Setahun sesudah hari ia dibawa ke meja operasi, Aileen duduk lagi di ruang periksa Mahesa, dan kali ini ia yang membuka percakapan.
"Jangan buka mapnya dua kali, Dok. Saya bisa membaca wajah Anda."
Mahesa, yang sudah menyentuh sampul map itu, menarik tangannya sambil tertawa. Rambutnya menipis sedikit di pelipis sejak terakhir kali, dan kacamatanya kini punya bingkai baru. "Anda makin berbahaya. Saya harap Pak Bagas sadar."
"Saya sadar sejak lama," sahut Bagas dari kursi di sebelah Aileen, tanpa mengalihkan mata dari ponselnya yang ia pegang terbalik.
Aileen menahan tawa. Rambutnya sekarang ikal pendek, tebal di bagian atas, dan topi wol yang dulu menutupinya sudah lama tersimpan di laci. Ia mengusap sisi kepalanya tanpa sadar. Ia masih sering melakukannya, seperti mengecek apakah rambut itu betulan ada.
"Baik." Mahesa membuka map sekali saja, membaca satu halaman, menutupnya. "Pemeriksaan satu tahun. CT bersih. Penanda darah normal. Fungsi ginjal stabil. Berat badan Anda naik empat kilo dari bulan lalu, dan saya tidak akan mengomentari betapa itu membuat saya tenang." Ia menautkan jari. "Pengobatan lanjutan sudah selesai sebulan lalu. Dari sekarang kita hanya memantau tiap beberapa bulan."
Aileen menunggu. Ia sudah menunggu setahun.
"Satu tahun, Aileen," ujar Mahesa pelan. "Saya sudah bilang ada satu kata yang menunggu angka itu. Sekarang boleh saya pakai?"
"Boleh, Dok."
"Anda penyintas."
Ruangan itu hening. Di luar jendela, parkiran rumah sakit berkilau karena hujan pagi yang baru reda, dan seorang perawat berlari kecil membawa payung. Aileen merasa kata itu mendarat pelan di dadanya seperti burung, tidak berat, tidak asing.
Tangan Bagas menyentuh punggung tangannya di atas lengan kursi, dan berhenti di sana, bertanya tanpa kata. Aileen membalikkan telapaknya dan menggenggamnya.
"Terima kasih, Dok."
"Terima kasih kembali." Mahesa berdiri, menjabat tangan Bagas, lalu tangan Aileen, lebih lama. "Kapan pun Anda mau, ceritakan pada pasien lain. Mereka butuh orang yang bisa mengatakan 'saya sudah melewatinya'."
Di lorong, bau antiseptik sama persis dengan bau yang dulu membuatnya mual. Hari ini hanya bau. Mereka berjalan pelan, dan di tikungan dekat ruang tunggu, di kursi paling ujung yang selalu kosong, seorang perempuan tua duduk dengan sepasang jarum rajut di pangkuan.
Aileen berhenti.
"Ai?" Bagas ikut berhenti. Ia melihat arah pandangnya, kursi kosong, dan tidak bertanya. Ia hanya menunggu.
Mardiana mengangkat kepala dari rajutannya. Sepasang matanya yang teduh menyipit, dan ia tersenyum, kerutan di sudutnya mengisyaratkan kesabaran yang tidak habis walau sudah menunggu puluhan tahun. Jarum-jarumnya bergerak lagi, tak berbunyi.
Dulu Aileen membenci ini. Ia membenci setiap kali kursi kosong bicara kepadanya, setiap bisik di lorong, setiap bayangan di sudut ruang. Ia pernah berdoa agar semuanya berhenti. Tetapi tanpa kemampuan itu, tidak ada Aira, tidak ada Rachel, tidak ada Mardiana, tidak ada Bagas yang berdiri di sampingnya dengan tangan yang masih menggenggam tangannya.
Ia mengangkat satu tangan, kecil, nyaris tak terlihat, lalu melambai pelan.
"Salam untuk Bu Mar," ucap Bagas, lembut, ke arah kursi itu.
Mardiana tertawa tanpa suara dan mengangguk. Lalu ia kembali merajut.
***
Rumah Bagas sore itu ramai seperti pasar. Denis membawa kue brownies buatan kantornya dan berdebat soal resep dengan Cintya di dapur, Pradipta duduk di ruang tamu dengan koran yang kali ini tidak terbalik, dan Daren, yang datang langsung dari jaga dengan kemeja kusut, membuka kulkas seolah rumah itu miliknya.
"Daren, kamu sudah makan?" Aileen menyodorkan piring.
