"Kamu tidak tidur semalaman," kata Aileen. "Berarti kamu tidak boleh menyetir."
"Gio yang menyetir."
"Gio juga tidak tidur. Dia menunggu di mulut gang dari jam dua." Aileen menyipitkan mata ke arah sedan hitam yang parkir miring di bawah tiang listrik. "Paman, bilang sesuatu."
Barito sudah berdiri di pintu dengan topi kebesaran dan sepatu bot karet. Ia menimbang keduanya sebentar, lalu menunjuk Bagas dengan dagu. "Dia ikut aku ke pasar dulu. Biopsimu jam sembilan, ini baru setengah enam. Orang yang duduk semalaman di teras orang lain wajib bikin dirinya berguna."
"Paman ..."
"Kamu sarapan teh saja, jangan makan. Tante Mira temani." Barito sudah melangkah ke gang. "Ayo, Nak Bagas. Es batu tidak menunggu."
Bagas menoleh ke Aileen, seperti meminta izin. Aileen menahan sesuatu yang nyaris menjadi senyum, dan menyuruhnya pergi dengan satu gerakan tangan.
***
Pasar ikan pagi itu licin, bau, dan berisik. Ningsih, yang ikut ayahnya sebelum berangkat sekolah, berjalan di depan sambil menenteng bungkus roti. Ia berhenti mendadak dan mendongak ke arah Bagas.
"Om yang pakai jas itu, kan?"
"Hari ini tidak pakai jas," jawab Bagas.
"Kenapa?"
"Jasnya ketinggalan di mobil."
"Berarti Om bukan Om yang pakai jas lagi." Ningsih berpikir serius. "Om tahu itu ikan apa?"
Bagas memandang ikan yang ditunjuk. Perak, panjang, matanya menatap dingin. "Kakap?"
"Itu kembung." Ningsih tertawa terbahak-bahak, dan seorang ibu penjual cumi di sebelah ikut menahan tawa.
Barito menyodorkan dua kotak gabus berisi es kepada Bagas tanpa komentar. Bagas memanggulnya, hampir terpeleset di genangan, dan air es merembes sampai ke lengan kemejanya yang sudah kusut. Tanpa mengeluh, ia berjalan lurus di belakang Barito, seperti orang yang sedang membayar sesuatu yang tidak bisa dihitung.
"Aileen itu keras kepala sejak kecil," kata Barito sambil menimbang seekor kakap. "Waktu ayahnya meninggal, dia tidak menangis di pemakaman. Dia menangis dua minggu sesudahnya, di kamar mandi, sambil menyalakan keran supaya tidak kedengaran."
Bagas menunduk. "Saya tahu dia begitu."
"Kamu tahu. Bagus. Jangan berhenti tahu." Barito menyerahkan kantong plastik. "Sekarang antar aku pulang. Dia pasti sudah mondar-mandir."
***
Ruang tunggu lantai tiga Rumah Sakit Setia Budi dingin dan berbau antiseptik. Aileen duduk bersama Paman, topi ditarik sampai ke alis, sementara Bagas berdiri di dekat jendela dengan kemeja ganti yang dibawakan Gio. Mardiana duduk di kursi kosong di ujung deretan, merajut sesuatu yang tidak ada benangnya, dan menyapa Aileen dengan kerutan di dahi, tanpa bicara.
"Dia sudah kenal jalan ke sini, Nak," bisik Mardiana ketika Aileen melintas, dan benangnya yang tak terlihat bergerak cepat di jarum. "Jangan khawatir. Banyak yang menunggumu di sini. Tidak semuanya hidup."
Aileen nyaris tersenyum. Bagas, yang berdiri dua langkah darinya, hanya melihat gadis itu menatap kursi kosong, dan ia tidak bertanya.
Aira tidak ikut masuk. Ia berhenti di pintu lift, tipis seperti napas di kaca. "Aku tunggu di atap," bisiknya. "Aku tidak kuat dengar jarum."
"Aileen Andita," panggil seorang perawat.
Bagas melangkah satu kali, lalu berhenti. Tanpa bertanya apa-apa, ia memandang Aileen, dan Aileen paham bahwa lelaki itu menunggu izin yang bahkan belum ia ucapkan.
"Tunggu di sini," kata Aileen. "Kalau ada yang keluar dan mencarimu, itu aku."
"Aku di sini."
Tindakan itu berlangsung kurang dari satu jam, seperti janji Mahesa. Aileen berbaring miring, mendengar suara alat dan napasnya sendiri, mencoba menghitung sabuk Orion di langit-langit sampai ia lupa angkanya. Ketika ia didorong keluar, wajah pertama yang ia lihat bukan wajah Paman. Itu Bagas, berdiri di tempat yang sama, kemejanya yang baru sudah kusut lagi karena diremas.
Daren bersandar di dinding lorong dengan jas dokter dan wajah orang yang tidak tidur. "Kamu menebak," kata Aileen.
