Dua jam itu terasa lebih panjang dari seluruh kemoterapi.
Aileen duduk di kursi belakang dengan bantal di punggung dan satu lagi di pangkuan, tempat telapak tangannya menekan lembut perut yang sudah mulai protes sejak tikungan kelima. Daren duduk di sampingnya, memegang jam tangan di satu tangan dan botol air di tangan lain. Tiap tiga puluh menit ia mengumumkan, "Berhenti," dengan nada yang tidak memberi ruang untuk membantah. Gio menepi di bahu jalan, Aileen turun dibantu dua orang, berjalan lima belas langkah di bawah pohon mahoni, lalu kembali.
"Kamu seperti perwira," gumam Aileen pada Daren.
"Dan kamu pasien paling cerewet yang pernah kutangani."
"Aku baru dua minggu kurang sehari."
"Cerewetmu sudah bertahun-tahun."
Di kursi depan, Bagas tidak banyak bicara. Ia menatap jalan, tangan di lutut, sesekali menoleh ke spion tengah untuk memastikan Aileen masih tegak. Aira duduk di tengah, di antara Aileen dan Daren, tembus pandang sampai jok terlihat di balik tubuhnya. Ia menatap lurus ke depan dan sudah dua puluh menit tidak mengucap sepatah kata.
Kota kecil itu muncul menjelang tengah hari: jalan raya yang tiba-tiba menyempit, deretan ruko dengan cat mengelupas, sebuah pasar yang bising. Gio membelok ke gang belakang, memelankan mobil di depan musala, lalu berhenti tiga rumah sesudahnya.
Rumah itu seperti yang digambarkan Gio. Dinding papan, atap seng, pagar besi pendek dengan engsel berkarat. Di jendela tergantung tirai kain yang sudah pudar menjadi warna tak bernama.
"Aku dulu," kata Aileen.
"Kami ikut sampai pagar," sahut Bagas.
"Sampai pagar. Jangan lebih."
Daren membantunya turun. Aileen berjalan perlahan melewati pagar, menaiki satu undakan, dan Daren mendudukkannya di bangku plastik di teras sempit. Ia mengetuk pintu papan dengan buku jari, tiga kali.
"Pak Darsa?"
Tak ada jawaban. Dari dalam terdengar batuk, lemah, perempuan.
"Pak Darsa, saya Aileen. Saya tidak datang untuk menagih apa pun." Ia menarik napas dan merasakan jahitan di perutnya menarik. "Saya datang membawa pesan dari seseorang."
"Saya tidak kenal Mbak!" Suara itu serak dan terlalu cepat, dari balik pintu yang dekat sekali. "Pergi saja!"
"Saya tahu. Tapi ada yang kenal Bapak." Aileen menoleh ke Aira, yang berdiri di sampingnya dengan tangan mengepal. Aira mengangguk, satu kali, kecil. "Pak, sepatu sekolah anak Bapak dulu saya yang belikan, kan? Lewat Bu Cintya, supaya Bapak tidak malu. Waktu anak Bapak tidak mau masuk SMP karena malu dengan sepatunya yang sudah jebol. Bapak menunduk dan bilang, terima kasih, Non Aira."
Sunyi. Lama sekali.
Lalu terdengar bunyi tubuh jatuh, bukan jatuh keras, melainkan lutut yang menyerah. Di balik pintu, seseorang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Selot ditarik tangan yang gemetar, dan pintu papan terbuka sedikit demi sedikit.
Pak Darsa lebih tua dari yang Aileen bayangkan. Rambutnya hampir putih semua, kemeja kotak-kotaknya terlalu longgar, dan matanya merah dan basah. Ia berlutut di ambang pintu, dengan dua telapak di lantai, memandang Aileen seolah-olah ada orang mati yang berdiri di belakangnya.
"Non Aira ... ada di situ?"
"Ada, Pak." Aileen tidak berbohong. "Di sebelah kiri saya."
Darsa menunduk sampai dahinya menyentuh lantai. "Ampun, Non. Ampun."
***
Ruang depan rumah itu hanya muat satu dipan dan satu meja. Di kamar belakang yang berpintu tirai terbaring seorang perempuan kurus yang batuk-batuk dan menatap mereka dengan mata ketakutan. Darsa menutup tirai itu dengan tangan gemetar, lalu duduk bersila di lantai di hadapan mereka berempat, bahu merosot.
