"Kolam ikan," ucap Aileen.
Soraya menoleh. "Apa?"
"Kolam ikan di halaman belakang itu bisa dilihat siapa saja yang pernah berkunjung," sela Viona cepat dari kursinya. "Kamu tidak perlu menjadi hantu untuk tahu ada kolam di rumah ini."
"Betul. Karena itu aku belum selesai."
"Kolam ikan di halaman belakang, dan gudang kecil di ujung kebun yang menghadap jendela kamar lama Kak Aira." Aileen mengatur napas supaya suaranya tidak bergetar. Ia tidak sedang menantang. Ia sedang membaca, kata demi kata, dari bibir yang bergerak di belakang bahu Soraya. "Waktu Mbak berumur tujuh tahun, dua anak tetangga mengajak Mbak bermain petak umpet. Mereka menyuruh Mbak bersembunyi di gudang itu, lalu mengunci pintunya dari luar dan pergi makan es krim. Lampunya mati, tidak ada jendela."
Senyum Soraya masih tertempel di wajahnya, tetapi seperti kertas yang basah: bentuknya bertahan, isinya runtuh.
"Mbak menggedor pintu sampai tangan Mbak memar. Tidak ada yang dengar, kecuali satu orang di lantai dua yang sedang belajar di dekat jendela." Aileen menelan ludah. "Kak Aira lari turun, mengambil kunci cadangan dari laci dapur, dan membuka pintu itu. Mbak menangis dan gemetar sampai tidak bisa bicara. Kak Aira memeluk Mbak di rumput, lalu berjanji tidak akan menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Bukan kepada Mama Mbak. Bukan kepada Papa."
"Itu ... " Soraya berdiri. Tas kecil di pangkuannya jatuh ke karpet dan ia tidak memungutnya. "Kamu bisa tahu dari siapa saja. Dari Gio. Dari pembantu yang lama."
"Tidak ada pembantu yang tahu, Mbak. Karena Kak Aira sendiri yang membawa Mbak mandi dan mengganti baju sebelum Mama Mbak pulang." Aileen menahan jeda sebentar. "Dan sampai sekarang Mbak tidur dengan lampu kecil di kamar, bukan?"
Seseorang menarik napas tajam. Aileen tak yakin apakah itu Cintya atau Viona.
"Hentikan!" Viona melompat berdiri dan menyambar lengan putrinya. "Sora, jangan dengarkan. Dia pasti menyuruh orang menyelidiki rumah ini. Perempuan ini menyewa orang untuk ..."
"Mama." Suara Soraya kecil dan datar. "Tidak ada yang tahu soal gudang itu. Kecuali aku. Dan Kak Aira."
Viona tidak menjawab. Ia menatap anaknya, dan Aileen melihat di wajah perempuan itu sesuatu yang bukan lagi marah, melainkan panik yang ditahan.
Di belakang Soraya, Aira bergerak mendekat satu langkah, lalu satu langkah lagi. Wajahnya basah. Tangannya terangkat, berhenti di udara beberapa senti dari bahu adiknya.
"Katakan, Ai," bisiknya. "Pelan-pelan saja."
Aileen menunduk, lalu mengangkat wajah. "Kak Aira bilang begini. 'Aku tahu kamu ingin dicintai, Sora. Dari dulu. Aku juga tahu Mama bilang kamu harus lebih baik daripada aku supaya Papa memperhatikanmu. Tapi bukan begini caranya.'"
Soraya terdiam. Lama. Lampu gantung berdengung pelan di langit-langit.
"Kak Aira ..." Ia berbisik, matanya berkeliling di ruangan, di sofa, di tembok, di mana-mana kecuali tempat Aira sebenarnya berdiri. "Kak Aira di sini?"
"Berdiri persis di belakang Mbak," jawab Aileen. "Dia mau memegang bahu Mbak, tapi tangannya tidak bisa."
Soraya menoleh ke belakang. Tentu saja tidak ada apa-apa. Hanya sofa dan jendela dan bayangan lampu. Tetapi bahunya merosot, dan lututnya menekuk sampai ia terduduk kembali, perlahan, seperti boneka yang talinya dilepas.
