Jari Viona masih menuding Aileen ketika Hendra berdiri.
Daren sudah maju setengah langkah dari belakang kursi roda, rahangnya mengeras, tetapi Aileen menggeleng kecil tanpa menoleh. Biarkan, katanya dengan bahu. Ini bukan tempat yang perlu dimenangkan.
Aileen belum pernah melihat Hendra berdiri secepat itu. Lelaki tua yang di makam hanya mampu menatap batu nisan kini menegakkan punggung dan berjalan dua langkah ke depan, sampai bayangannya menimpa wajah istrinya.
"Viona," katanya. "Sejak kapan kamu tahu?"
"Tahu apa?" Viona mundur setengah langkah. "Hendra, kamu tidak bisa percaya cerita perempuan ini. Anak kita ..."
"Aku tidak bertanya soal perempuan itu. Aku bertanya soal kamu." Suara Hendra tidak naik sedikit pun. Itu yang paling mengerikan. "Surat persetujuan untuk memusnahkan mobil Aira. Yang kamu tanda tangani tiga hari setelah kecelakaan, saat aku tidak mampu berdiri. Kenapa mobil itu harus hancur secepat itu?"
Viona membuka mulut. Tidak ada kata yang keluar. Matanya bergerak ke Soraya yang sedang menunduk di sofa, lalu ke Bagas, lalu ke pintu, mencari jalan keluar yang tidak ada.
"Jawab, Viona."
"Karena anakku menangis!" Kalimat itu meledak, dan setelahnya perempuan itu seperti kehilangan tulang. Ia terduduk di lengan sofa, napasnya patah-patah. "Hari kedua, Hendra. Hari kedua sesudah kecelakaan. Sora masuk ke kamarku tengah malam dan berkata, 'Mama, aku membunuh Kak Aira.' Ia gemetar seperti anak demam. Aku memeluknya. Apa yang harus kulakukan? Kamu di kursi roda tidak bisa bicara. Bagas di ICU. Polisi bilang remnya aus, dan semua orang percaya." Ia mengangkat wajah, dan riasannya sudah luntur. "Aku tanda tangani surat itu. Satu goresan pena, dan tidak ada yang bisa membuka mobil itu lagi. Aku mengira aku sedang menyelamatkan satu-satunya anakku yang masih hidup."
"Satu-satunya," ulang Hendra.
Viona terdiam, sadar apa yang baru saja ia ucapkan.
"Mama Viona." Bagas bicara dari tempatnya, pelan. "Tiga hari sesudah kecelakaan, aku masih terbaring di ICU. Mama datang menjenguk dengan keranjang buah. Mama memegang tanganku dan berkata aku harus kuat. Hari itu surat itu sudah di tas Mama."
Viona memejamkan mata. "Bagas, Nak ..."
"Jangan panggil aku begitu malam ini."
Pradipta menyentuh pangkal hidungnya dengan dua jari, seperti lelaki yang menahan sakit kepala yang datang bertahun-tahun. "Viona, kamu tahu apa yang kamu lakukan kepada anakku? Ia hampir kehilangan akal selama berminggu-minggu karena mengira rem itu rusak oleh kelalaiannya sendiri. Kamu duduk di ruang tunggu dan membiarkan ia berpikir begitu."
"Aku ibu, Pradipta." Suara Viona patah. "Kamu juga akan melakukan hal yang sama."
"Tidak," jawab Pradipta, dan cara ia mengucapkannya begitu tenang sehingga tak perlu ditambah apa-apa.
Cintya yang pertama bergerak. Ia bangkit dari kursi, tangannya masih terkepal di sisi tubuh, dan suaranya bergetar menahan sesuatu yang selama ini ia simpan sebagai sopan santun. "Jadi 'turun ranjang' itu, Viona. Kamu menyodorkan Soraya kepada anakku untuk menutup ini?"
"Dia mencintai Bagas!"
"Dia mencintai Bagas sampai membuat Aira ..." Cintya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Pradipta menarik lengannya pelan, dan ia duduk lagi, gemetar.
Hendra tidak memandang siapa pun. Ia memandang karpet, lama, lalu berkata lirih dan pasti, "Satu anakku sudah mati, Viona. Kamu mau kehilangan yang lain sambil terus menyembunyikan?"
Viona tidak menjawab. Bahunya berguncang tanpa suara.
Aileen menoleh ke samping. Aira berdiri di dekat rak buku, memeluk lengannya sendiri. Ia tidak menangis lagi. Matanya kering dan jauh, seperti orang yang mendengar kabar buruk yang sudah lama ia duga bentuknya.
