"Kamu gugup?"
Bagas bertanya tanpa melepas pandangan dari jalan. Itu Jumat pagi, enam hari sejak wisuda Denis. Di sela infus, Bagas sudah dua kali menanyakan kepada perawat yang sama apakah hasil CT bisa keluar lebih cepat, dan dua kali pula mendapat senyum sabar.
"Sedikit." Aileen menatap jalan. "Kamu?"
"Aku sudah membaca ulang hasil CT pertama sampai hafal. Itu bukan tanda tenang."
Ia tertawa, dan itu sudah cukup membuat bahu mereka berdua turun. Koper hijau pudar itu tidak ikut. Ia masih di kolong ranjang kamar bawah, sudah terisi, sudah tertutup, dan tidak seorang pun menyinggungnya sejak Sabtu.
Ruang periksa Mahesa masih sama: meja cokelat, jendela menghadap parkiran, dan map yang dibuka dan ditutup dua kali sebelum ia bicara. Aileen sudah hafal kebiasaan itu. Kali ini, ketika map ditutup lagi, Mahesa tersenyum.
"Aileen, Pak Bagas. Saya akan langsung ke intinya." Ia menyandarkan punggung. "Hasil patologi akhir biopsi sudah keluar dua minggu lalu dan Anda sudah tahu isinya. CT hari ini menguatkannya: tidak ada tanda kekambuhan. Bayangan kecil di dekat sambungan operasi mengecil. Itu jaringan parut, dan ia sedang sembuh."
Aileen menatap meja. Ia mendengar kata-katanya, tetapi tubuhnya menolak percaya, dan karena itu ia mengulang dalam kepala, pelan: tanpa tanda kekambuhan.
"Kemoterapi lanjutan tetap berjalan," lanjut Mahesa. "Beberapa bulan lagi, dengan pemantauan ginjal yang sama ketat. Tubuh Anda masih memulihkan diri, dan obatnya masih berat. Rambut Anda juga masih akan butuh waktu."
"Saya tahu, Dok."
"Dan Anda tahu bahwa ada satu kata yang belum boleh saya pakai?"
Aileen mengangkat kepala. "Kata apa?"
"Belum sekarang." Mahesa tersenyum lagi, lebih lebar. "Satu tahun setelah operasi. Saya orang yang percaya pada angka, dan angka itu belum sampai."
Bagas, di kursi sebelah, tidak berkata apa-apa. Aileen menoleh, dan menemukan lelaki itu menatap lantai dengan rahang mengeras, bahunya naik-turun pelan, seperti orang yang mati-matian menahan diri supaya tidak menangis di depan dokter.
"Kamu boleh menangis," bisik Aileen.
"Aku tidak menangis."
"Mahesa pura-pura sibuk dengan mapnya. Kamu boleh."
Bagas menarik napas panjang dan kasar. Mahesa, yang memang sudah membuka kembali mapnya, tidak berkomentar.
Mereka tidak langsung pulang. Di pinggir jalan depan rumah sakit ada gerobak bubur kacang hijau yang dulu sering Aileen lewati saat masih menunggui Denis, dan ia meminta Bagas berhenti di sana. Bagas, yang selama hidupnya tidak pernah makan di trotoar, duduk di bangku plastik reyot dengan setelan kantor dan mangkuk panas di tangan, dan penjualnya menatapnya curiga sampai ia mengaku bubur itu enak.
"Rasanya aneh," kata Bagas. "Aku merasa seperti baru lulus ujian yang tidak sempat kupelajari."
"Aku juga." Aileen menyendok pelan. "Dia bilang masih ada satu kata yang ditahan. Aku tidak akan buru-buru mau mendengarnya."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku mengejarnya, aku akan berhenti hidup sambil menunggu. Aku mau hidup dulu. Katanya setahun, ya sudah. Setahun."
Bagas menatap mangkuknya, lalu menyodorkan sendok ke arahnya, kikuk. "Setahun. Aku ikut."
Aileen tidak menjawab, tetapi ia menghabiskan buburnya sampai bersih, dan Bagas memperhatikan sambil pura-pura sibuk mengaduk.
***
Siang itu rumah sepi. Cintya menginap di rumah Pradipta sejak kemarin dengan alasan yang terlalu rapi untuk dipercaya, dan Gio sudah dipesan Bagas agar tidak muncul sampai sore. Aileen masuk ke kamar bawah, membuka kolong ranjang, dan menarik keluar koper hijau itu.
