Hari ke tiga puluh lima Tara di pesisir, Jakarta akhirnya benar-benar nyoba narik dia pulang pakai tangan.
Bukan Rian. Rian sudah hilang ditelan bumi sejak diusir Julian sambil diancam surat pemecatan dan KPK. Yang nelpon kali ini Bu Ratna, Direktur Keuangan PT Komunikasi Utama, yang sekarang secara teknis jadi bawahan Tara, tapi secara umur dan pengalaman masih berasa kayak senior yang berhak ceramah.
“Bu Tara, maaf mengganggu waktu istirahat Ibu,” suara Bu Ratna di telepon itu halus, tapi nadanya jelas mode krisis. “Tim Bank Bina minta presentasi final langsung sama Ibu. Mereka nggak mau diwakilin. Katanya kalau bukan Ibu yang datang, mereka tarik tendernya. Nilainya empat puluh miliar, Bu.”
Tara lagi duduk di lantai vila, punggung nyender ke sofa, laptop di paha, buku biru navy kebuka di sebelahnya. Di halaman yang kebuka ada coretan dialog yang belum jadi, tentang cowok penjaga bar yang diam-diam nyimpen struk belanja cewek yang dia suka.
“Suruh mereka Zoom,” jawab Tara, otomatis. Suaranya serak. Dia baru tidur tiga jam semalam.
“Sudah, Bu. Mereka nolak. Katanya chemistry pitch itu harus ketemu langsung. Tiket pesawat besok pagi sudah saya book-kan, business class, jam tujuh dari Bandara —”
“Cancel.”
Hening tiga detik di seberang.
“Bu Tara?”
“Cancel tiketnya, Bu Ratna. Bilang ke Bank Bina, kalau mereka mau Tara Amalia, mereka harus terima Tara Amalia yang lagi di pesisir. Kalau nggak, lepas aja. Kita bukan satu-satunya agensi di Jakarta, mereka juga bukan satu-satunya bank di Indonesia.”
Tara nutup telepon sebelum Bu Ratna sempat jawab. Tangannya gemetar. Bukan karena marah. Karena takut sama kalimat yang baru aja keluar dari mulut dia sendiri.
Sejak kapan gue berani nolak klien empat puluh miliar cuma karena gue nggak mau naik pesawat?
Sejak map Project T.A. kebuka, mungkin. Sejak gue tahu ternyata semua tender gede yang dulu gue kejar sampai muntah-muntah itu ada tangan Julian di belakangnya, nyuapin jalannya biar mulus. Sekarang setiap kali ada tawaran gede masuk, otak gue langsung nanya: ini beneran gara-gara gue jago, atau ada orang lain lagi yang bayarin jalannya?
Burnout gue bukan capek kerja. Burnout gue itu krisis identitas. Gue nggak tahu lagi mana bagian dari karier gue yang murni keringat gue, mana yang hasil settingan.
Malamnya insomnia gue balik dengan gaya. Jam satu kebangun, jam dua masih melek natap langit-langit, jam tiga nyerah, buka laptop mau kerja biar nggak kepikiran, tapi inbox kosong karena tadi siang gue suruh semua orang jangan ganggu gue kecuali gedung kebakar.
Akhirnya gue buka buku biru navy lagi. Ini udah jadi refleks. Kalau otak gue berisik, pulpen jalan.
Malam itu gue nulis bukan curhat. Gue nulis adegan. Cewek PR itu akhirnya nolak klien gede. Terus dia panik sendiri di vila, terus dia sadar dia nolak bukan karena malas, tapi karena dia capek jadi produk yang harus selalu laku.
Gue nulis sampai jam empat lewat dua puluh. Tiga halaman penuh, tulisan tangan gue udah miring-miring nggak karuan. Pas berhenti, mata gue perih, tapi d**a gue enteng. Kayak habis muntah, jijik tapi lega.
Gue ketiduran di sofa dengan buku masih kebuka di d**a, pulpen masih nyelip di jari. Lampu meja masih nyala.
Gue kebangun karena suara hujan. Bukan rintik. Deras. Anginnya nampar-nampar jendela sampai kaca bergetar. Listrik mati. Satu vila gelap gulita, cuma kilat sesekali nyamber dari luar, nerangin ruang tengah sepersekian detik.
HP gue mati total. Powerbank lupa ngecas. Laptop tinggal dua persen.
Gue panik, seperti biasa. Meraba-raba cari lilin yang kemarin gue taruh di laci dapur. Belum ketemu, tiba-tiba pintu depan diketuk. Tok tok tok. Tiga kali. Pelan tapi tegas.
Gue langsung tahu siapa. Cuma satu orang di pesisir ini yang ngetuk kayak gitu.
Gue buka pintu. Julian berdiri di teras, basah kuyup dari kepala sampai kaki. Jas hujan kuningnya nggak dipakai, entah ketinggalan di mana. Di tangan kirinya ada senter besar, di tangan kanan ada kantong plastik minimarket.
Listrik satu kampung mati,” katanya, datar aja, kayak ngasih laporan cuaca. “Trafo dekat jembatan kesamber. PLN bilang paling cepat tiga jam.”
Dia masuk tanpa nunggu dipersilakan, naruh senter di meja kopi, langsung nyorot ke sekeliling kayak lagi inspeksi. “Lilin kamu di mana?”
“Laci dapur, kiri bawah,” jawab gue otomatis.
Julian nemu lilinnya, nyalain dua batang, taruh di piring kecil. Ruangan langsung agak hangat, cahayanya goyang-goyang kena angin dari celah jendela.
