Kursi roda itu berderit tiap kali rodanya melewati sambungan ubin, dan Aileen menghitung deritnya sepanjang koridor lantai tiga seperti anak kecil menghitung tiang listrik dari jendela mobil.
"Bubur, bukan nasi. Enam kali sehari, porsi kecil. Air putih yang cukup, tapi jangan sekaligus. Tidak ada angkat beban, tidak ada tangga sendirian, tidak ada naik mobil lebih dari setengah jam tanpa istirahat." Mahesa menyerahkan map berisi jadwal kontrol kepada Bagas, bukan kepada Aileen. "Pak Bagas yang pegang jadwal ini. Dia terlalu pintar mengelak."
"Saya mendengar itu, Dok," sahut Aileen dari kursi roda.
"Saya memang mengatakannya supaya didengar."
Jumat pagi itu langit mendung tipis. Rumah sakit terasa lain dilihat dari kursi roda yang didorong keluar dengan semua urusan administrasi selesai. Lorong yang dulu membuatnya ingin lari kini tampak biasa saja, hanya ubin dan lampu dan orang-orang yang terburu-buru.
Daren menunggu di lobi dengan jas putih tersampir di lengan. "Aku antar sampai mobil."
"Daren, kamu punya jadwal."
"Pasienku sekarang dua." Ia berjalan di samping kursi roda dengan tangan di saku. "Satu sedang pulang, satu masih tidak mau makan sayur."
"Siapa yang tidak mau makan sayur?"
"Bagas."
"Aku mendengarnya," kata Bagas dari belakang.
Di dekat pintu keluar, dua sosok melambai dari balik pilar: Mardiana dengan rajutan setengah jadi, Rachel dengan gaya dramatis seolah melepas kapal. Aileen mengangkat tangan sedikit dan tersenyum. Rachel memeletkan lidah, lalu menyeka mata cepat-cepat, seakan itu gerakan yang berbeda.
Aira sudah menunggu di dalam mobil, duduk di kursi belakang yang tidak berkurang apa pun akibat bobotnya, wajahnya putih seperti kapas.
"Kamu kuat ikut sampai rumah?" bisik Aileen begitu pintu tertutup dan Bagas sedang berbicara dengan Gio di luar.
"Aku tidak harus kuat. Aku cuma duduk." Aira menoleh ke jendela. "Aku mau melihat gerbangnya."
"Kenapa?"
"Karena akhir-akhir ini aku suka melihat hal-hal yang kupikir tidak akan kulihat lagi." Aira menyentuh jendela dengan jari yang tidak meninggalkan bekas. "Jangan bikin wajah itu, Ai. Aku sedang senang."
***
Gerbang rumah terbuka lebar ketika sedan hitam itu masuk. Penjaga gerbang yang dulu berpura-pura membaca koran berdiri tegak dengan topi di dada. Tukang kebun membungkuk. Aileen hampir tertawa melihat barisan itu. Seakan-akan ia ratu yang kembali dari perang, bukan perempuan kurus bertopi rajut yang tak sanggup menahan kepalanya lebih dari dua jam.
Gio membuka pintu mobil, tetapi Bagas mendahuluinya dan berdiri di sisi Aileen.
"Kamu bisa jalan?"
"Lima meter. Mungkin."
"Teras lima belas meter."
"Aku bisa sepuluh."
"Kalau begitu sisanya?" Bagas menunduk sedikit. Suaranya turun, sengaja agar hanya ia yang mendengar. "Boleh?"
Aileen menatap tangan itu, yang terbuka di antara mereka tanpa memaksa. Ia teringat rahangnya yang pernah dicengkeram di rumah sakit, hari yang kini terasa berabad lalu. Tangan yang sama. Tetapi sekarang tangan itu menunggu.
Ia mengangguk.
Bagas mengangkatnya dengan hati-hati, satu lengan di bawah lutut dan satu di punggung. Berat Aileen hampir tidak terasa, dan ia sadar hal itu menyakitkan baginya. Aileen menahan napas, bukan karena takut, tetapi karena detak jantung di dada yang menempel itu kuat sekali.
"Ringan," gumam Bagas. "Terlalu ringan."
"Aku sedang diet."
"Tidak lucu."
"Sedikit."
