Pagi itu, Tara ngerasa kayak lagi hidup di dalam film fiksi ilmiah.
Semuanya kerasa nggak nyata. Bangun tidur di ranjang cowok yang sepuluh tahun lalu dia tinggalin, dan sekarang cowok itu ternyata adalah bos besar dari perusahaan investasi raksasa yang baru aja ngebeli firma PR tempatnya kerja. Oh, jangan lupakan fakta kalau dia sekarang resmi jadi CEO di perusahaannya sendiri.
Gila. Sumpah, ini gila banget, batin Tara sambil natap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi Julian. Dia nyipratin air dingin ke wajahnya, berusaha ngebangunin dirinya sendiri dari apa pun mimpi absurd ini. Tapi air itu nyata dinginnya, dan sikat gigi baru yang disiapin Julian di wastafel juga nyata.
Tara keluar dari kamar mandi pakai kaus kebesaran milik Julian lagi. Wangi bacon panggang sama kopi hitam langsung nyapa hidungnya. Di area dapur kecil yang nyatu sama ruang tengah, Julian lagi asyik ngebalik telur di atas teflon. Cowok itu cuma pakai celana training abu-abu yang agak melorot di pinggul, tanpa atasan. Otot punggungnya bergerak mulus setiap kali tangannya mainin spatula.
Pemandangan domestik ini bener-bener bikin hati Tara meleleh, tapi di saat yang sama, otak rasionalnya masih loading parah.
"Udah bangun, Bu Bos?" sapa Julian tanpa nengok, suaranya serak-serak basah dan terkesan ngeledek. "Telur mata sapi, setengah matang, lada hitam agak banyakan. Sesuai pesanan sepuluh tahun lalu. Duduklah."
Tara narik kursi kayu di meja pantry dan duduk sambil nopang dagu. "Jul, aku masih ngerasa ini semua absurd. Gimana ceritanya sih kamu bisa nutupin identitas kamu serapat itu? Maksudku, Adhitama Holdings itu nama besar. Kok media nggak pernah ada yang ngekspos muka kamu?"
Julian naruh piring berisi sarapan di depan Tara, lalu duduk di sebelahnya sambil nyesap kopi hitam dari mug.
"CEO proksi, Sayang," jawab Julian santai. "Orang yang selama ini tampil di depan media, potong pita, dan wawancara majalah bisnis itu tangan kananku, Dirga. Publik ngiranya dia bosnya. Aku lebih suka kerja di balik layar. Silent majority. Jadi aku bisa fokus ngehancurin musuh tanpa mereka sadar siapa yang lagi nebas leher mereka."
Tara merinding denger nada dingin dan kejam di balik kata-kata Julian yang diucapin seenteng ngomongin cuaca. Di satu sisi, cowok ini posesif banget dan rela ngelakuin apa aja buat dia. Di sisi lain, cowok ini beneran red flag berjalan kalau udah menyangkut urusan bisnis dan balas dendam.
Tapi anehnya, Tara nggak peduli. Dia udah terlanjur jatuh terlalu dalam.
"Aku ada conference call mendadak sama Board of Directors di Jakarta jam sepuluh nanti buat ngebahas transisi kepemilikan firmamu," Julian ngelirik jam tangannya. "Aku bakal meeting di beranda luar biar sinyalnya lebih stabil. Kalau kamu mau ngecek email dari laptopku buat nyesuaiin berkas kantormu, pakai aja di meja kerjaku. Sandinya tanggal lahirmu."
Lagi-lagi Tara speechless. Tanggal lahirnya.
Setelah selesai sarapan, Julian ngambil tabletnya dan jalan keluar ke beranda belakang, nutup pintu kaca biar suara angin laut nggak terlalu bising.
Tara beranjak ke meja kerja Julian yang ada di sudut ruangan. Meja kayu solid itu kelihatan rapi. Cuma ada laptop, beberapa tumpukan map, sama hardisk eksternal. Baterai ponsel Tara kebetulan kritis banget. Dia butuh kabel charger tipe-C.
"Pasti ada di laci," gumam Tara. Dia narik laci pertama. Kosong, cuma ada pulpen. Dia narik laci kedua. Ada gulungan kabel di situ.
