"Ma, Hendra datang jam dua belas," ujar Bagas di ruang makan. "Ada tamu dari kantor di kamar atas. Urusannya rahasia. Tolong jangan naik, dan jangan tanya Gio."
Cintya meletakkan cangkir tehnya. Ia menatap anaknya lama, lalu menatap Aileen yang duduk di kursi roda dengan mangkuk bubur di pangkuan. "Tamu dari kantor yang membuat kalian berdua tegang sejak semalam?"
"Ma."
"Mama tidak bertanya apa-apa." Cintya mengangkat dua tangan. "Mama cuma menghitung pelan-pelan. Kamu bilang jangan tanya, jadi Mama tidak tanya. Tapi Mama bukan orang bodoh, Sayang."
"Aku tidak bilang Mama bodoh."
"Syukurlah." Cintya bangkit membawa cangkirnya. "Kalau sudah waktunya, kamu cerita. Dan kamu, Nak," ia berhenti di sisi Aileen dan menyentuh topi rajutnya, "habiskan buburnya."
Setelah Cintya hilang ke dapur, Aileen menurunkan suara. "Dia sudah menebak sebagian."
"Aku tahu."
"Kamu akan memberitahunya?"
"Setelah Hendra." Bagas menggosok tengkuk. "Hendra harus yang pertama. Dia ayahnya."
***
Hendra tiba Rabu siang dengan jas abu-abu yang dikancingkan sampai atas dan langkah yang lebih pelan dari yang Aileen ingat dari rumah besar itu. Gio membukakan pintu mobil untuknya, menuntunnya sampai teras, lalu berdiri sedikit di belakang seperti penjaga yang tahu sebentar lagi akan ada orang yang perlu ditangkap jatuh.
Selasa malam, istri Darsa sudah dipindahkan ke Rumah Sakit Setia Budi. Daren yang mengurusnya dari mobil, dengan satu telepon pendek ke bagian rawat inap, dan Bagas hanya berkata, "Biayanya saya." Darsa menolak dua kali, lalu menerima dengan tangan menutup wajah. Malamnya ia menginap di kamar tamu lantai atas, kamar yang dulu milik Aileen, dengan Gio berjaga di kursi lorong.
Sekarang Darsa duduk di sofa ruang tamu, kemeja barunya masih terlipat bekas toko. Matanya tidak berani naik.
"Duduk, Papa," ujar Bagas.
Hendra duduk. Aileen, di kursi roda dengan selimut tipis di pangkuan, menunduk memberi salam. "Om."
"Nak." Hendra menatapnya sebentar. "Kamu pucat."
"Saya baru dua minggu, Om."
"Dan kamu sudah pergi jauh untuk urusan keluarga saya." Suaranya tipis, tetapi tidak goyah. "Terima kasih. Saya belum tahu apakah ini urusan yang pantas disyukuri, tapi terima kasih."
Bagas tidak menunggu lagi. Ia mengambil ponsel tua itu dari meja rendah, menekannya, dan meletakkannya di tengah.
Suara perempuan, manis dan terlatih, memenuhi ruang tamu: "Kamu cukup melonggarkannya sedikit saja, Pak. Biar Kak Aira sedikit malu di pesta. Besok sudah aman, kok. Tidak ada yang akan terluka."
Hendra tidak bergerak. Wajahnya, yang tua dan tenang, tidak berubah selama detik pertama, dan itu yang paling menakutkan Aileen. Pada detik kedua, ia berkata, nyaris tanpa suara:
"Putar lagi."
Bagas memutarnya. Dua kali. Tiga kali.
"Itu ... itu bisa saja ditiru." Hendra menoleh pada Darsa, dan ada sesuatu di matanya yang mencari pegangan. "Banyak orang bisa meniru suara. Kamu mengarang, bukan? Kamu bilang begini supaya dapat belas kasihan."
"Pak Hendra." Darsa menggeleng sambil terisak. "Saya tidak berani. Saya bawa buku tabungan. Setiap bulan masuk uang dari rekening yayasan. Setiap bulan. Dua belas bulan sebelum kecelakaan, saya simpan semua struknya."
"Yayasan." Hendra mengulang kata itu seperti benda yang jatuh.
"Dan saya diminta Mbak Soraya merahasiakannya. Dia bilang kalau saya cerita, uang obat Ibu berhenti."
