Tara mundur selangkah, menatap Julian seolah cowok di depannya ini adalah alien. Kepalanya bener-bener kayak mau meledak.
"Seorang pion... berubah jadi Raja?" ulang Tara, suaranya naik satu oktaf. "Jul, kamu sadar nggak sih seberapa gilanya omongan kamu barusan? Sepuluh tahun! Sepuluh tahun kita putus, dan sekarang kamu tiba-tiba muncul sebagai bos besar dari perusahaan yang mau meras ayah mantanku?!"
Julian melangkah masuk ke dalam vila, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas. Ruang tengah itu mendadak kerasa sempit banget dengan postur Julian yang sekarang memancarkan aura d******i absolut. Cowok itu nggak lagi kelihatan kayak bartender pesisir yang lagi patah hati. Dia kelihatan kayak predator puncak.
"Aku nggak tiba-tiba muncul, Tara," jawab Julian santai. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku jeans. "Aku ngebangun Adhitama Holdings dari nol selama delapan tahun terakhir di Jakarta. Aku kerja kayak orang gila sampai nyaris mati berdiri cuma buat mastiin aku punya power yang cukup. Biar nggak ada lagi orang yang bisa ninggalin aku gara-gara aku kere dan nggak punya masa depan."
Kata-kata itu nampar Tara telak banget.
Tara mengusap wajahnya kasar, mondar-mandir di depan sofa. "Terus kenapa kamu ada di sini? Di bar reyot ini? Kenapa kamu pura-pura jadi tukang lap meja dan biarin aku ngira kamu cowok malang yang gagal move on?!"
"Bar ini nggak reyot, Sayang," Julian mendengus geli, matanya ngikutin setiap pergerakan Tara kayak macan ngawasin mangsa. "Dan aku nggak pura-pura. The Driftwood itu semacam terapi buatku. Jakarta terlalu berisik. Di sini aku bisa bernapas. Aku CEO di atas kertas, tapi operasional harian dipegang orang-orang kepercayaanku. Lagian..."
Langkah Julian memangkas jarak mereka. Sebelum Tara sadar, cowok itu udah berdiri tepat di depannya, mengunci pergerakannya.
"...kalau di malam badai itu aku ngaku sebagai miliarder yang bisa beli seluruh hidup kamu, kamu pasti bakal langsung lari," lanjut Julian, suaranya merendah, berat, dan bahaya. "Ego kamu terlalu gede, Tara. Kamu benci ngerasa berutang budi. Aku mau kamu datang ke aku karena kamu butuh aku. Bukan butuh power atau uangku."
"Kamu manipulatif, b******k," desis Tara. Tangannya terkepal, mendorong d**a bidang Julian dengan sisa-sisa tenaga dan kemarahannya. "Kamu sengaja nyiksa mentalku selama beberapa minggu ini! Kamu biarin aku nangis mikirin betapa hancurnya hidupku, padahal kamu tahu persis kamu punya kuasa buat ngusir Rian dari awal!"
Bukannya mundur, Julian malah menangkap kedua pergelangan tangan Tara. Cengkeramannya kuat tapi nggak nyakitin. Dia menekan kedua tangan Tara ke d**a bidangnya, ngebiarin cewek itu ngerasain detak jantungnya yang berpacu liar.
"Aku biarin kamu hancur di sini, di depanku, biar aku bisa ngebangun kamu lagi," bisik Julian tepat di depan bibir Tara. Matanya yang gelap memancarkan obsesi yang udah ditahan sepuluh tahun. "Aku biarin kamu sadar kalau dunia sempurna kamu di Jakarta itu palsu. Supaya kamu tahu, satu-satunya tempat yang nyata buat kamu cuma di sini. Di pelukanku."
"Kamu bener-bener gila," napas Tara tersengal. Kemarahannya pelan-pelan melebur jadi gairah yang nggak masuk akal. Adrenalin habis ngeliat Rian diusir ditambah d******i Julian bener-bener bikin kakinya lemas.
"Mungkin," jawab Julian, tatapannya turun ke bibir Tara yang setengah terbuka. "Tapi kamu suka cowok gila ini, kan?"
Dan tanpa nunggu jawaban, Julian langsung meraup bibir Tara.
Ciuman kali ini beda dari sebelumnya. Kalau semalam rasanya putus asa, sore ini ciuman itu dipenuhi letupan adrenalin, d******i, dan kepemilikan mutlak. Julian melepaskan tangan Tara, beralih meremas pinggang ramping cewek itu dan mengangkatnya ke atas meja konsol di dekat pintu.
Tara mengerang tertahan di dalam mulut Julian, jemarinya secara refleks menyusup ke rambut cowok itu, menariknya pelan. Julian menggigit bibir bawah Tara, memaksanya membuka mulut lebih lebar sebelum lidahnya masuk menginvasi. Udara di dalam vila seolah menguap, digantikan oleh suhu tubuh mereka yang mendadak panas.
Tangan Julian menyelinap masuk ke balik sweter Tara, mengusap kulit perutnya yang hangat. Sentuhan kapalan cowok itu ngirim sengatan listrik yang bikin tubuh Tara melengkung, merapatkan diri ke arah Julian.
"Jul..." desah Tara saat bibir cowok itu berpindah ke lehernya, meninggalkan kecupan-kecupan panas yang bikin pikirannya kosong.
"Kamu punya aku sekarang, Ra. Semuanya," bisik Julian serak di ceruk lehernya. "Rian nggak bakal bisa nyentuh sehelai rambutmu lagi. Aku jamin itu."
