Empat hari sudah lewat sejak Aileen menyuruh Aira diam, dan Aira tidak lagi menurut.
"Aku sudah bilang aku merasa ringan," katanya di lorong poliklinik, suaranya tipis seperti kertas yang digosok. "Kamu bilang 'jangan bilang itu'. Baik, aku tidak bilang. Tapi aku tidak bisa berhenti merasakannya, Ai."
Aileen duduk di bangku panjang dekat loket dengan tongkat kecil di sisi kakinya, topi rajut menutupi telinga. Di ujung lorong Bagas sedang antre mendaftar, punggungnya lurus, ponsel digenggam tanpa dibuka. Empat hari ini rumah itu menjadi sunyi dengan cara yang aneh. Soraya ditahan. Pak Darsa sudah memberi keterangan dan pulang ke rumah sakit menemani istrinya. Hendra menelepon Bagas setiap pagi dan setiap malam, tidak untuk berbicara, hanya untuk memastikan seseorang masih di seberang. Buku kas bersampul hijau itu sudah di tangan polisi.
Dan Aira makin tembus pandang. Pagi tadi Aileen melihat ujung bangku di belakangnya lewat dada Aira, jelas seperti melihat lewat kaca bersih.
"Aku belum siap," kata Aileen pelan, menunduk pura-pura membetulkan tali tongkat. Ia tidak mau ada pasien yang melihatnya berbicara pada udara. "Aku baru bisa jalan lima belas menit. Tunggu aku pulih sedikit. Setelah kemoterapi pertama yang baru."
"Pesannya kecil, Ai. Beberapa kalimat."
"Justru karena kecil, aku harus menyampaikannya dengan benar." Ia mengangkat wajah. "Bagas masih duka. Kalau aku bilang sekarang, aku takut kalimatmu pecah di tengah jalan."
Aira memandangnya lama. Tidak marah. Tatapan itu lebih buruk daripada marah.
"Seminggu," katanya akhirnya. "Aku beri kamu seminggu. Sesudah itu aku tidak bisa menjamin aku masih punya suara."
"Seminggu," ulang Aileen, dan kata itu terasa seperti kerikil di lidah.
Aira tersenyum, lalu menghilang ke arah jendela di ujung lorong. Aileen tetap duduk, memandang kursi kosong di sebelahnya, ketika kalimat itu mendatanginya dari arah yang tak ia duga.
Pasal delapan. Kontrak berakhir bila Aira telah pergi atau dua tahun, mana yang lebih dulu.
Ia menyentuh cincin di jari manis kirinya, logam putih tipis tanpa batu. Selama ini ia mengira kata "sampai" dalam pasal itu jauh di ujung sana. Ia tak pernah menghitung bahwa jarak itu bisa tinggal seminggu.
"Aileen." Bagas sudah berdiri di depannya dengan map di tangan. "Nomor kita sepuluh orang lagi. Mau minum? Aku bisa ke kantin."
"Tidak usah." Ia tersenyum cepat. Terlalu cepat. "Aku tidak apa-apa."
Bagas memandangnya sepersekian detik lebih lama dari biasa. Lalu ia duduk di bangku, menyisakan jarak satu orang di antara mereka, tidak bertanya lagi.
"Kemarin aku ke tempat Soraya ditahan," katanya setelah beberapa menit. Ia menatap lurus ke dinding di seberang. "Bersama Papa. Aku tidak cerita karena aku tidak tahu cara menceritakannya."
"Kamu tidak harus."
"Dia bertanya apakah Aira baik-baik saja. Itu hal pertama yang ia tanyakan, sebelum kabar Mama Viona, sebelum pengacara." Rahangnya bergerak. "Aku bilang Aira baik. Aku tidak tahu itu bohong atau bukan."
Aileen menggenggam tongkatnya erat-erat. Di sebelah Bagas, Aira duduk dengan dagu di lutut, mendengarkan, dan Aileen tahu betul wajah apa yang ia pasang: wajah orang yang ingin sekali memeluk dan tidak bisa.
"Itu bukan bohong," kata Aileen. "Dia baik-baik saja."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
Bagas mengangguk, sekali, dan itu cukup baginya untuk saat itu.
***
"Jahitannya menutup rapi." Dokter Mahesa menaikkan baju Aileen sedikit, memeriksa dengan dua jari yang hangat, lalu menurunkannya lagi. "Tidak ada tanda infeksi, tidak ada kemerahan. Berat badan naik satu setengah kilo. Itu kabar bagus. Siapa yang memaksa Anda makan?"
