Kamis malam yang ia janjikan di telepon tiba, lima hari sesudah Bagas menyalakan pengeras suara di teras atap. Daren berdiri di depan pintu rumah Bagas dengan sekantong jeruk dan kegugupan yang tak masuk akal untuk seorang dokter yang sudah menyaksikan ratusan operasi.
Pintu dibuka oleh Aileen sendiri, bukan oleh pelayan. Topi rajut abu-abu, syal tipis, kardigan kebesaran. Ia lebih kurus dari terakhir kali Daren melihatnya di ruang periksa, tetapi pipinya sedikit berwarna.
"Kamu membawa jeruk," ujar Aileen. "Seperti orang yang menjenguk."
"Aku menjenguk." Daren menyerahkan kantong itu. "Pasien yang tidak mau makan itu penyakit paling sulit kusembuhkan."
"Siapa yang bilang aku tidak mau makan?"
"Mahesa. Lewat telepon. Tiga kali."
Aileen mendengus, tapi sudut matanya melembut. Ia membuka pintu lebih lebar. Dari dalam mengambang bau tumis kangkung dan ikan bakar. "Masuk. Bagas sudah menunggu di meja dengan wajah seperti hakim."
Itu kurang tepat. Ketika Daren memasuki ruang makan, Bagas lebih mirip seseorang yang sudah menata kursi, piring, dan serbet dalam pola simetris, lalu tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan dengan tangannya. Tante Cintya tidak ada. Ia menginap di rumah Paman Pradipta, kata Aileen, karena Paman sedang kurang sehat. Jadi meja panjang itu hanya diisi tiga orang, dan itu justru terasa lebih ramai dari jamuan mana pun.
Makan malam berjalan lebih baik dari yang Daren duga. Aileen menghabiskan satu piring nasi dan setengah piring kedua, dengan Bagas yang diam-diam menambahkan lauk ke piringnya setiap kali ada ruang kosong. Hanya sekali Aileen menusuk lengan Bagas dengan sendok dan berkata, "Aku bisa ambil sendiri." Hanya sekali Bagas menjawab, "Aku tahu," lalu tidak berhenti.
Daren memotong ikannya dan memikirkan hal yang sudah lama tak ia izinkan masuk kepala: Aileen duduk di sini dengan kepercayaan yang tidak ia berikan kepada siapa pun saat pertama datang ke rumah sakit. Dan itu bukan karena dirinya.
"Aku mau bicara sebentar dengan Bagas," ujarnya selepas pencuci mulut. "Berdua. Di teras."
Aileen menatap bergantian pada mereka, lalu mengangkat tangan menyerah. "Aku cuci piring."
"Biar kubantu," kata Bagas.
"Kalau kamu bantu, piringnya pecah. Pergi sana."
***
Teras belakang berpagar kayu dan lampu temaram. Daren bersandar di sana dengan lengan terlipat, sementara Bagas berdiri agak jauh di sisi lain, memandang taman. Cukup lama tidak ada yang bicara. Sejak kecil mereka selalu begitu. Dua sepupu yang paling rapat justru yang paling pandai berdiam diri bersama.
"Aku pernah mengagumi Aira," ujar Daren akhirnya.
Bagas tidak menoleh. "Aku tahu."
"Kamu tahu?"
"Kamu selalu terlalu sopan kalau ia ada di dekatmu." Ada sedikit nada geli di suaranya, getir. "Aku tidak keberatan. Ia juga mengagumimu. Sebagai adik."
Daren tertawa pendek. "Baiklah." Ia menatap ujung sepatunya. "Sekarang aku mengatakan ini sekali saja dan tidak akan mengulangnya. Aku sempat tertarik pada Aileen."
Bahu Bagas menegang, hanya sedikit. "Sempat."
"Kata kerjanya lampau." Daren mengangkat kedua tangan. "Aku tidak pernah menyatakan apa-apa, tidak akan, dan kamu bisa berhenti menahan napas. Tapi kamu harus dengar dari mulutku, bukan menebak."
"Kenapa sekarang?"
"Karena aku pernah melihat ia memilihmu. Bukan memilih rumah ini, bukan memilih uangmu." Daren mendongak. "Waktu siklus terakhir aku melintas di depan ruang infus. Dia mencari kursi di sebelahnya dengan matanya, berkali-kali. Kursi itu kosong, dan wajahnya seperti orang yang kehilangan sesuatu yang belum ia akui."
