"Itu bukan bubur, itu semen," kata Aileen dari kursi dapur.
Bagas menatap panci di hadapannya. Isinya memang tidak encer. Sendok kayu yang ia pegang berdiri tegak di tengah-tengah adonan putih kekuningan, bergetar sedikit ketika ia melepaskannya, lalu bertahan.
"Resepnya bilang satu banding sepuluh."
"Resepnya bilang beras satu, air sepuluh." Cintya menyibak lengan baju dan merebut panci dari kompor. "Kamu menuang air satu, beras sepuluh? Bagas, Nak, Mama bilang gelas ukurnya yang bening, bukan yang itu."
"Dua-duanya bening."
"Yang itu gelas teh!"
Sudah enam hari sejak malam Daren makan di rumah ini. Berat badan Aileen naik setengah kilo di timbangan klinik pagi tadi, dan dapur yang dulu kosong sekarang berisi tiga orang dewasa dengan celemek dan pandangan putus asa. Mahesa meminta menu bergizi lunak sebelum operasi, dan Cintya memutuskan seluruh keluarga akan belajar membuatnya. Itu keputusan yang hanya bisa dilahirkan oleh seorang ibu yang kehabisan cara lain.
"Wortel dan labu dipotong kecil-kecil," perintah Cintya. "Aileen, kamu duduk saja. Jangan ikut campur."
"Aku cuma menonton."
"Dan memberi komentar."
"Itu kegiatan yang sah."
Bagas memotong wortel dengan hati-hati, setiap irisan sama tebal, seperti membedah sesuatu. Aileen memperhatikan tangannya, jari yang biasa memegang pena dan mengetik angka, kini menahan sayur dengan gemetar kecil. Ia bahkan tidak sadar sudah memperhatikan selama lima menit sampai Aira, yang bergelantungan di kusen pintu, berbisik, "Ai, mulutmu terbuka."
Aileen menutupnya.
Ia sudah berhenti menyangkal. Tadi sore, begitu gerbang bergeser tiga menit lebih awal dari jam Bagas biasa pulang, ia sudah separuh jalan menuruni tangga sebelum sadar ke mana kakinya pergi, dan Aira yang melihatnya dari kusen pintu hanya menaikkan satu alis.
"Kalau diaduk terus, bubur jadi lengket," kata Cintya. "Tunggu mendidih."
"Berapa lama?"
"Sampai Mama bilang."
Bagas memandang Aileen sekilas, mata yang nyaris bertanya apa yang kamu tertawakan, dan Aileen baru sadar ia memang sedang tersenyum.
***
Bubur kedua jauh lebih baik. Mereka makan bertiga di meja dapur, mengabaikan meja makan yang formal, dan Aileen menghabiskan satu mangkuk penuh. Bagas mengamati setiap suapan seperti pengawas ujian. Cintya pura-pura tidak melihat.
"Rasanya kurang garam," kata Aileen.
"Kamu tidak boleh banyak garam."
"Berarti kurang bumbu."
"Kamu tidak boleh—"
"Aku tahu, Bagas." Ia menyuap lagi. "Aku cuma komentator."
Bunyi bel pintu memotong perdebatan itu. Hampir bersamaan, ponsel Cintya bergetar di saku celemeknya. Ia melihat layar, berkata "Ayahmu," lalu membawa teleponnya ke ruang tengah sambil menutup separuh pintu. Beberapa saat kemudian Gio muncul di ambang dapur dengan map hijau di tangan dan wajah yang membuat suasana langsung berubah. Ia sudah melepas jas, lengan kemeja digulung, dan ada debu tipis di sepatunya, tanda ia datang langsung dari tempat yang bukan kantor.
"Maaf mengganggu, Pak."
Bagas meletakkan sendok. "Kamu dapat sesuatu."
"Catatan servis." Gio meletakkan map di meja, di antara mangkuk. "Bengkel langganan keluarga Pak Pradipta, yang di pinggir kota. Bengkel itu tutup dua tahun lalu, tapi pemiliknya masih menyimpan buku besar. Saya menemui pemiliknya tadi siang."
Aira sudah turun dari kusen dan berdiri di sisi Aileen. Dari ruang tengah suara Cintya masih terdengar samar, berbicara dengan nada menghibur kepada suaminya.
