"Dia sudah menunggu sejak kemarin," kata Bagas.
Aileen membuka mata untuk pertama kalinya Kamis sore, dan yang ia ingat hanya langit-langit putih, selang di hidung, dan wajah Bagas yang tidak sempat menyusun ekspresi apa pun. Lalu ia tertidur lagi.
Kamar rawat itu sudah bukan ICU. Ranjangnya lebih lebar, jendelanya menghadap pohon ketapang yang daunnya mulai menguning, dan Aileen sudah boleh duduk setengah bersandar sambil menghirup air putih sedikit demi sedikit dari sedotan. Perutnya masih terasa seperti ada orang yang menjahitnya terlalu kencang, tapi kepalanya jernih. Itu sudah lebih dari cukup untuk Jumat pagi.
"Sejak kemarin di lorong?"
"Di bangku besi depan kaca. Gio belikan nasi, ia tidak mau makan. Denis bilang ia pulang hanya untuk mandi lalu kembali." Bagas berdiri di kaki ranjang, tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tampak lebih kurus dalam tiga hari, dengan bayangan gelap di bawah mata yang tidak pernah hilang. "Kamu boleh menolak. Aku sudah bilang kepadanya bahwa keputusannya di kamu."
Aileen menatap sedotan di gelasnya. "Dia bilang mau apa?"
"Lima menit. Sebelum terlambat."
"Itu kalimatnya?"
"Itu kalimatnya."
Di sudut dekat jendela, Aira duduk di lantai, bersandar ke dinding, warna tubuhnya sedikit lebih jelas daripada kemarin tetapi belum seperti dulu. Ia mengangkat bahu kecil tanpa suara. "Terserah kamu," katanya tanpa suara. "Tapi dengarkan dulu."
"Panggil dia," ujar Aileen. "Kamu tunggu di luar."
"Aku di luar."
"Pintunya jangan ditutup rapat."
"Baik." Bagas berhenti di ambang. "Aileen."
"Apa?"
"Kalau dia membuatmu jatuh lagi, bilang. Aku tidak akan membentak. Aku hanya akan membawanya ke lift."
Sudut bibir Aileen naik sedikit. "Itu tadi bentuk lain dari membentak."
"Ya," Bagas mengakui, dan keluar.
***
Nani masuk dengan langkah yang tidak biasa. Ia tidak menyapa, tidak langsung menangis, tidak membawa apa-apa selain tas kecil lusuh yang dipeluknya di depan dada. Ia menarik kursi dan duduk di tepinya, sedikit sekali, seperti orang yang takut tempat itu diminta kembali.
"Kamu nggak kelihatan sesakit yang Ibu bayangkan."
"Aku sudah tiga hari di sini, Bu."
"Iya." Nani menunduk. Jarinya mencengkeram tali tas sampai putih. "Ibu mau bilang satu hal. Cuma satu. Kamu dengarkan sampai habis, setelah itu kamu mau teriak atau mengusir, Ibu pergi."
Aileen diam. Nani mengambil itu sebagai izin.
"Kamu bukan anak haram, Ai."
Hening. Dari lorong, roda troli berderit lewat, lalu hilang. Aira di sudut menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aileen merasa darah di wajahnya naik, bukan karena marah, melainkan karena sesuatu yang lain, yang belum punya nama.
"Apa?"
"Ayahmu, Fahrul, itu suami sah Ibu. Kami menikah di balai desa, ada saksinya, ada buku nikahnya. Ibu simpan sampai sekarang di kotak sepatu." Nani menelan ludah. "Waktu kamu kecil, Ibu bilang kamu anak di luar nikah. Ibu bilang itu berkali-kali sampai kamu percaya. Itu bohong."
"Kenapa?" Suara Aileen keluar lebih kecil dari yang ia inginkan.
"Karena Ibu mau kamu benci Ibu." Nani mengangkat wajah dan matanya merah. "Kalau kamu pikir kamu lahir dari Ibu yang kotor, kamu nggak akan mencari Ibu waktu Ibu pergi. Kamu nggak akan minta Ibu pulang."
"Ibu pergi karena apa?"
