Gio menarik sebuah kursi lipat dari sudut kantor dan meletakkannya di depan Soraya. Aileen menggeleng kecil, mendorong roda kursinya sendiri sampai lututnya hampir menyentuh lutut Soraya di lantai. Ia ingin sejajar. Daren duduk bersila di sisi Soraya dengan botol salep dari tas medisnya, memerban jempol yang melepuh itu dengan gerakan yang terlatih dan lembut. Bagas bersandar di dinding paling jauh, tangan terlipat. Ia mengawasi, tidak lebih.
Soraya mengangkat wajah. Matanya merah, suaranya serak. "Dari awal. Semuanya."
"Dari yang Kak Aira bilang di rumah Papa tadi sudah Mbak dengar. Sisanya dia sampaikan sekarang, di sini." Aileen memejamkan mata sebentar, mendengarkan. Aira berlutut di sebelah adiknya, begitu dekat hingga rambut panjangnya hampir menyentuh bahu Soraya. "Dia bilang pertama: dia tahu Mbak merasa selalu nomor dua. Dia tahu dari dulu, dan dia diam, karena mengira Mbak lebih nyaman kalau tidak dikasihani."
Soraya menunduk. Perban putih di jarinya tampak terlalu rapi.
"Dia bilang dia salah. Seharusnya dia lebih sering bertanya. 'Sora, kamu mau apa? Sora, kamu sedih kenapa?' Bukan cuma memberi mainan dan baju." Aileen menarik napas. "Kedua: dia marah. Dia tidak akan berbohong soal itu. Dia marah pada Mbak karena mobil itu, karena Bagas, karena Papa. Tapi dia lebih marah pada dirinya sendiri karena tidak melihat Mbak sedang tenggelam."
Terdengar suara tertahan dari sudut ruangan. Tangis, mungkin. Aileen tidak menoleh untuk memastikan siapa.
"Ketiga," lanjutnya, lebih lambat, "kamu tidak perlu dicintai Bagas supaya pantas dicintai orang lain. Dia bilang, 'Sora, kamu lucu, cerdas, dan sabar. Kamu hanya menaruh nilaimu di tangan orang yang salah.'" Aileen berhenti dan menatap Soraya. "Itu kata-katanya, bukan kata-kataku."
"Keempat?" bisik Soraya.
"Lampu kecil di kamar Mbak. Dia bilang jangan malu. Pakai terus sampai Mbak tidak butuh lagi. Kalau di tempat tahanan lampunya dimatikan, Mbak boleh minta, dan kalau tidak boleh, Mbak boleh bilang pada petugas bahwa kakak Mbak yang menyuruh." Aileen mencoba tersenyum. "Aku tidak yakin petugas akan percaya."
Soraya tertawa, kecil dan basah, dan tawa itu langsung berubah jadi tangis. Ia menutup wajah dengan tangan yang tidak diperban. Aira, di sisinya, mengulurkan lengan melingkari bahunya, dan lengan itu tembus. Tetapi Soraya, tanpa tahu, mencondongkan tubuh ke depan seperti sedang bersandar pada sesuatu.
"Kakak ..." katanya terputus-putus. "Maaf. Maaf. Maaf."
"Dia dengar," kata Aileen lembut.
Bagas melepaskan diri dari dinding. Ia mendekat dua langkah, berhenti di jarak yang masih bisa disebut aman, dan memandang perempuan yang dua tahun duduk di seberang meja kerjanya.
"Aku tidak akan bilang aku memaafkanmu, Soraya," katanya. "Belum. Mungkin tidak pernah sepenuhnya. Tapi aku akan bilang di mana pun aku ditanya bahwa kamu yang menurunkan korek itu. Aku melihatnya sendiri."
Soraya menunduk dalam-dalam. Itu mungkin hadiah paling besar yang bisa diberikan Bagas padanya malam ini, dan ia tahu.
***
Mobil-mobil tiba hampir bersamaan: sedan Hendra, sedan Pradipta, dan di belakangnya mobil dinas polisi dengan lampu sirene yang dimatikan. Hendra turun lebih dulu. Dua petugas berseragam mengikutinya, seorang bertubuh tegap dan seorang perempuan muda yang membawa map. Viona turun dari mobil terakhir, dipapah Cintya, dan berdiri di halaman dengan tangan di dada, tidak berani melangkah lebih dekat.
Hendra berhenti di pintu kantor. Ia memandang tong logam yang basah, abu hitam di dasarnya, lalu putrinya yang duduk di lantai dengan jempol dibalut.
"Sora."
