Mesin CT selesai berdengung, dan Aileen turun dari ranjang dorong dengan bantuan perawat yang menyelipkan tongkat ke tangannya. Selasa pagi ruang radiologi dingin seperti gudang es. Di lorong, Bagas berdiri persis di tempat ia ditinggalkan dua puluh menit lalu, tanpa tampak berpindah satu langkah pun.
"Hasilnya?" tanyanya.
"Dibaca nanti, Mahesa bilang sore atau besok pagi. Aku disuruh pulang dan makan." Aileen menatapnya. "Aku mau ke bangsal Melati sebentar. Sendirian."
Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. "Lima belas menit?"
"Lima belas menit."
"Aku tunggu di kantin. Telepon kalau kamu butuh." Ia menyerahkan botol air tanpa menyentuh tangannya dan pergi, dan baru ketika bahunya hilang di tikungan, Aileen sadar bahwa ia sedang belajar tersenyum karena ditinggalkan.
Sepanjang pagi ia merasa ada dingin halus di tengkuknya. Ia mengira itu pendingin ruangan.
***
Mardiana duduk di kursi roda tua di ujung lorong bangsal Melati, tempat yang sama seperti biasa, dengan jarum rajut di tangan dan gulungan benang abu-abu di pangkuan. Syal yang sedang ia buat sudah lebih panjang dari terakhir kali Aileen melihatnya.
"Nak Ai." Ia tidak mengangkat kepala. "Jalanmu sudah lumayan."
"Dua minggu lagi aku boleh naik tangga tanpa berhenti, kata Mahesa." Aileen duduk di bangku sebelah dan menaruh tongkat di pangkuannya. "Bu Mar, aku mau tanya sesuatu. Dan Ibu jangan memutar-mutar."
"Aku tak pernah memutar." Jarum rajut berdetak. "Silakan."
"Kalau seorang hantu menyampaikan pesan terakhirnya ... apakah ia langsung pergi? Seketika?"
Jarum itu berhenti.
"Biasanya begitu," jawab Mardiana. "Yang menahan mereka di sini adalah sesuatu yang belum selesai. Begitu selesai, tali itu putus. Ada yang pergi pelan-pelan seperti cahaya yang meredup. Ada yang sekejap. Tapi mereka pergi."
"Dan kalau pesannya belum disampaikan? Mereka bisa tetap di sini?"
"Untuk sementara." Mardiana akhirnya menoleh. Mata tuanya jernih dan tajam, tidak ada belas kasihan di sana, hanya sebuah kejujuran yang membuat siapa pun merasa dilucuti. "Tapi tidak selamanya. Hantu yang bertahan karena dipegang orang hidup memudar lebih cepat, Nak. Bukan lebih lambat. Itu yang jarang diceritakan."
Aileen menggigit bibir. "Aku tidak memegangnya."
"Kamu memegangnya dengan kedua tangan. Aku melihat tanganmu sejak tadi." Mardiana meletakkan rajutannya. "Aileen. Menahan orang di dunia ini bukan cinta. Itu cuma ketakutan yang memakai baju cinta."
Kalimat itu mendarat lebih telak daripada hantaman apa pun. Aileen menatap lantai. Matanya panas.
"Aku takut," katanya.
"Aku tahu."
"Kalau dia pergi, Bagas tidak punya alasan ..."
"Itu urusanmu dengan Bagas, bukan urusan Aira." Suara Mardiana melembut. "Jangan menyuruh yang sudah ingin pergi membayar ketakutanmu."
"Hei, bocah gila."
Aileen mengangkat kepala.
Rachel berdiri di tengah lorong. Rambutnya diikat asal ke belakang, gaun rumah sakit bermotif bunga kecil yang terlalu longgar di bahu. Wajahnya tidak centil seperti biasa. Wajah itu tenang dan terang.
"Rachel?"
"Aku mau pergi hari ini." Rachel mengatakannya sambil nyengir, tetapi suaranya sedikit bergetar. "Aku sudah menunggu sejak kamu bilang ke Dokter Daren. Dua bulan lebih aku keliling bangsal pura-pura sibuk. Nggak ada yang perlu kuurus lagi, kan? Kalau aku terus-terusan di sini, nanti aku jadi kayak Bu Mar. Tua dan galak."
"Aku mendengarnya," kata Mardiana kering.
"Memang sengaja." Rachel mengusap hidung dengan punggung tangan, lalu melangkah ke arah Aileen dan berhenti satu langkah di depannya. "Bocah gila. Makasih ya. Kamu satu-satunya yang berani bilang kalimat itu pada Dokter Daren."