"Ibu tiriku menyisir rambutku di hari pernikahan," bisiknya. "Aku mengira itu kasih sayang."
"Mungkin dulu memang kasih sayang," balas Aileen, nyaris tanpa gerak bibir. "Cuma salah arah."
Aira menggeleng pelan, tidak setuju, tidak membantah. Lalu ia bergeser ke sisi ayahnya dan berdiri di sana, sejajar, seakan dengan begitu ia bisa memikul sebagian berat yang tak bisa disentuhnya.
***
Kursi roda itu terlalu rendah untuk membuat Aileen tampak penting di ruangan penuh orang berdiri, dan ia bersyukur untuk itu. Perutnya berdenyut di bawah jahitan, kakinya dingin. Ia sudah menahan diri duduk tegak terlalu lama. Tetapi ia tidak akan mengeluh. Belum.
Ia mendengar Bagas menghela napas panjang di sampingnya, seperti orang yang menurunkan beban yang sudah ia pikul terlalu lama untuk tahu beratnya.
"Aku berharap bisa membenci kalian," ujar Bagas. Ia tidak berteriak. Ia bicara kepada karpet, kepada meja, kepada udara kosong di antara kursi-kursi. "Sungguh. Beberapa hari ini aku berlatih membenci. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya lelah. Dan aku tidak bisa menyimpan ini lagi."
Daren menghampiri Viona dan menyentuh pergelangan tangannya dengan dua jari. Viona menepis, lalu membiarkannya. "Nadi Tante cepat sekali. Tarik napas pelan-pelan," katanya dengan suara dokter yang tak membedakan siapa yang di depannya, korban atau pelaku. Viona menurut seperti anak kecil.
Hendra mengangguk sekali. Ia berjalan ke meja kecil di dekat jendela, mengangkat telepon rumah dari tempatnya, dan menekan nomor dengan ibu jari yang kaku.
"Selamat malam. Saya ingin melaporkan sebuah kasus." Ia berhenti sebentar, lalu menyebut nama jalan, nama keluarga, nomor rumah dengan tertib seperti membaca daftar belanja. "Ya, saya akan menunggu. Anggota keluarga saya ada di sini semua."
Gio muncul di ambang pintu ruang kerja tanpa dipanggil. Di belakangnya Darsa melangkah masuk. Ia menggenggam topi dengan dua tangan, dan sepatu yang dilap mengilap itu berderak di lantai marmer. Ia berhenti dua langkah di depan Hendra, membungkuk dalam-dalam sampai punggungnya gemetar.
"Pak Hendra. Saya yang melonggarkan baut itu. Saya sudah mengatakan semuanya." Ia menoleh pelan ke arah sofa, ke perempuan muda bergaun biru yang menatapnya seperti menatap hantu. "Non Soraya. Saya minta maaf. Saya tidak bisa lagi."
Soraya tidak menjawab. Ia memandang Darsa lama, seakan baru mengenali wajah itu.
"Berdirilah, Pak Darsa." Hendra memegang lengan lelaki itu, menariknya tegak. "Istri Bapak bagaimana?"
"Dirawat di Setia Budi, Pak. Atas biaya Mas Bagas." Darsa menelan ludah. "Dokter Daren yang mengurus. Saya ... saya tidak pantas menerima itu."
"Bapak tidak pantas, memang," ujar Hendra, tidak kasar, hanya jujur. "Tapi Bapak datang dan bicara. Itu lebih banyak dari yang dilakukan orang-orang yang pantas di ruangan ini."
Viona mendengar itu dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Perhatian seisi ruangan tertuju pada Darsa: pada punggung membungkuk, pada tangisnya yang akhirnya pecah, pada Hendra yang menutup telepon dan berjalan menghampirinya. Karena itu tidak ada yang memperhatikan kursi di sofa yang tahu-tahu kosong, dan pintu lorong yang bergeser sedikit tanpa suara.
Aira yang melihatnya. Ia sudah menembus tembok lebih dulu, lalu kembali dalam sekejap, dan ketika ia berdiri di depan Aileen, wajahnya sepucat kertas.
"Ai," bisiknya. "Sora keluar lewat pintu samping. Dia bergumam sendiri di lorong: buku kas, buku kas." Napasnya naik turun. "Dia ke kantor yayasan. Buku yang mencatat uang untuk Pak Darsa ada di sana."
Aileen memutar kepala dan memanggil, cukup keras untuk memotong tangis di ruangan itu. "Bagas! Soraya tidak ada di kursinya lagi."