"Belum sadar itu maksudnya apa, Dok?" Suara Bagas keluar datar, seperti orang yang sengaja menekan semua yang ada di bawahnya.
"Maksud saya persis seperti yang saya katakan." Mahesa tidak mundur. "Bius dalam belum habis, tubuhnya baru menerima pembedahan besar, dan ada pendarahan tadi. Ia dipindahkan ke ICU supaya kami bisa memantau tiap menit. Saya mengharapkan ia bangun dalam beberapa jam. Kalau sampai besok pagi belum, kita bicara lagi."
"Boleh saya melihatnya?"
"Sepuluh menit, satu orang, sesudah ia dirapikan." Mahesa melirik Denis yang masih setengah berdiri. "Keluarga inti, bergantian. Mulai besok, jam kunjung dua kali sehari."
"Saya suaminya," ujar Bagas. Ia mengatakannya tanpa menoleh ke siapa pun, seolah sudah lama ia berlatih, dan tak seorang pun di ruang tunggu itu membantahnya.
Mahesa mengangguk sekali dan pergi.
Sepuluh menit itu Bagas habiskan berdiri di samping ranjang, tidak berani menyentuh apa pun selain pagar besi di tepinya. Selang di hidung Aileen berdesis lembut. Layar di atas kepalanya menampilkan angka-angka hijau yang tidak ia mengerti, dan wajah di bantal itu putih seperti kertas, topi rajut dilepas, kulit kepalanya yang pernah ia cukur sendiri tampak licin di bawah lampu.
"Kamu bilang kamu akan bangun," bisiknya. "Itu perintah. Aku tidak suka kalau perintahku diabaikan."
Tentu saja tak ada jawaban. Perawat menepuk lengannya tiga kali sebelum ia mau keluar.
Malam itu ia menolak pulang. Cintya membawa selimut. Gio membawa bantal. Denis dan Paman Barito diantar pulang paksa oleh Daren, yang menjanjikan akan mengabari tiap jam. Bagas tidur, kalau itu bisa disebut tidur, di lantai koridor bersandar pada dinding di depan kaca ICU, dengan jas dilipat jadi alas kepala.
***
Aileen tidak tahu jam berapa itu.
Yang ia tahu hanya bunyi bip yang teratur, bau karet, dan perutnya yang terasa seperti diinjak sepatu bot. Ia mencoba membuka mata. Kelopaknya berat seperti ditindih batu. Ia mencoba lagi, dan kali ini langit-langit putih bergoyang masuk ke penglihatannya.
"Ai."
Suara itu rapuh, lebih rapuh dari yang ia ingat. Aileen memutar kepala beberapa senti. Aira duduk di kursi di sisi ranjang. Atau lebih tepatnya, bentuk Aira duduk di sana, karena Aileen bisa melihat kursi plastik itu menembus punggungnya. Gaun Peony-nya hampir bening. Rambut panjangnya tampak seperti asap yang ragu-ragu.
"Kamu ... pucat," bisik Aileen. Bibirnya kering dan lidahnya terasa asing.
"Kamu juga." Aira tersenyum, dan senyum itu pun nyaris tidak ada. "Aku sedikit lelah, Ai."
"Karena aku."
"Karena aku yang mau." Aira mencondongkan badan. "Jangan memasang wajah itu. Aku bukan mau membuatmu sedih."
Aileen mencoba menggerakkan tangan. Jarum infus tertarik. "Kamu ... pegang aku tadi."
"Ya."
"Kamu bisa menyentuhku."
"Sekali itu. Dan sekarang tidak." Aira menunjukkan telapaknya, yang bening sampai pagar ranjang terlihat di baliknya. "Nanti Tante Mardiana yang menjelaskan. Sekarang tidur. Bagas ada di luar. Ia tidur di lantai. Aku sudah melihatnya tiga kali."
Alis Aileen mengerut. "Di lantai?"
"Dengan jas jadi bantal. Cintya sampai menyerah."
Sesuatu yang hangat dan konyol naik ke dada Aileen, dan ia tertawa. Hanya satu hembusan pendek, yang langsung membuat perutnya berdenyut hebat. Ia mengerang.
"Jangan tertawa!" desis Aira panik.
"Kamu yang ... bikin."
Perawat jaga muncul dengan senter kecil. Aileen menutup mata sebelum sempat melihat Aira lagi.
***
"Anda tidak tidur," kata perawat berambut pendek itu, bukan pertanyaan, ketika Bagas berdiri kaku di depan pintu kaca pukul enam pagi.
"Saya tidur."
"Dua jam. Saya hitung." Ia menyodorkan secangkir teh hangat dari nampan. "Pasien sempat sadar sekitar pukul tiga. Tidak lama, sekitar satu menit. Ia melihat sekeliling dan bilang satu kalimat."
