Tiga jam kerasa kayak tiga menit.
Tara mondar-mandir di ruang tengah vilanya sampai karpet rajut di bawah kakinya rasanya mau bolong. Kuku-kukunya udah habis digigitin. Jantungnya deg-degan nggak karuan, persis kayak orang yang lagi nunggu vonis hukuman mati.
Gila, gue beneran bisa gila kalau gini caranya, batin Tara panik.
Walaupun Julian udah nyuruh dia kunci pintu dan diam aja di dalam, insting Tara sebagai cewek yang terbiasa ngontrol situasi meronta-ronta. Dia nggak bisa cuma duduk manis sambil nunggu mantan tunangannya yang toxic itu bikin keributan di tempat Julian. Rian itu bukan tipe cowok yang gampang nyerah; dia narsis, manipulatif, dan benci banget kalau ada hal yang nggak jalan sesuai kemauannya. Dan yang paling parah, Rian punya power dan duit.
Suara decit ban mobil yang ngerem mendadak di jalanan berkerikil depan vila memecah keheningan sore.
Tara langsung membeku. Dari balik celah tirai, dia ngintip ke luar. Sebuah SUV hitam mewah keluaran terbaru—mobil yang sangat dia kenal—parkir sembarangan tepat di depan pelataran The Driftwood.
Pintu pengemudi dibanting keras. Rian turun dari mobil. Penampilannya bener-bener kacau. Kemeja mahalnya kusut, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah kayak orang kurang tidur yang lagi nahan emosi meledak. Dia nggak kelihatan kayak eksekutif muda yang biasanya tampil rapi di cover majalah bisnis; dia kelihatan kayak orang putus asa.
"Tara! Keluar kamu!" Rian teriak kencang banget, suaranya pecah belah di tengah sepinya pesisir sore itu. Dia jalan cepat ke arah vila Tara, tangannya udah siap buat gedor pintu.
Tapi sebelum tangan Rian nyentuh gagang pintu vila, sebuah suara berat dan santai menginterupsi dari arah samping.
"Woi. Ini bukan hutan. Nggak usah teriak-teriak."
Tara menahan napas. Julian berdiri bersandar di pagar kayu bar miliknya. Cowok itu kelihatan kelewat santai. Kaus hitam, celana jeans, tangan dilipat di depan d**a, dan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di bibirnya. Matanya yang gelap natap Rian dengan tatapan meremehkan yang biasanya dia pakai buat ngusir pemabuk rese.
Rian menoleh kasar. Dia menatap Julian dari atas ke bawah, raut wajahnya langsung berubah jijik merendahkan.
"Lu siapa? Jongos vila ini?" sungut Rian, dagunya keangkat sombong. "Nggak usah ikut campur. Gue lagi nyari calon istri gue. Minggir."
Julian bukannya minggir, malah melangkah pelan mendekati Rian. Postur tubuh Julian yang jauh lebih tinggi dan tegap langsung bikin Rian kelihatan menyusut.
"Calon istri?" Julian mendengus geli, nada suaranya ngejek banget. "Setahu gue, dia udah balikin cincin lu setelah mergokin lu tidur sama sahabatnya sendiri. Di kamus gue sih, itu namanya 'mantan' yang udah muak sama lu, Bro."
Wajah Rian langsung merah padam. Urat di lehernya menonjol. Dia maju selangkah, menunjuk wajah Julian. "Lu tahu apa, Hah?! Tukang tuang minuman kayak lu nggak usah sok tahu urusan orang kelas atas! Panggil Tara sekarang, atau gue bikin bar rongsokan lu ini rata sama tanah! Lu nggak tahu gue siapa?!"
Tara yang ngintip dari balik tirai makin panik. Dia tahu Rian punya backing-an kuat di perusahaannya. Dia nggak mau Julian kena masalah gara-gara melindunginya. Tara udah mau muter kunci pintu buat keluar dan nyamperin mereka, tapi kalimat Julian selanjutnya bikin tangannya berhenti di udara.
Julian ketawa. Bukan tawa sinis atau tawa marah, tapi tawa renyah yang bener-bener ngeledek. Dia narik rokok dari bibirnya, lalu ngerogoh saku jeans-nya buat ngambil ponsel.
"Gue tahu persis lu siapa, Rian Mahendra," ucap Julian santai sambil ngetik sesuatu di layarnya. "Direktur Operasional di Mahendra Corp. Calon pewaris tunggal yang lagi panik karena saham perusahaan keluarga lu anjlok dua puluh persen gara-gara gosip batal nikah lu bocor ke investor."
Rian seketika kicep. Matanya melotot kaget. "D-Dari mana lu tahu soal saham gue?"
Julian mengangkat bahu santai. "Gue tahu banyak hal. Termasuk fakta kalau lu ke sini bukan karena lu cinta sama Tara. Lu ke sini karena lu butuh Tara—si jenius PR itu—buat bikin press release palsu, kan? Buat damage control nutupin skandal lu biar board of directors lu nggak nendang lu dari kursi kepemimpinan."
Di balik jendela, d**a Tara berdesir hebat. Kepalanya pusing. Tunggu. Dari mana Julian tahu semua detail itu? Tara sama sekali belum cerita sejauh itu soal kondisi perusahaan Rian.
Rian kelihatan makin gelagapan, tapi egonya yang gede masih berusaha mendominasi. Dia ngeluarin dompet tebalnya, nyabut beberapa lembar uang ratusan ribu, dan melemparnya ke d**a Julian. Uang itu jatuh berhamburan di atas kerikil.
"Ambil duit itu dan tutup mulut lu, Bartender Gembel! Tinggal bilang sama gue di mana Tara sembunyi!" bentak Rian kalap.
