Sosok hitam itu bergerak.
Tidak berjalan. Ia hanya ada di sudut, lalu ada lebih dekat, seperti tinta yang menetes di air bersih. Dinginnya ikut maju. Aileen merasakan sesuatu menarik pergelangan kakinya, padahal ia tidak punya kaki, hanya bayangan dirinya yang melayang di antara lampu dan meja.
"Jangan lihat dia, Ai!" seru Aira.
"Dia menarikku!"
"Aku tahu!"
Tarikan itu makin kuat. Tubuh Aileen di meja operasi mengecil di bawahnya, diselimuti kain hijau, dikelilingi tangan-tangan yang sibuk dan bunyi mesin. Ia ingin berteriak memanggil Mahesa, tetapi tentu saja tak ada yang mendengar. Satu-satunya yang menjawab hanya suara berat dan serak dari arah sudut ruangan, lebih mirip desah daripada kata.
"Lemah ... tapi terang ... sini ..."
"Ai, dengarkan aku." Aira menyilangkan lengan di depan dadanya, menggigil sampai gaun Peony-nya bergetar. "Kamu bercahaya. Kamu tahu itu? Cahaya yang melingkupimu itu keemasan. Aku melihatnya sekarang."
Aileen menunduk. Memang ada. Tipis dan hangat, mengambang di sekeliling bayangannya.
"Aku tidak tahu caranya," bisik Aira. Wajahnya pucat dan matanya terpaku pada sosok hitam yang terus mendekat. "Tapi aku tidak akan membiarkan dia membawamu."
Ia menerjang. Bukan ke arah sosok hitam, melainkan ke arah Aileen. Tangannya menyentuh cahaya keemasan itu dan, untuk sekejap yang mengerikan, ia tembus. Lalu cahaya itu seperti menyatu dengan kulitnya. Telapaknya menjadi padat, berwarna, hangat. Jari-jari itu menutup di pergelangan Aileen.
"Kena," desis Aira.
"Aira, kamu ..."
"Jangan bicara. Pegang aku!"
Tarikan sosok hitam tersentak. Ia mendesis. Dinding-dinding mulai terasa seperti es.
"Bocah gila!" Rachel muncul dari balik lemari instrumen dengan rambut menyala-nyala oleh amarah. "Hei, tukang culik! Ini bangsal kami!"
"Rachel, jangan gegabah," tegur Mardiana, tetapi ia sendiri sudah melangkah maju dengan rajutan terlipat di tangannya. Di belakang mereka, satu demi satu sosok redup menembus tembok: seorang lelaki bersarung, seorang perawat tua berseragam putih lusuh, seorang anak kecil dengan gelang pasien di pergelangan tangannya. Mereka berdiri berjajar, mengelilingi meja.
"Ini rumah kami, Nak," kata Mardiana kepada sosok itu, pelan dan datar. "Kamu pernah sakit di sini, dan kami tahu. Tapi kamu tidak bisa membawa anak ini."
"Dia bercahaya ..." desis sosok hitam.
"Dia bukan lampu untukmu."
Para hantu itu maju bersamaan. Aileen melihat tangan Mardiana yang keriput menyentuh bayangan pekat dan menghangat menjadi putih. Rachel menjerit, menendang, menggigit apa pun yang bisa ia gigit. Anak kecil itu menggenggam ujung baju sosok hitam dan menarik sekuat tenaga sampai ia terhuyung. Tarikan di kaki Aileen merenggang, kendor, lalu putus.
Sosok itu terbelah. Ia menyusut ke sudut dengan bunyi seperti angin keluar dari celah pintu, lalu lenyap di antara dinding dan lemari.
"Cepat, Ai!" Aira menarik. "Pulang!"
"Aku tidak tahu caranya!"
"Ikuti rasa berat itu!"
Aileen memejamkan mata dan mengikuti sesuatu yang paling tidak ia sukai selama ini: rasa sakit di perutnya. Ia menukik.
***
"Tekanan turun lagi," kata seorang perawat.
"Hisap," ujar Mahesa. Suaranya tidak naik satu desibel pun. "Klem. Kain kasa. Lebih banyak lagi."
Ruangan itu bergerak dalam irama yang tak terpengaruh apa pun. Dokter anestesi memantau layar, memutar sesuatu di tabung infus, dan berkata, "Darah dua kantong sudah masuk."
"Tambah satu." Mahesa menunduk. Matanya di balik kacamata pelindung tidak berkedip. "Ada pembuluh yang saya lewatkan. Tahan. Di situ. Di situ."
"Tekanan sembilan puluh. Delapan puluh lima."
"Saya tahu."