Tapi saat Tara mau ngambil kabel itu, matanya nggak sengaja nangkep sebuah map kulit warna hitam di dasar laci. Map itu tebel banget, dan di bagian depannya ada stiker label yang ditulis tangan pakai spidol emas: PROJECT T.A.
T.A.? Tara Amalia? batin Tara ngerut kening.
Rasa penasarannya menang telak. Tara narik map itu dari laci dan meletakkannya di atas meja. Dia ngebuka halaman pertamanya.
Napas Tara mendadak berhenti.
Lembar pertama adalah cetakan email dari tahun 2019—tujuh tahun yang lalu. Pengirimnya Julian (pakai email Adhitama Holdings), ditujukan ke Dirga.
“Pastikan PT Komunikasi Utama dapet tender dari anak perusahaan kita yang di Surabaya. Syaratnya cuma satu: Minta mereka naruh Tara Amalia sebagai Lead Project-nya. Kalau mereka nolak, batalin semua investasi kita di sana.”
Tangan Tara gemetar. Dia ngebuka halaman selanjutnya. Tahun 2020. Ada laporan profil saingan Tara di kantor dulu, namanya Kevin. Kevin ini cowok licik yang nyaris ngerebut posisi manajer dari Tara waktu itu. Tapi anehnya, Kevin tiba-tiba resign karena dapet tawaran gaji tiga kali lipat di perusahaan start-up asing.
Di kertas itu, ada memo kecil tulisan tangan Julian: “Bayar start-up itu buat rekrut si Kevin. Singkirin dia dari kantor Tara biar jalannya buat naik jadi Manajer mulus.”
Tara ngebuka halaman demi halaman dengan jantung yang berdetak brutal di telinganya. Semuanya ada di sana. Semuanya.
Proyek kosmetik internasional yang bikin nama Tara meroket? Perusahaan kosmetik itu ternyata disuntik dana rahasia oleh Adhitama Holdings dengan klausul wajib pakai jasa Tara. Promosi jabatan Tara jadi Senior Executive? Firma PR-nya dapet hibah miliaran dari klien misterius tepat di hari evaluasi kinerja Tara.
Tara nutup mulutnya pakai tangan, nahan isak tangis yang tiba-tiba nyekik tenggorokannya.
Selama sepuluh tahun ini, Tara selalu ngerasa bangga luar biasa sama dirinya sendiri. Dia ngerasa jadi cewek alpha yang mandiri, yang ngerangkak dari bawah, berdarah-darah ngebangun kariernya di Jakarta dengan otaknya sendiri. Dia bahkan ngerasa bersalah karena udah ninggalin Julian demi ngejar "kesuksesan" yang murni hasil jerih payahnya.
Tapi map ini... map b******k ini ngehancurin ilusi itu sampai jadi debu.
Dia bukan cewek mandiri. Karier gemilangnya, promosi jabatannya, klien-klien besarnya... itu semua hasil setting-an Julian. Julian nge-desain jalannya dari balik bayang-bayang. Julian ngebeliin kesuksesan buat Tara.
CKLEK.
Suara pintu kaca dibuka dari luar. Julian melangkah masuk sambil mijit pangkal hidungnya, kelihatan lelah abis meeting. "Selesai juga akhirnya. Eh, Ra, kamu udah buka email—"
Kalimat Julian terputus. Langkahnya berhenti mendadak saat matanya nangkap sosok Tara yang berdiri kaku di depan meja kerjanya. Tangan cewek itu gemetar hebat megang map hitam bertuliskan Project T.A. Wajah Tara pucat pasi, matanya merah nahan air mata, tapi sorot matanya natap Julian dengan kekecewaan dan kemarahan yang luar biasa pekat.
Suasana ruangan mendadak hening dan beku. Sisa senyum di wajah Julian langsung luntur. Cowok itu sadar apa yang baru aja kejadian. Bom waktu yang dia kubur rapat-rapat selama tujuh tahun akhirnya meledak di depan mukanya.
"Tara..." panggil Julian, suaranya tiba-tiba serak. Dia maju selangkah dengan tangan setengah terangkat.