Terus dia buka kantong plastiknya. Keluar roti tawar, selai cokelat, dua botol air mineral, sama satu kotak obat flu. Ditaruh semua di meja, rapi.
“Kamu batuk tadi sore waktu ambil paket di warung,” katanya, masih dengan nada laporan cuaca itu. “Gue dengar dari bar.”
Gue bengong. Gue bahkan nggak sadar gue batuk tadi sore. Dia dengar dari jarak lima puluh meter, lewat suara ombak dan musik bar?
“Thanks,” kata gue pelan.
Julian ngangguk sekali. Terus dia mau balik badan ke pintu. Mau pergi lagi. Selalu gitu. Datang, beresin, pergi, nggak minta apa-apa.
Entah karena gelap, atau karena gue kurang tidur tiga hari, atau karena suara hujan bikin orang jadi jujur, mulut gue kebuka sendiri sebelum otak gue sempat ngerem.
“Jul, kamu capek nggak?”
Langkah Julian berhenti di depan pintu. Dia nggak nengok. Punggungnya yang lebar itu kelihatan tegang di bawah kaus basah yang nempel.
“Capek apa?”
“Capek main jadi satpam nggak dibayar buat aku. Capek pura-pura dingin padahal tiap malam kamu nongkrong di pantai sampai jam tiga pagi cuma buat mastiin aku nggak kenapa-napa.”
Hening. Cuma suara hujan di genteng yang tadi dia betulin seminggu lalu.
Julian akhirnya nengok, setengah badan. Wajahnya setengah kena cahaya lilin, setengah kena bayangan. Capek banget kelihatannya. Lingkaran hitam di bawah matanya sama parahnya kayak punya gue.
“Enggak,” jawab dia. Suaranya rendah. “Gue capek waktu kamu pergi sepuluh tahun lalu dan gue nggak bisa ngapa-ngapain. Sekarang gue bisa ngapa-ngapain. Jadi enggak.”
Jawaban itu nampar gue telak. Bukan jawaban cowok cool dan manipulatif kayak di map Project T.A. Itu jawaban cowok yang takut banget kehilangan, sampai caranya jagain jadi salah semua.
Gue nggak tahu harus ngomong apa. Tenggorokan gue kesumbat.
Julian ngeliat gue diem, napasnya kedengeran berat. Dia jalan balik ke meja, ngambil buku biru navy gue yang kebuka di sofa. Gue langsung panik.
“Eh jangan — itu jelek — balikin —”
Julian ngangkat buku itu tinggi-tinggi biar gue nggak nyampe. Dia baca sekilas halaman terakhir yang tadi malam gue tulis, yang tentang cewek PR nolak klien empat puluh miliar.
Alisnya naik dikit. “Kamu tolak Bank Bina?”
Gue nyamber buku itu, berhasil rebut, langsung peluk ke d**a kayak harta karun. “Jangan baca tanpa izin! Lo CEO pencuri, sumpah ya!”
Untuk pertama kalinya dalam hampir dua minggu, Julian ketawa. Bukan senyum tipis. Ketawa beneran, pelan, serak, capek. “Naskah kamu makin bagus. Tokoh cowoknya masih psikopat, tapi sekarang ada backstory.”
Gue pengen marah, tapi pipi gue panas. Malu. Senang. Kesel. Semua jadi satu.
Listrik masih mati. Hujan masih deras. Lilin di meja udah mau habis setengah.
Julian narik kursi kayu, duduk di seberang gue, jarak satu meja. Nggak deket-deket banget, nggak jauh-jauh banget. Gencatan senjata.
“Kamu nulis terus aja,” katanya, suaranya udah nggak sedingin biasanya. “Aku suka bacanya. Walaupun kamu bikin aku jadi villain terus.”
“Kamu emang villain,” gumam gue, tapi nggak ada nada marah di situ. Gue buka buku gue lagi, pura-pura mau nulis biar nutupin muka gue yang pasti merah.
“Villain yang benerin genteng kamu,” balas Julian.
“Villain yang nguping batuk aku dari bar.”
“Villain yang nungguin kamu selesai marah.”
Gue mendongak. Mata kami ketemu di cahaya lilin yang goyang-goyang. Nggak ada drama, nggak ada ciuman slow motion kayak di novel. Cuma dua orang insomnia yang capek banget, duduk di ruang tamu gelap waktu hujan, dengan satu buku catatan di antara mereka.
“Kamu masih marah?” tanya Julian pelan.
Gue mikir. Beneran mikir. “Iya. Masih. Tapi nggak semarah minggu lalu.”
Julian ngangguk. Kayak itu jawaban yang cukup buat dia. “Bagus. Berarti obatnya mulai bekerja.”
“Obat apa?”
Dia nunjuk buku biru navy di tangan gue pakai dagu. “Itu.”
Gue ketawa kecil. Pertama kalinya gue ketawa lepas sejak map Project T.A. kebuka.
Di luar, hujan masih turun, listrik masih mati, satu kampung gelap. Di dalam, lilin tinggal satu yang masih nyala, roti tawar belum dibuka, obat flu masih di kotak.
Tara buka halaman kosong baru. Julian nyender di kursi, merem, dengerin suara hujan dan suara pulpen Tara yang srek srek srek di atas kertas.
Dia nggak nyentuh gue. Dia nggak minta maaf pakai kata-kata manis. Dia cuma ada. Dingin di luar, tapi selalu muncul waktu lampu kota mati.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, Tara tidur bukan karena capek banget sampai pingsan. Dia tidur karena akhirnya ada orang yang jagain lampu lilinnya biar nggak padam.