Julian bahkan nggak ngelirik uang di bawah sepatunya. Sorot matanya mendadak berubah jadi sedingin es. Dia maju satu langkah lagi, kali ini memangkas jarak sampai Rian harus mendongak ketakutan.
"Lu bener-bener salah milih musuh, Rian," bisik Julian, suaranya berat dan mengancam. Julian mengarahkan layar ponselnya tepat ke depan wajah Rian. "Lu ngancem mau ngeratain bar gue? Coba lu baca baik-baik dokumen PDF yang baru gue buka ini."
Rian menyipitkan mata, membaca sekilas tulisan di layar ponsel Julian. Detik berikutnya, wajah Rian berubah pucat pasi. Lebih pucat dari mayat. Kakinya sampai mundur selangkah, nyaris kesandung batu.
"G-Gila... Nggak mungkin," suara Rian gemetar hebat, matanya bolak-balik natap layar ponsel dan wajah Julian dengan shock berat. "Grup Adhitama... The Adhitama Holdings? I-Itu perusahaan yang baru aja mengakuisisi mayoritas saham Mahendra Corp minggu lalu. P-Pemilik aslinya..."
"Julian Adhitama," potong Julian dingin. Cowok itu tersenyum miring, memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Surprise, Bro. Gue nggak cuma jualan bir di sini. Gue punya seluruh pesisir ini, dan sialnya buat lu... mulai minggu lalu, gue juga resmi jadi bos besar di atas kepala lu."
Tara yang denger semuanya dari balik jendela langsung ngebekap mulutnya sendiri saking kagetnya. Tubuhnya merosot perlahan bersandar ke dinding vila. Julian... Grup Adhitama? Bos besar?
Sepuluh tahun lalu, Julian cuma mahasiswa idealis yang putus asa pas ditinggal Tara kerja ke Jakarta. Tara selalu mikir Julian cuma cowok sederhana yang nyari kedamaian di pesisir dengan buka bar kecil-kecilan. Ternyata, selama ini cowok itu adalah silent CEO dari salah satu perusahaan investasi raksasa yang belakangan ini lagi gencar-gencarnya mencaplok perusahaan di ibu kota.
"L-Lu... lu siapa hubungannya sama Tara?" Rian nanya dengan suara yang udah nggak ada sombong-sombongnya lagi. Nyalinya ciut total. Di depannya sekarang bukan cuma rival cinta, tapi orang yang bisa bikin dia miskin dalam hitungan jam.
"Tara itu perempuan gue," jawab Julian tanpa ragu sedikit pun. Nadanya posesif, mutlak, dan nggak bisa dibantah. "Sepuluh tahun lalu, dan sampai detik ini. Dan lu udah bikin dia nangis."
Julian menepuk bahu Rian yang kaku tegang. Tepukan pelan yang terasa kayak ancaman pembunuhan.
"Sekarang, masuk ke mobil mewah lu itu. Setir balik ke Jakarta," perintah Julian, nadanya rendah tapi mematikan. "Kalau sampai gue dengar lu ngehubungi Tara lagi, atau nyebut nama dia di depan publik buat nyelamatin muka lu, gue pastiin besok pagi surat pemecatan lu ada di meja, dan semua bukti penggelapan dana yang lu lakuin di belakang bokap lu bakal gue serahin ke KPK. Paham?"
Rian menelan ludah susah payah. Tubuhnya gemetar ketakutan. Tanpa bisa ngebantah sepatah kata pun, cowok yang lima menit lalu teriak-teriak sok jagoan itu langsung balik badan, setengah lari masuk ke dalam SUV-nya, dan tancap gas ninggalin pelataran The Driftwood sampai debunya berterbangan.
Julian berdiri diam ngeliatin mobil itu menjauh sampai hilang dari pandangan. Setelah suasana kembali sepi, cowok itu menghela napas panjang, mengusap wajahnya, lalu menoleh lurus ke arah jendela vila Tara.
Mata mereka bertemu.
Julian tahu sedari tadi Tara nguping di balik tirai. Cowok itu melangkah pelan mendekati pintu vila. Dia nggak ngetuk, cuma berdiri di sana, terpisahkan oleh dinding kayu tipis.
"Rian udah pergi. Dia nggak bakal berani ganggu kamu lagi, Tara," suara Julian terdengar pelan dari luar. Kasual, tapi ada nada cemas yang tersembunyi di baliknya. "Buka pintunya."
Tara menelan ludah. Kepalanya masih muter memproses plot twist gila yang baru aja dia dengar. Mantan pacar yang dia tinggalin karena milih karier, ternyata jauh lebih sukses, lebih kaya, dan lebih berkuasa dari semua orang yang pernah Tara kenal di ibu kota. Dan cowok itu sengaja nyembunyiin identitasnya selama ini.
Dengan tangan gemetar, Tara memutar kunci dan membuka pintu perlahan.
Julian berdiri di sana, menatapnya dengan raut wajah yang sulit dibaca. Bukan lagi sekadar bartender sinis yang terluka, tapi pria beraura dominan yang baru aja nunjukin taring aslinya.
"Jadi..." suara Tara pecah, dia menatap Julian dengan perasaan campur aduk antara lega, marah, dan bingung. "...Julian Adhitama? Sejak kapan kamu beli pesisir ini dan jadi bos dari mantanku?"
Julian tersenyum kecil, sebelah tangannya terulur merapikan rambut Tara yang berantakan, menyentuh pipinya dengan sangat lembut, seolah-olah sisi berbahayanya tadi cuma ilusi.
"Sejak aku sadar, kalau cuma duduk nunggu di bar nggak bakal bisa bawa kamu kembali ke pelukanku, Sayang," bisik Julian tenang. "Kadang, buat ngelindungin Ratu yang keras kepala, seorang pion harus diam-diam berubah jadi Raja dulu."