"Karena Ibu nggak tahan miskin." Nani tertawa pendek, pahit, tanpa humor. "Dan karena ayahmu keras kepala, Ai. Ia nggak mau pindah ke kota, nggak mau menjual tanah, nggak mau menerima tawaran kerja dari kakaknya. Ibu capek. Ibu bilang pergi, dia bilang pergi. Itu saja. Kanker itu datang bertahun-tahun kemudian, Ibu nggak tahu apa-apa soal itu. Ibu baru kembali waktu ia meninggal."
"Waktu Ayah meninggal." Aileen mengulang kalimat itu perlahan. "Ibu datang, ambil uang duka dan sertifikat rumah. Ibu bilang itu hak istri."
"Itu memang hak istri, tapi caranya salah." Nani tidak menghindar dari tatapan itu, dan itu yang paling mengejutkan. "Ibu ambil karena Ibu tahu kamu masih anak-anak dan nggak bisa melawan. Ibu bilang kepada diri sendiri itu untuk kamu juga. Itu bohong lagi. Uangnya habis di meja Koh Aling."
Aileen menarik napas yang menyakitkan. Ia menatap jendela, dan daun ketapang yang kuning bergoyang di balik kaca. Ada hal-hal yang ia kira akan membuatnya menjerit kalau didengar. Ternyata bukan menjerit. Ia hanya terlalu lelah untuk itu, dan di bawah kelelahan itu ada air mata yang meluncur tanpa ia suruh.
"Terlambat, Bu," katanya.
"Ibu tahu."
"Bertahun-tahun terlambat."
"Ibu tahu." Nani menutup mulut dengan tangan. Bahunya naik turun. "Ibu cuma nggak mau mati tanpa bilang itu."
"Ibu tidak akan mati."
"Kamu yang nggak akan mati, Nak." Nani menggeleng. "Ibu yang takut. Waktu lihat kamu di ICU, kecil, kurus ..."
Aileen memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya, ia melihat bubur di nampan di meja samping, yang belum tersentuh sejak pagi. Ia tidak tahu kenapa ia mengatakannya.
"Suapi aku."
Nani terpaku. "Apa?"
"Sekali. Sekali saja, Bu." Aileen menunjuk mangkuk dengan dagu. "Bukan karena aku sudah memaafkan. Aku belum tahu. Aku hanya ... mau tahu rasanya."
Tangan Nani gemetar waktu mengambil sendok. Ia menyendok bubur yang sudah dingin, meniup, lalu mengulurkannya dengan hati-hati, seolah-olah itu porselen. Aileen membuka mulut. Rasanya hambar dan terlalu lembek, tetapi ia menelannya, dan Nani menangis keras sekali hingga Aira di sudut ruangan memalingkan wajah.
***
Bono datang sore itu dengan satu kantong jeruk dan kemeja yang dikancing sampai leher.
Ia berdiri di depan pintu terlalu lama, sampai Denis menarik tangannya masuk. Rambutnya sudah dipotong rapi, wajahnya kurus, dan matanya tidak berani naik ke atas ranjang.
"Aileen," ucapnya. Lalu, setelah jeda yang panjang: "Aku bawa jeruk. Kata Denis kamu belum boleh makan, tapi nanti ... boleh."
"Taruh di meja."
"Iya." Ia menaruhnya. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena mabuk. "Aku mau minta maaf."
"Untuk yang mana saja?"
Bono menarik napas dan menyebut satu per satu, dengan suara rendah seperti orang membaca daftar belanja yang memalukan: batu bata lima tahun lalu, uang yang diminta, malam di gerbang, jaminan nama. Denis di sebelahnya mengeras seperti kayu. Di pintu, Bagas bersandar ke kusen tanpa suara.
"Aku mau masuk rehabilitasi," kata Bono akhirnya. "Yang dibilang Pak Bagas. Delapan minggu. Aku tanda tangan sendiri. Kalau nggak sanggup, aku nggak akan lari."
"Berjanji kepada siapa?"
"Kepadamu." Bono menelan ludah. "Dan kepada Denis."
Denis sudah tak bisa menahan. Air matanya jatuh saat ia mengusapnya dengan lengan baju, malu karena dilihat. Aileen mengulurkan tangan ke arahnya, dan adiknya menggenggamnya erat-erat, menempelkan dahi ke punggung tangan itu.
Dari ambang pintu, Bagas melihat semua itu, lalu pergi tanpa suara.
Di lorong, Mahesa bertemu dengannya, memegang map biru. "Pak Bagas. Hasil patologinya baru keluar Senin pagi."