"Aku tidak ada di sana."
"Itu yang membuatnya jelas."
Bagas diam. Kemudian ia berkata, nyaris berbisik, "Kontrak itu dulu pemerasan."
"Aku tahu."
"Aku memanfaatkan utang ibunya. Aku mengancamnya lewat adiknya. Aku..."
"Aku tahu, Bagas." Daren menurunkan suaranya. "Aku sudah tahu sejak hari pertama dia bilang 'Aku yang memilih' dengan wajah yang tidak percaya pada kalimatnya sendiri. Kenapa kamu pikir aku tidak pernah memukulmu?"
"Karena kamu dokter dan tidak suka darah."
"Karena dia memilih." Daren menatapnya lurus. "Aku diam karena dia memilih, dan aku menghormati itu. Tapi hormatku bersyarat. Kalau kamu menyakitinya lagi, bukan lewat ancaman, bahkan lewat tiga detik pun, aku akan mengambilnya pulang. Dengan ambulans kalau perlu."
Bagas tersenyum, kecil dan lelah. "Itu sumpah yang adil."
"Aku belum selesai." Daren menatapnya. "Kamu sendiri maunya apa?"
"Maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kamu menaruh dua piring, memindahkan rapat, membeli teleskop. Itu bukan perilaku orang yang sekadar memegang kontrak."
Bagas lama tidak menjawab. Dari dalam rumah terdengar denting piring yang disusun, dan ia menoleh ke sana sebentar sebelum kembali memandang taman gelap.
"Aku belum bisa menjawab," katanya akhirnya. "Bukan karena aku tidak tahu. Aira masih ada di rumah ini, Daren. Kalau aku bicara sekarang, siapa pun yang mendengar, termasuk dia, akan menyangka itu pelarian dari duka. Aku tidak mau Aileen menjadi tempat aku lari."
Daren memandang sepupunya lebih lama dari biasa. Dulu Bagas yang ia kenal akan berkata aku tidak mau atau aku mau dalam satu tarikan napas, tanpa pertimbangan, tanpa pihak lain. Laki-laki di depannya sekarang sedang menimbang orang lain sebelum dirinya sendiri.
"Itu jawaban yang bagus," ujarnya pelan. "Jangan menunggu terlalu lama."
"Dan satu hal lagi." Daren mendorong badannya dari pagar. "Dia akan operasi Rabu. Setengah hidupnya dipertaruhkan di meja itu, dan aku tidak akan ada di ruangan itu sebagai dokternya. Aku hanya akan ada di luar, seperti kamu. Jadi jangan membuang satu hari pun."
"Aku tidak."
"Bagus."
***
Di dapur, Aileen menggosok piring terakhir lebih lama dari perlu. Pintu kaca ke teras tertutup rapat, tetapi suara laki-laki merambat lewat celah di bawahnya, potongan-potongan yang tidak utuh: aku sempat tertarik, aku diam karena dia memilih, dengan ambulans kalau perlu.
Wajahnya panas. Ia mengeringkan tangan di celemek dan berdiri tak tentu arah.
"Mereka bertengkar," bisik Aira, yang bersandar pada meja dapur dengan lengan terlipat dan wajah cemas.
"Itu bukan bertengkar," balas Aileen tanpa suara, hanya gerak bibir.
"Mereka bertengkar karena kamu, Ai."
"Mereka berbicara. Itu beda."
"Mereka tidak pantas bertengkar karena kamu." Aira mengusap lehernya yang tak ada. "Itu... Itu bukan salahmu."
"Aku tahu."
"Sungguh?"
Aileen menatap bayangan dua laki-laki di balik kaca buram, satu bersandar, satu berdiri tegak, dan tidak ada yang meninggikan suara. Ia merasa hangat dan aman di rumah ini, dan justru itu yang membuatnya waspada.
Pintu kaca bergeser. Daren masuk lebih dulu, matanya sedikit merah tetapi senyumnya mantap, dan Bagas di belakangnya.
"Aku pamit." Daren mengambil kunci mobil dari meja. "Mahesa minta berat badanmu naik sebelum operasi, Aileen. Bagas, jangan biarkan dia melewatkan makan."