"Ikut, Tante," jawab Aileen. "Aku sudah duduk di kursi roda ini hampir dua minggu. Kalau malam ini aku tinggal di rumah, aku tidak akan bisa tidur."
Cintya menatapnya sebentar, mengangguk sekali, lalu menyerahkan jaket yang sudah disetrika.
Mobil Pradipta berangkat lebih dulu membawa Cintya, sedan Gio menyusul dengan Bagas, Aileen, dan Daren yang duduk di depan sambil memegang tas medis kecil seperti orang yang menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Di bagasi, kursi roda dilipat. Di kursi paling belakang, Darsa duduk dengan topi di pangkuan, memandang jalan lewat kaca tanpa berkata apa-apa. Sepatu kerjanya sudah dilap sampai mengilap, dan Aileen tahu itu dilakukan istri Darsa dari ranjang rumah sakit lewat pesan yang dititipkan ke Daren.
"Kalau kamu lelah, bilang," kata Bagas dari sisi kanan, tanpa menoleh. "Satu kata saja, dan kita putar balik."
"Kita tidak akan putar balik."
"Aku tahu. Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku akan melakukannya."
Daren, di kursi depan, pura-pura sibuk memeriksa isi tas medisnya.
Aira tidak berbicara sepanjang jalan. Ia hanya duduk di sisi Aileen, kedua tangan dilipat di dada, memandang lampu-lampu jalan yang lewat satu per satu.
"Takut?" bisik Aileen, nyaris tanpa suara.
"Aku pulang," jawab Aira. "Orang tidak takut pulang. Mereka cuma ... tidak tahu ruangan itu masih milik mereka atau bukan."
Gerbang rumah Hendra terbuka sebelum mobil sempat berhenti. Di balik pagar, kolam koi memantulkan lampu taman, dan dari jendela lantai dua tampak kamar kecil yang tirainya tidak pernah diganti. Gio menurunkan kursi roda. Daren mendorongnya. Darsa dibawa Gio lewat pintu samping ke ruang kerja di sebelah ruang tamu, dan Aileen sempat melihat lelaki tua itu berhenti sejenak di ambang pintu dengan bahu yang bergetar, lalu masuk.
Ruang tamu Hendra sama dinginnya dengan terakhir kali Aileen ke sana, tetapi malam ini semua kursi sudah diatur melingkar, seperti ruang sidang kecil. Hendra menyambut di pintu. Ia menunduk pada Aileen yang duduk di kursi roda dan menatap selimut di pangkuannya, syal biru tua, wajahnya yang masih tirus.
"Kamu sehat, Nak?"
"Lebih baik dari dua minggu lalu, Om."
"Bagus." Hanya itu, tetapi matanya sempat bergerak ke sudut ruangan, tempat Aira berdiri, lalu kembali. Ia tahu putrinya ada di sana. Ia hanya tidak bisa melihatnya.
Lalu ia kembali ke kursi tunggal paling ujung, wajahnya sudah disusun rapi. Di sebelahnya Viona memegang tas tangan dengan dua tangan. Soraya duduk di sofa, kaki disilangkan, gaun biru tua, senyum yang sama.
"Wah, rame sekali," kata Soraya. "Kupikir ini cuma makan malam keluarga."
"Ini bukan makan malam," kata Hendra.
Satu kalimat, dan senyum Soraya bergeser setengah senti.
Pradipta duduk. Cintya duduk di sebelah Aileen dan, tanpa berkata apa-apa, meletakkan tangan di sandaran kursi rodanya. Daren berdiri di belakang. Bagas tetap berdiri.
"Hendra yang mengundang kita," ujar Pradipta datar. "Silakan, Hendra."
"Bukan saya yang bicara malam ini." Hendra menoleh pada menantunya. "Bagas."
***
Bagas tidak langsung membuka mulut. Ia memandang satu per satu wajah di ruangan itu, seperti orang yang mengecek apakah semua yang ia butuhkan sudah hadir. Lalu ia berkata dengan suara yang diatur rendah, "Ada orang di ruang kerja Papa. Namanya Darsa. Mekanik langganan keluarga kami."
Cintya menegang di sampingnya. Pradipta tak bergerak, tetapi jari tangannya berhenti mengetuk lutut.
