Hari keempat mode pesawat itu, Tara resmi jadi zombie CEO.
Jam sembilan pagi, Zoom PT Komunikasi Utama nyala. Di layar ada tujuh kotak wajah tim account yang kelihatan sama capeknya kayak Tara, bedanya mereka capek di Jakarta dengan AC dan kopi s**u oat, Tara capek di pesisir dengan suara ombak bocor masuk lewat jendela vila.
“Bu Tara, deck pitch untuk Bank Bina sudah oke?”
“Oke. Ganti font slide 12, itu masih Comic Sans, siapa yang —” Tara berhenti di tengah kalimat. Kepalanya dengung. Tiba-tiba nama font itu hilang dari otak dia. Dia natap layar kayak orang linglung selama tiga detik yang kerasa kayak tiga menit.
“Bu?”
“Ganti fontnya,” ulang Tara pelan. “Terserah. Yang penting bukan itu.”
Meeting selesai jam sebelas. Harusnya ada jeda. Nyatanya ada tiga chat masuk dari tim legal soal transisi kepemilikan saham, dua email dari klien lama yang dengar kabar akuisisi dan panik, sama satu voice note dari ibu Tara yang nanya kapan pulang ke Jakarta karena tetangga udah mulai gosip soal batal nikah.
Tara jawab semua. Tanda tangan digital, approve budget, revisi kalimat press release sampai jam dua pagi. Secara teori, ini mimpi semua cewek karier. Umur tiga puluh dua, owner firma PR sendiri, nggak ada utang, nggak ada investor rese yang ngatur. Dikasih, iya, dikasih, sama mantan pacar yang obsesinya udah level beli satu industri.
Praktiknya, badan Tara rontok. Matanya perih permanen. Tidurnya pecah-pecah, dua jam kebangun, tiga jam kebangun lagi, kebangun karena mimpi dikejar-kejar map hitam bertuliskan PROJECT T.A. Burnout-nya bukan karena kerjaan kebanyakan. Burnout-nya karena setiap kali Tara buka deck presentasi dan lihat nama dia di kolom “Project Lead”, otak dia langsung bisik, pelan tapi kejam: ini beneran gara-gara lo pinter, Ra, atau gara-gara ada yang bayarin jalan tolnya dari belakang?
Gue benci pertanyaan itu. Gue lebih benci lagi karena sebagian dari gue udah nggak peduli jawabannya. Bagian yang capek itu cuma pengen ada yang jagain, walau caranya gila dan ngerampas kebanggaan gue.
Dan orang yang bisa jawab pertanyaan itu lagi mode pesawat. Dingin. Jauh lima meter terus.
Hari kelima, hujan turun dari sore sampai malam. Bukan hujan cantik-cantik ala film, tapi hujan pesisir yang brutal, anginnya nampar-nampar jendela. Jam sembilan malam, atap vila Tara bocor di pojok dapur. Tik. Tik. Tik. Awalnya pelan, terus makin cepat. Ember yang Tara taruh udah setengah penuh dalam dua puluh menit.
Tara udah mau nyerah, mau tidur aja dengerin suara bocor itu, terus tok tok tok. Pintu depan diketuk tiga kali. Ketukan yang gue hafal.
Julian berdiri di teras dengan tangga aluminium dilipat di bahu, jas hujan kuning terang yang kebesaran, kepalanya basah kuyup. Di tangannya ada kantong plastik isi lembaran seng dan palu.
“Minggir,” katanya datar. Nggak ada “hai”, nggak ada “kamu nggak apa-apa?”.
Dia lewat samping Tara yang masih bengong di pintu, naik ke atap lewat tangga samping, kejedot hujan selama dua puluh menit. Suara palu tok tok tok saingan sama suara hujan. Tara berdiri di bawah, di dapur yang bocor, megangin ember sambil natap langit-langit yang bergetar, dengerin langkah Julian di atas kepala dia.
Selesai. Bocornya berhenti.
Julian turun, jas hujannya netes-netesin lantai vila gue. Dia ngelap tangannya pakai lap dapur yang ngegantung di pinggang Tara tanpa izin.
