Taksi tua itu berhenti di depan gerbang pukul tujuh pagi, dan dari dalamnya turun tiga orang yang berdiri berjajar seperti anak sekolah menunggu dipanggil kepala sekolah.
Denis di tengah, dengan ransel di punggung dan map plastik di dada. Nani di kirinya, mengenakan kebaya paling rapi yang ia punya dan membawa tas kecil di depan perut. Bono di kanannya, rambutnya basah disisir, kemejanya dikancing sampai leher, tangan memegang tas kain yang kelihatan baru dibeli semalam.
Gio, yang sudah menunggu di teras sejak subuh, turun menyambut mereka. "Silakan masuk. Mobil sudah siap."
"Kami cuma mau pamit sebentar kepada Aileen," kata Denis.
"Bapak sudah bilang boleh," sahut Gio. "Di ruang tamu."
Aileen menunggu di kursi roda dengan selimut di pangkuan dan syal biru tua dari Cintya melilit leher. Ia sudah duduk sejak jam enam, bukan karena ingin terlihat siap, melainkan karena tidak bisa tidur dan tidak tahu harus berbuat apa dengan kegugupan yang terlalu banyak. Bagas berdiri di dekat jendela, bersandar pada kusen, tak ikut campur. Itu sudah kesepakatan mereka.
"Kak Ai." Denis lebih dulu berlutut di depan kursi roda dan menggenggam kedua tangannya. "Kakak kelihatan lebih baik dari waktu pulang dari rumah sakit."
"Kamu juga kelihatan lebih tampan. Bercukur?"
"Dipaksa Ibu."
"Bagus."
Bono masih di ambang pintu. Ia tidak berani masuk, sampai Nani menyikutnya pelan. Ia melangkah dua langkah, berhenti, dan menunduk.
"Aku berangkat sekarang," katanya. "Aku ... kalau aku nggak tahan, aku telepon. Tapi aku nggak akan kabur."
"Telepon kalau perlu," kata Aileen. "Kalau kabur, pulangnya bukan ke sini."
"Aku tahu."
"Jaga diri di sana."
Hanya itu. Bono mengangguk beberapa kali, matanya basah, dan ia keluar lagi ke teras dengan langkah yang kikuk. Gio mengikutinya, menawarkan membawakan tas. Bono menolak, lalu menerima.
Tinggal Nani yang berdiri di tengah ruangan dengan tas kecilnya. Ia meremas tas itu sampai kuku-kukunya memutih, tanpa mendekat.
"Ai."
"Ya, Bu."
"Ini." Nani membuka tas itu dengan tangan gemetar dan mengeluarkan sebuah buku tabungan kecil bersampul biru, tepinya melengkung karena sering dilipat. "Ibu kumpulkan dari cuci setrika. Sepuluh tahun lebih. Ibu nggak pernah bilang karena ... " Ia tersenyum getir. "Karena Ibu takut ketahuan Bono. Isinya belum cukup untuk melunasi utang Koh Aling. Kurang sebelas juta. Tapi Ibu mau bayar sendiri. Ibu mau datang ke Koh Aling, bilang ini bagian dari Ibu, sisanya Ibu cicil tiap bulan dari kerja."
Aileen menatap buku itu lama. Bagas di dekat jendela tidak bergerak, tetapi Aileen merasa lelaki itu menahan napas.
"Ibu mau datang sendiri ke Koh Aling?"
"Ibu sudah bicara dengan Mbok Darmi. Dia mau ikut."
"Itu bukan tempat yang aman untuk perempuan sendirian."
"Ibu tahu." Nani mengangkat dagu sedikit, dan untuk sekejap Aileen melihat wanita yang dulu berdebat dengan ayahnya di rumah kecil dengan atap bocor. "Tapi ini utang Ibu juga. Ibu yang membiarkan Bono. Kamu nggak perlu membayar, Ai."
"Aku memang tidak akan membayar." Aileen menjawab pelan, lalu menegakkan punggung. "Dan Bagas juga tidak. Itu aturanku dari awal. Tapi aku tidak akan menghalangi Ibu membayar utang Ibu sendiri. Ibu boleh. Itu bagus."
Nani mengangguk, tersengal.
"Kalau Ibu kesulitan, kalau ada yang mengancam Ibu, telepon Denis. Jangan telepon aku untuk minta uang. Telepon aku kalau ingin ngobrol." Aileen menelan ludah. "Ibu boleh datang. Kalau Ibu datang dengan baik."
