Taksi itu berhenti di ujung gang sempit menjelang tengah malam, dan sopirnya, lelaki paruh baya yang sepanjang jalan tidak berbicara, menurunkan tas kain Aileen sendiri dan menolak diberi uang lebih.
"Hati-hati, Neng," katanya. "Gang ini licin kalau malam."
Aileen berjalan pelan menyusuri tembok rumah-rumah tetangga yang gelap, tongkat mengetuk aspal retak. Lampu teras Paman Barito masih menyala, bohlam kuning yang selalu berkedip. Ia belum sempat mengetuk ketika pintu terbuka dari dalam.
"Nak." Barito berdiri di ambang pintu dengan sarung dan kaus oblong, rambutnya yang memutih acak-acakan. Ia memandang tas kain, tongkat, wajah keponakannya, tidak lebih dari tiga detik. Lalu ia bergeser memberi jalan. "Masuk. Tante Mira baru saja menghangatkan teh."
"Paman, aku ..."
"Besok saja ceritanya. Atau tidak usah cerita." Barito mengambil tasnya dari tangan Aileen. "Rumah ini tidak pernah punya pintu yang kami tutup untukmu."
Ia hampir menangis di ambang pintu itu. Ia menahannya. Di dapur, Mira sudah menuang teh ke gelas kaca dan menyelimutinya tanpa bertanya apa pun. Aira masuk paling belakang, berdiri canggung di dekat lemari piring, tidak berani menatap Aileen, dan Aileen pura-pura tidak melihatnya.
"Kamu mau cerita, Nak?" bisik Mira ketika Barito sudah masuk lebih dulu. Ia mengusap rambut Aileen yang tertutup topi, hati-hati, seperti menyentuh kain yang pernah robek.
"Besok, Tante."
"Besok pun boleh. Tante cuma mau kamu tahu: Tante tidak pernah bertanya kenapa kamu pulang. Tante hanya senang kamu pulang."
Aileen menyembunyikan wajah di bahunya sebentar. Hanya sebentar. Lalu ia menegakkan badan, dan Mira, yang paham tanpa perlu diberi tahu, membiarkannya.
Ranjang di kamar kecil bekas kamar Ningsih sudah dirapikan. Aileen berbaring tanpa melepas syal, menatap langit-langit bernoda air yang dulu ia hapal bentuknya, dan akhirnya tertidur karena lelah, bukan karena tenang.
***
Rabu itu rumah Paman terasa dingin dan hangat sekaligus.
Hangat karena Mira menggoreng bakwan jagung sejak subuh dan Ningsih, yang bangun lebih pagi dari siapa pun, duduk di sebelah Aileen dengan rok seragam dan meminta dikepangkan rambutnya. Dingin karena tidak ada langkah sepatu di teras, tidak ada suara yang menanyakan sarapan, dan tidak ada ketukan dua kali sebelum pintu terbuka.
"Kakak kok pakai topi terus?" tanya Ningsih.
"Biar telinga Kakak hangat."
"Kak Aileen sakit lagi?"
"Sedang diobati."
"Kalau sembuh, ikut pasar lagi ya. Ayah bilang ikan kakap lagi banyak." Ningsih turun dari bangku, menyambar tas sekolahnya, mencium pipi Aileen sekilas dengan bibir yang bau susu, dan berlari keluar. Aileen menyentuh pipinya lama.
Ponselnya berdering pukul sebelas.
Nomor Rumah Sakit Setia Budi. Ia keluar ke teras belakang, duduk di bangku plastik di antara ember dan jemuran, dan mengangkatnya dengan tangan yang tiba-tiba dingin.
"Aileen, ini Mahesa." Suara itu tenang seperti biasa, tetapi nadanya lebih rendah. "Anda sedang duduk?"
"Sudah, Dok."
"Baik. CT kemarin sudah saya baca dua kali, dan saya minta rekan radiologi membacanya bersama saya. Ada bayangan kecil di dekat sambungan operasi. Ukurannya beberapa milimeter." Ia berhenti sebentar. "Itu bisa jaringan parut. Ini yang paling sering terjadi sesudah operasi. Tetapi di CT, jaringan parut dan kekambuhan dini kadang tampak sama. Saya tidak mau menebak."
Aileen memandang ember di kakinya. Airnya bergoyang pelan. "Jadi ... apa?"
