Besok malam, di atas, bersama Orion. Kalimat itu menemani Aileen sepanjang pagi, sampai ia menyadari bahwa ia sedang mengaduk bubur di dapur rumah Bagas dengan sendok yang sudah tidak lagi menyentuh apa pun.
"Kamu tidak makan," kata Cintya dari ambang pintu.
"Makan, Tante." Aileen menyuap sesendok, mengunyah tanpa rasa. Ia kembali ke rumah ini sepulang dari rumah sakit, atas pilihannya sendiri, dan tidak seorang pun menanyakan apa pun soal tas kain yang kini kembali di sudut kamar bawah. Pak Utang, kaktus berkuncup merah muda itu, masih di ambang jendela. Seolah ia tidak pernah ditinggalkan.
"Hari ini Aira pamit pada Daren dan Gio," kata Aileen, hanya agar kalimat itu terucap. "Nanti sore."
"Tante sudah tahu, Nak." Cintya mendekat dan merapikan syal di leher Aileen, yang sebenarnya sudah rapi. "Kamu tidak harus menanggung semuanya sendiri hari ini. Ada kami."
Sorenya mereka bertemu di taman belakang. Aira menunggu di bawah pohon belimbing dengan tangan terlipat, tipis seperti kain yang dijemur terlalu lama. Daren datang lebih dulu, masih dengan jas dokter yang belum sempat ia lepas, dan Gio menyusul dari arah garasi dengan tangan kosong, tanpa map di ketiaknya, dan Aileen baru sadar betapa janggalnya melihat Gio tanpa kertas.
"Aku tidak bisa melihatnya," kata Daren, memandang ke arah pohon belimbing. "Tapi Aileen bilang dia di sana."
"Di sebelah kirimu, dekat batang pohon." Aileen mendengarkan sebentar. "Dia bilang, Daren, kamu bukan dokter yang gagal. Dan kamu tidak harus menyelamatkan semua orang."
Daren mengangguk pelan. Rahangnya mengencang, dan ia memalingkan wajah ke arah rumput sebelum bicara. "Selamat jalan, Kak Aira," ucapnya, ke udara kosong, lalu tersenyum tipis. "Aku akan makan teratur. Dan aku akan menjaga si keras kepala itu."
"Dia bilang itu yang dia minta."
Giliran Gio. Ia berdiri tegak seperti biasa, tangan di sisi tubuh, tetapi bibirnya menipis. Aira mendekat padanya, sangat dekat, seolah ingin mengamati wajah lelaki yang selama ini tidak pernah mau dipuji.
"Aira bilang dia tahu itu kamu sejak awal," ucap Aileen. "Sahabat Panti. Tiap tanggal lima. Dia bilang anak-anak membuat gambar untuk 'orang baik yang tidak mau disebut' dan menempelkannya di dinding kantor, dan dia selalu ingin bilang itu darimu, tapi kamu pernah memintanya merahasiakan."
Gio menunduk. Untuk waktu yang lama ia tidak mengatakan apa-apa. Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, "Tolong sampaikan, Bu Aira, saya akan meneruskannya."
"Dia dengar," ujar Aileen. "Dia bilang terima kasih."
***
Malam itu langit cerah, nyaris tanpa awan. Bagas naik ke teras atap lebih dulu dan menyalakan satu lampu kecil di dekat teleskop. Ia memindahkan bangku panjang dua kali. Ia menggulung lengan kemeja, mengancingkannya lagi, dan akhirnya berhenti ketika ia menyadari bahwa ia sedang gugup seperti remaja yang menunggu seseorang di depan rumah.
Ia mendengar tongkat Aileen berketuk di tangga.
Aileen muncul dengan jaket, syal, dan wajah yang sudah tenang. Di belakangnya tidak tampak siapa pun. Tetapi Bagas melihat Aileen berhenti di ambang pintu dan menoleh ke belakang, seolah menunggu seseorang melewatkan langkah, dan sesuatu di dadanya menegang.
"Dia sudah di sini?" tanyanya.
"Dia naik di belakangku. Dia berhenti di anak tangga paling atas, lama sekali." Aileen tersenyum sedikit. "Tinggi, katanya."
"Dia takut."
"Dia takut. Tapi dia naik."
