"Gio, ke yayasan. Sekarang."
Bagas mengucapkannya sambil sudah berdiri, dan Gio, yang entah bagaimana tahu tanpa dijelaskan, sudah memegang kunci mobil sebelum kalimat itu selesai. Hendra menoleh dari tengah ruangan, dari sisi Darsa yang masih menangis.
"Soraya?" tanyanya.
"Dia pergi lewat pintu samping, Papa. Ke kantor yayasan. Di sana ada buku kas." Bagas mencoba menjaga suaranya tetap tenang. "Polisi akan butuh buku itu."
"Pergilah." Hendra menahan lengan Viona yang hendak berdiri, dan lengan itu lemas di tangannya. "Aku tunggu polisi di sini. Jangan sakiti dia, Bagas."
"Aku tidak akan menyentuhnya."
"Aku ikut," kata Aileen.
Bagas berbalik dengan wajah yang menolak sebelum mulutnya bergerak. "Kamu baru dua minggu dioperasi. Jam sudah lewat tengah malam."
"Aku tahu jam berapa ini. Tapi yang bisa bicara dengan Aira cuma aku, dan kalau Soraya mau mendengar siapa pun malam ini, itu pasti bukan kamu." Aileen menahan napas sebentar karena perutnya menusuk. "Janjimu masih berlaku, kan? Tidak memukul. Tidak membentak."
Bagas menatapnya dua detik. Rahangnya bergerak, lalu mengendur. "Daren, ikut."
"Sudah dari tadi," sahut Daren, sudah memegang pegangan kursi roda.
Cintya menyusul sampai ke ambang pintu dengan jaket di tangan. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang hantu, dan tidak pula tentang cemas. Ia hanya menyampirkan jaket itu ke bahu Aileen, menyeka sudut matanya sendiri dengan punggung tangan, dan berbisik, "Pulang dengan selamat, Nak." Di belakangnya, Pradipta berdiri dengan kedua tangan di saku, dan tatapannya jatuh kepada Aileen tanpa menilai.
***
Jalanan lengang. Lampu-lampu kota lewat satu per satu di kaca, dan di kursi belakang Aileen duduk dengan bantal di punggung, tangan menekan perut. Daren memerhatikannya lewat spion tengah dan tidak berkomentar. Di sampingnya Aira duduk dengan lutut terlipat dan wajah menghadap jendela. Ia belum mengucap sepatah pun sejak mereka meninggalkan rumah Hendra.
"Izin Mahesa untuk keluar rumah malam ini cuma satu urusan," gumam Daren di sela kesunyian. "Kita sudah memakainya untuk pertemuan keluarga, dan sekarang menuju kebakaran. Kalau dia tahu, kita berdua dicoret dari daftar tamu seumur hidup."
"Dia tidak akan tahu," sahut Aileen.
"Dia selalu tahu."
"Aku sudah belajar itu," kata Bagas dari sisi lain kursi belakang, datar. "Dengan susah payah."
"Kalau dia membakar sesuatu," ujar Bagas akhirnya, "kita harus ..."
"Kita harus tidak berlari," potong Aileen. "Orang yang sedang memegang api tidak butuh dikejar. Dia butuh dibuat berhenti."
Gedung yayasan itu terletak di belakang panti asuhan, bangunan satu lantai dengan pagar besi rendah dan taman kecil yang kini gelap. Seorang penjaga yang mengantuk berdiri di gerbang, mengerjap melihat sedan hitam berhenti mendadak. "Bu Soraya ada di dalam, Pak," katanya, setengah heran. "Masuk setengah jam lalu. Katanya mau ambil berkas."
Bau asap tercium sebelum mereka sampai di pintu belakang.
Gio mendorong kursi roda melewati lorong sempit berlantai ubin. Dari ujung lorong, di bawah celah pintu, cahaya jingga berkedip-kedip. Bagas hampir mempercepat langkah. Aileen mengulurkan tangan dan menyentuh ujung jaketnya, hanya satu detik, lalu menariknya lagi.
"Pelan."
Bagas menarik napas dan membuka pintu seperti orang yang membuka pintu kamar bayi.
***
Kantor itu kecil dan penuh kenangan yang tidak rapi: gambar krayon anak-anak ditempel di dinding, kardus susu bertumpuk di sudut, papan tulis berisi daftar ulang tahun dengan tulisan Aira yang masih ada di sana, belum dihapus siapa pun. Aileen sempat melihat Aira berhenti di ambang pintu ketika mengenali tulisannya sendiri.
