Bagas membuka pintu setengah, dan Aileen, yang terbangun karena ketukan itu dengan perut berdenyut dan selimut kusut di dagu, mendengar suara Gio lebih jelas daripada yang ia inginkan.
"Ketemu, Pak. Tadi sore saya melihatnya di kota kecil itu, dan baru malam ini saya yakin."
"Di mana?"
"Rumah kontrakan di gang belakang pasar, tiga rumah dari musala. Dindingnya papan, atapnya seng. Nama di pagar bukan nama Darsa, tapi tetangga membenarkan: ada tukang bengkel tua yang tinggal bersama istrinya, istrinya sakit, jarang keluar rumah." Gio berhenti, menarik napas. "Saya tidak mendekat. Kalau ia melihat orang asing bertanya tentang kecelakaan, ia bisa kabur. Dari kontrakan sepi seperti itu, ia bisa hilang dalam semalam."
Bagas diam. Aileen mengangkat badannya pelan, siku menekan kasur, dan dari ambang pintu Bagas menoleh.
"Kamu mendengar."
"Semuanya." Aileen menarik selimut. "Masuk, Gio. Jangan di lorong."
Gio masuk dengan topi di tangan, rambutnya masih lembap oleh keringat perjalanan. Di belakangnya, Bagas menutup pintu tanpa suara dan berdiri bersandar pada daun pintu, tangan terlipat, rahang mengeras.
"Aku berangkat sekarang," katanya.
"Sekarang jam sembilan malam."
"Dua jam. Jam sebelas aku sampai."
"Lalu kamu menggedor pintu rumah orang yang istrinya sakit, tengah malam, dan kamu pikir ia akan membukanya dengan senang hati?" Aileen menatapnya datar. "Dia sudah lari sekali. Dia akan lari lagi."
"Kalau begitu Gio ..."
"Gio juga tidak bisa. Dia asing, kamu asing." Aileen melirik ke pojok kamar. "Aku bisa."
Bagas mengikuti arah tatapannya, ke ruang kosong di dekat lemari. Di sana Aira berdiri, tipis seperti gambar di kaca embun, tapi wajahnya tegang.
"Dia bilang apa?" tanya Bagas pelan.
"Dia bilang dia mau ikut." Aileen menarik napas. "Dan dia tahu hal-hal tentang Pak Darsa yang tidak diketahui orang lain. Anaknya, istrinya, hal kecil. Hal yang membuat Darsa percaya aku bukan penagih."
"Kamu baru dioperasi."
"Aku tahu."
"Kamu belum bisa naik tangga sendiri."
"Aku tahu. Aku tetap ikut."
Bagas menatapnya lama. Kemarahan yang Aileen kira akan muncul tidak datang. Yang muncul justru kekalahan kecil, seperti orang yang menyadari sudah kalah argumen sebelum bicara. Ia menggosok wajah dengan telapak tangan.
"Aku tidak akan menyentuh Darsa," katanya, dan suaranya rendah, bukan kepada Gio, bukan kepada ruang kosong, melainkan kepada Aileen. "Kalau kamu tidak mau."
"Aku tidak mau."
"Aku akan menahan diri."
"Itu bukan janji."
"Aku berjanji." Bagas mengangkat kepala. "Aku tidak memukul. Aku tidak mengangkat kerah. Kamu yang berbicara, aku berdiri di belakangmu."
Aileen menatap mata itu. Dulu mata yang sama menatapnya di kafe sambil melempar amplop. Dulu tangan yang sama menahannya di rahang. Ia menunggu rasa curiga yang biasanya datang, tetapi rasa itu hanya lewat sebentar lalu hilang.
'Aku percaya padanya,' pikirnya, dan terkejut karena kalimat itu tidak terasa seperti kekalahan. 'Pelan-pelan. Tanpa kusadari.'
"Baik," kata Aileen.
Gio, yang sejak tadi mempelajari ujung sepatunya, berdeham. "Maaf, Pak. Soal dokter ..."
"Aku telepon." Bagas merogoh saku. Lalu ia berhenti, melirik jam di dinding, dan menurunkan ponsel lagi. "Tunggu. Gio, kamu sudah makan?"
"Sudah, Pak."
"Bohong."
"Roti di mobil."
"Ke dapur. Minta nasi ke Ma. Bilang aku yang menyuruh, dan bilang jangan bertanya apa-apa kepadamu sampai kamu selesai makan." Bagas menunggu sampai Gio mengangguk dan keluar, baru ia menoleh kepada Aileen. "Aku menelepon Mahesa dari ruang kerja. Kamu tidur lagi."
"Aku tidak mau tidur."
"Aileen."
"Aku mau mendengar."
