Enam hari sesudah Cintya menutup koper itu, tidak ada yang membukanya lagi, dan tidak ada yang membicarakannya. Senin pagi, di kursi infus untuk siklus pertama sesudah operasi, Bagas duduk di kursi kiri dan membaca ulang label kantong cairan dua kali sampai perawat tersenyum dan menyuruhnya tenang. Selebihnya hari-hari itu berisi bubur yang makin sering habis dan Bagas yang pulang tepat pukul enam seperti anak sekolah yang takut dimarahi. Lalu pagi Sabtu tiba.
"Diam, Nak, syalnya miring," kata Cintya.
Aileen berdiri di depan cermin kamar bawah, mengenakan blus putih gading dan syal biru tua yang dipinjamkan Cintya. Di bawah topi wol tipis, kulit kepalanya masih licin. Rambut belum tumbuh, tetapi ia sudah tidak lagi membuang muka dari cermin.
"Tante, aku cuma mau lihat Denis pakai toga. Bukan mau naik panggung."
"Kamu keluarganya. Keluarga harus rapi." Cintya menarik simpul syal itu dengan dua jari, tegas. "Selesai. Ayo. Bagas sudah di mobil, dan dia sudah menyalakan mesin dua kali."
Bagas memang menunggu di balik kemudi, bukan Gio, dengan kemeja biru dongker dan wajah orang yang memaksa dirinya terlihat santai. Ia turun membukakan pintu belakang, tidak lebih dari itu, dan Aileen menangkap kata "Boleh?" yang tertahan di ujung lidahnya, tidak perlu diucapkan karena yang ia lakukan hanya membuka pintu.
***
Aula kampus penuh orang berpakaian rapi dan berfoto di mana-mana. Denis menunggu di tangga depan gedung dengan toga hitam yang kebesaran di bahu, topi persegi di tangan, dan wajah yang tidak bisa memutuskan antara tertawa dan menangis. Begitu melihat Aileen, ia berlari menuruni tiga anak tangga sekaligus.
"Kak Ai!"
Denis memeluknya, kuat sekali, sampai topi Aileen nyaris jatuh. Aileen tertawa kecil sambil menepuk punggungnya. "Pelan, Denis. Perutku belum sembuh semua."
"Maaf, maaf." Denis mundur setengah langkah, menatap wajah kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Kakak datang. Kakak benar-benar datang."
"Aku bilang aku datang."
"Kakak juga bilang Kakak tidak apa-apa waktu rusuk Kakak retak." Denis mengusap sudut mata dengan punggung tangan. Lalu, lebih pelan, ia mendekat dan berbisik, "Kak, aku mau ngaku sesuatu. Aku sudah tahu dari dulu."
"Tahu apa?"
"Kakak bisa lihat hantu."
Aileen membeku. "Apa?"
"Dari kecil. Kalau Kakak ngomong sendirian di loteng, aku sengaja lewat pura-pura nggak dengar. Terus waktu di rumah sakit, Kakak bicara ke ruang kosong dan Daren nggak kaget. Aku tambah-tambah sendiri." Denis nyengir, meski bibirnya gemetar. "Aku nggak tanya karena kalau Kakak mau cerita, Kakak pasti cerita. Dan sekarang aku udah lulus, aku boleh nanya sekarang?"
"Boleh." Tawa Aileen pecah juga, tulus, sampai matanya basah. "Nanti. Nanti kuceritakan semuanya."
"Aira juga ada di sini?"
Tawanya mereda. "Dia sudah pergi, Denis. Seminggu lalu."
"Oh." Denis menunduk sebentar, lalu memeluknya lagi, lebih lembut. "Aku turut sedih, Kak."
Dari belakang punggung Denis, Aileen melihat Bagas berdiri agak jauh bersama Cintya, memandang mereka tanpa mendekat. Denis ikut menoleh. Ia mengangguk singkat ke arah Bagas, dan Bagas membalasnya dengan anggukan yang sama.
"Dia ikut," ujar Denis, setengah bertanya.
"Dia ikut."
"Anda lumayan juga," gumam Denis ke arah Bagas, cukup keras untuk didengar. Bagas hanya mengangkat alis.
Nani dan Bono menunggu di bawah pohon kersen di halaman belakang aula. Bono mengenakan kemeja pinjaman yang terlalu longgar, wajahnya jauh lebih tirus dan bersih, dan di sampingnya berdiri seorang lelaki muda berseragam polos yang berkata ia pendamping pusat rehabilitasi dan hanya menjaga dari jauh. Nani memakai blus lilac dan tas tangan lama. Tangannya yang kasar menggenggam saputangan.
"Ai," panggil Nani. Ia menelan ludah. "Terima kasih sudah mau datang."
"Ini wisuda Denis, Bu. Wajar aku datang."
"Maksud Ibu ... untuk semuanya." Nani meremas saputangan. "Ibu tidak minta apa-apa."