"Saya tidak bermaksud sampai begitu," katanya, dan pengakuan itu keluar tanpa dipancing, seperti air bocor dari tanggul. "Mbak Soraya datang ke rumah saya, setahun lebih sebelum kecelakaan itu. Istri saya sudah sakit. Obatnya mahal, saya tidak sanggup. Mbak Soraya menawarkan bantuan. Uangnya selalu ada tepat waktu. Saya pikir itu dari yayasan. Saya pikir Mbak Soraya baik."
"Lalu?" tanya Aileen.
"Lalu hari itu, sore sebelum pesta, dia telepon. Dia bilang cuma minta satu hal kecil." Darsa menelan ludah. "Melonggarkan sesuatu di rem mobil Mas Bagas. Baut penahan kampas. Katanya supaya mobilnya bermasalah di jalan, supaya Non Aira malu di depan tamu. Cuma itu. Bukan sampai ... bukan sampai ..."
Ia tak sanggup menyelesaikan kalimat. Lalu ia memaksanya keluar juga, terputus-putus. "Malamnya saya dengar kabar. Mobilnya terbakar. Non Aira ... Saya muntah sampai subuh. Seminggu kemudian saya berhenti kerja dan pindah ke sini. Tiap lihat mobil hitam lewat, dada saya sesak. Anak saya saya titipkan ke kakak saya supaya tidak melihat ibunya sakit dan bapaknya begini."
Dari tasnya, ia mengeluarkan buku tabungan lusuh dan sebuah ponsel tua dengan layar retak, yang masih dipegangnya seperti jimat. Gio menerimanya dengan kedua tangan.
"Ada pesan suara di situ. Saya simpan. Saya tidak pernah berani menghapusnya."
Gio menekan layar. Suara perempuan terdengar, tipis tapi jelas, dengan nada manis yang terlalu terlatih: "Kamu cukup melonggarkannya sedikit saja, Pak. Biar Kak Aira sedikit malu di pesta. Besok sudah aman, kok. Tidak ada yang akan terluka."
Aira terhuyung setengah langkah. "Sora," bisiknya, dan nama itu baru sekarang berani keluar dari mulutnya.
Aileen menutup mata sebentar. Ia mendengar Daren menarik napas, dan mendengar sesuatu yang lain, di belakangnya: derap sepatu yang terlalu cepat.
Bagas sudah berdiri di ambang pintu, dan sebelum ada yang sempat bereaksi ia sudah menyambar kerah baju Darsa dengan dua tangan, menarik laki-laki tua itu ke atas dengan satu hentakan.
"Bapak tahu apa yang Bapak lakukan?" Suaranya pecah, bukan menggeram, justru berbisik gemetar, dan itu lebih menakutkan. "Bapak tahu ..."
"Bagas."
Dia tidak menoleh.
"Bagas." Aileen tidak menaikkan suara. Ia berdiri dari bangku, perlahan, dengan satu tangan di perut dan satu tangan di bahu Daren. "Kalau kamu memukulnya, kamu jadi seperti yang kamu cari."
Tangan Bagas yang terangkat gemetar. Darsa memejamkan mata, pasrah, dengan air mata mengalir tanpa suara.
"Kamu sudah janji."
"Dia membunuh ..."
"Dia ingin Aira terluka sedikit, bukan mati." Suara Aileen tetap datar. Ia memaksa dirinya tetap lunak. "Itu tetap kejahatan. Tapi biar hukum yang bekerja, bukan kamu. Biar Aira melihat suaminya tidak menjadi orang yang melukai orang tua."
Hening. Aira, di samping Aileen, berbisik, "Bagas," dan suara itu tentu tidak terdengar olehnya, namun bahunya turun.
Kerah itu dilepas. Darsa terduduk. Bagas mundur dua langkah, memandang tangannya sendiri seolah itu milik orang lain, lalu bersandar ke dinding papan sambil memejamkan mata.
"Pak." Gio melangkah maju, memegang ponsel tua itu dengan dua tangan seperti benda pecah belah. "Polisi dulu, atau Pak Hendra?"
Bagas membuka mata. Wajahnya letih, sangat letih, tetapi suaranya jernih.
"Hendra dulu."