Ia mengangkatnya sendiri ke ruang tamu. Itu pilihannya, dan ia tidak menyesalinya.
Bagas sudah ada di sana. Ia duduk di sofa dengan sebuah map cokelat di pangkuan, dan ketika melihat koper itu, ia tidak terkejut. Ia berdiri pelan.
"Duduk dulu."
"Aku tidak mau mengulur-ulur. Wisuda Denis sudah lewat, hasil pemeriksaan sudah baik, dan kontraknya ..."
"Duduk, Aileen. Sebentar."
Aileen duduk di ujung sofa seberang, koper di antara kakinya. Bagas menyerahkan map itu tanpa menyentuh tangannya. Di dalamnya ada salinan surat perjanjian yang dulu mereka tandatangani, dengan Pasal 8 digarisbawahi pensil tipis.
"Kontraknya berakhir tiga belas hari lalu," ujar Bagas. "Malam Aira pergi. Pasal delapan. Aku sudah menunggu sampai hari ini untuk menyerahkannya, supaya kamu tahu aku tidak menahannya satu menit pun karena aku tidak mau melepaskan. Aku menahannya karena aku tidak mau kamu merasa itu syarat."
"Aku bisa pergi sekarang."
"Bisa. Pintu depan tidak dikunci, dan kunci perak itu sudah jadi milikmu, bukan pinjaman. Tanpa denda, tanpa jaminan, dan tak seorang pun akan menagih apa pun." Ia menarik napas. "Sebelum kamu keluar dari pintu itu, aku mau bilang sesuatu. Tanpa pasal. Tanpa kontrak. Tanpa sesi jam sembilan."
Aileen tidak bergerak. Jantungnya berdetak terlalu keras sampai ia khawatir Bagas mendengarnya.
"Aku mencintaimu."
Dua kata itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang terlalu berat untuk dipegang.
"Bukan karena Aira," lanjut Bagas, tegas, matanya tidak lari. "Aku menunggu sampai dia pergi justru supaya tidak ada yang bisa menuduhku, termasuk kamu, termasuk aku sendiri, bahwa ini pelarian dari duka. Bukan karena kemampuanmu. Aku bisa saja menyuruhmu menyampaikan sesuatu dari Aira sampai dunia ini berakhir, tetapi itu bukan alasan aku duduk di lorong semalaman. Aku mencintaimu karena kamu menaruh selimut di lengan sofa tanpa menyentuhku. Karena kamu menegur aku soal uang pamanmu. Karena kamu marah kepadaku di teras atap, dan kamu benar. Karena kamu satu-satunya orang yang memintaku tidak menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri, dan aku sedang belajar."
Aileen membuka mulut. Suaranya tertinggal di tenggorokan.
"Aku tidak minta kamu menjawab hari ini." Suara Bagas rendah, hampir tak terdengar. "Aku tahu kamu masih sakit. Aku tahu kamu pernah ditahan di rumah ini dengan alasan yang buruk. Kalau kamu mau pergi, aku antar sampai gerbang dan tidak bertanya. Kalau kamu mau tinggal, aku juga tidak akan menyebutnya kemenangan."
"Bagas ..."
"Ya?"
Aileen memandang koper di antara kakinya. Ritsletingnya yang sudah tertutup rapat, tali yang disimpul dua kali. Ia teringat malam di atas seng rumah Paman, dan suara Aira yang nyaris habis: itu cuma mengizinkan seseorang mencintaimu. Ia tidak tahu bagaimana caranya, dan ia sangat takut, dan ia tetap ingin.
"Aku butuh satu malam," katanya akhirnya. Suaranya pecah di tengah. "Cuma satu."
Bagas mengangguk. Wajahnya tidak menunjukkan kecewa, hanya ketenangan orang yang sudah menyiapkan dirinya untuk jawaban apa pun. "Satu malam. Kalau kamu butuh dua, aku tunggu juga."
"Aku bisa tidur di mana?"
"Di kamarmu. Atau di mana saja yang kamu mau." Ia berdiri, menaruh map di meja, dan mundur selangkah supaya Aileen punya jalan untuk lewat. "Aku tunggu. Pintunya tidak dikunci."