"Dengan baik," ulang Nani, seperti menghafal kata asing.
"Dengan baik."
Nani menyimpan buku tabungan itu. Tangannya sempat terangkat, hendak menyentuh pipi Aileen, lalu turun lagi, menunggu izin yang tidak pernah ia minta. Aileen yang mengulurkan tangan dan menggenggam jari-jari yang kasar itu sebentar, lalu melepasnya.
"Berangkat, Bu."
***
Denis duduk di lantai sesudah mobil Gio menghilang di tikungan, menyandarkan punggung ke sofa dan menghela napas yang terlalu panjang untuk anak dua puluh dua tahun.
"Kakak tahu tidak, bimbingan terakhirku kemarin."
"Aku tidak tahu. Ceritakan."
"Dosen pembimbingku tanda tangan lembar persetujuan." Denis mengeluarkan map plastik, membukanya, dan menunjukkan lembar bergaris dengan paraf biru besar di bawahnya. "Revisi Bab 4 selesai. Sidang pekan depan, Kak."
Aileen menatap kertas itu dan tidak langsung bicara. Tenggorokannya terlalu penuh. Ia ingat Denis yang berumur dua belas tahun menghitung uang receh di meja makan yang miring. Ia ingat warung kopi, pot-pot kaktus, malam-malam tanpa tidur memilih antara bayar sewa atau beli obat.
Ia mengangkat dua tangan dari pegangan kursi roda. Bagas bergerak setengah langkah dari jendela. Aileen menggeleng ke arahnya. Ia menumpu kedua telapak ke lengan kursi, menahan napas, dan perlahan berdiri.
Untuk pertama kali sejak operasi, ia berdiri sendiri tanpa dipapah siapa pun. Lututnya bergetar. Jahitan di perutnya menarik seperti tali yang dikencangkan. Tapi ia berdiri, tegak, dengan syal biru di leher dan mata yang memandang lurus ke adiknya.
"Kak Ai," kata Denis, bangkit, cemas. "Kakak jangan ..."
"Diam. Aku bangga padamu."
Denis terpaku, lalu memeluknya dengan sangat hati-hati, seolah ia takut Aileen akan retak. Dari balik bahu adiknya, Aileen bertemu pandang dengan Bagas di dekat jendela. Lelaki itu tidak tersenyum. Tetapi cara ia mengepalkan tangan di sisi tubuh, seperti menahan diri dari sesuatu yang bukan marah, sudah cukup.
Denis pamit ke kampus satu jam kemudian, membawa roti dan pesan tiga kali dari Aileen agar tidak lupa makan siang. Pintu depan baru menutup ketika Bagas akhirnya melepaskan sandaran dari kusen dan berjalan ke kursi roda.
"Kamu berdiri."
"Sebentar saja."
"Empat puluh detik." Bagas menunduk, menatapnya. "Aku menghitung."
"Kamu menghitung?"
"Aku menghitung semuanya sejak hari operasi." Ia mengatakannya dengan wajah datar, lalu seolah baru mendengar apa yang barusan ia ucapkan, dan telinganya memerah. "Maksudku, kalau Mahesa bertanya, aku harus bisa jawab."
"Mahesa tidak perlu tahu soal empat puluh detik."
"Mahesa akan tahu. Dia selalu tahu."
Aileen tertawa kecil, hati-hati. "Kamu sudah makan?"
"Pertanyaan itu milikku."
"Sekarang milik kita berdua." Ia menunjuk kursi dengan dagu. "Duduk. Gio belum pulang sampai sore. Aku mau kamu menceritakan rencana nanti malam, jangan setengah-setengah."
Bagas duduk tanpa menunggu diminta dua kali.
***
Menjelang sore, Cintya mengetuk pintu kamar bawah membawa nampan teh dan sehelai gaun hitam sederhana di lengan.
"Pinjaman lamamu," katanya, menggantung gaun itu di pintu lemari. "Kamu pakai yang waktu itu. Jaketnya Tante setrika."
Aileen mengangkat kepala dari buku catatan gejala. "Untuk apa, Tante?"
Cintya duduk di tepi ranjang dan memandangnya lama. Ia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang sedang menahan pertanyaan. Ia tampak seperti seseorang yang sudah menghitung sampai habis.
"Tadi Pradipta menelepon. Hendra mengundang kami semua." Ia mengatur nada suaranya agar datar. "Malam ini di rumah Hendra. Kamu masih mau ikut, Nak?"