"Tolong dibaca pelan-pelan," kata Dokter Mahesa, dan mendorong tiga lembar kertas bermaterai ke seberang meja. "Saya tidak keberatan dengan pertanyaan. Saya keberatan kalau Anda menandatangani sesuatu yang belum dipahami."
Selasa siang, sehari sebelum operasi. Sejak catatan bengkel itu Aileen makan lebih banyak dari yang ia kira bisa, dan Bagas menambah satu kata baru ke kebiasaan hariannya: "Sudah makan?" Sekarang ruang konsultasi itu dingin, bau antiseptik, dengan lukisan abstrak yang tidak cocok dengan suasananya. Bagas duduk di sebelahnya, membaca lembar yang sama dari sisi kanan, bibir bergerak tanpa suara.
"Risiko pertama, pendarahan," ujar Mahesa, menyandarkan siku di meja. "Perut itu banyak pembuluh darah. Kami siapkan darah cadangan dan tim yang terlatih, tapi saya tidak akan berbohong bahwa itu mungkin terjadi. Kedua, sambungan antara lambung yang tersisa dan usus bisa bocor dalam beberapa hari pertama. Kalau terjadi, kita bertindak cepat dan kadang perlu operasi kedua."
Aileen mengangguk. Ia menatap jari-jarinya yang memegang pulpen. Jari itu tidak gemetar. Mungkin gemetar itu sedang tertunda.
"Ketiga, ginjal Anda." Mahesa menatapnya lurus. "Satu ginjal harus menjaga seluruh tubuh selama dan sesudah operasi. Cairan dan obat akan kami atur sangat ketat. Itu sebabnya saya bersikeras soal berat badan dan air minum. Kalau semua berjalan seperti rencana, ginjal itu tidak akan terganggu. Tetapi saya ingin Anda tahu daftarnya."
"Peluangnya?" tanya Bagas, dan suaranya lebih serak dari yang ia maksud.
"Sebagian besar pasien dengan kondisi seperti Aileen, setelah kemoterapi yang berhasil, melewati operasi tanpa komplikasi serius." Mahesa tidak mengalihkan pandangan dari Aileen. "Saya tidak bisa memberi jaminan seratus persen, dan saya tidak mau memberikan angka yang terdengar lebih pasti dari kenyataannya. Yang bisa saya janjikan hanya satu: kami akan mengerjakannya sebaik yang bisa dikerjakan manusia."
Hening. Dari lorong terdengar roda brankar lewat.
Aileen membaca halaman terakhir dan menemukan garis kosong di atas namanya yang diketik. Ia menarik napas. Menandatangani surat seperti ini rasanya aneh: bukan seperti membeli sesuatu, melainkan seperti mengakui sesuatu yang selama ini ia hindari. Bahwa ia ingin hidup cukup keras untuk menanggung risikonya.
Ia menggoreskan namanya. Tulisan tangannya lebih tegak dari yang ia duga.
"Terima kasih." Mahesa menarik berkas itu kembali. "Mulai pukul sepuluh malam ini, tidak ada makan dan minum, kecuali air putih sampai pukul enam pagi. Perawat akan menjemput besok pukul tujuh."
***
Pradipta datang pukul empat sore dengan seorang sopir yang membawa keranjang buah di belakangnya, dan ia sendiri berdiri di ambang pintu ruang tamu seperti tamu yang tidak yakin boleh masuk.
Aileen sedang duduk di sofa dengan selimut di pangkuan. Ia hampir berdiri, tetapi Cintya menekan bahunya dengan lembut. "Duduk, Nak."
"Om," sapa Aileen.
"Jangan bangun." Pradipta berjalan masuk, meletakkan keranjang di meja rendah, lalu berdiri canggung di sebelahnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang rapi, dengan wajah yang tampak lebih tua dari yang Aileen ingat dari meja makan malam itu. "Apel. Jeruk. Pir. Saya tidak tahu apa yang boleh kamu makan."
"Semuanya boleh, nanti sesudah operasi, Om. Sekarang saya puasa sampai besok."
"Ah." Pradipta tampak seperti baru kalah dalam ujian. Ia berdeham. "Kalau begitu... untuk sesudahnya."
Ada jeda yang terlalu panjang. Cintya menahan senyum di balik tangan. Bagas, di seberang ruangan, sengaja menatap jendela.