Mereka berdua terlarut dalam panasnya sore itu, menumpahkan semua emosi yang tertahan lewat sentuhan yang intens dan berantakan. Nggak ada lagi jarak. Nggak ada lagi rahasia soal status. Yang ada cuma Tara dan Julian—dua orang yang akhirnya berhenti lari.
Satu jam kemudian.
Tara duduk bersandar di d**a Julian di atas sofa, dibalut selimut tipis. Kepalanya bersandar nyaman di bahu cowok itu. Julian lagi sibuk ngetik sesuatu di ponselnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi terus ngelus lengan Tara dengan gerakan konstan yang bikin ngantuk.
"Aku masih nggak nyangka," gumam Tara pelan, memecah keheningan. "Jadi bos besar Adhitama... Kamu bener-bener ngerencanain akuisisi Mahendra Corp dari lama?"
Julian meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Dia mengecup puncak kepala Tara sebelum ngejawab. "Sebenarnya, Mahendra Corp udah masuk radar perusahaanku dari tahun lalu karena manajemen mereka bobrok. Tapi aku nggak ada niat buat takeover paksa. Sampai..."
"Sampai?" Tara mendongak, menatap dagu tegas Julian.
Julian menghela napas. Matanya berkilat dingin. "Sampai tiga minggu lalu, aku dapat laporan dari mata-mataku di Jakarta kalau pertunangan eksekutif PR terkenal bernama Tara batal gara-gara diselingkuhin."
Tara terbelalak. "Kamu masang mata-mata buat ngawasin aku?!"
"Jangan lebay, Sayang. Dunia bisnis itu sempit. Kabar batal nikahnya PR Executive top yang nanganin klien-klien kakap pasti cepet nyebar di kalangan elite," Julian tersenyum miring. "Begitu aku tahu Rian yang bikin kamu hancur, detik itu juga aku suruh timku buat nge-Goreng isu batal nikah kalian ke media finansial. Saham mereka anjlok parah, investor panik, dan boom... perusahaanku masuk ngebeli saham mayoritasnya dengan harga diskon."
Tara speechless. Mulutnya kebuka kecil. Julian memicu krisis finansial di perusahaan raksasa cuma buat bales dendam karena cowok itu nyelingkuhin Tara. Ini bener-bener level obsesi yang menakutkan, tapi anehnya... Tara ngerasa luar biasa terlindungi.
"Ngomong-ngomong soal kerjaan..." Julian tiba-tiba meraih tabletnya dari meja dan menyodorkannya ke pangkuan Tara. "Coba kamu baca email terakhir yang masuk ke kotak masuk pribadimu."
Tara mengerutkan kening. Dia ngambil tablet itu dan ngebuka layar yang udah nyala. Itu email dari HRD firmanya, PT Komunikasi Utama.
Bukan balasan soal persetujuan cuti. Melainkan sebuah pengumuman internal perusahaan.
Mata Tara berlari membaca baris demi baris teks di layar. Tiba-tiba, napasnya tercekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Jul... ini..." Tara menatap layar dan wajah Julian bergantian, tangannya gemetar. "Ini maksudnya apa? RUPS darurat? Pergantian pemegang saham mayoritas?"
Julian tersenyum santai, menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa. "Tadi siang, waktu kamu panik mau kirim email cuti, aku diam-diam ngecek inbox kantormu. Bos kamu, si Direktur b******k itu, berniat mecat kamu besok Senin. Rian nekan dia, ngancem bakal cabut semua kontrak Mahendra Corp dari firma kalian kalau mereka nggak nendang kamu."
Tara menggigit bibir. Hal itu emang udah dia prediksi. Di Jakarta, uang dan koneksi adalah raja. Dia udah siap kehilangan kariernya.
"Jadi," lanjut Julian dengan nada seringan orang ngomongin menu makan malam. "Sebelum bos kamu berani nyentuh kamu atau ngeluarin surat pemecatan, jam dua siang tadi, Adhitama Holdings resmi ngakuisisi firma PR kamu. Aku beli perusahaan tempat kamu kerja, Tara."
Plot twist itu bener-bener ngehantam Tara layaknya truk tronton.
"K-Kamu beli perusahaanku?!" Tara teriak histeris, nyaris loncat dari sofa saking kagetnya.
"Yap. Mulai besok, bos yang mau mecat kamu itu resmi jadi bawahanku. Atau lebih tepatnya, bawahanmu," Julian ngedipin sebelah matanya. "Aku udah minta tim legal buat mindahin nama kepemilikan saham itu ke nama kamu. Kamu sekarang adalah Owner sekaligus CEO baru dari PT Komunikasi Utama."
Tara bener-bener kehilangan kata-kata. Dia cuma bisa mangap kayak ikan kurang oksigen. Ini gila. Ini terlalu gila.
"Kamu nggak perlu balik ke Jakarta buat kerja, Sayang. Kamu bisa mimpin mereka semua secara remote dari pesisir ini. Dari vilaku," Julian menarik pinggang Tara agar kembali merapat padanya. "Oh, dan satu lagi."
"Ada lagi?!" Tara nyaris pingsan.
Julian tersenyum kejam. Sebuah senyum predator sejati. "Perempuan yang tidur sama Rian... Sarah, kan? Tadi sore dia baru aja resmi dikeluarin dari industri PR. Blacklisted dari semua asosiasi media dan agensi di seluruh negeri. Nggak ada satu pun perusahaan yang bakal berani nerima CV dia."
Cowok itu menunduk, mengecup pelan ujung hidung Tara yang masih shock berat.
"Nggak ada yang berani nyentuh cewek yang udah ngusik Ratuku. Selamat menikmati tahta barumu, CEO Tara."