Layar ponsel yang retak di bagian ujungnya itu berkedip-kedip di atas lantai kayu, menampilkan nama Rian seolah itu adalah sebuah kutukan.
Tara mematung selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Udara di sekelilingnya mendadak berubah menjadi kental dan sulit dihirup. Gelembung kebahagiaan dan ilusi keamanan yang baru saja ia bangun bersama Julian semalam, hancur berkeping-keping menghantam realitas.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Tara memungut ponselnya. Ia mengetik balasan dengan ibu jari yang nyaris kaku.
[Tara]: Jangan berani-berani datang ke mari, Rian. Hubungan kita sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan.
Balasan dari Rian muncul kurang dari sepuluh detik kemudian, menunjukkan betapa obsesifnya pria itu saat ini.
[Rian]: Aku sudah di jalan tol luar kota. Tiga jam lagi aku sampai di titik lokasimu. Jangan lari lagi, Tara. Kita selesaikan ini baik-baik atau aku akan membuat keributan di tempat persembunyianmu.
Perut Tara melilit. Rasa mual yang familier kembali menyerang lambungnya. Rian adalah pria yang sangat menjaga citra, namun jika pria itu sudah merasa tersudut dan kehilangan kendali atas situasi—seperti yang Tara lakukan dengan membatalkan semua vendor pernikahan secara sepihak—Rian bisa bertindak nekat.
Mata Tara beralih pada lengan kemeja flanel kebesaran milik Julian yang sedang ia kenakan. Aroma musk dan pinus yang menempel di kain itu, yang lima menit lalu terasa seperti pelukan hangat, kini terasa seperti sebuah kejahatan. Ia baru saja menyerahkan dirinya kembali pada Julian, membuka lembaran baru di atas luka lama mereka, dan sekarang masa lalunya yang busuk datang menyusul untuk mengotori segalanya.
Tara berlari ke kamar tidurnya. Ia melepas kemeja Julian dengan gerakan panik, melipatnya kasar, lalu mengenakan pakaiannya sendiri—sebuah sweter rajut tebal dan celana jeans. Ia sedang membangun kembali armornya.
Ia harus memberi tahu Julian. Ia harus menjauhkan Julian dari kekacauan ini sebelum Rian tiba dan merusak ketenangan pria itu.
Tara melangkah keluar dari vila, setengah berlari melintasi jalan setapak menuju pintu belakang The Driftwood. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.
Ketika ia mendorong pintu kayu ruangan Julian, pria itu sedang berdiri memunggunginya, mengenakan kaus hitam bersih, sibuk mengancingkan celana jeans-nya. Julian menoleh saat mendengar suara pintu, senyum tipis yang mematikan sudah terbentuk di bibirnya.
"Itu cepat sekali. Aku bahkan belum sempat menyeduh kopiku—"
Kalimat Julian terhenti di udara. Matanya yang tajam langsung menangkap perubahan drastis pada sosok Tara.
Wanita yang berdiri di ambang pintu saat ini bukanlah wanita dengan tatapan memuja dan senyum lembut yang ia peluk setengah jam lalu. Ini adalah Tara sang PR Executive. Bahunya tegang, wajahnya pucat pasi seperti kertas, dan matanya memancarkan kepanikan yang berusaha keras ditutupi oleh dinding pertahanan yang dingin. Pakaian kasualnya dikenakan seperti sebuah baju zirah.
Senyum Julian lenyap seketika. Insting pelindungnya langsung menyala, tajam dan waspada.
"Ada apa?" tanya Julian, melangkah mendekat dengan langkah lebar. Suaranya berubah menjadi bariton rendah yang menuntut. "Tara, apa yang terjadi di sana?"
Tara menelan ludah, mundur selangkah secara insting saat Julian mendekat, takut jika ia bersentuhan dengan pria itu pertahanannya akan kembali hancur. Gerakan mundur itu tidak luput dari perhatian Julian, membuat rahang pria itu mengeras.
"Aku... aku harus pergi, Julian," suara Tara bergetar, meski ia berusaha keras membuatnya terdengar datar. "Aku harus segera membereskan barang-barangku. Aku tidak bisa tinggal di sini."
Julian mematung. Udara di dalam ruangan itu seketika turun beberapa derajat. Sorot mata pria itu berubah menggelap, dipenuhi oleh rasa tidak percaya dan kemarahan yang mulai mendidih.
"Kau berjanji padaku tadi pagi," desis Julian, suaranya terdengar mematikan. "Kau bilang kau tidak akan lari lagi. Apakah semalam hanya permainan bagimu? Sebuah pelarian singkat sebelum kau kembali pada kewarasan ibu kotamu?"
"Bukan begitu! Demi Tuhan, bukan begitu, Julian!" sergah Tara putus asa. Ia mencengkeram kepalanya sendiri. "Seseorang sedang dalam perjalanan ke mari. Seseorang dari Jakarta. Dia melacak lokasi komputerku dan akan tiba dalam tiga jam. Aku tidak bisa membiarkan dia menemuiku di sini... di dekatmu."
Julian mengerutkan kening, kemarahannya sedikit mereda, digantikan oleh kebingungan dan kewaspadaan. "Siapa? Siapa yang mencarimu sampai harus melacak lokasimu?"