Soraya berlutut di lantai kantor, di depan sebuah tong logam kecil tempat sampah kertas, dan di dalam tong itu halaman-halaman buku kas menyala. Laci-laci lemari arsip terbuka. Sebuah buku besar bersampul hijau tua tergeletak di pangkuannya, dan di tangannya yang lain, korek api gas dengan nyala biru kecil.
Ia tidak menoleh. "Aku tahu kalian akan datang."
"Soraya." Bagas berhenti di ambang pintu, tangannya terbuka di sisi tubuh. "Letakkan korek itu."
"Kalau semua ini terbakar," kata Soraya pelan, hampir berbicara kepada api, "tidak ada bukti, Bagas. Pak Darsa tua dan ketakutan. Rekaman bisa dikatakan suara tiruan. Mama sudah bicara, tapi Mama bisa bilang itu karena syok." Jemarinya menggeser nyala biru itu lebih dekat ke sampul hijau di pangkuannya. "Yang tersisa cuma cerita hantu."
Aileen tidak menyuruhnya berhenti. Ia menggerakkan kursi rodanya setengah meter, cukup untuk keluar dari bayangan pintu.
"Itu benar," ujarnya. "Bisa jadi tidak ada yang bisa membuktikan semuanya, kalau buku itu hilang."
Soraya mengangkat wajah. Matanya sembab, rambutnya mulai berantakan. "Jadi kamu mau membiarkan aku?"
"Tidak. Aku cuma tidak mau berbohong kepada Mbak. Mbak terlalu pintar untuk dibohongi." Aileen menatap tong yang menyala. "Tapi buku di tangan Mbak itu bukan hanya catatan uang untuk Pak Darsa. Itu juga catatan susu, sepatu, dan buku sekolah dua puluh dua anak. Kalau terbakar, yang kehilangan jejaknya bukan polisi. Anak-anak itu."
Korek di tangan Soraya bergetar.
"Kak Aira selalu menggigil tiap Mbak tersenyum," lanjut Aileen. "Dari hari pertama aku di rumah Bagas. Dia tidak tahu sebabnya. Malam ini dia tahu."
"Dan ada satu hal lagi." Aileen menelan ludah. "Kak Aira ada di sini."
Soraya mendengus kasar, tetapi matanya ikut melirik ke sudut yang Aileen tatap. "Jangan bilang begitu di depan Bagas."
"Aku bilang karena benar."
Aira sudah bergerak. Ia melewati bahu Aileen, melewati Bagas, dan Aileen melihat tubuhnya kaku saat melangkah ke dalam ruangan, ke arah perempuan yang tiap kali tersenyum membuatnya ingin lari. Ia berhenti hanya satu meter dari Soraya. Lalu satu langkah lagi. Lalu ia berlutut, sejajar dengan adiknya, dan menatap api di tong itu seolah api itu yang paling menakutkan.
Tangan Aira tidak lagi gemetar.
"Ai," bisiknya. "Katakan: hadapi. Aku di sini."
"Kak Aira bilang," ucap Aileen, jelas dan pelan, "'Hadapi, Sora. Aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana.'"
Hening panjang. Api di dalam tong mengecil, memakan halaman terakhir.
Korek itu padam. Tangan Soraya jatuh ke pangkuan, dan ia duduk di lantai seperti orang yang baru melepaskan beban yang terlalu lama dipegangnya. Daren melangkah maju, menyingkirkan tong dengan ujung sepatu, menyiramkan sebotol air minum ke atas bara, lalu berjongkok dan memeriksa tangan Soraya yang melepuh kecil di ujung ibu jari.
"Tidak parah," katanya. "Dingin, ya."
"Maaf," bisik Soraya, entah kepada siapa.
Bagas menutup mata. Aileen mendengarnya mengembuskan napas panjang, sangat pelan, seperti orang yang selama setengah jam menahan napas tanpa sadar.
Soraya mengangkat wajah kepada Aileen. Pipinya basah, tetapi suaranya mantap.
"Aku mau menyerahkan diri," katanya. "Tapi dengar dulu. Aku mau tahu apa yang Kak Aira bilang tadi malam. Semuanya. Dari awal."