja tanpa nunggu dipersilakan, naruh nampan di meja kopi yang penuh coretan pulpen.
Matanya jatuh ke buku biru navy yang kebuka, halamannya penuh tulisan tangan rapat-rapat. Alisnya naik dikit.
“Kamu nulis seharian?”
“Iya,” jawab Tara defensif, langsung nutup bukunya pakai tangan kayak anak SD ketahuan nyontek. “Jangan baca. Belum selesai. Jelek.”
Julian nggak maksa. Dia duduk di sofa, nyodorin satu piring nasi goreng ke Tara. “Makan dulu. Tangan kamu gemetar.”
Beneran gemetar, karena kelamaan nulis dan lupa makan siang.
Mereka makan berdua di lantai ruang tengah, duduk bersila hadap-hadapan, piring di pangkuan. Nggak ada musik, nggak ada TV, cuma suara sendok ketemu piring sama suara ombak dari luar.
“Kamu nulis apa?” tanya Julian akhirnya, pelan, waktu nasinya udah setengah habis.
Tara ragu dua detik, terus mutusin jujur aja. Ngapain bohong, orang dia udah baca coretan gue waktu listrik mati kemarin. “Aku nulis kita.”
Sendok Julian berhenti di tengah jalan. Dia mendongak. “Kita?”
“Iya. Versi fiksi. Namanya gue ganti. Kota gue ganti. Tapi ceritanya sama. Cewek karier kabur ke pantai, ketemu mantan yang ternyata beli satu negara buat jagain dia.”
Julian diam lama. Terus, pelan banget, dia bilang, “Kirim ke gue kalau udah selesai. Gue mau baca endingnya.”
“Emangnya ada endingnya?”
“Ada,” jawab Julian yakin. “Di versi gue, ceweknya nggak kabur lagi.”
Tara nggak jawab. Pipi dia panas. Dia nunduk, ngaduk-aduk nasi gorengnya biar kelihatan sibuk.
Setelah makan, Julian bantuin beresin piring, cuci di wastafel vila Tara kayak dia yang punya rumah. Sebelum pergi, dia ninggalin satu kotak obat di meja, vitamin sama obat maag.
“Kamu lupa makan siang, kan?” katanya, nadanya balik dingin lagi, satpam mode on. “Minum vitaminnya habis makan malam. Jangan begadang nulis sampai jam empat lagi. Mata kamu udah kayak panda.”
“Ih bawel,” gumam Tara, tapi senyumnya ketahan-tahan.
Julian berhenti di pintu, nengok sebentar. “Ra.”
“Hm?”
“Lanjutin nulisnya.”
Terus pergi.
Malam itu insomnia datang lagi, seperti biasa. Jam satu kebangun, jam dua masih melek. Bedanya, sekarang Tara nggak kesel. Dia bangun dengan semangat aneh, nyalain lampu meja, buka buku biru navy.
Dia nulis adegan nasi goreng sore tadi. Dialognya dia bikin lebih bagus dari aslinya. Di versi naskah, tokoh cowoknya bilang, “Aku nungguin ending yang kamu tulis, karena ending yang aku mau cuma ada kamu di dalamnya.”
Norak banget. Tara ketawa sendiri jam dua empat puluh pagi, sambil nulis kalimat norak itu dengan sangat serius.
Jam tiga lewat, ada ketukan pelan di pintu. Tiga kali.
Tara buka, udah tahu siapa. Julian berdiri di teras dengan dua mug. Cokelat panas. Bukan kopi.
“Kamu belum tidur,” katanya. Bukan nanya.
“Kamu juga,” jawab Tara, udah hafal skripnya.
Mereka duduk di anak tangga, bahu ketemu bahu, minum cokelat sambil dengerin ombak. Buku biru navy kebuka di pangkuan Tara, pulpen masih nyelip di halaman terakhir.
“Bacain,” kata Julian tiba-tiba.
“Apa?”
“Bacain yang kamu tulis tadi malam. Satu paragraf aja.”
Tara ragu. Malu banget. Tapi akhirnya dia buka halaman terakhir, suaranya pelan, agak gemetar, bacain dialog norak tentang ending yang dia mau.
Waktu selesai, hening beberapa detik. Cuma suara ombak.
Terus Julian bilang, pelan banget sampai hampir ketelan angin, “Aku suka ending itu.”
Tara nutup bukunya. Nyenderin kepala ke bahu Julian, sebentar aja. Kali ini Julian nggak kaku. Bahunya turun, rileks, nyesuaiin.
Mereka nggak baikan sepenuhnya. Julian masih dingin kalau ngomong di siang hari, masih jaga jarak di depan orang, masih suka muncul diam-diam terus pergi tanpa pamit. Tara masih burnout kalau kelamaan buka email, masih insomnia tiap malam, masih nulis jam dua pagi biar kepalanya nggak meledak.
Tapi naskah di buku biru navy itu makin tebal. Dari setengah buku, sekarang udah hampir penuh. Dan setiap malam, selalu ada dua mug cokelat panas di teras vila, satu buat penulis yang nggak bisa tidur, satu buat satpam nggak dibayar yang selalu muncul waktu lampu kota mati.
Tarik-ulur-nya masih jalan. Cuma sekarang tarikannya lebih pelan, ulurnya lebih pendek. Kayak dua orang yang lagi belajar dansa, masih sering keinjek kakinya, tapi udah mulai hafal iramanya.