Senin pagi, Mahesa masuk membawa map biru yang sama dan duduk di kursi tamu tanpa basa-basi. Itu pertanda, Aileen sudah belajar. Dokter yang akan menyampaikan kabar buruk berdiri dekat pintu. Dokter yang akan menyampaikan kabar baik duduk, karena ia tahu pendengarnya perlu waktu mencerna.
Bagas duduk di kursi sebelahnya dengan kemeja yang bukan kemeja kemarin. Cintya, di seberang ranjang, memegang tas kecil dengan dua tangan seperti orang menunggu pengumuman undian.
"Hasil patologi sudah keluar," kata Mahesa. Ia membuka map. "Saya baca langsung supaya tidak ada yang salah paham. Tepi sayatan bersih, artinya tidak ditemukan sel kanker di batas jaringan yang kami angkat. Dua puluh dua kelenjar getah bening kami periksa, semuanya negatif."
Tak ada yang bergerak. Cintya mengedip pelan, dan satu-satunya bunyi di kamar itu adalah detak mesin infus.
"Negatif itu ..." Bagas berhenti. "Maksud saya, artinya baik?"
"Artinya sangat baik, Pak Bagas." Mahesa menutup map. "Itu belum berarti selesai. Kemoterapi lanjutan tetap perlu, karena kami ingin memastikan tidak ada sel yang lolos dari pemeriksaan. Tapi itu menunggu Aileen pulih dulu, kira-kira dua sampai tiga pekan. Tubuhnya harus cukup kuat."
Aileen meremas selimut. Ia sudah menyiapkan kalimat bijak untuk saat seperti ini. Yang keluar justru: "Jadi aku boleh makan kerupuk?"
Mahesa menatapnya sebentar. "Tidak."
"Nasi?"
"Bubur. Seminggu. Lalu bertahap."
"Dok kejam."
"Saya sering dituduh begitu oleh pasien yang sedang sehat." Sudut mata Mahesa mengerut di balik kacamata. "Selamat, Aileen."
Cintya menangis lebih dulu, tanpa suara, bahunya gemetar. Bagas hanya menatap lantai dengan tatapan orang yang baru menaruh beban yang ia pikul berhari-hari. Lalu ia berdiri, berjalan ke jendela, membelakangi mereka semua, dan tetap di sana sampai Mahesa pamit.
"Dia menangis," bisik Cintya kepada Aileen, begitu pelan.
"Aku tahu, Tante."
"Jangan bilang kamu melihat."
"Aku tidak melihat apa-apa."
Mereka berdua tersenyum, dan Bagas, yang pendengarannya tajam tapi tak mengaku, tetap menghadap jendela.
***
Sore itu kamar sepi. Bagas dipanggil ke kantor oleh ayahnya, yang menurut Gio "kebetulan sekali ingin makan siang bersama hari ini". Cintya turun ke kantin. Denis kuliah. Aileen sendirian dengan sedotan dan jendela dan cahaya jingga yang jatuh di lantai.
"Ai."
Ia menoleh. Aira berdiri di dekat tirai. Wajahnya lebih pucat dari hari Jumat. Tangannya bisa dilihat tembus sampai ke tulangnya, kalau hantu punya tulang, dan gaun bunganya hampir sewarna dengan dinding.
"Kamu bilang kemarin kamu sudah baikan."
"Aku bohong." Aira duduk di kursi pelan-pelan, seperti orang yang takut kursinya hilang. "Aku capek, Ai. Tenaga yang kupakai di ruang operasi itu ... ternyata banyak. Aku tidak menghitung."
"Berapa lama sampai pulih?"
Aira diam. Itu jawaban pertama.
"Aira."
"Mungkin tidak pulih." Ia mengatakannya cepat, seperti mencabut plester. "Aku merasakannya tiap hari. Seperti garam di air hangat. Sedikit demi sedikit aku melarut. Bukan hari ini, bukan besok. Tapi aku tahu waktuku lebih pendek daripada sebelum kamu masuk ruang bedah."
Mulut Aileen terasa kering. "Kalau begitu kamu salah. Tidak seharusnya kamu menolongku."
"Jangan bilang begitu. Aku tidak menyesal."
"Aku yang menyesal."
"Ai." Aira mengangkat tangannya, lemah. "Aku mau berjanji sesuatu denganmu. Kamu bersedia?"
"Apa?"