"Aku menebak." Daren tidak membela diri. "Aku minta maaf. Tapi aku tidak menyesal."
"Aku juga tidak akan memarahimu," sahut Aileen, dan ia berhenti karena tidak ingin ada yang melihat suaranya bergetar.
"Sudah, jangan bicara dulu," kata Daren. "Minum. Makan roti. Kamu puasa sejak semalam, dan itu bukan prestasi."
Mereka menunggu di kantin lantai satu sampai sore. Barito memesan bubur dan menghabiskannya sendirian karena tidak ada yang sanggup menyentuh makanan. Bagas menatap jam dinding dua kali dalam satu menit, lalu memaksa dirinya menatap meja. Daren membongkar tiga bungkus gula dan menuangnya ke teh yang bahkan tidak ia minum. Tidak seorang pun membicarakan hasilnya, dan justru karena itu semuanya terasa penuh.
Hasil sementara datang sore itu, di ruang konsultasi yang jendelanya menghadap parkiran. Mahesa duduk di balik meja dengan map terbuka, lalu menutupnya, lalu membukanya lagi. Itu kebiasaan yang baru Aileen lihat hari itu, dan ia tahu artinya sebelum lelaki itu bicara.
"Pak Bagas, silakan duduk. Aileen, saya sudah mendapat izin Anda untuk membiarkan beliau mendengar?"
"Sudah, Dok."
"Baik." Mahesa menarik napas, tidak panjang. "Sampel yang kami ambil pagi tadi menunjukkan jaringan parut. Bukan sel kanker. Pembacaan akhir butuh beberapa hari, tetapi gambaran sementaranya jelas, dan dokter patologi yang membacanya bersama saya tidak ragu." Ia mendorong kacamatanya. "Bayangan itu bekas luka dari operasi. Tubuh Anda sedang menjahit dirinya sendiri. Itu kabar baik."
Aileen mendengar kata-kata itu satu per satu, tetapi artinya masuk terlambat, seperti suara dari ujung terowongan. "Jadi ... bukan kambuh?"
"Bukan kambuh. Kemoterapi lanjutan tetap Senin, sesuai jadwal."
Ia menutup mulut dengan punggung tangan. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahannya, deras, tidak bersuara, dan ia tidak peduli bahwa Mahesa menunduk pura-pura membuka map demi memberinya ruang.
"Aileen." Suara Bagas rendah di sebelahnya. Ia tidak menyentuh. Ia hanya mencondongkan badan, tangan terkepal di lutut. "Boleh?"
Aileen menoleh. Lalu ia mengangguk.
Bagas memeluknya. Hati-hati, seolah ia tahu persis berapa banyak tenaga yang diperlukan dan memberinya persis sebanyak itu, tidak lebih. Aileen menyembunyikan wajah di bahunya, di kemeja yang masih berbau es pasar, dan tubuhnya yang sejak semalam kaku akhirnya menyerah.
Mahesa sudah berdiri di jendela dengan punggung membelakangi mereka.
Hampir senja ketika mereka turun ke taman rumah sakit. Barito pamit duluan ke parkiran sambil berpura-pura mencari kunci motor yang jelas sudah ada di sakunya. Aira menunggu di bangku di bawah pohon, terlalu tipis untuk membuat daun yang jatuh di pangkuannya bergeser. Ia menatap Aileen dari jauh, lalu tersenyum. Bukan senyum yang meminta apa-apa.
"Dia sudah tahu hasilnya," kata Aileen pelan kepada Bagas. "Mardiana yang memberi tahu, dan dia menangis juga."
Bagas berdiri di sampingnya, jaraknya cukup untuk tidak menyentuh. "Dia bahagia?"
"Dia lega. Itu mirip, tapi bukan hal yang sama."
"Aku akan menyampaikannya," ucap Aileen. Bagas mengangkat kepala. "Pesan terakhir Aira. Aku tidak mau menahannya lagi."
"Aileen, kamu tidak harus ..."
"Aku mau. Tapi ada urutannya." Ia menoleh pada Aira, mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar siapa pun selain dirinya, lalu kembali pada Bagas. "Besok Aira ingin pamit dulu pada Papanya. Lusa malam, di teras."
***
Mobil berhenti di halaman rumah Bagas menjelang magrib. Cintya sudah menunggu di teras dengan celemek yang belum dilepas, dan ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengambil tas kain dari tangan Aileen sebelum Bagas sempat menawarkan.
"Kamar bawah sudah Tante rapikan," katanya. "Seprainya Tante ganti."
Di kamar itu Aileen menaruh tas kain di sudut, lalu berhenti di depan jendela. Pak Utang masih di ambangnya, dan kuncup merah mudanya sudah sedikit lebih besar dari terakhir ia lihat. Ia menyentuh satu durinya dengan ujung jari, hati-hati.
"Aku pulang," katanya pelan, kepada kaktus itu, dan kepada rumah.