Aileen tidak bisa menjawab. Kerongkongannya penuh.
"Titip salam," lanjut Rachel. "Bilang: makan yang benar. Jangan cuma kopi. Dan bilang, kalau dia lewat ruang seratus tujuh belas, dia boleh berhenti menunduk. Aku sudah tidak di situ."
"Aku sampaikan."
Ia mengulurkan tangan seolah hendak menepuk kepala Aileen, melihat tangannya sendiri, lalu tertawa kecil dan menurunkannya. "Ah, lupa. Tetap aja kebiasaan."
"Dan kamu." Rachel menunjuk hidungnya. "Jangan sok kuat. Kalau kamu butuh nangis, nangislah. Dunia nggak runtuh."
"Rachel," panggil Mardiana tanpa mengangkat mata dari rajutan. "Lewat jendela timur. Matahari di sana paling dulu sampai."
"Iya, Bu Mar. Makasih sudah galak sama aku selama ini."
"Aku tidak galak."
"Galak sekali." Rachel nyengir, dan matanya basah. "Aku bakal kangen."
Dari ujung lorong terdengar langkah sepatu, cepat dan ringan. Daren muncul dengan stetoskop di leher dan map di tangan, berhenti ketika melihat Aileen. "Aileen? Kamu di sini sendirian?"
"Daren." Suara Aileen pecah, dan ia berdeham. "Ada salam. Dari Rachel."
Daren terdiam.
Di tengah lorong yang sepi pagi itu, ia menurunkan map ke sisi tubuhnya, perlahan, dan memandang ke sekitar. Ke bangku kosong. Ke kursi roda tua. Ke tempat Rachel berdiri, tepat di sampingnya, yang tidak ia lihat sama sekali.
"Dia bilang, makan yang benar," kata Aileen. "Jangan cuma kopi. Dan kalau kamu lewat ruang seratus tujuh belas, kamu boleh berhenti menunduk."
Rahang Daren bergerak. Ia menutup mata sebentar tanpa menangis, lalu membukanya lagi, dan ketika bicara suaranya sangat jernih. "Dia pergi sekarang?"
"Sebentar lagi."
Daren mengangguk. Lalu, kepada udara kosong di sisinya: "Terima kasih, Rachel. Aku makan teratur. Aku janji."
Rachel menutup mulutnya dengan telapak tangan, tertawa dan menangis sekaligus. Cahaya dari jendela di ujung lorong jatuh lebih terang, dan Aileen melihat ia melangkah ke sana, tidak tergesa, ringan seperti anak sekolah yang pulang. Tubuhnya menipis menjadi serbuk cahaya yang naik, satu per satu, menembus kaca. Tanpa jeritan, tanpa sakit. Hanya sebuah ruang yang tiba-tiba lebih lapang.
Mardiana kembali merajut. Matanya basah, tetapi jarum itu berdetak tanpa jeda.
***
Malam itu, selepas makan, Aileen naik ke teras atap sendirian. Perjalanan satu lantai tangga itu menghabiskan hampir sepuluh menit dan tiga kali berhenti. Ia berdiri di dekat teleskop dengan jaket Bagas di bahu, memandang kosong ke arah barat, tempat Orion belum muncul.
Sepanjang hari kata-kata Rachel berputar di kepalanya. Aku sudah tidak di situ. Dunia nggak runtuh. Ia sudah melihat sendiri bagaimana seorang hantu pergi: tanpa jeritan, tanpa tarikan, tanpa ada yang memaksa. Dan ia membandingkannya dengan bayangan yang selama seminggu ini ia susun di kepalanya, tentang Aira yang menghilang di tengah kalimat, tentang Bagas yang terbangun di pagi pertama tanpa namanya di daftar mana pun.
Mardiana benar. Dan karena benar, ia tidak sanggup mengakuinya.
"Aku mendengar."
Aileen tidak menoleh. Ia tahu suara itu, tipis dan jauh, tetapi masih utuh, lebih utuh daripada tadi sore.
"Aku ikut ke rumah sakit tadi," lanjut Aira. "Aku berdiri di belakang pot besar di ujung lorong. Aku mendengar semua yang kamu tanyakan pada Tante Mardiana." Ia berhenti. Suaranya tidak marah, hanya sangat sedih dan sangat lembut. "Kamu menahan pesan itu karena kamu mencintainya, Ai."