Aileen mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi. Yang akhirnya terkirim hanya dua kata: "Baik, Dok."
Layar ponselnya padam. Seng di bawah telapak kakinya masih menyimpan sisa panas siang, dan angin dari arah pasar membawa bau garam bercampur es yang sudah mencair.
"Dia benar, Ai," kata Aira. Suaranya putus-putus, seperti siaran radio dari kota yang jauh. "Kamu tidak perlu ..."
"Tolong jangan malam ini." Aileen memeluk lutut. "Aku sudah cukup bertengkar denganmu hari ini."
"Aku tidak bertengkar. Aku cuma ..." Kalimat itu hilang di tengah jalan. Aira menatap tangannya sendiri, yang kini bening sampai ke pergelangan, lalu tersenyum canggung. "Aku turun dulu. Pamanmu memanggil dari bawah."
Barito memang memanggil, tetapi Aileen tahu itu hanya alasan. Aira sedang memberinya ruang, dan ia benci karena ruang itu terasa dingin.
***
Di rumah besar yang terlalu sunyi, Bagas belum tidur. Ia duduk di sofa ruang kerja dengan kemeja yang dua kancing atasnya terbuka, memandangi toples kaca berlabel "Panti" di rak. Isinya dua juta. Tadi sore ia menghitungnya lagi, seperti orang yang mencari uang kembalian di saku kosong.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
"Kamu tahu Aileen di mana?" tanya Daren dari ambang pintu. Kemeja jaganya kusut, stetoskop masih melingkar di leher.
"Di rumah pamannya. Gio sudah memastikan taksinya sampai." Bagas berdiri. "Kenapa kamu ..."
"Aku bukan mau bertanya soal pertengkaran kalian. Gio sudah cerita, dan aku tidak akan ikut campur." Daren menutup pintu di belakangnya. "Aku mau bertanya soal Mahesa. Kamu tahu apa yang dia kerjakan kemarin sore?"
"Memangnya kenapa?"
"Dia membaca CT Aileen dua kali. Bersama dokter radiologi, dengan pintu tertutup. Mahesa tidak pernah membaca CT dua kali kalau hasilnya bagus." Daren mengusap wajah. "Tadi siang aku melihat jadwal ruang prosedur kecil di lantai tiga. Kamis, jam sembilan, biopsi. Pasiennya cuma ditulis dengan inisial: A.A."
Bagas tidak bergerak. Toples di rak seolah mendadak menjadi benda paling jelas di ruangan itu.
"Mahesa tidak bilang apa pun padaku," lanjut Daren. "Dia terikat kerahasiaan pasien, dan aku tidak akan memaksanya melanggar itu. Jadi ini tebakanku saja. Aku bisa salah."
"Kamu tidak salah." Suara Bagas keluar lebih serak dari yang ia kira. "Dia pergi dengan wajah seperti itu karena sudah tahu."
"Mungkin. Dan dia tidak mau memberi tahu kamu karena tidak mau kamu datang sebagai kewajiban." Daren menatapnya lurus. "Jadi dengarkan aku. Jangan datang sebagai pemilik kontrak. Jangan bawa map, jangan bawa pasal."
"Aku tidak membawa apa-apa."
"Bagus. Jangan bawa juga kalimat yang sudah kamu latih di mobil."
Bagas sudah meraih kunci mobilnya.
***
Gang itu terlalu sempit untuk sedan hitam, jadi Bagas turun di mulut gang dan berjalan sisanya sendirian, sementara Gio menunggu di balik kemudi tanpa bertanya. Bohlam kuning di teras rumah Barito berkedip-kedip. Jam di pergelangannya menunjukkan hampir pukul dua.
Ia tidak mengetuk. Ia berdiri di pagar kayu setinggi pinggang, menimbang berapa lama seorang tamu bisa berdiri sebelum jadi gangguan, dan belum juga mendapat jawabannya ketika pintu depan berderit.
Barito keluar dengan sarung dan kaus oblong. Ia memandang Bagas dari ujung sepatu sampai kemeja yang kusut, lama, seperti menaksir ikan yang baru turun dari kapal.
"Dia sudah tidur," katanya.
"Saya tahu. Saya tidak akan membangunkan, Paman."
"Kamu tahu apa soal bayangan itu?"
