Bagas tidak melihat apa pun, dan itu bagian yang paling sulit.
Ia hanya melihat Aileen. Wajahnya terangkat ke satu titik di atas pagar besi, matanya mengikuti sesuatu yang bergerak naik perlahan, dan di mata itu ada pantulan yang tidak berasal dari lampu kecil di dekat teleskop. Cahaya pucat, kekuningan, lalu keperakan. Ia mencoba mengikuti arah pandang Aileen dan hanya mendapati langit.
"Dia masih di sini?" tanyanya. Suaranya serak.
"Masih." Aileen tersenyum dan menangis sekaligus. "Dia menyuruhku bilang: jangan mengintip. Dia malu."
Bagas tertawa kecil, hampir seperti batuk. "Aira tidak pernah malu."
"Katanya sekarang malu, karena dia berubah jadi cahaya dan tidak sempat dandan."
Mereka terdiam bersama. Angin malam menggoyang tali tenda di atas teleskop, dan lampu kecil itu mengerjap. Lalu Aileen mengangkat satu tangan, membuka telapaknya, seperti menyambut sesuatu yang jatuh. Ia memejamkan mata.
"Ai," bisiknya, mengulang apa yang ia dengar. "Jaga dia. Tapi yang lebih penting, jaga kamu. Jangan jadi siapa-siapa selain kamu. Terima kasih sudah mau repot-repot dengan kami."
Aileen membuka mata, dan suaranya pecah. "Pergi saja, Aira. Aku bisa. Aku bisa."
Cahaya itu naik. Bagas melihatnya sekarang, tidak jelas, hanya serbuk keperakan di antara dirinya dan bintang, bergerak ke arah tiga titik sejajar di Orion seperti debu yang diterbangkan udara hangat. Dan di ujung terakhir, tepat sebelum hilang, ada kilat biru yang tajam sebentar, sebesar kuku, seperti pantulan permata di bawah lampu.
Kalung itu. Kalung yang ia belikan pada hari ulang tahun pernikahan pertama mereka.
Kilat biru itu padam.
Angin berhenti. Teleskop berderak karena tidak ada yang menyentuhnya. Bagas berdiri di tengah teras dengan telapak tangan terbuka, dan ia tidak sadar kapan ia membukanya.
"Dia sudah pergi," ujar Aileen.
Kalimat itu mestinya terdengar seperti penutup. Tetapi ketika Bagas menoleh, Aileen sudah goyah. Tongkatnya terlepas, berkelontang di lantai beton, dan lututnya menekuk. Ia tidak sempat jatuh. Tubuhnya seperti dinding yang kehilangan penyangga.
Bagas bergerak lebih cepat daripada yang pernah ia lakukan, tetapi berhenti sejengkal darinya, tangannya melayang di udara.
"Aileen. Boleh?"
Aileen tidak sanggup menjawab dengan kata. Ia hanya mencengkeram lengan baju Bagas dengan satu tangan, dan itu cukup.
Bagas merangkul bahunya dan menopang hampir seluruh berat tubuhnya. Dengan tongkat terjepit di lengan, ia menuruni tangga satu anak tangga setiap kali, tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Di lantai bawah, Cintya sudah menunggu dengan lampu menyala dan wajah yang bengkak. Tanpa bertanya, ia membuka pintu kamar bawah, menyingkap selimut, dan mundur.
***
Cintya datang membawa nampan: segelas teh manis hangat dan dua potong roti yang diolesi mentega tipis. Bagas sudah keluar, menutup pintu dari luar dengan pelan, dan Aileen duduk bersandar pada bantal tanpa melepas topi.
"Makan sedikit, Nak. Dokter Mahesa pasti memarahi kami kalau kamu tidak makan."
"Aku tidak lapar, Tante."
"Tante tahu. Makan saja." Cintya menaruh nampan di pangkuannya dan duduk di tepi ranjang. Ia tidak bertanya apa pun tentang Aira. Matanya yang sembap menatap tangan Aileen yang gemetar memegang gelas. "Dia pergi dengan tenang?"
Aileen mengangguk pelan. "Dia berdiri di dekat pagar. Dia takut tinggi, tapi dia tetap naik. Dia bilang terima kasih."
"Itu Aira." Cintya tersenyum, dan air matanya jatuh ke punggung tangan. "Dia selalu mengucapkan terima kasih untuk hal yang tidak pernah kita sadari sudah kita lakukan."