"Pesan terakhirku untuk Bagas. Aku belum siap menyampaikannya. Aku belum tahu kata yang tepat, jadi tidak sekarang. Tapi sebelum aku hilang, kamu yang akan membawakannya kepadanya. Kata demi kata. Janji?"
Aileen menatap mata itu, mata yang selama ini selalu membuatnya merasa ditemani, dan kini tampak sangat letih.
"Janji," katanya.
***
Bagas pulang ke kamar rawat pukul enam, membawa kantong kertas dan wajah orang yang baru selamat dari sidang.
"Ayah mengajakku makan siang," ujarnya sambil menaruh kantong itu di meja. "Katanya ingin tahu kabar. Dua jam kami duduk, ia menanyakan kabarmu tiga kali dan kabarku nol kali."
"Itu bagus."
"Itu mengesalkan." Bagas membuka kantong. Di dalamnya ada kotak bubur ayam dari kedai dekat kantor, masih hangat. "Ayah menitipkan ini. Katanya bukan untuk dimakan, cuma untuk dilihat. Aku bilang itu aneh. Ia bilang Cintya yang menyuruh."
Aileen tertawa kecil, hati-hati agar perutnya tak protes. "Tante Cintya pintar."
"Ibuku licik, itu namanya." Bagas menarik kursi, dan kali ini duduknya tidak kaku. Ia memandang Aileen lebih lama dari yang diperlukan. "Hasil itu. Negatif. Aku masih mengulangnya di kepala."
Di balik tirai, Aira berdiri tegak sebisanya dan tersenyum kepada punggung Bagas, senyum yang tidak pernah akan ia lihat. Aileen menahan napas. Ia ingin mengatakan semuanya sekarang juga, tentang pinjaman, tentang garam di air hangat, tentang janji. Tetapi wajah di depannya masih terlalu kurus, terlalu baru bernapas lega.
"Iya," katanya. "Negatif."
Bagas mengangguk, lalu bersandar, dan untuk beberapa menit mereka hanya mendengarkan mesin infus menetes.
***
Mardiana datang malam hari, saat lorong sudah sepi dan suara roda troli hanya terdengar sekali dalam sepuluh menit. Ia duduk di kursi Cintya dan merajut tanpa mengucapkan apa-apa selama beberapa lama, jarum bajanya menimbulkan bunyi halus yang menenangkan.
"Bu Mar," bisik Aileen. "Aira bilang dia melarut."
"Anak itu jujur sekali." Mardiana tidak mengangkat kepala. "Dia benar."
"Kenapa dia bisa menyentuhku di ruang operasi? Padahal di atap dulu juga bisa, tapi sesudah itu tidak pernah."
"Itu sudah kutunggu pertanyaannya." Mardiana meletakkan rajutan di pangkuannya. "Nak, kamu ingat cahaya di sekelilingmu waktu di atap? Waktu Aira menarikmu?"
"Iya. Aku nggak pernah tahu itu apa."
"Itu punyamu. Sebagian orang punya cahaya yang lebih terang dari yang lain, dan di antara hidup dan mati, cahaya itu bisa menjadi pinjaman. Hantu yang terikat kepadamu, yang tidak punya raga, bisa memakainya sebagai badan sementara. Hanya saat kamu sangat lemah. Hanya sebentar." Mardiana menatapnya lurus. "Di atap, kamu hampir menyerah. Di ruang operasi, kamu hampir terlepas. Dua kali. Dua kali Aira memakai badan yang kamu pinjamkan tanpa sadar."
"Dan itu menghabiskan tenaganya."
"Bagi hantu yang masih terikat, memberi terlalu banyak sama dengan memudar." Suara Mardiana halus. "Atau kalau pesannya sudah selesai, ia pergi. Dua jalan yang sama."
Aileen memejamkan mata. "Jangan beri tahu Bagas, Bu Mar."
"Kenapa?"
"Dia akan menyalahkan dirinya lagi." Ia membuka mata. "Dia baru mulai makan teratur. Aku tidak mau dia mendengar bahwa Aira memudar karena aku."
"Itu pilihanmu." Mardiana mengangkat rajutannya lagi. "Tapi jangan menyimpannya terlalu lama. Rahasia seperti itu bisa membengkak."
Pintu terbuka dan Mahesa muncul dengan senter kecil, mengangguk pada kursi kosong tanpa tahu siapa yang sedang duduk di sana. Ia memeriksa infus, termometer, dan selang di sisi ranjang. "Suhu normal. Kalau demamnya tidak naik, Jumat Anda pulang."