Bagas hampir membantah, lalu tidak jadi. Ia justru mengambil ponsel itu dan menyalakan pengeras suara di kamar, di dekat nakas, supaya Aileen tak perlu menebak-nebak. Itu hal kecil. Tetapi Aileen mencatatnya.
***
"Ai." Aira mendekat begitu Bagas keluar sebentar untuk mengambil air hangat. Ia melayang lebih dari berjalan, dan tepi gaunnya bergoyang seperti terkena angin yang tidak ada. "Kamu serius akan pergi?"
"Serius."
"Aku takut."
"Kamu tidak harus ikut."
"Bukan itu." Aira duduk di tepi ranjang, tidak menekan kasur sedikit pun. "Aku takut kamu terluka. Aku takut Pak Darsa melihatku di sana. Aku takut ... kalau ia memang melakukannya."
Aileen menunggu. Ia belajar bahwa kalau Aira berhenti, biasanya masih ada kalimat yang sedang disusun.
"Dia mengajarku naik sepeda," lanjut Aira. "Pak Darsa. Di halaman belakang rumah ayah Bagas, waktu aku baru jadi menantu dan tidak bisa apa-apa. Aku jatuh tiga kali, ia tidak tertawa. Ia bilang, Non, jatuh itu bagian dari belajar. Tahun lalu anaknya masuk SMP, dan ia kekurangan uang untuk sepatu sekolah. Aku titip uang lewat Cintya supaya ia tidak malu." Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak percaya orang seperti itu bisa melonggarkan rem."
"Orang bisa melakukan hal yang tidak dipercaya kalau terdesak."
"Aku tahu." Aira mengusap pipi dengan lengan bajunya yang tembus pandang. "Itu yang paling menakutkan."
"Kita dengar dulu dari dia."
"Kalau ia memang melakukannya, kamu akan membuat Bagas tetap tenang?"
"Aku sudah janji."
"Bukan, kalau Bagas benar-benar marah. Kamu lihat sendiri bagaimana dia waktu di ruang kerja. Kursi itu terbang." Aira menggigit bibir. "Ai, aku tidak mau Bagas menjadi orang yang melukai orang tua."
"Aku juga tidak." Aileen mengulurkan tangan, tanpa menyentuh, hanya sejengkal dari tangan Aira di atas selimut. "Kali ini aku yang jaga dia."
Aira menatap tangan itu, lalu tersenyum, dan senyum itu lebih jelas daripada yang ia miliki beberapa hari terakhir.
***
Mahesa menjawab pada dering keempat, dengan suara orang yang baru ditarik dari tidur. "Pak Bagas. Ada masalah?"
"Tidak, Dok. Hanya satu pertanyaan." Bagas menaruh ponsel di speaker dan meletakkannya di nakas, di antara gelas air dan botol obat. "Ada seseorang yang harus kami temui, di kota kecil, dua jam dari sini. Aileen ingin ikut. Saya tahu jawabannya sebelum bertanya, tetapi saya harus tanya."
Hening di seberang, lalu terdengar bunyi seprai disibak.
"Pasien saya baru tujuh hari."
"Sembilan hari," ralat Aileen.
"Sembilan hari sejak operasi," ulang Mahesa kering. "Aileen, itu Anda?"
"Iya, Dok."
"Anda sadar apa maksud kata operasi pada perut?"
"Sadar, Dok."
"Seberapa penting urusan itu?"
Aileen memandang Bagas, lalu ruang kosong tempat Aira berdiri dengan jari-jari saling mencengkeram. "Penting sekali, Dok. Bukan untuk saya."
Mahesa menghela napas panjang. "Saya tidak suka ini."
"Saya tahu."
"Kalau saya melarang, Anda tetap pergi?"
"Saya akan membujuk Dok dulu."
"Anda berani." Ada sesuatu seperti tawa tertahan di nada itu. "Dengar baik-baik. Jangan naik motor, tentu saja. Mobil yang paling empuk. Bantal di punggung dan di bawah perut. Berhenti tiap tiga puluh menit supaya kaki Anda bergerak. Jangan jalan kaki jauh. Jangan tegang. Kalau perut Anda terasa keras, nyeri tajam, atau demam, putar balik, dan saya tidak mau dengar alasan."
"Saya janji."
"Dan ada satu orang lagi."
"Siapa?" tanya Bagas.
"Daren." Mahesa menguap, tidak menyembunyikannya. "Saya tidak bisa ikut. Daren dokter, dan dia keras kepala cukup untuk menahan mobil kalau perlu. Hari yang paling aman Selasa, supaya Anda sempat istirahat dulu. Selasa, dua jam, duduk, dan Daren ikut."