"Biopsi. Besok pagi, jam sembilan, dengan bius lokal. Singkat, kurang dari satu jam. Hasil sementaranya saya usahakan sore harinya." Mahesa mengucapkannya seperti memberi jadwal kereta. "Saya ingin menegaskan satu hal: saya belum menyebut kata kambuh. Belum ada yang bisa menyebutnya."
"Aku mengerti."
"Apakah Anda sendirian?"
"Aku di rumah Paman."
"Keluarga Anda tahu?"
Aileen menatap jemuran. Kain sarung Paman bergerak lamban. "Belum. Dan ... Dok, aku mau minta sesuatu. Jangan beri tahu Daren. Jangan beri tahu Bagas."
Jeda panjang di ujung sana.
"Saya tidak berhak memberi tahu siapa pun tanpa izin Anda," jawab Mahesa. "Itu aturan. Tapi saya juga dokter, dan saya bertanya, Aileen: kenapa?"
"Karena kalau aku bilang, dia akan datang." Suaranya lebih lirih dari yang ia kira. "Dia akan datang karena merasa wajib. Karena ada pasal, karena aku pasiennya, karena aku utang. Aku tidak mau dia datang karena itu."
"Itu keputusan Anda." Mahesa menarik napas. "Tetapi biopsi butuh orang yang menemani, yang bisa mengantar pulang. Anda punya?"
"Paman."
"Baik. Itu cukup. Saya tunggu jam sembilan."
Sambungan terputus. Aileen duduk lama sambil memegang ponsel yang sudah gelap.
Pintu belakang berderit. Barito keluar membawa dua gelas teh, menaruh satu di sisi Aileen, dan duduk di ember terbalik tanpa berkata apa-apa. Ia membaca wajah keponakannya seperti membaca laut, dari warna air, tanpa perlu bertanya tentang ikan.
"Bayangan di CT," kata Aileen akhirnya. "Besok biopsi."
Barito mengangguk lambat. Tangannya yang kasar karena es dan air asin memegang gelas teh seperti benda rapuh. "Ayahmu juga dulu begitu. Dia diam, lalu satu hari bilang ada bayangan." Ia berhenti, menelan. "Tapi kamu tidak sama dengan ayahmu. Kamu dioperasi lebih awal. Kamu punya dokter yang lebih baik."
"Aku tahu."
"Telepon dia, Nak."
"Siapa?"
"Yang punya mobil hitam dan matanya seperti anak anjing." Barito menatap ke arah jalan di balik gang. "Aku bukan orang pintar. Tapi lelaki yang menebus kalung ayahmu dan menulis 'ini milikmu' di secarik kertas itu bukan lelaki yang pantas kamu tinggalkan tanpa pamit."
"Aku sudah pamit, Paman. Dengan caraku."
"Dengan cara yang membuat kamu menangis di teras belakang?" Barito menepuk lututnya sekali. "Pikirkan saja."
Aileen tidak menjawab.
***
Malam itu ia naik ke atap seng rumah Paman lewat tangga bambu yang dipegangi Barito sampai anak tangga terakhir, setelah berjanji tiga kali tidak akan berdiri terlalu lama. Seng masih hangat dari matahari tadi. Orion terbit di sela antena televisi para tetangga, jelas, lebih jelas daripada yang pernah ia lihat dari teras Bagas.
Di sampingnya Aira duduk, diam. Ia tidak menyentuh, tidak berbicara. Hanya duduk, dan itu lebih dari cukup.
Ia membuka daftar kontak. Nama Bagas ada di urutan atas, dengan ibu jari yang sudah ia taruh di atasnya sejak tadi pagi, dan setiap kali hampir menekannya, ia membayangkan wajah lelaki itu di ambang pintu, memandang tas kain dan tongkatnya, berkata baik-baik "Aku akan datang" dengan suara orang yang melakukan tugas. Ia menutup layar.
"Ai," bisik Aira, sangat pelan, nyaris habis. "Kamu boleh minta dia datang."
"Aku tahu."
"Itu bukan meminta tolong. Itu cuma ... mengizinkan seseorang mencintaimu."
Aileen tidak menjawab. Ia memandang tiga bintang di sabuk Orion sampai matanya perih. Air matanya jatuh tanpa isak, satu per satu, di atas seng yang hangat. Ia tidak menyekanya. Ia teringat Rachel. Dunia nggak runtuh, katanya.
Ponselnya bergetar di pangkuan. Sebuah pesan baru.
Mahesa: Besok jam sembilan, jangan sarapan. Dan Aileen, Anda tidak perlu menanggungnya sendirian.