Di teras, Cintya menunggu dengan celemek. Pradipta berdiri di belakangnya dengan kedua tangan dikepal di punggung, wajahnya sekaku patung yang sedang berusaha tersenyum. Di depan kakinya ada kursi roda baru, mengilap, dengan pita merah kecil yang jelas dipasang seseorang yang tidak ia izinkan mengatakan siapa.
"Ini," ujar Pradipta, menunjuk kursi roda itu seperti menunjuk barang dagangan. "Gio bilang yang ini paling ringan. Roda besar, jok empuk. Saya tidak tahu ukurannya. Kalau tidak cocok, kita ganti."
"Om ..." Aileen menatap pita merah itu dan lehernya tercekat. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih untuk benda." Pradipta berdeham. "Itu cuma kursi."
"Beliau sendiri yang memilih pitanya," bisik Cintya, cukup keras untuk didengar semua orang.
"Cintya."
"Warnanya merah, lho."
Bagas mendengus. Aileen tertawa, dan perutnya langsung protes, jadi ia menempelkan wajah ke bahu Bagas sebentar untuk meredam suaranya. Bagas membeku setengah detik, lalu tetap berdiri dan tidak bergerak.
***
Kamar yang disiapkan Cintya berada di lantai bawah, bekas ruang baca di ujung lorong: rak buku sudah dikosongkan separuh, ranjang sempit dipasang berhadapan dengan jendela taman, dan di ambang jendela berjejer tiga pot kaktus yang dipindahkan dari lantai atas. Pak Utang tampak berkuncup dua.
Aileen tidur siang, bangun sore, makan dua sendok bubur, tidur lagi. Rumah itu pelan dan hangat. Dari dapur terdengar Cintya memarahi panci.
"Kamu bangun?" Cintya menyembul di pintu dengan nampan. "Bubur kedua, resep Tante. Rasanya masih kurang garam karena kata dokter kamu harus hati-hati. Tapi ada kecap ikan seujung sendok. Ssst, jangan bilang Mahesa."
"Tante menyuap saya dengan kecap ikan?"
"Seujung sendok." Cintya duduk di tepi ranjang dan memandang Aileen lebih lama dari yang diperlukan. "Bagas tidur di lantai koridor ICU malam pertama, lalu di kursi dua malam berikutnya. Gio sampai membawa bantal tiga kali. Tante tidak pernah melihat anak itu begitu keras kepala untuk orang lain."
"Tante ..."
"Tante tidak minta kamu menjawab apa-apa." Cintya menepuk lengannya. "Makan dulu."
Malam datang. Lampu meja hanya menyala setengah.
"Boleh masuk?"
"Masuk."
Bagas masuk, membawa dua gelas air putih dan menaruh satu di nakas. Ia duduk di kursi dekat pintu, tidak mendekat, dengan lutut terbuka dan tangan terpaut di antara keduanya. Cukup lama ia tidak berkata apa-apa.
"Aku takut sekali," ucapnya akhirnya.
Aileen tidak menjawab dulu.
"Waktu kamu di ruang operasi. Lima jam. Aku berdiri di depan pintu itu dan aku ... berpikir tentang kemungkinan yang selama ini tidak berani kupikirkan." Rahangnya mengeras lalu lemas. "Aku sudah kehilangan sekali. Aku tidak tahu apakah aku sanggup dua kali."
"Aku tidak berniat pergi."
"Itu bukan sesuatu yang bisa kamu janjikan."
"Memang bukan." Aileen memandang langit-langit. "Tapi aku bisa janji aku akan berusaha. Aku bisa makan bubur. Aku bisa tidak lari dari jadwal kontrol. Aku bisa ... " Ia berhenti, kehabisan napas. "Aku juga takut, kamu tahu."
"Aku tahu."
"Kamu tidak boleh menganggap itu cuma milikmu."
Bagas menatapnya. Dalam cahaya setengah itu, matanya tampak tidak setajam biasanya. "Baik."
Mereka diam. Di luar, jangkrik berbunyi. Aileen merasakan kelopak matanya turun, sedikit demi sedikit, dan suara Bagas yang mengatakan sesuatu tentang selimut menjadi jauh dan lembut.
Aira, yang berdiri di pintu sejak tadi, memandang keduanya lama, lalu tersenyum, dan melangkah keluar sebelum ada yang melihatnya.
Pintu diketuk dua kali, keras, cepat.
"Pak." Suara Gio, nyaris tak terdengar. "Pak, kami menemukan Pak Darsa."