Bagas menatap Hendra. Hendra mengangguk sekali, nyaris tak terlihat, dan Bagas menjawab dengan suara yang ia jaga tetap datar.
"Iya, Soraya. Papa mampir menengok Aileen. Sebentar saja."
"Mampir? Tanpa memberitahuku?" Tawa kecil terdengar dari ponsel. "Papa sekarang pandai menghilang. Sudah pulang?"
Hendra menggeleng kepada Bagas, kedua tangannya terkepal di lutut. Aileen menahan napas.
"Baru mau berangkat. Sopirnya sudah menunggu."
"Kalau begitu aku mampir sore ini saja. Bawa buah untuk Aileen. Aku merasa tidak enak belum menjenguknya."
Rahang Bagas mengeras. Menolak berarti memancing curiga. "Silakan. Kami di rumah."
"Sampai nanti, Bagas."
Sambungan putus. Hendra berdiri pelan, mengancingkan jasnya sampai atas, dan wajahnya tersusun rapi lagi seperti topeng yang sudah lama ia pakai. "Dia akan datang membawa buah dan pertanyaan," katanya. "Jawab seperlunya. Besok malam saya yang bicara." Gio mengantarnya ke mobil, dan langkah Hendra sampai pintu dibuat biasa, seperti orang yang hanya habis menengok orang sakit.
Satu jam kemudian ponsel Bagas bergetar di meja makan tepat ketika Aileen menelan sendok bubur terakhirnya, dan dari cara Bagas mengangkatnya, dengan satu gerakan cepat, Aileen tahu kabar itu tidak boleh menunggu.
"Mobilnya keluar gerbang rumahnya, Pak." Suara Gio dari ponsel terdengar terengah, bercampur bunyi mesin dan klakson. "Mbak Soraya sendiri. Arah rumah Bapak. Dua puluh menit lagi dia sampai kalau jalannya lancar."
Bagas menatap Aileen, lalu Darsa yang berdiri kaku di ujung tangga. Matahari mulai turun di balik pohon-pohon taman.
"Naik," kata Bagas pelan kepada Darsa. "Pintu dikunci, lampu dimatikan. Jangan keluar, jangan batuk, jangan menyalakan televisi."
"Baik, Mas Bagas."
"Gio, kamu lewat pintu belakang. Naik lewat tangga dapur. Sepuluh menit."
"Siap, Pak."
Bagas memutus telepon dan berdiri sebentar dengan kepala tertunduk, seperti orang yang menyusun napas. Lalu ia menegakkan badan. "Ma!"
Cintya muncul dari dapur. "Ada apa lagi?"
"Soraya akan datang. Tolong temani Aileen di ruang tamu. Bicara saja soal apa pun. Cuaca, bunga, resep. Apa saja." Bagas menyentuh bahu ibunya sekali, singkat. "Jangan sebut apa pun soal tamu di atas."
"Mama sudah bilang Mama tidak bertanya."
"Terima kasih."
"Dan Mama tidak akan bohong kepada perempuan itu," lanjut Cintya sambil merapikan celemek. "Tapi Mama pandai tidak menjawab."
***
Soraya masuk membawa dua kantong buah dan senyum yang seolah ia pasang sebelum turun dari mobil.
"Aku dengar kamu pulang hari Jumat," katanya, meletakkan kantong di meja rendah. "Maaf baru sempat. Anggur, apel, pir. Ada yang boleh dimakan, kan?"
"Bubur dulu, Mbak," jawab Aileen dari kursi roda. Ia mengatur suaranya sesantai mungkin. "Seminggu lagi mungkin."
"Ah, kasihan." Soraya duduk, menyilangkan kaki, dan menatap sekeliling ruang tamu dengan cara yang tidak seperti tamu. Seperti orang yang menghitung berapa kursi, berapa pintu, berapa langkah ke tangga. "Papa bilang kamu pulih lebih cepat dari yang diperkirakan. Aku bersyukur."
"Papa Mbak tahu dari mana?"
"Tadi pagi beliau menelepon Mama. Menanyakan kabarmu." Senyum itu tidak bergeser. "Padahal tadi siang beliau ke sini tanpa memberitahuku. Beliau memang suka begitu belakangan ini. Menghilang tanpa pamit."
Cintya menuang teh ke tiga cangkir. Tangannya tenang. "Hendra datang sebentar siang tadi, Soraya. Menengok Aileen. Beliau duduk di kursi yang kamu duduki itu."
"Oh." Soraya mengangkat alis tipis. "Begitu. Lama?"
"Teh dulu, Sayang."
Aileen menunduk ke cangkirnya untuk menyembunyikan wajah. Rupanya Cintya memang pandai menjawab tanpa menjawab.
Aira berdiri di belakang sofa Aileen, dan Aileen merasakannya tanpa menoleh: dingin yang halus, getar yang menyentuh punggung kursi rodanya. Tangan Aira gemetar. Ia menatap Soraya tanpa kedip, tanpa lari, dengan rahang yang mengatup kuat.
'Aku di sini,' pikir Aileen, ditujukan ke sudut di belakangnya. 'Kamu tidak sendirian.'
Mata Soraya bergerak ke arah rak sepatu di dekat tangga. Lama. Di sana, di antara sandal rumah dan sepatu kets Bagas, ada sepasang sepatu kerja kulit tua yang jelas bukan milik siapa pun di rumah itu.