“Makasih,” kata Tara, suaranya kecil.
Julian ngelirik ember setengah penuh itu. “Jangan taruh laptop dekat jendela. Lembab.”
Terus pergi. Nggak minta kopi. Nggak minta handuk. Nggak senyum. Pintu ketutup, ninggalin bau hujan dan bau sabun cowok yang samar-samar masih nempel di udara dapur.
Malam itu insomnia gue peak. Jam 02:14, gue nyerah total. Nggak ada gunanya bolak-balik di kasur sambil scroll email yang udah gue baca tiga kali. Gue ke dapur, minum air putih, terus keluar ke beranda belakang bawa selimut tipis.
Angin laut bulan itu nusuk tulang. Sepi banget, cuma suara ombak pecah.
Di kejauhan, sekitar lima puluh meter ke arah bar, ada titik api kecil oranye. Rokok. Julian duduk sendirian di kursi lipat pantai, nggak pakai jaket, cuma kaus hitam yang pasti udah lembab kena embun. Dia natap laut, nggak gerak.
Dia nggak nyamperin. Gue juga nggak manggil. Kami berdua cuma insomnia di pantai yang sama, dengan jarak yang sengaja kami jaga kayak lagi main tarik tambang, siapa yang narik duluan kalah.
Jam 03:40 gue balik masuk, kedinginan, mata perih. Di anak tangga vila udah ada thermos stainless. Masih anget waktu gue pegang. Kopi hitam, tanpa gula, persis yang biasa gue minum waktu begadang ngerjain pitch dulu di Jakarta.
Nggak ada catatan. Nggak perlu. Gue tahu dari siapa.
Gue duduk di lantai dapur, minum kopi itu pelan-pelan sambil nangis diam-diam. Bukan nangis histeris kayak waktu tahu soal Project T.A. Nangis capek. Nangis karena kangen dipeluk sama orang yang sama yang bikin gue marah setengah mati.
Abis nangis itu, gue nggak bisa tidur juga. Akhirnya gue bongkar koper lagi, cari sesuatu buat ngalihin otak yang muter terus. Di bawah tumpukan blazer kerja dan dress yang udah nggak kepakai sejak gue kabur ke sini, ketemu buku catatan hardcover warna biru navy. Pinggirannya udah agak mengelupas, ada stiker kopi yang setengah lepas di pojoknya.
Ini buku gue zaman kuliah. Tempat gue nulis cerpen jelek tentang cewek-cewek kota yang kabur ke laut dan ketemu nelayan ganteng. Gue berhenti nulis waktu masuk dunia PR, karena bos pertama gue bilang tulisan gue terlalu melankolis buat jualan.
Gue bawa ke meja, buka halaman kosong pertama. Pulpen gue gantung di atas kertas lama banget. Tangan gue kaku. Otak PR gue langsung otomatis mikir angle, headline, CTA. Berisik banget.
Akhirnya gue tulis asal aja.
“Pesisir Selatan. Hari ke-32.”
Jelek. Coret.
“Cowok yang beli karier gue.”
Coret lagi. Terlalu marah.
Gue coba sekali lagi, pelan, jujur aja.
“Aku nggak tahu aku marah karena dibohongi, atau karena ternyata aku lega ada yang jagain aku segila itu.”
Tangan gue berhenti. d**a gue sesak. Kalimat itu nongkrong di kertas kayak ngaca.
Gue nutup bukunya cepat-cepat, kayak ketahuan nyontek ujian. Jantung deg-degan nggak karuan. Tapi anehnya, buat pertama kalinya dalam seminggu ini, kepala gue agak dingin. Nggak muter-muter mikirin email, saham, Rian, Sarah, atau Julian si CEO psikopat.
Gue taruh buku biru navy itu di atas nakas, sebelah HP yang masih nyala notifikasi emailnya. Jam 04:55, akhirnya mata gue berat juga.
Besoknya, buku itu jadi kebiasaan baru. Insomnia gue nggak sembuh, masih kebangun jam satu, jam dua. Tapi sekarang ada ritual. Lampu meja kecil nyala, buku biru navy kebuka, pulpen jalan.