"Aku tahu."
"Ibu mulai menyicil sisa utang Koh Aling. Dari tabungan itu. Dari cicilan sendiri."
"Aku dengar dari Denis." Aileen menatap ibunya, dan ia tidak menurunkan dagunya. "Aku senang, Bu. Dan aku tidak akan memberi uang. Itu tetap."
"Ibu mengerti."
Bono mengangkat wajah. Ia tidak berbicara banyak, hanya menunduk dan berkata, "Maafkan Bapak." Aileen hanya menatapnya sebentar. Itu saja. Tetapi ketika Denis berlari kembali memeluk keduanya untuk berfoto, ia membiarkan dirinya berdiri di sebelah mereka, bahu hampir bersentuhan, dan itu sudah lebih dari yang pernah ia berikan.
***
Hendra menyapanya di dekat taman aula, di bawah rindang pohon trembesi. Ia datang sendirian dengan setelan abu-abu dan sebuah amplop cokelat tipis di tangan.
"Aileen." Ia berhenti. Suaranya masih lembut tetapi tidak lagi sehancur beberapa minggu lalu. "Nak. Papa mau menyerahkan ini."
"Ini dari ...?"
"Soraya. Ia menulisnya minggu lalu, dan meminta Papa mengantarnya hanya kepadamu." Hendra menaruh amplop itu di tangan Aileen. "Ia bilang terima kasih sudah duduk bersamanya sampai pagi. Dan ia minta maaf. Itu saja yang Papa baca, karena ia bilang sisanya milikmu."
Aileen menggenggam amplop itu, tebalnya seperti hanya dua lembar. "Bagaimana kabarnya, Om?"
"Ia makan. Ia tidur dengan lampu kecil, dan petugas membiarkannya." Hendra tersenyum samar. "Papa menemuinya tiap minggu. Ia tidak marah lagi."
"Dan Tante Viona?"
"Tinggal di rumah saudaranya." Hendra menunduk. "Ia belum sanggup bertemu Papa. Papa belum sanggup bertemu dia."
Hanya itu. Satu kalimat, dan Aileen tidak bertanya lebih jauh.
"Satu lagi," lanjut Hendra. Ia menengok ke arah Cintya yang berdiri tak jauh, lalu kembali pada Aileen. "Yayasan. Papa ingin menyerahkan pengurusannya kepada Cintya dan kamu, bersama para pengurus lama. Papa tidak sanggup lagi menyentuh buku kas itu. Tapi Aira ... Aira percaya padamu."
Aileen menahan napas. "Om, aku bukan ..."
"Kamu bukan Aira. Itu justru sebabnya." Hendra tersenyum. "Anak-anak itu butuh orang yang tidak berusaha menjadi siapa pun. Pikirkan. Tidak perlu jawab sekarang."
Ia berlalu menuju kerumunan toga hitam. Aileen berdiri lama dengan amplop di tangannya, lalu membukanya, hanya satu lembar. Tulisan tangan yang rapi dan sedikit gemetar.
Mbak Aileen. Terima kasih sudah duduk bersamaku sampai pagi. Aku masih tidur dengan lampu kecil, dan kata Kak Aira itu boleh. Aku tahu maaf tidak mengubah apa pun. Tetapi aku akan menghadapinya sampai selesai, dan aku ingin kamu tahu itu dari aku sendiri.
Aileen melipat kertas itu dua kali dan menyelipkannya ke saku, tepat di sebelah kunci perak. Matanya panas. Dari ujung halaman terdengar suara yang ia kenal.
"Kakak! Kak Aileen! Ayah bawa ikan!"
Ningsih berlari dengan buket bunga plastik berpita kuning, rok seragamnya berkibar. Di belakangnya Barito melangkah dengan topi koboi dan kemeja batik yang jelas baru disetrika, sementara Mira membawa rantang. Barito berhenti di depan Bagas, menatapnya dari ujung sepatu sampai ujung rambut, lalu menyentakkan dagu sekali. Bagas membalas dengan gerakan yang sama. Aileen menahan tawa, karena ia tahu itu adalah bahasa yang hanya dipahami dua lelaki yang pernah duduk berjam-jam di teras tanpa banyak bicara.
"Kak Denis!" teriak Ningsih sambil menyodorkan bunga. "Selamat jadi sarjana!"
Aileen menoleh, dan suara rendah terdengar dari samping.
"Aileen."
Bagas telah berdiri di sebelahnya, tidak terlalu dekat, tangan di saku. Ia tidak bertanya isi amplop itu. Ia memandang Denis yang tertawa di tengah foto keluarga, dan Nani yang menyeka matanya, dan Cintya yang melambai-lambai.
"Pemeriksaan lanjutanmu hari Jumat," bisiknya, supaya tidak ada orang lain yang mendengar. "Aku antar."