Dengan nampan di tangan, Cintya menepati kalimatnya. Itu sore Senin, enam hari sesudah makan malam di meja panjang itu, dan ia membawa teh ke bangku di taman belakang, dengan dua cangkir porselen yang jarang dipakai dan sepiring kue sagu keju yang Aileen sebut pernah ia suka.
Aileen sudah menunggu di bangku, selimut di pangkuan, tongkat disandarkan ke sandaran. Ia berjalan dari ruang makan ke taman tanpa dibantu siapa pun, dan Cintya yang memperhatikannya dari jendela dapur tahu persis berapa lama itu butuh waktu: empat kali berhenti, dua kali menarik napas panjang, satu kali tertawa kecil kepada dirinya sendiri.
"Tante, aku bisa jalan sendiri," kata Aileen, melihat nampan itu. "Harusnya aku yang bawa."
"Kamu sudah membawa dirimu sendiri ke sini. Itu cukup." Cintya menuang teh. Uapnya naik tipis di antara mereka. "Tante tidak akan berbasa-basi, Nak. Tante bukan perempuan yang pandai berbasa-basi. Tante hanya mau tanya satu hal, dan kamu boleh tidak menjawab."
"Silakan, Tante."
"Kamu jatuh cinta pada anakku?"
Pertanyaan itu terlepas lebih kasar dari yang Cintya maksudkan. Ia sendiri terkejut. Tetapi ia sudah menunggu terlalu lama untuk ini: sejak ia melihat Bagas menghabiskan nasinya di meja makan, sejak ia mendapati lelaki itu menunggu di depan pintu kamar bawah dengan termos jahe seperti anak sekolah yang takut guru. Perempuan di hadapannya terlalu kurus, terlalu pucat, dan terlalu keras kepala untuk menyerah. Cintya ingin tahu apakah anaknya sedang jatuh ke jurang atau sedang berdiri di tepi cahaya.
Aileen tidak langsung menjawab. Ia menyentuh pinggir cangkir dengan ujung jari, mengangkatnya, menurunkannya lagi tanpa meminum. "Tidak," katanya. "Aku cuma ... dia lelaki yang menyebalkan, Tante. Keras kepala. Dia memerintah kalau panik, dan dia selalu panik tapi tidak pernah bilang."
"Itu bukan jawaban."
"Tante."
"Itu juga bukan jawaban." Cintya tersenyum sedikit. "Aileen, Tante membesarkan Bagas sejak ia bayi. Tante tahu dia berbohong dari cara dia memegang gelas. Dan Tante tahu perempuan yang berbohong dari cara dia menyangkal dengan terlalu banyak kata."
Aileen menunduk. Ujung syal biru di lehernya bergetar. "Aku takut," ucapnya akhirnya, sangat pelan. "Aku tidak tahu apakah yang kurasakan ini perasaanku, atau cuma terbiasa. Aku tinggal di rumah ini karena kontrak. Aku diselamatkan karena kontrak. Kalau semua itu selesai, aku tidak yakin dia masih akan memilihku, Tante. Dia mencintai Aira."
Cintya meletakkan cangkirnya dan menatap taman yang kini rapi. Mawar-mawar mulai tumbuh lagi di dekat pagar, tanah di bawahnya gembur. Tukang kebun mulai merapikannya dua minggu terakhir, setiap pagi, tanpa disuruh.
"Waktu Bagas delapan tahun," ujarnya, "ia jatuh dari sepeda dan lututnya robek lebar. Ia tidak menangis. Ia berdiri, menuntun sepedanya masuk, dan mengunci diri di lemari pakaian di kamarnya selama dua jam. Tante menunggu di luar. Tidak mengetuk. Tidak membujuk. Tante duduk di lantai dan membaca koran." Cintya tersenyum pada kenangan itu. "Setelah dua jam, ia keluar sendiri dan bertanya, 'Mama masih di sini?' Tante bilang iya. Baru ia menangis."
"Tante ..."
"Tante cerita ini bukan karena Bagas sempurna. Dia bukan lelaki yang sempurna. Dia keliru berkali-kali, dan sebagian di antaranya menyakitimu, dan Tante tidak akan membelanya untuk itu." Tangan Cintya berhenti di cangkir, lalu menepuk punggung tangan Aileen. "Tapi dia belajar, Nak. Itu yang paling penting. Tante sudah melihat anak itu belajar menunggu di luar pintu. Belajar bertanya 'boleh' sebelum menyentuh. Orang yang belajar tidak sama dengan orang yang selesai, dan itu tidak apa-apa."