"Siapa yang menginap?"
"Tamu Bagas," sahut Cintya, menyodorkan cangkir teh seolah itu jawaban yang lengkap. "Teh, Sora? Masih hangat."
"Ah." Soraya menerima cangkir itu. "Banyak sekali tamunya akhir-akhir ini."
Bagas turun dari lantai atas pada saat itu, rambutnya sedikit basah, wajahnya biasa. "Soraya."
"Bagas." Ia berdiri dan mencium udara di samping pipi Bagas, tak menyentuh. "Kamu terlihat lelah."
"Aku tidak tidur nyenyak."
"Kasihan." Soraya menatap pintu kamar bawah yang tertutup, kursi roda, tangga. "Aku tidak lama. Hanya memastikan Aileen baik-baik saja. Kalau ada yang bisa kubantu, bilang saja."
"Tidak ada. Terima kasih."
Ia pamit lima belas menit kemudian, setelah menghabiskan tehnya dan menanyakan tiga hal yang kelihatannya biasa dan hampir semuanya terdengar seperti pertanyaan polisi: kapan Hendra tiba, kapan ia pergi, apa saja yang dibicarakan. Di pintu ia menoleh sekali lagi, dan senyum tipisnya tertuju pada Aileen.
"Selamat sembuh, Aileen."
"Terima kasih, Mbak."
Pintu menutup. Mobilnya menjauh. Bagas menunggu sampai suara mesin hilang di ujung jalan, baru bahunya turun.
"Siapa yang menginap di atas, Bagas?" Cintya meletakkan cangkir kosong di nampan, pelan-pelan, tanpa menatapnya. "Mama bukan menagih jawaban. Mama hanya mau tahu apakah Mama boleh khawatir."
"Besok, Ma. Sesudah malam besok, Bagas ceritakan semuanya."
"Mama tunggu." Cintya menepuk lengannya dua kali, seperti ketika ia kecil dan baru jatuh dari sepeda. "Boleh khawatir sedikit saja."
Barulah Aira meluncur ke lantai, lututnya tak sanggup lagi menahan.
"Aku tidak lari," bisiknya pada Aileen, napasnya patah-patah. "Aku tidak lari, kan?"
"Tidak," jawab Aileen, sangat pelan. "Kamu berdiri dari awal sampai akhir."
***
Malam itu Bagas mengetuk dua kali, lalu menunggu.
"Masuk."
Ia berdiri di ambang pintu dengan kasur lipat tipis di lengan dan bantal di tangan yang lain. Lampu lorong membuat bayangannya panjang di lantai kamar. "Aku mau minta sesuatu. Boleh aku tidur di sini? Di lantai, di dekat pintu. Aku tidak akan mendekat. Pasal enam tetap."
Aileen mengerjapkan mata. "Kenapa?"
"Karena Soraya tadi melihat pintu kamarmu tiga kali." Bagas mengatakannya terang-terangan. "Aku tidak percaya dia melakukan sesuatu malam ini. Tapi aku tidak mau menunggu sampai aku salah."
Aileen mempertimbangkan. Ia tidak sedang diancam. Ia sedang dimintai izin. Bedanya terasa seperti perbedaan antara dua musim.
"Boleh," katanya. "Guling di tengah."
"Guling di tengah," ulang Bagas, nyaris tersenyum, dan mengambil guling dari ranjang untuk diletakkan melintang di lantai di antara kasur lipatnya dan sisi ranjang.
Lampu dimatikan. Gelap menyelimuti kamar, hanya garis tipis cahaya taman menembus tirai. Cukup lama keduanya diam.
"Aku makan di meja yang sama dengannya," kata Bagas dalam gelap. Suaranya rendah. "Selama berminggu-minggu sesudah Aira. Ia menuang kopi untukku. Ia menepuk bahuku. Aku mengira ia satu-satunya yang mengerti."
"Kamu tidak tahu."
"Aku harus tahu."
"Tidak ada orang yang harus tahu sesuatu yang disembunyikan dengan sengaja." Aileen memiringkan badan pelan, ke arah suaranya. "Kamu takut, ya?"
"Iya." Hening sebentar. "Bukan takut padanya. Takut aku tidak bisa menjagamu."
"Aku tidak minta dijaga."
"Aku tahu." Ada senyum samar di kalimat itu. "Tapi aku akan melakukannya."
Mereka tidak bicara lagi. Napas Bagas mulai panjang dan dalam, sampai Aileen sadar lelaki itu tertidur lebih dulu, tanpa ia sadari, di lantai kamar orang lain, dengan guling di antara mereka seperti perjanjian.
Di sudut jendela, Aira menatap mereka berdua. Untuk pertama kalinya hari itu ia tersenyum, kecil dan basah, lalu menembus kaca dan hilang ke taman yang gelap.
Ponsel Bagas menyala di lantai, getarnya pendek menyentuh ubin. Aileen membangunkannya dengan menyebut namanya dua kali. Bagas membaca layar, alisnya berkerut, lalu menyodorkannya kepada Aileen.
Gio: Pak Hendra baru telepon. Bu Viona bertanya ke mana Bapak pergi sore tadi. Dijawab: ke rumah teman. Pertemuan besok malam tetap jadi.