Gerbang rumah Hendra dibuka sebelum sedan itu sempat berhenti, dan yang membukanya bukan penjaga. Hendra sendiri yang berdiri di sana dengan kemeja rumah dan sandal kulit, menggenggam sebungkus roti tawar seperti memegang pegangan tangga.
"Om," sapa Aileen, turun pelan dengan bantuan tongkat.
"Kamu sehat, Nak?" Pertanyaan yang sama, ketiga kalinya. Kali ini suaranya bergetar di akhir.
"Hasil biopsinya baik, Om. Bayangan itu cuma bekas luka."
Hendra menutup mata sebentar, lega, lalu membukanya dan memandang ke ruang kosong di samping Aileen. Ia tahu. Ia tidak perlu diberi tahu bahwa putrinya berdiri di situ. "Dia mau pamit, ya?"
"Iya, Om."
"Kalau begitu kita ke kolam." Hendra berbalik sebelum ada yang melihat wajahnya. "Tolong, kalian tunggu di serambi. Papa mau bicara dulu."
"Papa," panggil Bagas dari belakang.
Hendra berhenti, menepuk lengan menantunya sekali, ringan, lalu melepaskannya. "Nanti, Bagas. Papa mau melihat anakku dulu. Kamu dapat giliran sesudah ini."
Di belakang sedan Bagas, mobil Pradipta baru berhenti. Cintya turun lebih dulu, memegang tas tangan seperti orang yang tidak yakin boleh masuk. Pradipta menyusul dengan rahang mengeras. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi ia datang, dan itu cukup berarti.
Kolam koi di belakang rumah tenang dan hijau. Hendra duduk di bangku batu di tepinya, menyobek roti jadi remah, melemparkannya satu per satu. Ikan oranye bertotol putih naik ke permukaan dengan malas.
"Itu Pak Jenderal," bisik Aira dari sisi Aileen, dan suaranya nyaris hilang di tengah kata. "Dia sudah gemuk sekali."
"Aira bilang itu Pak Jenderal," kata Aileen. "Dia bilang ikannya sudah gemuk."
Bahu Hendra naik-turun. Ia tertawa pendek, serak. "Dia selalu mengomel soal itu. 'Jangan kebanyakan roti, Pa.' Padahal dia yang paling banyak memberinya makan."
"Aku ingat bait kedua, Pa," lanjut Aira, melangkah mendekat ke ayahnya, kepalanya miring seperti anak kecil. "Siulan keroncong yang dulu Papa lupa saat menungguku di depan sekolah. Sebenarnya Papa tidak pernah lupa. Papa pura-pura lupa supaya aku memaksa Papa mengajari ulang."
Aileen menerjemahkannya perlahan. Hendra mendengarkan dengan kepala tertunduk, dan ketika kalimat itu selesai, pecah tawa kecil dari dadanya, tawa orang yang tertangkap basah. "Anak nakal. Dia tahu dari dulu."
"Dia bilang, sup jagungnya jangan asin lagi, Pa. Dia sudah bilang waktu peringatan, tapi dia mau bilang sekali lagi."
"Itu bukan masakanku. Itu juru masak yang ..." Tawa Hendra mendadak pecah menjadi sesuatu yang lain. Ia menutup wajah dengan telapak tangan yang masih memegang remah roti, dan bahunya berguncang tanpa suara. "Juru masak lama sudah bertahun-tahun pergi dari rumah ini, Nak. Sup itu Papa sendiri yang buat sejak Aira menikah. Papa tidak pernah bisa menakar garamnya."
Aira berlutut di depan ayahnya. Tangannya terulur dan berhenti sejengkal dari pipinya yang basah. "Aku sudah pulang, Pa," katanya. "Dan aku bahagia. Papa tulis kartu itu: pintu ini tidak pernah dikunci. Aku datang lewat pintu itu."
Aileen mengulang kalimat itu dengan suara yang tidak ia kenal sebagai suaranya sendiri.
Hendra tidak menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, dengan telapak terbuka ke arah ruang kosong di depan lututnya, dan menahannya di sana lama sekali, seakan menunggu sesuatu hinggap.
***
Pradipta berdiri di serambi sambil mengamati ikan di kejauhan. Ia sudah memutuskan dalam perjalanan bahwa ia datang untuk melihat, bukan untuk percaya. Puluhan tahun ia hidup, dan selama itu ia tidak pernah menaruh uang atau hati pada sesuatu yang tidak bisa disentuh. Tetapi ia melihat Hendra, sahabat lamanya, tertawa lalu menangis seperti anak laki-laki, dan ia tidak punya penjelasan yang cukup rapi untuk itu.
Aileen muncul dari jalan setapak dengan tongkat dan wajah sembab. "Om, Tante. Aira ingin bicara dengan kalian."