Aileen menggigit rotinya. Rasanya hambar, tetapi ia menelannya, karena Cintya menunggu, dan karena itu hal paling kecil yang bisa ia lakukan malam ini untuk seseorang yang juga kehilangan.
***
Aileen terbangun sekali, entah jam berapa. Langit-langit kamar bawah asing dan terlalu putih. Perutnya ngilu, matanya perih, dan di dadanya ada lubang yang bentuknya persis sebesar Aira. Ia teringat Ayah, yang dulu menggendongnya ke teras rumah lama dan menunjuk tiga bintang sejajar: "Itu Orion, Ai. Kalau kamu takut gelap, cari dia dulu." Selama ini ia mengira Orion hanya milik malam-malam sendirian. Malam ini ia tahu Orion juga bisa menjadi tempat seseorang pulang.
Tanpa menangis, ia menatap tembok.
"Pasal delapan," bisiknya.
Di balik pintu, sesuatu bergeser. Suara pelan, seperti punggung yang menyandar di kayu.
"Aku tahu," jawab Bagas dari lorong. Suaranya sangat dekat, hanya terhalang selembar daun pintu. "Aku sudah membacanya ulang sejak sore. Kontrak berakhir bila Aira telah pergi."
"Berarti sekarang kamu tidak punya alasan menahanku di rumahmu."
"Aku tidak menahanmu."
"Kunci perak itu ada di sakuku. Aku bisa pergi sekarang."
"Bisa." Hening sebentar. "Jangan pergi malam ini."
Aileen menatap langit-langit. Ia ingin menjawab sesuatu yang tajam, sesuatu yang cocok untuk mereka berdua di bulan-bulan ketika kata-kata hanya senjata. Tetapi tidak ada yang tersisa di mulutnya.
"Kenapa?"
"Karena kamu belum makan. Karena kamu hampir pingsan di atap." Bagas berhenti. "Dan karena aku tidak mau rumah ini sunyi malam ini. Itu alasan yang egois, aku tahu. Kalau kamu mau pergi, aku akan membuka pintu depan dan tidak menanyakan apa-apa."
Lama sekali tidak ada yang bicara. Aileen memejamkan mata.
"Aku tidur di sini," katanya akhirnya. "Tapi besok pagi kita bicara. Tentang apa saja. Kecuali pasal."
"Setuju."
"Dan kamu tidur di kamar, bukan di lantai lorong."
"Aku tidak tidur di lorong."
"Kamu duduk di lorong."
Hening yang kali ini lebih ringan. "Aku duduk di lorong," Bagas mengaku. "Itu bukan tidur."
Aileen nyaris tersenyum. Lalu rasa kantuk menariknya turun lagi, perlahan, seperti air pasang.
***
Pagi datang pucat dan lembut. Bagas masih di lorong, punggung bersandar pada dinding di sisi pintu kamar bawah, kaki terjulur, kepala miring ke samping. Ia tidak benar-benar tidur: sepanjang malam ia diam, mendengarkan napas yang teratur di balik pintu, menghitungnya seperti dulu ia menghitung bunyi monitor di rumah sakit.
Jam dinding menunjuk hampir pukul enam. Burung-burung di taman belakang mulai ribut.
Ia berdiri, lututnya protes, lalu naik ke lantai dua. Di ujung lorong, pintu kamar utama berdiri dengan kunci perunggu yang selama ini ia selipkan di balik deretan buku di ruang kerja. Pintu yang tidak pernah ia buka sejak kecelakaan. Ia menaruh telapak tangan di kayunya yang dingin, mengambil napas, dan menekan gagangnya.
Kamar itu berbau debu dan melati yang sudah lama layu. Tirai tertutup. Meja rias dengan cermin besar. Di atas ranjang, selimut krem yang ia ingat dilipat Aira sendiri pada pagi hari kecelakaan itu. Semua masih ada. Semua diam.
Ia berdiri di ambang pintu cukup lama.
Langkah tongkat mendekat dari belakang, pelan, tidak terburu-buru. Aileen berdiri di ujung lorong dengan topi menutupi rambutnya, wajah sembap, tetapi matanya jernih. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, memberinya tempat untuk menyelesaikan.
"Bantu aku mengosongkannya, Aileen," ucap Bagas tanpa menoleh. Suaranya hampir tidak terdengar. "Kalau kamu mau."