"Saya dan satu buku catatan," jawab Bagas dari kursi di sudut ruangan.
"Saya bertanya pada pasien, Pak Bagas." Mahesa tidak menoleh, tetapi ujung bibirnya naik. "Aileen?"
"Dua orang," kata Aileen. "Dan seorang ibu yang tidak menerima alasan."
"Bagus. Kita butuh banyak ibu seperti itu." Mahesa duduk, membuka layar komputernya, dan mengetik cepat. "Rencana: CT ulang Selasa depan untuk memastikan semuanya bersih setelah operasi. Kalau hasilnya bagus, kemoterapi lanjutan mulai Senin sesudahnya. Beberapa bulan, bukan seumur hidup. Jadwal siklusnya saya cetak di akhir kunjungan."
"Dok," sela Aileen. "Boleh saya minum jahe kalau mual? Tante saya sudah menyiapkan termos."
"Jahe boleh, selama bukan pengganti obat." Mahesa mencatat lagi. "Minum sedikit-sedikit, jangan sekaligus. Dan bawa catatan gejala itu ke setiap kunjungan. Catatan Anda yang paling rapi dari seluruh pasien saya bulan ini."
"Boleh saya antar CT-nya?" ulang Bagas.
"Boleh. Dan Pak Bagas, berhenti menghitung detik."
Bagas membeku. "Maaf?"
"Saya tidak tahu siapa yang menghitung." Mahesa menatapnya lurus. "Tapi dari cara Anda duduk, saya menduga seseorang menghitung. Pasien yang diawasi terlalu ketat akan kehabisan napas. Beri ruang."
Aileen menahan tawa dan gagal. Telinga Bagas memerah sampai ke leher.
Di sudut ruangan, hampir tidak terlihat di antara cahaya yang masuk dari jendela, Aira berdiri bersandar pada rak berkas. Ia mendengarkan pembicaraan itu dengan senyum yang sangat lelah, dan ketika Aileen meliriknya, ia menunjuk ke arah Bagas, lalu ke dirinya sendiri, lalu mengangkat satu jari.
Satu minggu.
***
Makan malam malam itu hanya mereka bertiga. Cintya menyiapkan sup bening dengan irisan wortel yang dibentuk bunga, tanpa Aileen memintanya, dan Bagas menghabiskan nasi dan ayam di piringnya tanpa harus disuruh. "Jadi kata Mahesa apa?" tanya Cintya sambil menyendokkan wortel ke piring Aileen tanpa bertanya.
"CT Selasa depan, Ma. Kemoterapi Senin sesudahnya." Bagas mengunyah, menelan, dan menambahkan seperti laporan kerja, "Berat badan naik satu setengah kilo. Jahitan rapi. Mahesa bilang aku harus berhenti menghitung."
"Menghitung apa?"
"Bukan apa-apa," sahut Aileen dan Bagas bersamaan, dan Cintya menatap keduanya bergantian dengan alis terangkat tinggi.
Mereka bicara soal hal-hal kecil: bunga yang layu di taman belakang, tukang listrik yang datang terlambat, telepon dari Denis yang sibuk menghafal bahan sidang dan sudah tiga kali lupa makan siang.
Aileen mengaduk supnya. Cincin di jarinya berkilat tipis di bawah lampu gantung.
Ia memandangnya, lalu memandang Bagas di seberang meja. Bagas sedang menuangkan air untuk ibunya, matanya setengah turun, wajahnya tenang. Wajah itu berbeda dari lelaki yang melempar amplop di kafe belasan minggu lalu. Ia membayangkan rumah ini sesudah semuanya selesai: lorong lantai dua yang sepi, kamar tamu yang kembali jadi kamar tamu, kunci perak di laci yang tak lagi punya alasan dipakai. Dan sebentar lagi, jika Aira pergi, lelaki ini tidak punya alasan lagi untuk menaruh namanya di daftar orang yang harus diurus.
"Aileen." Cintya meletakkan sendoknya perlahan. Ia tidak menatap Aileen. Ia menatap cincin itu, lalu Bagas, lalu kembali pada menantunya, dan tidak ada yang lolos dari matanya. "Hari Senin nanti Tante mau minum teh denganmu di taman. Berdua saja."