"Tiga kali sehari. Aku janji." Daren mengambil sepotong dan tersenyum, sedikit sendu, sedikit hangat. "Pagi ini kamu kelihatan seperti orang yang baru dibebaskan dari penjara."
"Hampir."
"Dengar dari Mahesa?" Ia melihat wajah Aileen, lalu tertawa pendek. "Tidak usah dijawab. Selamat, Aileen. Beneran."
Denis berdiri di ambang dapur dengan celemek Cintya. "Kak Ai! Penyintas! Aku sudah dengar dari Daren!"
"Kamu juga mendengarnya?"
"Mahesa kirim pesan ke Daren, Daren kirim ke aku. Kita satu grup." Denis nyengir lebar. "Aku sudah pesan kue. Tapi aku bikin sendiri, karena Mama Cintya bilang beli itu curang."
Denis menyeka tangan di celemek itu dan menatap kakaknya lebih lama dari biasanya. "Kak, setahun ini Kakak baru cerita soal Aira dan Rachel sepotong-sepotong. Bagian Bu Mardiana kapan?"
"Besok," kata Aileen. "Kamu pasti tidak percaya setengahnya."
"Aku percaya semuanya, Kak. Dari dulu."
Aileen terdiam sebentar, lalu mengacak rambut adiknya yang sekarang bekerja di kantor akuntan dengan jas yang selalu terlalu besar, dan tidak memarahi tangannya yang masih berbau mentega.
Mobil Hendra masuk halaman beberapa menit kemudian. Ia turun sendiri, dengan tongkat tipis yang baru dan kemeja putih berkerah. Wajahnya lebih kurus dibanding setahun lalu, tetapi matanya jernih. Ia membawa kotak kecil berisi roti kering, dan ia berhenti di depan Aileen yang menyambutnya di teras.
"Kamu sehat, Nak?" tanyanya, pertanyaan yang sama, kini dengan nada yang berbeda.
Aileen tersenyum, dan tidak menahan apa pun. "Sehat, Pa."
Mata Hendra bergerak. Ia mengangguk berkali-kali, bibirnya bergetar, dan ia tidak mengucapkan apa-apa selain, "Baik. Baik sekali," sambil menepuk bahu Aileen, ringan, dua kali.
Di ujung teras, di deretan pot di atas rak kayu, tiga kaktus berdiri berjajar menghadap matahari sore. Pak Utang, yang paling kecil, telah memekarkan bunga merah muda sebesar ibu jari, dan dua lainnya menyusul dengan kuncup yang baru terbuka. Aileen menyentuh salah satu bunganya dengan ujung telunjuk, hati-hati, lalu menarik tangan.
"Yayasan hari Senin, Nak," ujar Cintya dari belakangnya, membawa nampan teh. "Anak-anak menanti kamu. Mereka sudah menyiapkan kejutan, tapi jangan pura-pura tahu."
"Aku tidak akan pura-pura."
"Kamu selalu pura-pura," sahut Bagas dari ambang pintu. "Waktu kemarin kita beli kue, kamu pura-pura tidak melihat tulisan 'Selamat' di atasnya."
***
Malamnya langit cerah, hampir tanpa awan.
Teras atap sepi, dan angin membawa wangi tanah yang masih basah dari hujan pagi. Teleskop masih berdiri di tempatnya, kainnya sudah diganti yang baru. Bagas meletakkan dua gelas teh di bangku panjang, duduk di sampingnya, dan tidak berkata apa-apa, karena tidak ada lagi yang perlu ia katakan.
Orion terbit di timur. Tiga bintang di sabuknya sejajar dan jelas, seperti dulu, seperti di teras rumah lama, seperti selalu.
Aileen bersandar. Bahunya menyentuh bahu Bagas, dan ia tidak perlu bertanya apakah boleh. Dari bawah terdengar suara Denis tertawa dan Cintya menegur sesuatu, sayup-sayup, seperti suara dari kehidupan yang sudah lama ia inginkan tanpa berani menamainya.
Ia memandang pagar besi tempat Aira dulu berdiri. Di sana tidak ada siapa-siapa. Tetapi untuk sesaat, mungkin hanya angin, mungkin hanya ingatan, ia mencium aroma bunga peony yang samar, dan ia tersenyum.
Dulu, di atap rumah sakit, ia pernah berdiri dengan tubuh kurus dan hati yang sudah lelah, lalu mengucapkan sebuah kalimat yang terdengar seperti pamit. Sekarang ia mengangkat dagunya ke langit, mengulang kalimat itu dengan arti yang berbalik, dan suaranya tidak gemetar.
"Hari yang indah untuk hidup."
Bagas menggenggam tangannya, dan Orion bersinar di atas mereka berdua.
TAMAT