Cahaya matahari pagi yang berwarna keemasan merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, jatuh tepat di atas bantal.
Tara mengerjap pelan, kesadarannya kembali secara bertahap. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pegal yang aneh namun memuaskan di sekujur ototnya. Hal kedua adalah bobot lengan kokoh yang melingkar posesif di perutnya, menahan tubuhnya agar tetap menempel erat pada d**a bidang yang hangat di belakangnya.
Ia tidak berada di vilanya. Ia berada di ranjang Julian.
Kepingan memori dari sore hingga malam yang gila semalam membanjiri benak Tara. Sentuhan kulit yang terbakar, erangan yang tertahan, pakaian yang berserakan di lantai kayu, dan bagaimana Julian menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal yang menahan pria itu dari kehancuran. Pria itu menepati kata-katanya; ia tidak bersikap lembut. Julian memujanya dengan intensitas dan keputusasaan yang membuat Tara merasa benar-benar hidup untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir.
Tara memiringkan wajahnya sedikit untuk melihat ke belakang. Julian masih tertidur lelap. Napas pria itu berembus teratur, menerpa bahu telanjang Tara. Garis keras di rahang pria itu terlihat jauh lebih rileks saat tertidur, menyembunyikan sinisme dan kemarahan yang selama ini menjadi tamengnya. Rambut gelapnya berantakan, jatuh menutupi sebagian keningnya.
Tara memutar tubuhnya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan pria itu. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan, membiarkan selimut tebal itu melorot sebatas d**a, dan menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menelusuri rahang Julian. Jari telunjuknya menyentuh bayangan cambang yang kasar, lalu turun ke d**a bidang pria itu, menelusuri sebuah bekas luka pudar di atas tulang selangkanya.
Tiba-tiba, lengan besar Julian mempererat lilitannya di pinggang Tara. Pria itu menariknya hingga d**a mereka saling menempel rapat.
"Jika kau terus menyentuhku seperti itu," suara serak khas bangun tidur yang sangat dalam dan menggetarkan perut Tara terdengar. Julian bahkan belum membuka matanya. "Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari ranjang ini sampai besok pagi."
Tara tersenyum kecil, membiarkan jari-jarinya kini menyisir rambut gelap Julian. "Aku pikir kau masih tidur."
Julian perlahan membuka matanya. Sorot mata gelap itu masih diselimuti kabut kantuk, namun dengan cepat berubah menjadi tajam dan jernih saat menatap Tara. Ia membiarkan tatapannya menyapu wajah wanita itu—rambut cokelat Tara yang kusut, bibirnya yang sedikit membengkak kemerahan akibat ciuman mereka semalam, dan kulit bahunya yang dihiasi tanda kemerahan samar.
Pandangan Julian melunak, memancarkan sesuatu yang sangat protektif dan posesif.
"Kau masih di sini," gumam Julian, menempelkan hidungnya ke ceruk leher Tara, menghirup aroma wanita itu dalam-dalam. "Separuh dari otakku tadi malam masih meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat aku bangun, kau sudah mengemasi barangmu dan pergi."
Hati Tara mencelos mendengar kerentanan yang berusaha disembunyikan pria itu di balik nada datarnya. Ia mengangkat wajah Julian agar pria itu menatapnya.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan pergi ke mana-mana," ucap Tara tegas. Ia mengecup bibir pria itu sekilas. "Aku memilih berada di sini. Denganmu."
Julian menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik, mencari keraguan di mata Tara. Ketika ia tidak menemukannya, sudut bibirnya perlahan tertarik membentuk senyum yang sebenarnya—senyum tampan, mematikan, dan tulus yang membuat d**a Tara berdesir hebat.
"Bagus," balas Julian. Pria itu tiba-tiba membalikkan posisi mereka, menindih tubuh Tara dengan berat tubuhnya sendiri dan mengurungnya di bawah lengan kokohnya. Tara memekik pelan karena terkejut, sebelum tawanya pecah saat Julian mulai menghujani leher dan pundaknya dengan ciuman basah yang menggelitik.
"Julian, hentikan, geli!" Tara tertawa, berusaha mendorong d**a pria itu namun sia-sia.
"Kau bilang aku boleh melakukan apa pun yang kumau," goda Julian, menggigit pelan cuping telinga Tara. "Dan yang kumau sekarang adalah memastikan kau mengingat setiap inci tempat ini."
Mereka menghabiskan satu jam berikutnya tergulung di dalam selimut, mengabaikan dunia luar dan membiarkan diri mereka tenggelam dalam keintiman sisa-sisa malam yang panjang. Tidak ada masa lalu yang dibahas, tidak ada masa depan yang direncanakan. Hanya ada masa kini yang terasa begitu mutlak.
Aroma kopi hitam yang tajam akhirnya memaksa Tara bangkit dari kasur setengah jam kemudian.
Julian sudah berdiri di depan meja konter kecil di sudut ruangannya, mengenakan celana jeans lusuh yang bertengger rendah di pinggulnya tanpa atasan, sibuk menuangkan air panas ke atas bubuk kopi. Pemandangan otot punggungnya yang bergerak liar di bawah sinar matahari pagi adalah sesuatu yang bisa Tara pandangi seharian tanpa merasa bosan.
Tara memungut kemeja flanel gelap Julian yang tergeletak di lantai dan mengenakannya. Kemeja itu kebesaran, menutupi hingga ke pertengahan pahanya, dan beraroma campuran musk Julian yang memabukkan. Ia melangkah tanpa suara, memeluk pria itu dari belakang, menyandarkan pipinya di antara tulang belikat Julian yang hangat.