"Papa." Soraya berdiri. Lututnya tidak kuat dan Daren menahan sikunya. "Aku tidak bakar semuanya. Aku mau, tapi ... " Ia menunjuk buku bersampul hijau yang kini tergeletak utuh di meja. "Itu buku kas dua tahun terakhir. Halaman yang aku tulis palsu ada di situ. Aku tidak merobek yang itu."
Hendra menatap buku itu, lalu menatap anaknya. Dua langkah, dan ia memeluknya dengan sangat keras, seperti orang yang takut dunia menariknya kembali.
"Kamu tetap anakku," bisiknya di rambut Soraya. "Aku tidak pernah mau berhenti jadi ayahmu. Tapi kamu harus menghadapinya. Dan Papa akan ada, di setiap sidang, di setiap kunjungan. Papa akan ada."
"Aku tahu, Pa."
"Pak Darsa sudah di mobil kami," kata petugas bertubuh tegap kepada Hendra, pelan. "Ia mau memberi keterangan malam ini juga. Rekaman ponselnya sudah kami amankan."
Hendra tidak menoleh. Petugas perempuan itu melangkah maju, sopan, tanpa memborgol. "Bu Soraya?"
"Ya." Soraya melepaskan diri dari pelukan ayahnya dan merapikan rambut dengan tangan yang gemetar. Dagunya terangkat sedikit. "Saya mau menyerahkan diri. Saya yang meminta Pak Darsa melonggarkan rem mobil kakak saya. Buku kasnya di meja, semuanya ada."
Ia berjalan keluar di antara dua petugas. Di ambang pintu ia menoleh sekali pada Aileen dan, tanpa suara, menggerakkan bibir: terima kasih. Lalu pada sudut kosong di sampingnya: kak.
Aira menutup wajah dengan kedua tangan.
Di halaman, Viona duduk di pinggir teras panti dengan tas tangan di pangkuan, sendirian. Hendra menghampirinya sebentar. Ia tidak membentak. "Kita tinggal di rumah terpisah dulu, Viona. Sementara. Aku akan mengurus pengacara untuk Sora, dan kamu perlu waktu." Viona mengangguk tanpa menatap, dan Aileen merasa kasihan padanya dengan perasaan yang tidak ia sukai.
Hendra sempat berhenti di depan kursi roda sebelum mengikuti petugas. Tanpa menyebut kata hantu atau Aira, ia menaruh telapak tangan yang dingin di atas kepala Aileen yang bertopi, sebentar, seperti memberkati sesuatu yang tak punya nama.
"Terima kasih, Nak," katanya. "Kamu memberi kami malam ini. Walaupun isinya menyakitkan, itu lebih baik daripada berpura-pura seumur hidup."
Setelah ia pergi, Cintya duduk berlutut di depan kursi roda dan menggenggam kedua tangan Aileen. Ia tidak berkata apa-apa. Ibu jarinya mengusap buku-buku jari Aileen berulang-ulang, dan itu lebih fasih dari kalimat apa pun.
Pradipta menghampiri kursi roda Aileen saat Gio sedang memeriksa selimut di pangkuannya. Lelaki itu berdiri agak kaku, lalu berdeham.
"Aileen."
"Om."
"Amplop itu." Ia tidak menatap mata Aileen, melainkan ujung sepatunya. "Aku menawarkan uang supaya kamu pergi. Aku mengira uang bisa menjawab semua jenis pertanyaan. Aku minta maaf."
"Om menawarkan karena Om melindungi anak Om," kata Aileen. "Aku mengerti."
"Itu bukan alasan." Pradipta menarik napas. "Tapi terima kasih."
Aileen mencoba menjawab, tetapi dunia mendadak bergoyang halus di tepi penglihatannya. Lampu halaman melebar menjadi lingkaran. Ia memegang lengan kursi.
"Cukup," kata Daren, sudah di sampingnya, dua jari di pergelangan tangannya. "Pucat. Nadimu cepat. Sudah, Aileen. Cukup."
"Aku baik-baik saja."
"Tidak." Daren menoleh. "Bagas."
Bagas sudah berdiri di depan kursi roda. Ia berjongkok supaya sejajar dengan wajahnya. "Boleh?"
Aileen mengangguk. Lengan Bagas menyelip di bawah lututnya dan menopang punggungnya, hati-hati, seolah ia membawa sesuatu yang bisa pecah. Aileen menyandarkan kepala ke bahunya, kali ini bukan karena ia memutuskan, melainkan karena lehernya tak lagi sanggup.
Di sisi mobil, Aira berdiri. Wajahnya putih seperti kain, tipis, nyaris cahaya yang ditiup angin. Ia tersenyum, sangat pelan.
"Ai," katanya. "Aku merasa ringan. Aku tahu waktuku ..."
"Jangan bilang itu," bisik Aileen, di bahu Bagas, nyaris tanpa suara.