Awalnya cuma curhat jelek. Terus jadi observasi. Ibu warung depan gang yang jual pisang goreng jam lima sore dan selalu nanya “ndak pulang Jakarta, Nduk?”. Anak kecil namanya Gilang yang bantuin Julian angkut es balok ke bar dan dibayar pakai es krim. Cowok bartender yang ternyata bisa betulin genteng sambil ngambek, bisa bikin kopi enak, bisa beli satu perusahaan sebelum makan siang, tapi nggak bisa bilang “aku kangen” secara langsung.
Tulisan gue berantakan, jujur, dan bikin d**a gue agak longgar setiap selesai nulis. Pagi-pagi mata gue sembab, tapi kepala gue lebih jernih daripada setelah delapan jam meeting Zoom.
Julian konsisten dinginnya. Menyebalkan, karena konsisten juga munculnya.
Gas vila habis? Pagi-pagi udah ada tabung baru di belakang, selangnya udah kepasang rapi.
Motor sewaan gue mogok? Sore-sore udah nyala lagi, bensin penuh, spion yang kendor udah kenceng.
Gue demam ringan karena kehujanan waktu nungguin tukang genteng dadakan itu? Ada kotak obat dan bubur ayam di depan pintu. Masih panas. Nggak ada yang ngetuk.
Setiap kali gue buka pintu mau bilang makasih, Julian udah jalan balik ke bar, punggungnya lebar, langkahnya santai, seolah nggak ada apa-apa.
Hari ketujuh mode pesawat ini, gue meledak. Gue habis conference call sama Board Jakarta, ditolak cuti beneran sama tim gue sendiri karena ada krisis klien, terus Wi-Fi vila mati lagi. Gue jalan ke The Driftwood bawa laptop, kesal setengah mati, hujan rintik-rintik.
Julian lagi di balik bar, ngelap gelas. Lihat gue masuk, dia cuma ngangguk. Dingin lagi.
“Kamu marah sama aku?” tanya gue, langsung, nggak pakai basa-basi. Suara gue agak gemetar karena nahan capek.
Julian berhenti ngelap. Naruh gelas pelan-pelan. Akhirnya dia nengok. Matanya capek banget, ada lingkaran hitam yang sama kayak punya gue.
“Enggak,” katanya. “Aku nunggu kamu selesai marah sama aku.”
Jawaban itu bikin d**a gue sesak. Gue pengen teriak, pengen nangis, pengen nonjok dia lagi kayak di Bab 15. Tapi yang keluar cuma napas panjang.
“Kalau aku nggak selesai-selesai gimana?”
Julian senyum tipis banget, hampir nggak kelihatan. Senyum pertama dalam seminggu.
“Ya aku tungguin. Aku udah nunggu sepuluh tahun, Ra. Seminggu lagi keburu apa?”
Dia geser segelas kopi dingin ke arah gue, tanpa gue pesan. “Wi-Fi password-nya masih tanggal lahir kamu.”
Gue duduk di kursi bar itu, buka laptop, buka juga buku biru navy gue di sebelah keyboard. Julian balik kerja, ngelap gelas, layanin pelanggan, sesekali ngelirik ke arah gue waktu dia pikir gue nggak lihat.
Kami nggak baikan. Belum. Dia masih dingin kalau ngomong, gue masih insomnia kalau malam. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak map Project T.A. kebuka, gue nulis bukan karena nggak bisa tidur. Gue nulis karena gue pengen.
Di halaman baru, gue tulis satu kalimat: “Mungkin pencapaian gue memang dibukain pintunya sama dia. Tapi yang jalan masuk, yang berdarah-darah di dalam ruangan itu, tetap gue.”
Di seberang bar, Julian batuk kecil, pura-pura sibuk. Di atas kulkas bar, gue lihat post-it kuning dengan tulisan tangan gue sendiri yang gue nggak ingat pernah tempel: “Jangan lupa makan.”
Tulisan tangan gue, tapi bukan gue yang nempel di situ. Dia yang nyimpen.