"Ya!" Aileen berbalik, dan kata itu keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. "Ya, aku menahannya! Memangnya itu salah?"
Aira berdiri di dekat pintu tangga, begitu tipis hingga Orion yang baru terbit di ufuk tampak jelas lewat bahunya. Ia tidak mundur dari bentakan itu. Ia hanya menggeleng pelan.
"Bukan salah, Ai. Tapi bukan juga milikmu untuk ditahan."
"Pesanmu milikku. Kamu sendiri yang menitipkannya padaku." Aileen mengencangkan jaket Bagas di bahunya. Tangannya gemetar dan ia tidak tahu apakah karena dingin atau marah. "Kamu bilang aku boleh menyampaikannya kapan saja, asal sebelum kamu hilang."
"Aku bilang seminggu."
"Seminggu itu belum habis!"
"Sudah habis, Ai." Suara Aira jatuh nyaris seperti bisikan angin. "Hari ini hari ketujuh. Dan kamu tahu itu. Kamu menghitungnya lebih teliti dariku."
Aileen mengatupkan rahang. Ia ingin melemparkan sesuatu. Tongkat, jaket, teleskop. Ia ingin berteriak bahwa Aira tidak adil, bahwa semua orang pergi padanya, Ayah dulu, kini Rachel, kini Aira, dan ia lelah mengajari dirinya sendiri bahwa itu bukan hukuman. Tetapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Kamu boleh memilih tinggal. Kamu boleh. Kenapa kamu tidak pilih tinggal?"
"Karena kalau aku tinggal, kamu tidak pernah jadi dirimu sendiri di rumah ini."
"Itu bukan alasan ..."
"Bagas di bawah, Ai. Dia belum tidur. Katakan sekarang, aku ada di sini, aku bantu kamu mengingat tiap katanya." Aira mendekat satu langkah, dan cahaya bintang lewat dadanya. "Kamu hanya perlu membuka mulut."
"Tidak." Aileen memejamkan mata. "Belum. Jangan sekarang."
"Aileen."
Bagas berdiri di ambang pintu tangga, dasi sudah dilepas, lengan kemeja digulung sampai siku. Ia pasti naik sepelan mungkin, karena Aileen tidak mendengarnya. Dari wajahnya, ia sudah mendengar cukup.
"Dengan siapa kamu bicara?" tanyanya, dan sebelum Aileen sempat menjawab, "Dengan Aira. Aku tahu. Pertanyaanku: apa yang kamu tahan?"
Aileen menutup mulut. Dingin merambat dari telapak kaki ke perut.
"Aileen."
"Pesan terakhirnya," ucap Aileen akhirnya. "Aku belum menyampaikannya. Aku menunda."
Bagas tidak bergerak. "Sejak kapan?"
"Sejak ... hari ia bilang waktunya tidak lama. Empat hari sesudah kantor yayasan."
"Berapa lama ia punya?"
"Seminggu. Dan hari ini hari ketujuh."
Hening. Angin membuat tali tenda teleskop berdenting pelan.
Sesuatu di wajah Bagas berubah. Bukan hancur, bukan kaget. Ia mengeras, seperti orang yang menyadari bahwa yang ia kira lantai ternyata kaca. "Kemarin sore aku bertanya di taman, dan kamu bilang 'belum'. Aku kira artinya kamu menunggu keadaan yang tepat. Bukan karena kamu sudah tahu tenggatnya."
"Aku tidak bohong ..."
"Kamu juga tidak jujur." Ia mengatakannya dengan lelah, bukan dengan marah. "Kamu tahu apa artinya itu bagiku. Kamu tahu aku menunggu berbulan-bulan."
"Aku tahu."
"Tugasmu menyampaikan, bukan memutuskan." Suaranya tidak keras, tetapi ada ketajaman yang sudah lama tidak Aileen dengar, bukan sejak amplop di kafe. "Aku tidak meminta pendapatmu soal kapan. Aku memintamu menjadi jembatan."
"Tugasku." Aileen mengulang pelan. Perutnya menusuk, dan itu bukan jahitan. "Jadi aku memang cuma tugas buatmu. Penghubung. Alat yang kamu simpan sampai pesannya habis."
"Bukan itu maksudku ..."
"Lalu apa?" Suaranya meninggi tanpa ia izinkan. "Apa maksudmu, Bagas? Karena kalau Aira pergi, apa lagi gunanya aku? Karena sesudah itu kamu tidak butuh aku lagi!"
