Aileen mau. Itu jawabannya, meskipun ia tidak mengucapkannya. Ia hanya melangkah melewati Bagas, masuk ke kamar yang berbau debu dan melati layu, dan menyibak tirai tebal sampai sinar pagi jatuh di lantai kayu seperti ember air yang tumpah.
"Jendela dulu," katanya. "Kamar ini perlu udara."
"Ya." Bagas masih berdiri di ambang pintu. "Aku ambil kardus di gudang."
Ia kembali dengan lima kardus lipat dan satu gulung lakban, dan mereka mulai dari lemari. Gaun-gaun Aira tergantung rapi menurut warna, dari krem sampai biru tua, dengan label kecil yang ditulis tangan di gantungannya. "Rapat yayasan." "Makan malam Papa." "Pantai." Aileen menyentuh gaun berbunga yang pernah ia lihat di atap rumah sakit pada malam pertamanya bertemu Aira, dan jarinya berhenti.
"Kita sumbangkan ke panti?" tanyanya.
"Ya. Anak-anak yang lebih besar bisa memakainya, atau ibu pengasuh." Bagas mengambil satu gaun, melipatnya dengan canggung. "Aira pasti memilih begitu. Dia tidak pernah menyimpan baju yang tidak dipakai."
"Satu saja, kalau kamu mau menyimpan."
Bagas berpikir sebentar, lalu menarik gaun berbunga itu dari tangan Aileen dan melipatnya hati-hati ke dalam kotak kecil terpisah. "Yang ini."
Mereka bekerja diam-diam hampir satu jam. Bagas membuka laci-laci, memilah syal, ikat rambut, sepatu, dan sesekali berhenti ketika menemukan sesuatu: karcis bioskop yang terselip di dompet kecil, secarik catatan belanja dengan tulisan tangan Aira yang miring ke kanan, jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Aileen tidak mengomentari apa pun. Ia hanya menaruh benda-benda itu ke kotak yang tepat, dan setiap kali Bagas terdiam terlalu lama, ia membuat suara kecil dengan menggeser kardus, supaya lelaki itu tahu ia masih di sana.
Di meja rias, Aileen menemukan kotak musik. Kayu cokelat tua, engsel kuningan, kunci kecil di sisinya. Ia mengangkat tutupnya perlahan. Nada pelan dan sedikit sumbang berdenting keluar, kemudian macet di tengah lagu.
"Papa Hendra yang memberikannya," ujar Bagas dari belakangnya. "Waktu kami menikah."
Di bawah alas beludru merah ada kartu kecil yang tulisannya sudah pernah Aileen dengar dari mulut Hendra. Jangan pernah pulang kalau tidak bahagia. Tapi kalau pulang, pintu ini tidak pernah dikunci. Dan di bawah kartu itu, sebuah kunci perak kecil.
Bagas membuka laci terbawah dengan kunci itu. Di dalamnya, di atas kain beludru biru tua, tergeletak kalung berlian biru. Batunya menangkap cahaya jendela dan mengirimkan serpihan biru ke dinding, tajam seperti kilat yang Aileen lihat semalam di atas teras. Bagas memandangnya lama sekali.
"Aku tidak mau melihat ini di leher siapa pun," katanya akhirnya. Nadanya datar, bukan marah. "Bukan di lehermu, bukan di leher perempuan lain yang kelak ... bukan di leher siapa pun."
"Aku juga tidak mau," jawab Aileen cepat. "Kamu tidak perlu menjelaskan."
"Aku mau menyimpannya untuk yayasan. Kalau suatu hari panti butuh dana besar, atau gedung baru, kalung ini yang akan membayarnya. Dia selalu bilang yayasan lebih berharga daripada perhiasan." Ia menutup kotaknya dengan jari, perlahan. "Benar tidak?"
"Aira pasti setuju."
Bagas mengangguk. Lalu ia menunduk, seakan baru menyadari sesuatu. "Aileen."
"Ya?"
"Aku tidak tahu harus memanggilmu apa lagi di rumah ini." Ia mengatakannya cepat, kepada kotak di tangannya. "Tidak ada sesi jam sembilan. Kontraknya sudah berakhir. Kamu bukan penghubung. Kamu bukan ... aku tidak tahu kata yang tepat. Aku tidak mau salah memilih."
Aileen mengambil napas. Ia tahu apa yang diinginkan sebagian dirinya, dan ia tahu hari ini bukan hari untuk itu. "Namaku Aileen."