Orion terlihat jelas, tiga bintang di sabuknya sejajar tanpa cela. Aileen berjalan sampai ke dekat pagar besi dan berhenti. Ia mengangkat pandangan ke satu titik di sebelah kanannya, kira-kira setinggi mata orang yang berdiri.
"Dia di sini," katanya. "Dia mau berdiri di dekat pagar. Dia bilang, dulu waktu kamu berdiri di tepi atap rumah sakit itu, dia janji pada dirinya sendiri tidak akan pernah naik ke tempat setinggi ini lagi. Sekarang dia mau."
Bagas menelan ludah. Ia berdiri dua langkah di depan Aileen, menghadap ke arah yang ia kira adalah Aira. "Aira."
"Dia mendengarmu."
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Dia bilang kamu tidak perlu mulai. Dia yang mulai." Aileen memejamkan mata sebentar, lalu membukanya. Suaranya berubah, bukan lebih rendah, tetapi lebih lambat, seperti orang yang menyalin kalimat dari dinding tanpa mengubah satu huruf pun. "Bagas, Sayang."
Dua kata itu seperti tangan yang menyentuh bahunya dari belakang. Bagas menutup mulut dengan kepalan tangan.
"Aku yang memilih ikut malam itu. Aku yang bilang nanti saja diperiksa. Ini bukan salahmu." Aileen berhenti, mengatur napas, dan lanjut. "Kamu tidak boleh menghukum dirimu seumur hidup untuk keputusan yang kita ambil berdua. Hiduplah. Makan. Tidur. Tertawa tanpa merasa mengkhianatiku."
"Aira ..."
"Jangan menyuruh orang lain menjadi aku. Kamu tahu itu lebih baik daripada siapa pun, karena kamu pernah mencobanya, dan kamu pernah melihat betapa melelahkannya untuk dia." Aileen tidak menoleh. Air mata sudah mengalir di pipinya, dan ia tidak menghapusnya. "Kalau ada yang mencintaimu karena dirinya sendiri, jangan sia-siakan. Itu saja. Itu pesanku. Itu pesan terakhirku."
Bagas tidak lagi menahan apa pun. Ia menangis seperti seseorang yang selama berminggu-minggu menahan napas di dasar kolam dan akhirnya diizinkan naik. Bahunya berguncang, dan ia tidak malu.
"Aku akan hidup," katanya, ke arah kosong yang ditunjuk Aileen, dengan suara yang pecah di tengah. "Aku janji. Aku tidak akan menghukum diriku lagi. Terima kasih sudah memilih aku, Aira. Terima kasih sudah mencintaiku walau aku bodoh dan keras kepala. Aku sayang kamu. Aku akan selalu sayang kamu."
"Dia mendengar semuanya." Aileen menyampaikan dengan suara yang nyaris tidak ada. "Dia tertawa. Dia bilang, 'Aku tahu kamu keras kepala, Sayang. Karena itu aku menikahimu.'"
Bagas tertawa di tengah tangisnya, satu bunyi pendek dan basah. Lalu tawanya hilang, dan pertanyaan yang sudah sebulan ia simpan meluncur sebelum sempat ia timbang. "Waktu itu ... sakit, Aira?"
Aileen terdiam, mendengarkan. Wajahnya melembut. "Dia bilang tidak. Dia bilang yang paling sakit adalah melihatmu berbaring di aspal dan tidak bisa memegang tanganmu. Selebihnya cepat."
Bagas mengangguk. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Ia tidak bisa merasakan apa-apa saat Aira mendekat. Tidak angin, tidak hangat, tidak sentuhan. Tetapi ia melihat Aileen memandang sesuatu yang bergerak ke arahnya, lalu Aileen berkata pelan, "Dia mencium dahimu." Bagas menutup mata, dan ia merasa dahinya berbeda untuk sesaat, mungkin hanya imajinasi, mungkin tidak.
Lalu Aileen sendiri tersentak, napasnya tertahan. Ia menyentuh dahinya dengan ujung jari. "Dia ... aku merasakannya. Hangat."
Di atas mereka, Orion bersinar tanpa peduli.
"Ai," bisik Aileen, entah kepada siapa, entah kepada dirinya sendiri. Matanya naik ke satu titik di sisi kanan, lalu sedikit demi sedikit turun, dan ia terisak. "Dia mulai memudar. Dia ... menjadi cahaya."