Hendra mengambil buku tabungan itu dari tangan Gio, membukanya, dan membaca baris demi baris. Tangannya gemetar sedikit. Lalu ia menutupnya dan mengatupkan rahang.
"Dia memanggilnya Kak Aira," katanya perlahan, lebih pada diri sendiri. "Selalu. Sejak kecil. Dengan nada begitu, seolah-olah itu kata yang paling sopan di dunia. Saya selalu mengira itu kasih sayang."
Tak ada yang berani menjawab. Dari sudut jendela, Aira berdiri dengan tangan di dada.
"Mobil itu hadiah dari saya," lanjut Hendra. "Untuk ulang tahun pernikahan Aira dan Bagas. Terdaftar atas nama putri saya." Ia menutup mata sejenak. "Dan saya membiarkan polisi menyebutnya rem aus."
"Om." Aileen memilih kata dengan hati-hati. "Ada satu hal lagi."
"Katakan."
"Setelah kecelakaan, bangkai mobil dihancurkan tiga hari kemudian. Surat persetujuannya atas nama keluarga Om. Yang menandatangani Ibu Viona."
Hendra membuka mata. Pandangannya jatuh pada lantai, lalu pada Aileen. "Viona tahu?"
"Mungkin."
"Mungkin." Hendra tersenyum, tetapi bukan senyum. "Waktu itu saya tidak mampu berdiri, Nak. Dokter menyuruh saya berbaring. Viona mengurus semua surat. Semuanya. Saya bersyukur istri saya begitu kuat." Ia menghela napas panjang dan menyakitkan. "Saya tidak pernah bertanya apa yang ia tanda tangani."
Bagas, yang berdiri di belakang sofa dengan kedua tangan di sandaran, bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu menunda.
"Pertemuan keluarga," ujar Hendra akhirnya. Ia mengangkat kepala, dan wajahnya yang tadi ragu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih tua dan lebih tegas. "Di rumah saya, besok malam. Semua yang berkepentingan: Bagas, Aileen kalau ia sanggup, Cintya, Pradipta, Daren. Dan Viona. Dan Soraya. Saya tidak mau ada yang tahu sebelum itu. Sesudahnya, polisi."
"Besok malam, Om? Kenapa tidak sekarang?"
"Karena saya ingin Soraya mendengar semuanya langsung, tatap muka." Suara Hendra tak naik, tetapi ruangan terasa mengecil. "Dia anak saya. Saya tidak mau dia ditangkap tanpa sempat menatap mata ayahnya."
"Saya awasi rumah Mbak Soraya dari luar," kata Gio. "Kalau ia pergi, saya tahu."
"Dan Pak Darsa?"
"Tetap di atas," jawab Bagas. "Tidak keluar."
Darsa mengangguk cepat-cepat. "Saya tidak akan ke mana-mana, Pak."
Hendra hampir bangkit. Lalu ia terdiam, kepalanya menoleh ke arah kiri sedikit, tempat Aileen tidak sengaja menatap ke arah yang sama.
"Dia ada di sini?"
Aileen terdiam sejenak. "Di sebelah kiri Om."
"Sejak awal?"
"Sejak awal."
Aira sudah berlutut di lantai, di depan kursi ayahnya, mata berkilau oleh air. "Papa," bisiknya. "Aku mau memeluk Papa. Boleh, Ai?"
"Dia ingin memeluk Om."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Hendra mengulurkan kedua tangan ke ruang kosong di depannya, seperti orang menyambut anak kecil yang berlari. Aira melingkarkan lengan di lehernya. Lelaki tua itu tentu tak merasakan apa-apa, tetapi Aileen melihat bahunya bergetar, dan kepalanya menunduk makin dalam sampai dahinya hampir menyentuh lutut.
"Maafkan Papa, Nak," katanya serak. "Papa tidak melihat."
Aira menggeleng-geleng, air matanya jatuh tanpa bunyi. Aileen tidak menerjemahkan apa pun. Ia hanya menunggu.
Ponsel di meja bergetar.
Bagas melirik layarnya dan ruangan membeku. Nama di layar: Soraya.
"Jawab," bisik Hendra. "Seperti biasa."
Bagas menyentuh layar dan menyalakan pengeras suara. Suara itu muncul, manis, ringan, seperti selalu:
"Bagas? Papa pergi ke rumahmu tanpa memberitahuku? Ada apa?"