"Aku bangun," kata Aileen.
Bagas yang berdiri di ambang kamar tamu pukul lima pagi, sudah berpakaian rapi dengan mata merah, menatapnya sebentar. "Iya."
"Kamu bilang itu perintah. Jadi aku lapor. Aku bangun, sesuai perintah, dan sekarang boleh tidur lagi?"
"Tidak."
"Curang."
Bagas tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Dari lorong di belakangnya terdengar langkah Cintya yang buru-buru dan bunyi sendok beradu dengan cangkir. Pagi itu rumah terasa seperti kapal yang sedang bersiap berangkat, semua orang bergerak pelan agar tidak membuat siapa pun takut.
Aira berdiri di ujung ranjang dengan wajah pucat. Ia tidak mengatakan apa-apa. Itu justru yang paling mengganggu Aileen.
***
Ruang tunggu lantai tiga Rumah Sakit Setia Budi dingin dan terlalu terang. Denis sudah duduk di baris kedua, bahu menegang di balik kemeja yang jelas dipakainya paling rapi, dan ketika melihat Aileen didorong dengan kursi roda oleh perawat, ia berdiri seperti terkena listrik.
"Kak Ai."
"Hei." Aileen tersenyum. Topi rajutnya miring, dan ia membetulkannya dengan jari-jari kurus. "Wajahmu seperti mau sidang."
"Memang." Suara Denis pecah. Ia berlutut di depan kursi roda dan menunggu. Aileen menggerakkan tangan, mengizinkan, dan adiknya memeluknya erat, canggung, takut menyentuh jarum infus di punggung tangannya. "Aku bangun jam tiga. Jam tiga, Kak. Aku nggak bisa tidur."
"Kamu nggak boleh nangis sebelum aku masuk. Itu aturan."
"Aturan siapa?"
"Aturanku."
Paman Barito berdiri di belakang Denis dengan topi koboi di tangan, topi yang sama yang dipakainya tiap hari ke pasar. Matanya basah. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menepuk kepala Aileen dengan telapak besar yang kasar. Daren tiba setelahnya dengan jas putih, napas sedikit tersengal, dan menyerahkan sebotol air kepada Denis tanpa banyak bicara. Cintya duduk di ujung bangku dengan tas besar di pangkuan, wajahnya tegar, buku-buku jarinya putih.
Cintya bangkit dan berlutut di sisi kursi roda, mengeluarkan syal biru tua dari tasnya. "Ini untuk sesudahnya," katanya, suaranya sangat rendah. "Tante simpan di tas sampai kamu keluar. Kamu butuh sesuatu yang hangat waktu bangun."
"Tante bilang bangun, bukan kalau."
"Tante bilang bangun." Cintya menekan syal itu ke telapak Aileen. "Tante tidak akan mengganti kata itu."
"Mereka akan menunggu di sini," ujar Daren kepada Aileen. "Aku bolak-balik ke ruang bedah mengecek. Mahesa tim terbaik yang kukenal."
"Kamu bilang begitu terus sejak seminggu lalu."
"Karena itu benar." Daren membungkuk sedikit, merendahkan suara supaya hanya Aileen yang mendengar. "Kalau kamu mendengar suara-suara yang kamu kenal di dalam sana, jangan takut. Mardiana dan Rachel sudah masuk sejak subuh."
"Mereka bilang begitu juga ke kamu?"
"Rachel bilang aku payah." Daren tersenyum miring. "Kali ini kuanggap pujian."
Perawat memberi isyarat. Sudah waktunya.
Aileen memandang mereka satu per satu. Denis menahan bibir bawah dengan gigi. Barito menggenggam topi dengan dua tangan. Cintya memejamkan mata sebentar dan membukanya lagi. Di dekat dinding, Rachel menunggu di bawah papan petunjuk dengan lengan terlipat dan Mardiana di sebelahnya dengan rajutan yang belum pernah Aileen lihat selesai. Mereka mengangguk padanya, Rachel dengan cengiran yang dipaksakan.
"Kami masuk duluan, bocah gila," bisik Rachel saat brankar melewati mereka. "Kami jaga ruangannya."
Bagas berjalan di sisi brankar. Ia tidak berkata apa pun sejak ruang tunggu. Mereka tiba di sebuah pintu ganda dari baja dengan jendela bulat kecil dan tulisan merah: HANYA PETUGAS.
Perawat berhenti.
"Hanya sampai sini, Pak."