"Dengan kami?" Cintya menggenggam tasnya lebih erat.
"Silakan." Aileen berhenti di antara mereka dan menatap titik kosong di dekat tiang serambi. "Dia berdiri di situ."
Pradipta mendengus. Bukan marah, hanya reflek orang yang menjaga diri. "Katakan apa maunya."
Aileen mendengarkan, lalu mengulang dengan hati-hati. "Dia bilang: 'Mama, kue lapis kiriman Mama di ulang tahun pernikahan kami, bagian pinggirnya selalu kusimpan untuk Mama kalau Mama datang, karena Bagas cuma mau tengahnya. Mama tidak pernah tahu.'"
Cintya menutup mulut dengan tangan. "Ya Tuhan. Memang pernah ... Tante pernah melihat pinggirannya masih utuh di piring dan mengira Aira tidak suka."
"Dan untuk Om Pradipta," lanjut Aileen, sedikit ragu, "dia bilang: 'Di hari pernikahanku, di lorong belakang, Ayah berbisik. Kalau Bagas keras kepala, tarik telinganya. Mama tidak dengar. Cuma kita berdua.'"
Wajah Pradipta kehilangan warna. Mulutnya membuka, lalu mengatup. Ia memegang tiang serambi.
"Aku tidak pernah menceritakan itu pada siapa pun," katanya, pelan, hampir tak terdengar. "Bahkan pada istriku."
"Mas," bisik Cintya.
Pradipta menatap Aileen. Lama. Lalu pandangannya turun ke tongkat, topi, syal, kemudian ke wajah gadis itu, yang bukan wajah pemeras, bukan wajah penipu, bukan wajah orang yang mau menjual diri dua kali. Seluruh pagar yang ia bangun sejak makan malam di meja panjang itu runtuh satu per satu.
"Terima kasih, Nak," ucapnya. Suaranya parau. "Sudah menjaga mereka. Dua-duanya."
Aileen membuka mulut, tetapi tidak ada yang keluar. Tatapannya jatuh ke lantai, dan Cintya, tanpa permisi, memeluknya erat.
Bagas berdiri satu langkah di belakang ayahnya, tangan di saku, dan tidak berkata apa-apa sampai Pradipta menoleh.
"Kamu sudah bilang," kata Pradipta. "Di ruang tamu ini, dengan semua orang mendengar. Ayah dengar. Ayah tidak percaya."
"Aku tahu, Yah."
"Itu salah Ayah, bukan salahmu. Kamu satu-satunya yang berani berdiri di depan Ayah dan bicara hal yang kedengarannya gila." Pradipta mengusap wajah dengan saputangan yang dikeluarkan Cintya dari tasnya tanpa diminta. "Jangan bilang pada siapa pun Ayah menangis di serambi orang."
"Aku tidak akan bilang."
"Bagus."
***
Di kamar masa kecilnya, Aira berdiri menatap jendela yang menghadap kolam. Boneka beruang tua duduk di ranjang kecil, dan di meja belajar berdiri sebuah kincir angin kertas yang warnanya sudah pudar.
"Kamu sudah mulai pamit ke semua orang," ujar Aileen, bersandar di kusen pintu. Perutnya masih menarik tiap kali ia berdiri lama, dan ia pura-pura tidak peduli.
Aira menyentuh kincir kertas itu, jarinya menembus dan keluar lagi. Ia tersenyum melihat itu, bukan sedih. "Sudah lama sekali aku tidak bisa membuatnya berputar. Dulu Papa membuatnya sendiri, dan aku memaksa Papa membuatkan yang baru tiap kali sobek. Papa selalu memasangnya terbalik. Jadi tidak pernah berputar kalau ditiup dari depan."
"Kamu takut?"
"Sedikit." Aira memiringkan kepala. "Bukan takut pergi. Aku takut Bagas berdiri sendirian di atas sana, dan aku tidak ada di sampingnya."
"Dia tidak sendirian."
"Aku tahu. Karena itu aku bisa pergi." Aira menatapnya. "Bukan karena kamu pengganti, Ai. Karena kamu bukan aku."
Aileen mengalihkan pandangan ke kolam di luar jendela, supaya ia tidak perlu menjawab.
"Tinggal sedikit lagi, Ai." Aira berbalik. Tubuhnya begitu tipis hingga cahaya sore menembusnya tanpa terhalang. "Papa sudah. Ayah dan Mama sudah. Besok sore Daren dan Gio, di taman. Dan yang terakhir ..."
"Bagas."
"Yang terakhir untuk Bagas." Aira mengangguk. Ia tampak lebih tenang daripada yang pernah Aileen lihat. "Besok malam, Ai. Di atas, bersama Orion."