Tiga hari.
Tiga hari sejak map kulit hitam bertuliskan PROJECT T.A. itu kebuka di meja kerja Julian, dan pesisir ini rasanya berubah jadi dua negara tetangga yang lagi perang dingin. Bukan perang yang berisik, yang ada piring pecah dan teriak-teriakan. Justru yang bikin gila itu sepinya. Sepi yang rapi, sopan, dan mematikan.
Pagi pertama setelah ledakan itu, Tara kebangun di ranjang Julian. Bukan karena mereka baikan. Semalam dia nangis sampai ketiduran di sofa vilanya sendiri, terus kebangun jam tiga pagi karena AC mati dan nyamuk masuk, terus jalan setengah sadar ke pintu belakang The Driftwood karena cuma di situ badannya ngerasa sedikit aman. Julian bukain pintu tanpa ngomong satu kata pun, ngasih dia sisi ranjang yang kosong, terus tidur membelakangi dia dengan jarak satu jengkal yang rasanya kayak satu samudra.
Paginya, waktu Tara kebangun, sisi ranjang itu udah dingin. Di dapur ada sepiring telur mata sapi, setengah matang, lada hitam agak banyakan, persis kayak pesanan dia sepuluh tahun lalu. Tapi nggak ada Julian. Nggak ada kopi. Nggak ada senyum miring yang biasanya bikin lutut lemes. Cuma ada secarik kertas sobekan struk yang ditaruh di bawah piring: “Meeting. Kunci di pot.”
Tulisan tangannya rapi. Dingin. Kayak email ke vendor.
Itu awal dari mode pesawatnya Julian.
Mulai hari itu, Julian Adhitama, CEO Adhitama Holdings, pemilik pesisir, mantan pacar gue, orang yang ngebeliin karier gue selama tujuh tahun tanpa izin gue — semuanya jadi satu orang yang sama — berubah jadi kulkas berjalan.
Kalau Tara lewat depan The Driftwood jam sembilan pagi, Julian lagi ngelap gelas di balik bar. Dia akan ngangguk sekali. Sopan. Profesional. Kayak gue ini turis nyasar.
“Pagi,” katanya.
“Pagi,” jawab Tara.
Selesai. Nggak ada “Bu Bos”, nggak ada godaan “kamu masih di sini?”, nggak ada kopi dingin yang tiba-tiba nongol di meja tanpa diminta.
Kalau Tara sengaja duduk di pojok bar sore-sore bawa laptop, pura-pura kerja biar bisa dekat, Julian akan layanin dia kayak pelanggan biasa. Datang, taruh menu, nunggu.
“Mau pesan apa?”
Gue pengen teriak, “Lo pikir gue mau pesan apa, Jul? Gue mau penjelasan tujuh tahun hidup gue yang lo setting pakai uang lo!” Tapi yang keluar dari mulut gue cuma, “Air putih aja.”
Julian naruh air putih itu tanpa kontak mata lebih dari dua detik. Terus balik ngobrol sama pelanggan lain, ketawa kecil, santai. Seolah Tara itu hantu yang kebetulan bisa pesan minum.
Itu yang paling nyiksa. Dia dingin, tapi dia ada. Terus. Di mana-mana. Nggak pernah jauh lebih dari lima puluh meter.
Malam pertama mode pesawat ini, listrik vila Tara jeglek jam setengah sebelas malam. Gelap total. Hujan deras, sinyal HP ilang, laptop yang lagi dipakai buat revisi deck pitch langsung mati. Tara panik, ngeraba-raba cari lilin di laci dapur, nyaris jatuh kejedot meja kopi.
Lima menit kemudian, dari luar kedengeran suara gerendel box meteran dibuka pakai obeng. Ceklek. Lampu teras nyala. Lampu ruang tengah nyala. Laptop yang lagi nge-charge bunyi ting.
Tara lari ke pintu