Tara memalingkan wajah, menutup matanya erat-erat. Rasa malu menyelimutinya. Selama sepuluh tahun Julian mengira ia memiliki kehidupan yang sempurna dan tak tersentuh di Jakarta. Dan kini, pria itu harus melihat betapa menyedihkan dan hancurnya realitas Tara yang sebenarnya.
"Tara. Tatap aku," perintah Julian tegas, memegang kedua bahu wanita itu dengan tangan besarnya, memaksa Tara untuk menatapnya. "Katakan padaku siapa yang datang."
"Rian," bisik Tara, suaranya nyaris pecah. "Namanya Rian. Dia... dia mantan tunanganku."
Kata tunangan jatuh di antara mereka seperti sebuah bom waktu.
Keheningan yang menulikan menyergap ruangan itu. Tangan Julian di bahu Tara menegang kaku. Pria itu menatap Tara dengan sorot mata yang sulit diartikan—keterkejutan, cemburu yang membakar, dan kesadaran pahit bahwa selama sepuluh tahun mereka berpisah, Tara nyaris menjadi milik pria lain selamanya.
"Tunangan," ulang Julian perlahan, menguji kata itu di lidahnya seolah itu adalah racun. Rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot pelipisnya berkedut. "Kau lari ke tempat ini, ke pelukanku, dengan status sebagai wanita yang kabur dari pernikahannya?"
"Aku tidak kabur karena aku ragu, Julian!" air mata yang sedari tadi ditahan Tara akhirnya jebol. Pertahanannya hancur lebur. Ia menatap Julian dengan putus asa, membiarkan pria itu melihat seluruh luka bernanah yang ia sembunyikan. "Aku membatalkan pernikahanku karena aku memergokinya! Aku melihatnya bersetubuh dengan sahabatku sendiri di ranjang apartemen kami, tepat di hari aku sedang mengurus undangan pernikahan kami!"
Cengkeraman Julian di bahu Tara mengendur akibat keterkejutan.
"Aku hancur, Julian. Duniaku hancur berantakan. Aku terlalu malu untuk memberitahumu karena kau selalu bilang aku ahli mengatur segalanya," Tara terisak, menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat reaksi pria itu. "Dia memanipulasi situasinya, menolak diputuskan, dan sekarang dia datang ke mari untuk memaksaku kembali. Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam drama menjijikkan ini. Kau tidak pantas mendapatkan ini setelah apa yang kulakukan padamu dulu."
Tara bersiap untuk dilepaskan. Ia bersiap mendengar Julian menyuruhnya membereskan kekacauannya sendiri dan pergi dari pesisir ini.
Namun, alih-alih melepaskannya, tangan besar Julian justru melingkari pinggang Tara dengan erat, menarik wanita itu hingga menabrak d**a bidangnya. Julian memeluk Tara dengan kekuatan yang posesif dan melindungi, menenggelamkan wajah Tara ke dadanya, membiarkan wanita itu menangis di sana.
"Julian..." isak Tara teredam di kain kaus pria itu.
"Sstt," Julian menempelkan dagunya di puncak kepala Tara. Matanya menatap tajam ke arah jendela yang menghadap ke jalanan depan, dipenuhi oleh kilatan amarah yang dingin dan membunuh. Bukan amarah yang ditujukan pada Tara, melainkan pada pria b******n yang berani menghancurkan wanita di pelukannya ini.
Fakta bahwa Tara pernah menjadi milik pria lain memang menggoreskan rasa cemburu yang tajam di hati Julian. Namun, fakta bahwa pria itu menyakiti Tara, meremukkan ego dan harga diri wanita yang dulu selalu bersinar terang ini, membangkitkan insting predator Julian ke tingkat yang paling maksimal.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Tara," ucap Julian, suaranya sangat tenang, namun kejam. "Ini pesisirku. Ini wilayahku. Di sini, mantan tunanganmu yang b******k itu tidak memiliki kuasa apa pun atas dirimu."
Tara mendongak, matanya yang basah menatap rahang Julian yang mengeras. "Julian, kau tidak mengerti. Rian memiliki banyak koneksi. Dia tidak akan ragu membuat keributan di barku jika aku menolak menemuinya. Aku tidak ingin tempatmu hancur karena aku."
"Biarkan dia mencoba," Julian tersenyum sinis, sebuah senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya. Jari kasarnya menghapus air mata di pipi Tara dengan lembut. "Jika dia berani menginjakkan kakinya di The Driftwood dan membuatmu tidak nyaman satu detik saja, aku akan memastikan dia tidak bisa menyetir mobilnya kembali ke Jakarta. Apalagi berjalan."
Julian melepaskan pelukannya, menatap mata Tara lekat-lekat untuk memastikan wanita itu memahami setiap kata yang ia ucapkan.
"Kembalilah ke vilamu. Kunci pintunya. Jangan keluar sebelum aku yang mengetuknya," perintah Julian dengan otoritas absolut. "Aku punya waktu tiga jam untuk menyiapkan sambutan khusus bagi tamu dari masa lalumu."
Tara menatap mata gelap yang penuh perlindungan itu, dan untuk pertama kalinya sejak Rian mengkhianatinya, Tara merasa benar-benar aman. Ia mengangguk pelan, menyeka sisa air matanya, dan melangkah kembali ke vilanya, membiarkan Julian mengambil alih medan perang yang akan segera meledak sore ini.