Aileen mendengar napas Cintya di sampingnya, pendek dan basah. Di belakang kursi roda, Daren menaruh tangan di bahu Aileen, tidak untuk menahan, hanya untuk memastikan ia masih ada di sana. Pradipta, yang tadi duduk dengan punggung seperti papan, kini bersandar pelan, seakan baru memahami bahwa ruangan ini bukan tempat debat, melainkan tempat sesuatu patah.
***
Bagas mendengar kalimat itu dari tempat ia berdiri, dan ia tidak mampu bergerak.
"Aku tidak ingin dia mati," kata Soraya. Suaranya naik dari dasar dada, kecil dan serak. "Aku tidak ingin Kak Aira mati."
"Sora!" Viona mencengkeram bahunya. "Diam!"
"Aku tidak ingin dia mati, Mama." Soraya mengucapkannya tanpa menatap siapa pun. Air matanya jatuh tanpa isak, begitu saja, di atas gaun biru tua. "Papa selalu membicarakan Kak Aira. Teman-teman Mama bilang Kak Aira yang pantas jadi nyonya rumah. Bagas ... " Ia berhenti, menelan, mengusap pipi dengan punggung tangan. "Aku bekerja di sampingnya dua tahun. Aku yang mengingatkan jadwalnya, aku yang tahu kopi yang ia suka. Tapi dia selalu melihat Kak Aira. Aku hanya ingin sekali saja dia melihatku. Sadar siapa yang selalu ada."
Bagas mengingat malam itu: rem yang terasa lunak di pedal, suara Aira dari kursi sebelah, "nanti saja diperiksa". Selama ini ia menyalahkan kakinya sendiri. Ternyata ada tangan lain yang sudah lebih dulu bekerja di bawah mobilnya, tangan yang ia percaya mengantarkan kopi.
Dua tahun, pikir Bagas. Kopi di meja kerja, tepukan di bahu, sapaan "Bagas, makan dulu" di minggu-minggu paling gelap sesudah pemakaman. Ia mengira semua itu kebaikan.
Dari celah pintu ruang kerja, ia melihat bayangan sepatu Gio. Gio berdiri di sana, menahan pintu supaya tidak tertutup, dan di belakangnya Darsa menunduk dengan topi di dada. Mereka mendengar semuanya. Bagas tidak tahu apakah lelaki tua itu menangis atau berdoa dalam hati.
"Aku bilang Pak Darsa cukup melonggarkan baut sedikit saja," lanjut Soraya. "Supaya mobilnya bermasalah, Kak Aira malu di pesta, Bagas tidak tenang. Hanya itu." Suaranya pecah. "Aku membayar istrinya berobat dari kas yayasan, supaya dia mau. Aku bilang itu bantuan medis untuk anak panti. Aku tidak pernah ... aku tidak membayangkan ..."
"Kamu tidak membayangkan," ulang Hendra pelan. "Saya sudah mendengar rekaman suaramu, Sora. Dari ponsel Pak Darsa. 'Kamu cukup melonggarkannya sedikit saja, Pak. Tidak ada yang akan terluka.' Itu suaramu. Bukan suara hantu, bukan suara orang yang bermain-main."
Cintya menutup mulut dengan telapak tangan. Pradipta mengerjap, sekali, dan tidak bersuara.
Soraya mengangkat wajah. Untuk sesaat ia bukan lagi wanita anggun yang menyilangkan kaki di sofa, melainkan anak tujuh tahun di dalam gudang gelap. "Papa ... "
Hendra tidak menjawab. Tangannya yang bertumpu di lutut gemetar, dan otot rahangnya bergerak seperti orang yang menelan batu.
Bagas yang bicara lebih dulu, dengan suara datar yang hampir tidak terdengar. "Kamu menuangkan kopi untukku di hari pemakaman Aira, Soraya."
"Bagas, aku ..."
"Cukup!"
Viona sudah berdiri tegak, tasnya terlempar ke sofa, dan wajahnya yang selalu terawat kini berkerut oleh sesuatu yang lebih tua dari kemarahan. Ia menunjuk Aileen dengan jari gemetar.
"Itu bukan salah anakku. Itu salah perempuan ini! Dia datang ke rumah ini membawa hantu, membuat anakku bicara yang bukan-bukan di depan semua orang!"