"Berhenti di situ," desis Tara tajem banget, suaranya bergetar hebat. Dia ngelempar map tebal itu ke atas meja sampai beberapa kertasnya berceceran di lantai. "Apa ini, Jul? Jawab aku! APA INI?!"
Julian menelan ludah. Rahangnya mengeras. Dia nggak mencoba nyangkal. "Itu... semua back-up plan aku buat kamu."
"Back-up plan?!" Tara ketawa hampa, air mata akhirnya jatuh dari pelupuk matanya. "Kamu manipulasi seluruh hidupku! Tujuh tahun! Kamu bayar klien buat makai jasaku! Kamu nyingkirin sainganku di kantor pakai duitmu! Aku pikir... aku pikir aku hebat, Jul. Aku pikir aku berhasil ngebuktiin kalau pilihanku ninggalin kamu dulu itu membuahkan hasil karena aku sukses merintis karierku sendiri!"
Tara melangkah maju, mukul d**a bidang Julian keras-keras, meluapkan rasa frustrasinya. Pukulannya nggak kerasa sakit di fisik Julian, tapi cukup bikin cowok itu hancur ngeliat air mata Tara. Julian ngebiarin dirinya dipukul tanpa melawan.
"Kamu bikin aku ngerasa mandiri, padahal aku cuma boneka yang main di atas panggung yang kamu bangun!" isak Tara, napasnya tersengal. Ego kebanggaannya sebagai wanita karier bener-bener hancur berantakan. "Kenapa kamu lakuin ini?! Buat ngetawain aku dari jauh? Buat ngebuktiin kalau tanpa uangmu aku ini bukan apa-apa?!"
Julian tiba-tiba nangkap kedua pergelangan tangan Tara yang lagi mukulin dadanya. Cengkeramannya kuat, tapi matanya natap Tara dengan keputusasaan yang sama besarnya.
"Bukan buat ngetawain kamu! Sumpah demi Tuhan, bukan, Tara!" bentak Julian, suaranya pecah, emosinya ikut meledak. Dia narik Tara mendekat sampai napas mereka beradu. "Aku ngelakuin ini karena aku tahu seberapa besar obsesi kamu sama karier! Kamu ninggalin aku sepuluh tahun lalu karena kamu mau di puncak, kan?! Maka aku pastiin kamu sampai di puncak itu tanpa luka parah!"
Mata gelap Julian berkilat basah, menatap wajah Tara yang penuh air mata.
"Kamu pikir aku rela ngeliat cewek yang paling aku cintai di dunia ini diinjek-injek sama kultur korporat Jakarta yang busuk?" suara Julian merendah jadi bisikan serak yang nyayat hati. "Aku kerja siang malam, ngebangun kekuasaan, cuma buat mastiin aku bisa jadi tameng tak kasat mata buat kamu, Ra. Biar jalan kamu mulus. Biar kamu bahagia sama mimpimu, meskipun di mimpimu itu... udah nggak ada aku."
Tara mematung. Napasnya tercekat di tenggorokan. Semua kemarahannya tiba-tiba membeku ngedenger pengakuan cowok itu.
Julian nggak ngelakuin ini buat ngeremehin kemampuan Tara. Julian ngelakuin ini karena cintanya terlalu gila, terlalu posesif, dan terlalu toxic. Dia merelakan dirinya nggak dianggap, asalkan Tara berhasil dapet apa yang dia mau.
"Tapi itu salah, Jul..." bisik Tara lemah, kakinya lemes banget sampai dia harus nyender ke d**a cowok itu buat nopang tubuhnya. "Kamu bikin pencapaianku jadi palsu..."
"Persetan sama palsu," geram Julian posesif, melingkarkan tangannya erat-erat di pinggang Tara, menyandarkan dagunya di puncak kepala cewek itu. "Di duniaku, nggak ada yang lebih nyata dari mastiin kamu aman. Dulu, aku terlalu lemah buat nahan kamu pergi. Sekarang, aku rela ngehancurin sistem apa pun biar kamu nggak pernah jatuh."
Tara nutup matanya, menangis di pelukan cowok yang sama gilanya dengan dirinya sendiri. Di satu sisi dia benci diatur, tapi di sisi terdalam hatinya yang gelap, pengabdian Julian yang absolut ini adalah satu-satunya hal yang bikin dia ngerasa utuh.