Gerakan tangan Julian terhenti. Pria itu menolehkan kepalanya, menatap Tara dari atas bahu, lalu mengusap punggung tangan Tara yang melingkar di perutnya.
"Aku bisa membuatkanmu teh jika kau mau. Atau kopi dingin seperti kemarin," tawar Julian pelan.
"Tidak perlu. Aku akan minum air putih saja," jawab Tara, memejamkan mata menikmati kehangatan tubuh pria itu. "Jam berapa bar ini buka hari ini?"
"Jam empat sore," Julian membalikkan badannya di dalam pelukan Tara. Ia menyandarkan punggungnya ke meja konter, membiarkan Tara berdiri di antara kedua kakinya yang sedikit terbuka. Tangan Julian terangkat, merapikan kerah kemeja kebesaran yang dipakai wanita itu. "Kau punya rencana hari ini?"
"Tidak. Rencanaku hanya sebatas tidak keluar dari jarak radius sepuluh meter darimu."
Julian mendengus geli, tangannya menangkup rahang Tara. "Terdengar seperti rencana yang sangat bagus. Tapi sayang sekali, kau harus kembali ke vilamu sebentar."
Tara mengerutkan kening. "Kau mengusirku?"
"Sama sekali tidak. Jika aku bisa, aku akan menguncimu di ruangan ini," jawab Julian, matanya menggelap sejenak sebelum kembali tenang. "Tapi ponselmu tertinggal di vila sejak kemarin sore. Jangan sampai kolega-kolegamu di Jakarta menelepon polisi karena mengira eksekutif andalan mereka diculik di pesisir terpencil."
Tara menghela napas panjang. Realitas yang sejak semalam berhasil ia usir kini perlahan mulai mengetuk pintu kewarasannya kembali. Ia memang harus mengecek apakah direktur firmanya sudah menyetujui perpanjangan cutinya.
"Baiklah. Aku akan mandi, mengambil pakaian bersih, lalu kembali ke sini," Tara berjinjit, mengecup bibir Julian singkat.
"Pintunya tidak akan pernah dikunci," balas Julian, menatap wanita itu dengan sorot mata yang menjanjikan banyak hal untuk nanti malam.
Udara siang itu terasa cukup terik saat Tara berjalan melintasi jarak pendek antara The Driftwood dan vilanya. Ia masih mengenakan kemeja kebesaran Julian, melangkah dengan ringan tanpa alas kaki di atas rumput. Ada senyum kecil yang tak bisa hilang dari bibirnya. Ia merasa utuh kembali. Untuk pertama kalinya, lubang menganga akibat pengkhianatan Rian terasa mengecil, ditambal oleh kehangatan yang diberikan Julian.
Tara membuka pintu vilanya dan segera disambut oleh keheningan yang dingin. Ia berjalan menuju meja kopi di ruang tengah, di mana ponselnya tergeletak mati karena kehabisan baterai.
Ia menyambungkan kabel pengisi daya, menyalakan ponsel tersebut, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.
Sesaat kemudian, layar ponselnya menyala, menampilkan logo pabrikan, lalu masuk ke layar utama. Dalam hitungan detik, rentetan suara notifikasi meledak layaknya senapan mesin.
Ping! Ping! Ping! Ping!
Tara mengerutkan kening, berjalan kembali ke meja kopi. Ia mengusap layar ponselnya, dan senyum di wajahnya lenyap seketika. Darahnya terasa seperti membeku di dalam pembuluh nadinya.
Ada empat puluh panggilan tak terjawab dan puluhan pesan masuk. Sebagian besar dari asistennya di kantor, beberapa dari ibunya, namun yang paling mendominasi layar adalah nama yang paling tidak ingin ia lihat seumur hidupnya.
Rian.
Jemari Tara gemetar saat ia membuka ruang obrolannya dengan pria yang nyaris menjadi suaminya itu. Pesan-pesan Rian penuh dengan kepanikan, permintaan maaf, dan tuntutan.
[Rian - Kemarin 18:45]: Tara, tolong angkat teleponku. Kita perlu bicara. Kamu tidak bisa pergi begitu saja dengan membatalkan semua vendor pernikahan kita sepihak.
[Rian - Kemarin 20:10]: Sarah bilang dia sudah resign. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengannya. Ini semua kesalahpahaman. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan.
[Rian - Tadi Malam 23:30]: Ibumu bilang kamu cuti dan pergi keluar kota. Ke mana kamu pergi? Kenapa nomor teleponmu tidak aktif? Jangan kekanak-kanakan, Tara.
Napas Tara mulai memburu. Emosi mual yang ia pikir sudah berhasil ia bunuh kini kembali mencengkeram lambungnya. Ia menggulir layar ponsel ke pesan terakhir yang masuk beberapa menit yang lalu. Pesan yang membuat seluruh dunianta terasa berhenti berputar.
[Rian - 11:15 Hari ini]: Orang HRD di kantormu memberitahuku bahwa kamu mengajukan perpanjangan cuti dari IP address lokal di pesisir Selatan. Aku sudah melacak lokasi kasarnya. Jika kamu tidak menjawab pesanku dalam satu jam, aku akan menyetir ke sana dan mencarimu. Kita tidak akan berakhir seperti ini.
Ponsel di tangan Tara tergelincir, jatuh menghantam lantai kayu dengan bunyi keras.
Dada Tara naik turun meraup oksigen. Mata besarnya menatap ngeri ke arah pintu depan vilanya. Rian tahu di mana ia berada. Pria dari masa kininya yang beracun itu sedang dalam perjalanan untuk meruntuhkan gelembung aman yang baru saja ia bangun bersama pria dari masa lalunya.
Realitas tidak hanya sekadar mengetuk. Realitas baru saja mendobrak pintu pelariannya.