Aileen memandangnya. Pupilnya basah.
"Tante tidak keberatan?" bisiknya. "Aku sakit. Utangku banyak. Aku bukan ..."
"Tante tidak keberatan dengan apa pun yang kamu bawa," potongnya lembut. "Utang sudah dirobek. Sakit sedang diobati. Tante keberatan kalau kamu menyiksa diri sendiri dengan pertanyaan yang tidak perlu dijawab hari ini." Cintya menyodorkan sapu tangan dari saku celemeknya. "Minum tehmu dulu."
***
"Ai ... ng-nggak ... "
Suara itu datang tiba-tiba, di tengah ketika Aileen sedang mengaduk gula. Ia mengangkat wajah. Aira berdiri di rumpun mawar, begitu bening hingga kelopak merah di belakangnya tampak lebih jelas daripada dirinya sendiri. Bibirnya bergerak, tetapi hanya separuh suaranya sampai.
"... pesan ... a-ku ... hari ... "
"Aira?" Aileen memalingkan tubuh, memastikan Cintya sudah masuk membawa nampan kosong. "Tadi pagi suaramu masih utuh."
"... se-tengah ... hilang, Ai ... " Aira mengangkat tangannya yang tembus pandang dan memandangnya dengan wajah yang nyaris geli, seperti orang yang menemukan bahwa lampu di kamarnya akhirnya mati. "Aku ... tidak sampai ... seminggu ..."
"Jangan." Aileen mencengkeram pegangan tongkat. "Jangan begitu. Aku masih ... besok. Besok aku ke rumah sakit, CT. Setelah itu."
Aira menggeleng pelan, tersenyum, dan menunjuk ke arah teras.
Pintu kaca bergeser. Bagas keluar dengan kotak karton kecil dari toko kue di ujung jalan besar, dasinya longgar, wajahnya letih tetapi hangat. "Aku pulang cepat. Aku bawa kue lapis. Mama bilang kamu suka."
"Tante bilang apa saja?"
"Banyak." Ia duduk di bangku seberang, meletakkan kotak di antara mereka, dan membuka tutupnya. "Dulu ini kue favorit Aira juga. Aku selalu membelinya tiap tanggal pernikahan kami, dan dia selalu pura-pura sudah kenyang lalu menghabiskan setengahnya." Ia berkata begitu dengan tenang, tidak ada getar di suaranya, hanya sedikit senyum. "Hari ini aku membelinya karena aku mau memakannya. Bukan karena aku merindukan dia. Atau, bukan hanya itu."
Aileen mengambil sepotong dan menggigitnya. Manisnya menempel di langit-langit, dan perih di dadanya datang dari tempat yang tak ia sangka. Bagas bicara tentang Aira dengan cara orang yang sudah selesai menangis dan mulai mengingat dengan senang. Itu hadiah terbesar yang bisa ia berikan pada Aira. Itu juga yang membuat Aileen sulit bernapas.
"Besok CT," kata Bagas, menyodorkan serbet. "Aku antar sampai pintu ruangannya. Setelah itu kamu yang memutuskan aku menunggu di lorong atau di mobil."
"Kamu bukan sopirku."
"Memang bukan." Ia menggigit potongan kuenya sendiri, mengunyah lama. "Aku orang yang kebetulan ingin ada di sana. Kalau itu mengganggu, bilang. Aku akan belajar."
Kalimat itu persis seperti yang Cintya katakan. Aileen menunduk supaya tidak ketahuan tersenyum.
Ponsel Bagas berdering. Ia melihat layar dan berdiri. "Gio. Sebentar."
Begitu ia menjauh sampai ujung teras, Aileen menoleh pada Aira. "Aku bukan penggantimu," bisiknya, keras kepala dan ketakutan sekaligus. "Aku tidak mau jadi tempat kamu menaruh dia, supaya kamu bisa pergi."
Aira memandangnya. Mulutnya terbuka, tetapi suaranya tak lagi sampai, hanya sedikit uap yang tak punya bunyi.
Bagas kembali dan duduk dengan hati-hati, seolah ia membawa kalimat di tangannya.
"Aileen. Kapan pesan terakhir Aira disampaikan?" Ia bertanya tanpa menekan, dengan mata yang jujur sekali. "Aku siap mendengar apa pun."
"Belum," jawab Aileen.