"Ia mengerjakan rem sedan saya sore hari sebelum pesta," lanjut Bagas. "Tanpa perintah kerja. Atas permintaan seseorang di ruangan ini."
"Siapa?" Viona memotong. Suaranya terlalu cepat dan terlalu tinggi. "Bagas, kalau kamu menuduh ..."
"Saya belum menyebut nama, Mama Viona."
Hening yang pendek dan tajam. Soraya membetulkan duduknya.
"Ada satu hal lagi yang harus Mama dan Ayah dengar dari saya, bukan dari orang lain." Bagas menoleh ke Cintya dan Pradipta, dan Aileen melihat lelaki itu tampak gugup di depan orang tuanya sendiri. "Aileen bisa melihat dan mendengar Aira. Sejak sebelum kami menikah. Dari dia aku tahu Aira masih ada. Dia bukan penipu, dan dia tidak memeras saya. Sayalah yang memintanya."
Tidak ada yang bersuara. Cintya menoleh pelan ke arah Aileen. Mata Pradipta sempit, bukan marah, melainkan seperti orang yang mendengar bahasa asing dari mulut anaknya sendiri.
"Kamu sadar apa yang baru kamu katakan, Bagas?" tanya Pradipta akhirnya.
"Sadar, Ayah. Aku sudah mengatakannya kepada Gio, kepada Daren, kepada Papa Hendra. Hari ini giliran Ayah dan Mama."
"Mama sudah tahu ada yang Mama tidak tahu," bisik Cintya, lebih kepada dirinya sendiri. Jemarinya di sandaran kursi roda mengencang. "Tapi Mama tidak mengira ... ini."
"Aileen sudah menunggu Mama bertanya sejak hari pertama," kata Bagas. "Dia tidak berbohong, Ma. Aku yang melarangnya bicara."
Aileen ingin menyela dan mengatakan itu tidak sepenuhnya benar, tetapi Viona mendahuluinya.
"Hentikan." Viona berdiri setengah, tas tangannya terguncang. "Ini rumah Aira. Aira sudah tidak ada. Kalian membawa perempuan yang sakit-sakitan ini masuk lalu bicara tentang hantu di depan foto Aira sendiri? Hendra, katakan sesuatu."
"Duduk, Viona," kata Hendra.
Ia duduk. Bibirnya putih.
Soraya tertawa. Ringan, hampir merdu.
"Bagas, kamu berduka. Aku mengerti. Semua orang mengerti." Ia mengangkat tangan sedikit, menyilakan seisi ruangan menjadi saksi. "Tapi tukang bengkel yang kabur entah ke mana, dan cerita hantu? Dari perempuan yang kamu nikahi kurang dari dua bulan setelah Kak Aira, yang punya utang seratus juta, yang sakit dan butuh biaya?" Ia menatap Aileen dengan mata yang manis dan dingin. "Maaf ya, Mbak, aku nggak bermaksud kasar. Tapi dari mana pun aku lihat, ini kisah paling mudah dibuat orang yang butuh uang."
"Sora," tegur Hendra.
"Papa harus mendengar ini juga. Siapa yang paling untung?" Soraya menoleh pada ibunya, dan Viona mengangguk seperti orang yang sudah menunggu kalimat itu sejak tadi. "Kalau dia benar bisa bicara dengan Kak Aira, suruh Kak Aira membuktikannya. Sekarang. Di sini."
Daren menarik napas, hendak membalas. Aileen mengangkat dua jari dari pegangan kursi rodanya, dan Daren berhenti.
"Mbak benar," kata Aileen. Suaranya pelan tetapi cukup jelas untuk terdengar sampai sudut ruangan. "Siapa pun boleh curiga. Aku curiga juga kalau jadi Mbak."
Soraya mengangkat alis, tidak menduga jawaban itu.
Di belakang sofa tempat Soraya duduk, Aira sudah berdiri. Ia tidak lagi gemetar. Wajahnya pucat dan tipis, hampir bening di bawah lampu gantung, tetapi matanya menatap kepala adik tirinya yang tertunduk dengan sesuatu yang tidak bisa Aileen namai: bukan benci, bukan takut, lebih mirip orang yang akhirnya menemukan pintu yang selama ini dicarinya.
"Ai," bisiknya. "Katakan padanya. Kolam ikan. Kunci gudang kecil. 'Soraya takut gelap'."