Aileen tidak tidur, dan ia naik ke teras atap sebelum matahari.
Pagi Sabtu itu langit di timur baru berwarna abu-kebiruan, dan Orion sudah condong ke barat, pelan-pelan memudar. Teleskop masih berdiri di tempatnya, ditutup kain. Bangku panjang basah embun. Ia duduk dengan jaket Bagas di bahu, yang anehnya sudah kembali ke tangannya tiga hari lalu tanpa ia minta, dan menatap pagar besi tempat Aira dulu berdiri.
Ia tidak menangis lagi. Ia hanya menghitung. Dua puluh empat tahun hidup, dan lebih dari separuhnya ia habiskan untuk meyakinkan diri bahwa dicintai adalah hak orang lain. Kemudian ada satu lelaki yang memerasnya, mencengkeram rahangnya, menyeretnya ke mobil, lalu belajar, dengan sangat lambat dan sangat buruk, menjadi seseorang yang duduk di lorong sepanjang malam hanya supaya rumahnya tidak sunyi.
'Aku takut,' batin Aileen. 'Tapi aku juga mau.'
Dari dalam rumah terdengar suara piring, dan sedikit kemudian tawa Cintya yang tertahan.
Ia turun lewat ruang kerja. Di rak, toples kaca berlabel "Panti" sudah penuh sampai ke leher. Bagas diam-diam terus menambahkannya, bahkan setelah ia berhenti mengucapkan satu kata pun yang bisa didenda. Satu lembar bertulisan tangannya terselip di antara uang itu: "Cadangan, kalau aku keceplosan." Aileen tertawa kecil sampai matanya basah.
***
Meja makan pagi itu terlalu ramai untuk rumah yang beberapa minggu lalu hanya diisi tiga orang yang saling menghindar. Pradipta duduk di ujung dengan koran terlipat, Cintya menuangkan teh, dan Bagas duduk di seberang kursi kosong yang ia sediakan untuk Aileen, pura-pura membaca pesan di ponselnya.
"Duduk, Nak," ujar Cintya. "Bubur ayam. Tante yang buat."
"Dibantu Mbok," koreksi Pradipta tanpa mengangkat mata dari koran.
"Dibantu sedikit."
Aileen duduk. Bubur itu hangat, dan ia menyendoknya dengan lahap sampai Cintya diam-diam tersenyum. Hening, kecuali bunyi sendok.
"Aileen," kata Cintya setelah beberapa saat. "Ada yang mau Tante minta, dan kamu boleh menolak."
"Apa, Tante?"
"Jangan panggil Tante lagi." Cintya meletakkan teko dengan hati-hati. "Panggil Mama. Kalau kamu mau. Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa. Tante cuma ..."
"Mama."
Aileen mengucapkannya sebelum sempat berpikir, dan kata itu terasa asing di lidah sekaligus pas, seperti sepatu pinjaman yang ternyata muat. Cintya membeku, lalu menutup mulut dengan telapak tangan dan menangis tanpa suara.
Pradipta menurunkan korannya. Ia memandang Aileen sebentar, kemudian berdeham keras, dan wajahnya sama sekali tidak menyiratkan bahwa ia sedang berusaha tidak ikut menangis. "Kalau dia Mama, berarti Ayah Papa. Terserah. Tapi jangan panggil Om lagi, itu membuat Ayah merasa tua."
"Papa," ujar Aileen.
"Nah." Pradipta kembali ke koran. Korannya terbalik, dan tidak seorang pun mengatakan apa-apa.
Bagas menunduk di atas mangkuknya, bahunya bergetar. Ia sedang tertawa dan sedang menahan sesuatu yang lain. Aileen menendang pelan tulang keringnya di bawah meja.
"Besok kita ke panti," kata Cintya setelah menyeka mata. "Anak-anak menanyakan Kakak Aileen. Toples di ruang kerja itu sudah penuh, Bagas. Waktunya diantar."
"Aku yang bawa," jawab Aileen. "Aku mau lihat wajah mereka waktu menghitungnya."
"Berapa isinya?" tanya Pradipta, matanya masih di koran.
"Tiga juta dua ratus ribu," sahut Bagas cepat. Semua menoleh. Ia merah sampai telinga. "Aku hanya kebetulan menghitungnya."
"Kebetulan tiap malam," gumam Aileen, dan Cintya tertawa sampai terbatuk.
***
Mereka bertemu lagi di teras atap setelah sarapan. Matahari sudah naik, langit biru bersih, dan angin membawa wangi tanah basah dari taman belakang. Bagas naik dengan tangan kosong, berhenti di pintu, lalu berjalan pelan mendekat tanpa berkata apa-apa.