Kalimat itu menggantung di antara mereka, di atas lantai beton yang dingin, di bawah bintang yang tidak peduli.
Bagas membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar. Ia memandang Aileen, lalu tanpa sadar matanya bergeser ke arah pintu tangga, ke arah Aira yang berdiri tegak dan memandangnya dengan wajah yang tak bisa dibaca, dan Aileen mengerti: ia tidak bisa mengucapkan apa pun yang ada di dadanya selama istrinya masih berdiri di sana. Ia gagu. Dan kegaguan itu, bagi Aileen, jawaban yang lebih keras dari kata apa pun.
"Pasal delapan," ujar Aileen.
***
Ia turun satu lantai demi satu lantai, berpegang pada pagar tangga, tongkat berderak di marmer. Di belakangnya Bagas mengikuti, tidak menyentuh, tidak membujuk, hanya menjaga jarak seperti bayangan yang takut menabrak. Di tikungan tangga ia sempat berkata, "Aileen ..." dan Aileen menjawab tanpa menoleh, "Jangan. Kalau kamu bicara sekarang, kamu akan bilang sesuatu yang kamu sesali, atau sesuatu yang bukan untukku." Langkah di belakangnya berhenti. Ia tidak mendengarnya berbicara lagi.
Cintya tidak di rumah. Sejak sore ia menginap di rumah Pradipta, yang tekanan darahnya sedang tidak bagus dan menolak ke dokter. Aileen bersyukur untuk itu, dan membenci dirinya karena bersyukur.
Di kamar bawah, ia memasukkan ke dalam tas kain yang tadinya tas belanja: dua helai baju, buku catatan gejala bersampul biru, kalung peninggalan Ayah, jadwal siklus dari Mahesa. Tiga pot kaktus tetap di ambang jendela. Ia berhenti sebentar di depannya, menyentuh duri Pak Utang yang berkuncup merah muda, lalu menarik tangannya.
"Pengobatanmu tetap kutanggung," kata Bagas dari ambang pintu. Suaranya serak. "Aku sudah bilang waktu aku merobek surat itu. Tanpa syarat."
"Aku ingat." Aileen menarik ritsleting tas. "Aku menolak."
"Apa?"
"Pengobatanku kutanggung sendiri. Setiap siklus, setiap pemeriksaan, setiap hari menginap." Ia menegakkan punggung dan menatapnya. "Semuanya kucatat sebagai utang atas namaku sendiri, dan aku yang akan membayarnya, berapa tahun pun itu. Aku tidak mau hidupku dibeli, Bagas. Aku tidak mau ada yang punya alasan untuk bilang aku masih berutang kepada siapa pun."
"Kamu tidak akan mampu."
"Mungkin. Tapi itu milikku."
Ia melewatinya di ambang pintu. Bagas bergeser memberi jalan, tidak lebih dari lima senti, dan ia tidak mengangkat tangan.
"Biar Gio yang antar," kata Bagas dari belakangnya, suaranya terlalu datar untuk disebut tenang. "Atau aku. Kamu tidak boleh naik taksi sendirian malam-malam."
"Aku sudah sering pulang sendirian dengan keadaan lebih buruk dari ini." Aileen menggeser tali tas ke bahu. "Terima kasih. Tidak usah."
Taksi yang ia pesan dari ponselnya sudah menunggu di luar gerbang dengan lampu hazard berkedip. Gio berdiri di sisi gerbang, jas hitamnya hampir menyatu dengan gelap, dan ia tidak bertanya apa pun. Aira sudah ada di dalam, duduk di sudut jok, memeluk lututnya. "Jangan pergi sendiri, Ai," bisiknya. Aileen tidak menjawab. Ikut atau tidak, itu bukan lagi urusannya. Gio hanya membukakan pintu belakang taksi, menunggu Aileen duduk, dan menaruh tas kain di sisinya dengan sangat hati-hati.
"Pak Bagas tidak akan menahanmu, Aileen," katanya.
"Aku tahu." Aileen melepas jaket Bagas dari bahunya, melipatnya, menyerahkannya ke tangan Gio. Lalu ia menyentuh kunci perak di saku celananya, yang tidak ia tinggalkan di meja mana pun. "Dia tahu pintunya tidak dikunci."