"Saya belum pernah melihat kamu sakit," Pradipta melanjutkan, dengan cara bicara orang yang sedang mencari jalan keluar. "Saya hanya pernah mendengar. Bagas bercerita. Cintya bercerita." Ia berhenti. "Orang yang menolak amplop saya tidak boleh kalah dari sebuah tumor."
Aileen mengerjap. "Itu sudah lama, Om."
"Saya masih ingat jawabannya." Pradipta menatapnya langsung, dan di sudut matanya ada sesuatu yang bukan dingin. "Menjual diri dua kali. Saya tidak pernah lupa kalimat itu."
Bagas memutar kepalanya setengah. "Ayah."
"Saya sudah memberikan buah, saya akan pergi." Pradipta mengangkat tangan. "Besok saya menunggu kabar dari Cintya. Jangan lupa mengabari."
"Tidak akan, Om."
Pria tua itu mengangguk sekali, kaku, lalu berbalik. Di pintu ia berhenti, tidak menoleh. "Cepat sembuh."
***
Malam turun terlalu cepat. Setelah makan terakhir pukul tujuh dan pelukan Cintya yang berlangsung lama, di mana Cintya menangis tanpa suara dengan wajah di bahu Aileen dan Aileen hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya dengan canggung, ia mengunci diri di kamar tamu dan membuka laci meja.
Di dalamnya ada tiga amplop kosong dan sebuah pulpen.
"Kamu menulis surat," bisik Aira, yang bersandar di dinding dekat jendela. Ia sudah berada di luar pintu tadi sampai Aileen mengizinkan masuk, sesuai kesepakatan mereka.
"Surat jaga-jaga."
"Itu kata yang buruk."
"Ada kata yang lebih baik?"
Aira mengerucutkan bibir. "Surat sampai jumpa."
Aileen tersenyum dan mulai menulis. Surat pertama untuk Denis: pendek, hati-hati, penuh nasihat soal skripsi yang jangan sampai ditunda, dan bahwa ia bangga. Surat kedua untuk Paman: ia menulis soal kalung, soal ginjal, soal Ningsih, dan menghapus dua kalimat yang terlalu sentimental. Surat ketiga ia mulai tiga kali sebelum pulpennya benar-benar bergerak.
Aira membaca dari balik bahunya. Pada baris keempat ia menutup mulut dengan telapak tangan, dan pada baris keenam ia membuang muka ke jendela.
"Ai..."
"Jangan baca kalau tidak mau menangis."
"Aku sudah menangis. Hantu bisa menangis." Aira menyeka pipinya. "Dia akan membacanya hanya kalau terjadi sesuatu, kan?"
"Hanya kalau terjadi sesuatu." Aileen melipat kertas itu dan memasukkannya ke amplop ketiga. Tangannya masih tidak gemetar.
Ketukan di pintu datang dua kali, pelan, seperti biasa. "Boleh masuk?"
Aira menghilang ke sudut gelap tanpa suara. Aileen menyelipkan amplop-amplop itu ke laci dan menutupnya. "Masuk."
Bagas masuk dan tidak duduk di kursi. Ia menurunkan tubuh ke lantai, punggung bersandar di kaki ranjang, kaki terlipat, tak lebih dari satu meter dari tempat Aileen duduk, tapi cukup jauh untuk tidak menyentuh. Ia menatap karpet.
"Aku tidak bisa tidur," ucapnya.
"Aku belum mencoba."
"Kamu takut?"
"Iya." Aileen tidak menghindar. "Aku takut bangun dan ternyata rasa sakitnya lebih parah. Aku takut tidak bangun. Aku takut Denis berdiri di lorong itu sendirian."
"Dia tidak sendirian."
"Aku tahu." Ia memiringkan kepala. "Kamu?"
Bagas lama tidak menjawab. Lampu meja menyorot sebagian wajahnya, dan Aileen melihat jakunnya naik turun.
"Aku sudah punya satu ranjang di rumah ini yang tidak ada orangnya," ujarnya akhirnya, nyaris tanpa suara. "Aku tidak mau punya dua."
Aileen menatapnya. Tidak ada kalimat yang pantas untuk menjawab itu, jadi ia hanya mengangguk, dan Bagas membaca anggukan itu seolah ia diberi sesuatu yang bisa dipegang.
Ia bangkit, perlahan, dengan tangan di lutut. Di pintu ia berhenti.
"Kamu akan bangun," katanya. "Itu perintah."