Bagas membuka map. Selembar fotokopi buku besar bergaris biru, tulisan tangan berdesakan dalam kolom-kolom yang sudah memudar. Gio menunjuk satu baris dengan pulpen.
"Sore sebelum kecelakaan. Mobil sedan Pak Bagas, plat ini. Pekerjaan: periksa rem. Tidak ada janji, tidak ada permintaan servis resmi. Di kolom paraf, Pak Darsa menulis namanya sendiri." Gio mengatur suaranya supaya tetap datar. "Pemilik bengkel bilang mobil keluarga Pak Pradipta biasanya selalu masuk dengan perintah kerja. Hari itu tidak ada. Pak Darsa hanya bilang ia 'cek rutin' dan memakai lift bengkel sendirian."
Aira, di sisi Aileen, mengatupkan tangannya di depan mulut. "Cek rutin," bisiknya. "Itu kata-katanya."
Aileen menahan napas. "Itu persis yang kudengar di garasi," lanjut Aira pelan, hanya untuknya, "dan suara perempuan itu sesudahnya."
"Gio," kata Bagas tanpa mengangkat mata dari kertas. "Bagaimana kamu bisa menemukan bengkelnya?"
"Dari alamat yang saya dapat waktu mencari Pak Darsa. Nama bengkelnya muncul juga di tagihan lama arsip rumah Pak Pradipta, tiga kali dalam lima tahun, jadi saya yakin itu tempat yang benar." Gio ragu sedikit. "Pak Pradipta tidak tahu saya membuka arsip itu. Kalau Pak Bagas berkenan, saya ingin itu tetap begitu sampai ada alasan memberi tahu."
"Belum," putus Bagas. "Ayah akan langsung menelepon Hendra, dan Hendra akan menyebut Viona. Kita belum punya orangnya."
"Baik, Pak." Gio melanjutkan. "Seorang teman lama Pak Darsa, mantan montir di bengkel itu, bercerita Pak Darsa sempat pamit seminggu setelah kecelakaan. Katanya ia pindah ke kota kecil sekitar dua jam dari sini, tapi tidak memberi alamat, dan nomornya tidak aktif lagi. Orang tidak mau bicara banyak karena ia pergi sambil menangis." Gio menutup map. "Saya belum punya alamat. Tapi arahnya sekarang ada."
Bagas menatap barisan tulisan di fotokopi itu sangat lama. Rahangnya mengeras lalu mengendur, seperti seseorang yang berjuang menelan sesuatu yang besar. Aileen mengenal ekspresi itu. Ia melihatnya malam mereka mulai menyadari rem lunak.
"Bagas," ujarnya.
"Aku tidak akan membanting kursi," katanya cepat, tanpa menoleh. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri."
"Aku tidak bilang kamu akan."
"Tapi kamu melihatku seolah aku akan."
"Aku melihatmu supaya kamu tahu aku di sini."
Hening beberapa detik. Lalu Bagas menutup map dengan telapak tangan dan menghela napas panjang. "Setelah kamu pulih, kita cari dia bersama."
"Kita?"
"Kamu yang bisa membuatnya bicara. Aku tidak." Ia menoleh akhirnya, matanya merah tetapi jernih. "Aku tidak mau mencarinya sendirian. Dan aku tidak mau mencarinya sebelum kamu cukup kuat. Operasimu lebih penting daripada orang itu."
Aileen mengangguk pelan. Bubur di mangkuknya sudah dingin dan ia tidak tahu apakah ia masih bisa menghabiskannya.
"Makan," ujar Bagas tiba-tiba, menunjuk mangkuk dengan dagu. "Itu juga perintah Mahesa."
"Kamu mau aku makan sambil mendengar ini?"
"Kamu mau operasi dengan perut kosong karena mendengar ini?"
Aileen mendesah dan mengambil sendoknya. Dari sudut matanya ia melihat Aira tersenyum samar di antara air mata, dan di seberang meja Bagas mengikuti setiap suapan dengan mata yang masih merah.
Gio mengambil kembali map itu. "Besok saya ke kota itu," katanya. "Saya kabari sesudah operasi."