Sesuatu di ujung forsepsnya menjepit. Detik berikutnya darah yang membasahi kain kasa mendadak berhenti merembes. Mahesa mengembuskan napas panjang melalui masker.
"Bagus. Tekanan?"
"Sembilan puluh lima. Seratus. Naik."
"Lanjut." Mahesa memandang monitor sebentar. "Dan seseorang tolong bilang kepada pasien bahwa ia sedang melakukan pekerjaan yang bagus."
Tak ada yang tertawa, tetapi bahu perawat di sebelahnya turun sedikit.
***
Di dekat pintu, Aira jatuh berlutut.
Tidak ada bunyi. Lantai ruang operasi tidak menerima berat apa pun darinya. Tetapi ia menunduk dengan telapak menekan tegel, dan Aileen, yang kini kembali tertambat di tubuhnya dan hanya mampu melihat dari sela kelopak yang tak mau terbuka, melihat tangan Aira sedikit demi sedikit kehilangan warna.
"Aku ... baik-baik saja," kata Aira, napasnya patah-patah, padahal hantu tidak bernapas. "Cuma pusing."
"Kamu pucat sekali, Nak," tukas Mardiana. Ia berlutut dan menahan bahu Aira dengan lengan keriputnya. "Itu tenaga. Kamu pakai lebih banyak dari yang kamu punya."
"Dia selamat?"
"Dia selamat." Rachel berjongkok di sisi lain dan mengibaskan tangannya ke wajah Aira seperti orang menyiapkan kipas. "Kamu tahu, kamu itu konyol. Tadi aku pikir kamu mau jadi pahlawan yang meledak."
"Aku tidak meledak."
"Hampir."
"Sudah, sudah." Mardiana menepuk punggung tangan Aira. "Duduk dulu. Jangan berdiri sampai bisa merasakan lantai."
Aira menoleh ke arah meja. Ia memandang Aileen yang terbaring dengan selang di hidung, dengan dada yang naik turun mengikuti mesin, dan senyum kecil yang gemetar muncul di bibirnya.
"Dia bernapas."
"Dia bernapas," ulang Mardiana.
***
Di ruang tunggu lantai tiga, jam dinding berdetak lebih keras dari seharusnya.
Denis duduk di lantai dengan punggung di tembok dan lutut ditekuk. Paman Barito menggenggam topi koboinya sampai pinggirannya kusut. Cintya menutup mulut dengan telapak tangan sudah entah berapa lama. Daren datang dan pergi tiga kali, dan tiap kali kembali tanpa bisa memberi kabar apa pun.
Bagas berdiri di dekat pintu ganda, tidak duduk sejak pukul delapan.
"Pak," kata Gio pelan, menyodorkan segelas air. "Duduklah sebentar."
"Nanti."
"Sudah dua jam."
"Aku bilang nanti." Bagas tidak menoleh. Rahangnya mengeras, dan tangan kanannya, yang tadi pagi menggenggam jemari Aileen, mengepal lalu membuka berulang kali seperti sedang menghitung sesuatu. "Berapa lama operasi seperti ini?"
"Kata Dokter Mahesa, tiga sampai lima jam."
"Ini sudah lima jam."
"Empat jam empat puluh menit." Gio tidak mengoreksi dengan nada membantah. Ia hanya menaruh gelas itu di kursi terdekat. "Pak Bagas, Pak ..."
Daren berhenti di sebelah mereka, jas putihnya kusut. "Aku baru dari koridor bedah. Lampu merah masih menyala, tapi mereka tidak berlari. Itu tanda baik."
"Perawat yang keluar tadi bilang lampunya sempat mati sebentar."
"Itu lampu operasi, Bagas, bukan lampu di pintu." Daren mengusap wajah. "Aku tidak tahu kenapa kamu bertanya, tapi kalau mereka kehilangan seseorang, ruangannya tidak sesunyi itu."
Bagas hanya mengangguk, dan kembali menatap pintu.
Pintu ganda berbunyi, dan semua kepala berputar. Mahesa keluar dengan masker menggantung di leher, topi hijaunya basah di dahi, dan wajahnya lelah sekali, tetapi bukan wajah orang yang membawa kabar buruk. Ia melepas sarung tangan, menatap Bagas lebih dulu karena Bagas yang paling dekat, lalu satu per satu orang yang sudah berdiri tanpa menyadarinya.
"Tadi ada pendarahan," katanya. "Sudah terkendali. Tumornya terangkat, tepinya saya rasa bersih, tapi hasil patologi baru bisa dibaca beberapa hari lagi."
Denis bangkit setengah dari lantai. "Kak Ai ..."
"Operasinya selesai," ujar Mahesa. Ia berhenti sedetik, memilih kata. "Tetapi ia belum sadar."