Aileen sudah menunggu di dekat pagar besi, membawa sebuah amplop putih yang agak lusuh.
"Aku juga," ujarnya. "Mencintaimu."
Bagas tidak bergerak. Tidak ada senyum, tidak ada helaan napas lega. Ia hanya menatapnya, seolah takut kalimat itu akan menghilang bila ia berkedip.
"Tapi aku mau kita mengulang dari awal," lanjut Aileen. "Tanpa utang. Tanpa kontrak. Tanpa pasal. Kamu tidak boleh memerintahku, aku tidak boleh menyindirmu waktu kamu salah, dan kita tidak akan pernah membicarakan siapa yang menyelamatkan siapa."
"Aku setuju." Suara Bagas serak. "Kecuali yang terakhir. Kalau soal atap itu, kita lihat saja nanti."
Aileen tertawa. Lalu ia mengulurkan amplop putih itu. "Ini surat yang aku tulis sebelum operasi. Untuk kamu, kalau terjadi sesuatu. Aku tidak membutuhkannya lagi."
Bagas menerimanya. Amplop itu ringan, tetapi ia memegangnya dengan dua tangan. "Aku boleh baca?"
"Boleh. Nanti. Tapi aku mau merobeknya bersama-sama. Aku tidak berencana membutuhkannya."
Mereka memegang amplop itu berdua, ujung ke ujung. Satu tarikan, dua tarikan, dan kertas itu menjadi serpihan yang diterbangkan angin ke arah taman, kecil-kecil, putih, seperti kelopak.
Bagas merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak beludru kecil. Aileen mengenali bentuknya sebelum kotak itu terbuka, karena kotak yang dulu berisi cincin kontrak jauh lebih besar dan lebih dingin. Di dalamnya ada cincin emas tipis dengan batu kecil sewarna langit malam di tengahnya.
"Yang dulu kupilih tanpa perasaan apa pun," ujar Bagas. "Yang ini kupilih dengan perasaan. Aku tiga jam di toko itu. Penjualnya hampir menyerah."
"Berapa kali kamu mengganti pilihan?"
"Sebelas."
Aileen tertawa dan menangis bersamaan. Ia melepas cincin lama dari jarinya, logam putih tipis tanpa batu, dan menaruhnya ke telapak tangan Bagas. Bagas menggenggamnya sebentar, lalu menyimpannya di saku, hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang pernah bersalah dan sudah dimaafkan.
"Boleh?" tanyanya sambil mengangkat cincin baru.
"Boleh."
Cincin itu meluncur ke jari manisnya, pas, seakan memang sudah menunggu di sana. Jari Bagas gemetar waktu menyentuh kulitnya, dan Aileen membiarkan getar itu, karena ia juga gemetar.
"Sekarang kamu boleh bertanya," bisik Aileen.
Bagas menelan ludah. Ia mendekat setengah langkah, berhenti, dan menatap matanya. "Boleh aku ...?"
"Boleh."
Ciuman itu pelan, singkat, dan bukan milik siapa pun selain mereka berdua. Lalu Bagas menarik diri sedikit, dahinya bersandar di dahi Aileen, napasnya hangat, dan Aileen tahu ia tersenyum karena ia merasakannya.
"Dia pasti bilang akhirnya," ujar Aileen pelan, menatap pagar besi yang kosong.
"Dia pasti bilang aku lambat." Bagas ikut menoleh ke tempat Aira pernah berdiri. "Dan dia benar."
"Dia bilang terima kasih juga. Aku mendengarnya di dalam kepalaku, walau mungkin cuma bayanganku sendiri."
"Tidak apa-apa kalau cuma bayangan." Bagas menggenggam kotak kecil di tangannya lagi. "Aku juga masih sering mendengarnya begitu."
Ponsel di saku jaket Aileen bergetar. Sekali, dua kali.
"Biarkan saja," gumam Bagas.
"Mungkin dokter."
Ia mengeluarkannya dan membaca layar dengan Bagas yang mengintip dari balik bahunya. Pesan dari Mahesa. Singkat, seperti biasa: Jadwal pemeriksaan satu tahun sesudah operasi sudah saya tetapkan. Bawa Bagas.
Aileen memandang Bagas. Bagas memandang layar itu, lalu memandangnya kembali, dan wajah lelaki itu pecah menjadi senyum yang belum pernah ia lihat sebelumnya, lebar, kekanak-kanakan, nyaris konyol.
"Aku akan bawa," ujarnya.