Bagas menunduk. Matanya jatuh pada tangan Aileen yang tergeletak di tepi brankar, dan jarinya bergerak sedikit, tidak jadi, lalu bergerak lagi. "Boleh?"
Aileen menatap mata itu. Bukan mata seorang laki-laki yang mengancam dengan surat penagihan, bukan mata yang pernah menyalahkan seorang hantu dan seorang perempuan hidup untuk kesedihan yang tak bisa ia tanggung. Hanya mata yang menunggu.
Ia mengangguk.
Bagas menggenggam tangannya. Hangat, kasar di bagian ibu jari, gemetar, dan terlalu erat sebelum ia sadar lalu melonggarkan. Mereka bergerak bersama sepanjang tiga langkah terakhir.
"Aku di luar," katanya.
"Aku tahu."
"Aku tidak ke mana-mana."
"Iya, Bagas."
"Bangun."
"Itu perintah," Aileen menyelesaikan, dan tersenyum.
Genggaman itu lepas ketika pintu baja terbuka. Ia tidak menoleh ke belakang, karena kalau ia menoleh, ia tidak akan sanggup masuk.
***
Ruang operasi putih dan terang, dengan lampu bulat besar di atas meja yang dingin. Mahesa muncul di sisi kiri dengan masker dan topi hijau, hanya matanya yang terlihat. Seorang dokter lain menyentuh punggung tangannya dengan jarum, dan ia mendengar bunyi mesin yang teratur seperti hujan di atap seng.
"Anda siap?" tanya Mahesa.
"Tidak, Dok."
"Bagus. Berarti normal." Sudut matanya mengerut di balik masker. "Orang yang mengaku siap biasanya yang paling gugup."
"Dok, ginjal saya..."
"Sudah dicatat tiga kali di tiga tempat berbeda. Tim anestesi tahu. Saya tahu." Nada Mahesa tetap tenang. "Satu hal yang tidak perlu Anda kerjakan hari ini: khawatir. Itu tugas kami."
"Aileen." Mahesa menunduk. "Hitung mundur dari sepuluh untuk saya."
"Sepuluh," katanya. "Sembilan. Delapan."
Dingin mengalir naik dari tangan, melewati lengan, dada. Lampu di atasnya melebar dan melunak.
"Tujuh. Enam."
Di sudut pandang yang makin sempit ia melihat Mardiana berdiri di dinding dekat pintu, tangannya berhenti merajut. Rachel di sampingnya, wajahnya sama sekali tidak bergurau.
"Lima."
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya, bukan dingin pendingin ruangan, melainkan dingin yang merembes dari dinding.
"Empat."
Lalu ia merasa dirinya naik. Bukan ke atas, melainkan menjauh dari sesuatu yang berat. Ia menunduk dan melihat dirinya sendiri terbaring di meja operasi, wajah pucat, selang di hidung, topi rajut sudah dilepas, kulit kepalanya yang halus berkilap di bawah lampu. Mahesa dan timnya bergerak di sekelilingnya seperti orang di dalam akuarium.
'Aku di atas,' pikirnya, tanpa takut. 'Rasanya ringan.'
Mardiana menatapnya dengan mata terbuka lebar dan menggeleng pelan: jangan melihat ke sudut.
Terlambat. Ia sudah melihatnya.
Di sudut ruangan, di antara lemari instrumen dan dinding, ada sesuatu yang bukan bayangan. Lebih pekat dari bayangan, tinggi, tanpa bentuk yang jelas, dan ia tahu, dengan kepastian yang menusuk, bahwa benda itu sedang menatapnya.
"Ai."
Sebuah tangan tembus pandang terulur ke bahunya dari belakang dan berhenti sejengkal di atasnya. Aira melayang di sampingnya, gaun bunga Peony-nya bergetar. Wajahnya pucat tetapi matanya terkunci pada sosok hitam itu, tak berkedip.
"Ai, aku di sini."
"Kamu tidak boleh di sini," ucap Aileen. Suaranya tidak keluar sebagai bunyi, tetapi Aira mendengarnya. "Kamu takut tempat tinggi, takut rumah sakit, takut..."
"Aku lebih takut kalau kamu sendirian." Aira mencoba meraih pergelangan Aileen, dan jari-jarinya hanya menembus udara. "Jangan lihat dia, Ai. Lihat aku."
Di bawah mereka, di meja, monitor berbunyi nyaring, panjang, tak putus-putus, dan lampu operasi padam.