Bagas menahan cangkir itu tanpa meminumnya. "Apa katanya?"
"Katanya, jangan tertawa." Perawat itu mengerutkan dahi, geli sekaligus bingung. "Saya kira ia berbicara dalam tidur."
Gio yang berdiri tiga langkah di belakang tidak berkomentar, tetapi pandangannya bertemu dengan Bagas sebentar. Sesuatu di wajah Bagas yang semalaman kaku akhirnya mengendur, lalu ia menunduk dan menghabiskan tehnya dalam dua tegukan, seperti anak kecil yang disuruh minum obat.
"Pak," ujar Gio sesudah perawat pergi. "Dokter Mahesa bilang tanda-tandanya baik."
"Aku dengar."
"Bapak mau pulang mandi? Dua jam saja. Saya yang jaga di sini."
"Tidak." Bagas meletakkan cangkir kosong di kursi. "Kalau ia bangun lagi dan melihat lantai kosong, ia akan berpikir aku kabur."
"Aileen tidak akan berpikir begitu."
"Gio." Bagas memandangnya. "Pergi ambilkan aku kemeja bersih. Itu saja."
Gio mengangguk dan berbalik. Di tikungan ia tersenyum kecil yang tidak ia izinkan siapa pun melihat.
***
Kamis siang, Nani berdiri di depan kaca ICU dengan kebaya yang sama seperti hari pernikahan, dikancing lebih rapi dari yang pernah Bagas lihat.
Ia tidak membawa apa-apa. Itu yang pertama Bagas perhatikan. Tidak ada tas besar, tidak ada tangan yang terulur meminta. Ia hanya berdiri, dua tangan mencengkeram kusen, dan menatap ke dalam ke arah ranjang di ujung dengan cara orang yang menonton sesuatu yang tidak sanggup ia sentuh.
"Nak Bagas." Suara Nani serak. Ia tidak menoleh. "Aku tahu kamu nggak suka aku."
"Saya tidak akan menyuruh Ibu pulang," sahut Bagas dari bangku di sampingnya.
Nani menoleh sekilas, matanya sembap. Lalu ia merosot ke bangku di sebelah Bagas, jarak satu kursi di antara mereka, dan menangis diam-diam, bahunya bergetar tanpa bunyi.
Mereka duduk begitu cukup lama. Bagas tidak berkata apa-apa. Ia tidak mengulurkan tisu karena ia memang tidak punya, dan ia juga tidak mengatakan "tenang saja" karena itu kebohongan. Di ujung koridor, lift berdenting. Sepatu Denis terdengar berlari kecil, lalu melambat. Ia datang membawa kantong plastik berisi roti untuk Bagas, dan berhenti di tikungan.
Ibunya dan Bagas duduk berdampingan di bangku besi. Tidak berbicara. Tidak saling menatap. Kepala mereka menghadap ke arah kaca yang sama.
Denis tidak langsung mendekat. Ia hanya memperhatikan sebentar, dan sesuatu di wajahnya yang muda bergeser, seperti orang yang baru sadar bahwa dua orang yang selama ini saling menjauh ternyata bisa berada dalam satu ruang tanpa saling menusuk.
"Denis." Nani mengusap pipi dengan punggung tangan ketika melihatnya. "Dokter bilang boleh masuk sepuluh menit. Kamu duluan."
"Ibu nggak mau masuk?"
"Nanti." Nani menatap kaca. "Aku mau ... aku harus bicara dengan Aileen. Sebelum terlambat."
Denis menahan napas. Bagas menegakkan tubuh.
"Terlambat itu apa maksud Ibu?" tanya Bagas pelan.
"Aku nggak tahu." Nani menggeleng, dan air matanya jatuh lagi. "Itu yang bikin takut."
"Ibu belum cerita apa pun kepada kami," tegur Denis. Suaranya lebih rendah dari biasa, tanpa kemarahan. "Selama ini selalu Kak Ai yang menebak sendiri."
"Karena Ibu pengecut, Nis." Nani mengakuinya begitu saja, tanpa dibujuk. "Ibu mau cerita ke dia dulu. Kalau dia mau dengar. Kalau nggak mau, Ibu pulang."
Bagas menatap perempuan itu lama. Lalu ia berdiri, dan Nani mengira ia akan diusir. Tetapi Bagas hanya menggeser satu kursi ke arahnya, memberi ruang untuk Denis duduk di tengah.
"Perawat bilang ia mungkin bangun siang ini," katanya. "Kalau ia bangun, saya yang menyampaikan. Yang memutuskan mau atau tidak, Aileen."
Nani menelan ludah dan mengangguk pelan. "Bilang saja Ibu minta lima menit," bisiknya. "Sebelum terlambat."