Koper Tara nyangkut lagi di jalanan berbatu. Sialan. Ini udah ketiga kalinya. Dia menghela napas panjang, berusaha nahan diri biar nggak nendang koper mahal itu ke laut. Vila kayu di depannya kelihatan jauh lebih kusam dibanding foto di aplikasi, tapi Tara udah terlalu capek buat protes.
Begitu masuk, vila itu sepi banget. Saking sepinya sampai bikin telinga berdenging. Bukannya tenang, bayangan mantan tunangannya—Rian—yang kepergok selingkuh, malah balik muter-muter di kepalanya. Tara butuh pelarian. Dia butuh sesuatu buat ngalihin pikiran, sekarang juga.
Dari jendela kaca, dia ngeliat ada lampu neon berkedip di ujung jalan. Kelihatannya seperti bar.
Tanpa mikir panjang atau repot-repot bongkar koper, Tara langsung keluar lagi pakai mantel wolnya. Udara malam di pantai ternyata dingin banget. Dia jalan cepat setengah berlari dan langsung dorong pintu kayu bar itu.
Di dalam lumayan hangat. Bar-nya sepi, cuma ada aroma kayu, bir, dan sisa asap rokok. Tara langsung menjatuhkan diri di salah satu kursi tinggi di depan meja bar. Badannya bener-bener remuk.
Di balik meja, ada cowok berbalut kemeja flanel yang lagi sibuk nata botol minuman, membelakanginya.
"Masih buka, kan?" tanya Tara. Suaranya kedengaran serak banget. "Tolong kasih saya minuman apa aja yang keras. Wiski juga boleh. Nggak usah pakai es."
Suara botol yang lagi dipegang cowok itu mendadak berhenti. Dia diam sebentar, lalu pelan-pelan berbalik menghadap Tara.
Lampu bar memang remang-remang, tapi Tara masih bisa ngelihat wajah cowok itu dengan jelas. Jantung Tara rasanya kayak langsung merosot ke lantai. Dia menahan napas, tangannya otomatis mencengkeram meja kuat-kuat.
Cowok di depannya ini... Julian.
Sepuluh tahun udah berlalu, dan cowok itu kelihatan beda banget. Bukan lagi Julian yang naif dan gampang senyum kayak dulu. Cowok yang berdiri di depannya sekarang kelihatan lebih keras, dewasa, dan tatapannya dingin banget.
Julian natap Tara tanpa kedip. Wajahnya kaku. Nggak ada raut kaget yang berlebihan, apalagi senyum ramah.
Tanpa ngomong apa-apa, Julian ngambil satu botol bourbon, nuang isinya ke gelas kecil, lalu ngegeser gelas itu kasar ke depan Tara. Matanya natap Tara tajem.
"Kita udah tutup," kata Julian. Suaranya berat dan dingin. "Ngapain kamu di sini, Ra?"