"Hanya bahwa ada biopsi. Daren yang menebak. Aileen tidak memberi tahu saya, dan saya tidak datang untuk memaksanya."
Barito mendengus pelan, entah setuju atau tidak. Ia menggeser dua kursi plastik di teras, satu ke arah Bagas. "Duduk. Kalau mau masuk, minta izin pada dia, bukan pada saya. Rumah ini punya satu aturan, dan aturannya bukan punya saya."
Bagas duduk. Barito masuk dan keluar lagi membawa segelas teh yang uapnya sudah tinggal separuh, menaruhnya di lantai di sisi kaki Bagas, lalu menghilang ke dalam tanpa suara.
Ia menunggu. Nyamuk, sepeda motor penjual sayur yang lewat, ayam jantan pertama yang berkokok dari kandang tetangga. Tehnya dingin. Ia meminumnya juga.
***
Aileen terbangun karena suara motor. Ia keluar ke dapur untuk mengambil air, dan Mira, sudah berdiri di depan kompor dengan kerudung handuk di kepala, menahan lengannya sebelum ia sampai ke keran.
"Di teras," bisik Mira. "Sejak jam dua. Paman melarang Tante membangunkanmu."
"Siapa, Tante?"
Mira hanya menatapnya.
Aileen mengambil topi dari meja dan memakainya, lalu syal, lalu tongkat, dan menyadari sendiri bahwa ia sedang berdandan untuk seseorang. Ia benci kenyataan itu. Ia tetap melakukannya.
Bagas duduk di kursi plastik, siku di lutut, kepala tertunduk. Pagar kayu, bohlam yang berkedip, gelas teh kosong di lantai. Pemandangan yang terlalu kecil untuk lelaki yang biasa memenuhi satu ruang rapat.
"Daren," kata Aileen.
Kepala Bagas terangkat. Matanya merah. "Dia menebak. Mahesa tidak berkata apa-apa, jangan marah padanya."
"Aku tidak marah pada Dokter Mahesa." Aileen menurunkan tubuh ke kursi satunya, pelan, karena perutnya masih protes pada tiap gerakan. "Aku cuma capek ditebak-tebak."
"Aku tahu."
"Aira tidak ada di sini," ujarnya sebelum Bagas sempat menoleh ke ruang kosong. "Dia di atap seng. Dia memilih tidak mendengar."
"Kalau begitu aku bicara padamu saja." Bagas menarik napas. "Di teras itu aku diam, dan kamu mengira diam itu jawaban. Aku diam karena Aira berdiri di depanku. Itu bukan alasan. Aku tetap salah."
Aileen tidak menjawab.
"Aku salah bukan hanya karena kalimat 'tugasmu menyampaikan'. Aku salah karena mengira kamu alat. Aku memperlakukan pesan Aira seperti paket yang terlambat, dan kamu kurirnya. Padahal kamu menahannya karena takut, dan takutnya masuk akal." Suaranya tidak naik sedikit pun. "Kamu bertanya apa gunanya kamu kalau Aira pergi. Aku tidak punya jawaban yang cukup bagus saat itu. Sekarang aku juga belum punya yang cukup bagus. Tapi aku tidak mau menjawabnya dengan terburu-buru supaya kamu tinggal."
"Jadi aku ini apa buatmu?"
"Aku belum bisa menjawabnya dengan benar." Ia menatap Aileen. "Yang aku tahu, aku tidak datang membawa pasal."
Cahaya pertama memucat di atas atap-atap seng. Dari dalam rumah terdengar Barito batuk, sengaja, dari balik dinding yang pasti terlalu tipis.
"Aku mau pulang," ucap Aileen akhirnya. Matanya panas, dan ia menatap pagar supaya tidak jatuh. "Kalau kamu tidak memintaku jadi siapa pun."
"Aku tidak minta kamu jadi siapa pun. Kamu boleh marah. Kamu boleh menunda. Kamu boleh takut."
"Sudah. Itu cukup." Ia menyeka sudut mata dengan ujung syal, cepat, seakan tidak ada yang melihat. "Biopsi itu tindakan kecil, Bagas. Satu jam. Dan Paman yang akan menemaniku."
Bagas memandangnya sebentar. Lalu ia berkata, seperti orang yang sudah memutuskan jauh sebelum duduk di kursi itu, "Biopsinya. Aku ikut."