"Aileen."
"Itu sudah cukup untuk sekarang."
Bagas menatapnya, dan sesuatu di wajahnya longgar sedikit, seperti tali yang akhirnya dilepaskan satu ikatan. "Baik."
***
Telepon Pradipta berdering di ruang kerja ketika kamar utama sudah separuh kosong. Bagas mengangkatnya sambil bersandar di meja, dan Aileen, yang membawa segelas air untuknya, tidak sengaja mendengar semuanya karena suara Pradipta memang tidak pernah bisa dipelankan.
"Kamu sudah mengosongkan kamarnya?"
"Sebagian, Yah."
"Bagus. Bagus." Hening sejenak di ujung sana. "Bagas, sudah berbulan-bulan kamu menyerahkan kantor kepada para direktur. Ayah tidak mengomel. Tapi mulai lusa, Ayah mau kamu kembali penuh."
"Aku mengantar Aileen kemoterapi dulu besok. Pagi sampai sore."
"Selasa."
"Selasa," ulang Bagas. Ia menatap gelas air di tangan Aileen, lalu mengambilnya. "Terima kasih, Yah. Atas semuanya."
"Jangan sentimental. Ayah belum selesai mengomel." Sambungan terputus. Bagas menatap ponselnya, kemudian tertawa kecil yang tidak sampai ke matanya.
"Dia mau kamu kembali bekerja," ujar Aileen.
"Dia benar. Aku harus kembali bekerja." Bagas meletakkan ponsel. Ia tampak lebih tegak daripada beberapa jam lalu, seperti orang yang diingatkan bahwa dunia di luar kamar itu masih ada. "Besok aku antar kamu. Siklus pertama sesudah operasi. Aku mau ada di kursi sebelah."
"Kamu tidak harus."
"Aku mau." Ia berhenti. "Boleh?"
Aileen memandangnya. Ada permintaan yang berbeda di balik kata itu, dan ia memilih tidak menyebutnya. "Boleh. Ambil kursi lipat yang di sebelah kiri. Yang kanan patah."
***
Sore itu, ketika Bagas turun ke gudang membereskan kardus, Aileen masuk kamar bawah dan menutup pintu. Ia menarik koper kecil dari kolong ranjang, koper hijau pudar milik Cintya yang dulu dipinjamkan untuk menginap di rumah sakit, dan membukanya perlahan, seakan koper itu bisa mendengar.
Rumah ini terlalu cepat menjadi miliknya, pikir Aileen, dan itu yang membuatnya takut. Dulu ia diseret keluar dari loteng sewaan dengan tangan hampir kosong dan mengira itu akhir segalanya. Sekarang ada tiga pot kaktus, sebuah ranjang yang ia hapal bunyinya, dan seorang lelaki yang menunggu di lorong sampai ia tertidur. Kalau ia tinggal terlalu lama tanpa alasan, apa yang akan ia katakan pada dirinya sendiri?
Dua baju. Buku catatan gejala bersampul biru. Kalung Ayah, bandulnya masih berhuruf A. Jadwal siklus dari Mahesa. Ia berhenti sebentar di depan ambang jendela, menyentuh duri Pak Utang, lalu memasukkannya ke tas kain terpisah dengan hati-hati.
Kontrak sudah berakhir. Bagas tidak pernah berjanji apa pun. Bagas hanya bilang "jangan pergi malam ini," dan malam ini sudah lewat. Ia tahu itu. Ia tahu ia sedang bersikap seperti seseorang yang bersiap-siap sebelum didepak, dan ia membenci dirinya karena itu, tetapi ia tetap menarik ritsleting koper sampai habis.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
"Nak," panggil Cintya pelan. Ia berdiri di ambang pintu dengan sebuah gaun terlipat di lengan, gaun berbunga yang Bagas titipkan padanya untuk disimpan. Matanya turun ke koper di atas ranjang, lalu naik lagi ke wajah Aileen. "Kamu mau ke mana?"
"Kontraknya sudah berakhir sejak semalam, Tante."
Cintya tidak langsung menjawab. Ia masuk, menaruh gaun di kursi, lalu menutup koper itu dengan tangannya sendiri, pelan, dan duduk di tepi ranjang dengan koper di antara mereka.
"Kalau begitu pergilah sesudah wisuda Denis," katanya. "Sabtu ini."