Lima hari sesudah infus keempat, mualnya datang dan pergi, bubur Cintya jarang habis dalam sekali duduk, dan Aileen melewatkan satu sesi malam tanpa ada yang marah. Sabtu pagi, di ruang periksa Dokter Mahesa, hasil CT ulang terbentang di layar dalam gradasi abu-abu yang tidak ia mengerti.
"Ini sebelum siklus pertama." Mahesa menunjuk sebuah bayangan padat di tengah layar dengan ujung pena. "Dan ini sekarang."
Bayangan itu masih ada. Tetapi ukurannya sudah jauh lebih kecil, tepinya tidak lagi sekasar dulu.
"Tumornya menyusut lebih banyak dari perkiraan saya." Mahesa bersandar. Suaranya tenang dan lugas seperti biasa, seakan ia sedang membahas jadwal kereta, bukan benda yang pernah menentukan sisa hidup seseorang. "Empat siklus sudah cukup. Operasi pengangkatan sebagian lambung bisa dilakukan Rabu delapan belas hari lagi. Saya sudah mengecek ketersediaan ruang dan tim."
Aileen menggenggam tepi kursinya. "Delapan belas hari."
"Cukup bagi tubuh Anda untuk pulih dari kemoterapi, dan belum cukup bagi tumornya untuk berubah pikiran." Mahesa menoleh pada Bagas, yang duduk di kursi sebelah dengan punggung kaku dan tangan terkatup di pangkuan. "Pak Bagas, saya akan menjelaskan risikonya secara terperinci minggu depan. Hari ini saya hanya ingin Aileen mendengar tanggalnya."
"Rabu," ulang Bagas.
"Rabu."
"Apa yang harus kami lakukan sampai hari itu?" tanya Bagas. Nadanya seperti orang yang meminta daftar tugas supaya tangannya punya pekerjaan.
"Makan. Tidur. Berat badannya harus naik, dan hanya itu yang bisa dibantu dari rumah." Mahesa menulis sesuatu di berkas. "Kemoterapi tidak ada lagi. Ginjal tunggalnya tetap dipantau, jadi minum air sesuai takaran dan jangan beli obat apa pun tanpa bertanya. Selain itu Anda hanya perlu menjadi orang yang membuatnya mau makan."
"Itu bisa," ucap Bagas, dan Aileen melihat tangannya yang terkatup mengendur.
"Dok." Aileen menelan ludah. "Saya... boleh takut?"
Mahesa mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. "Itu jawaban yang paling waras yang pernah saya dengar dari pasien hari ini."
***
Mereka tidak langsung pulang. Gio tadinya akan menyetir, tetapi Bagas yang meminta kunci mobil, dan Gio menyerahkannya dengan alis terangkat sedikit. Di tikungan kedua dari rumah sakit, Bagas membelokkan mobil ke jalan kecil yang diapit pohon trembesi dan memarkir di tepi sebuah taman kota yang hampir kosong.
"Kenapa berhenti?"
"Aku butuh udara." Bagas keluar duluan. "Kamu juga."
Taman itu sepi pada jam segitu. Beberapa pengasuh mendorong kereta bayi, seorang bapak tua menyiram tanaman, dan di tengah ada kolam kecil berair keruh dengan bangku semen mengelilinginya. Mereka duduk di dua ujung bangku yang sama, satu lengan jarak di antaranya, dan untuk beberapa saat tak ada yang bicara.
"Jadi Rabu," kata Aileen.
"Jadi Rabu."
"Kamu bengong sepanjang jalan."
"Aku menghitung." Bagas menatap kolam. "Delapan belas hari. Aku mencoba mencari kemungkinan buruk yang belum kupikirkan."
"Ketemu?"
"Banyak." Ia mengusap tengkuknya. "Kamu tahu aku tidak pandai menghibur, kan?"
"Kamu pernah mencoba menghibur?"
"Waktu Aira menangis karena kucingnya mati. Aku bilang kucing itu sudah tua dan hidupnya lama." Bagas meringis. "Ia memukulku dengan bantal."
Aileen tertawa pendek sebelum sempat menahan. "Kamu pantas dipukul."
"Aku tahu." Bagas melirik. "Omong-omong, toplesnya."
"Toples apa?"
"Toples dendanya. Aku hitung tadi pagi. Dua juta." Ia memasang wajah serius yang berlebihan. "Aku berhasil tidak mengucapkan kata itu sejak malam jamuan. Lebih dari sebulan. Aku mulai merasa bersalah karena anak-anak panti tidak mendapat pemasukan baru."
"Kamu sedih karena tidak bisa menyumbang?"
"Aku sedih karena tidak lagi punya alasan mengeluarkan uang tunai di depanmu." Ia mengatakannya datar, nyaris tak terdengar seperti lelucon, dan baru ketika Aileen menatapnya dengan mulut setengah terbuka, bahunya bergetar dan tawa rendah lolos dari dadanya. Singkat, canggung, seperti mesin tua yang baru dinyalakan.
Aileen ikut tertawa lagi, kali ini sampai matanya berair. Seorang pengasuh menoleh dan menatap mereka, lalu sibuk lagi dengan bayinya.
"Kamu aneh," ucap Aileen setelah napasnya teratur.
"Kamu tidak keberatan."
"Aku belum memutuskan."
***
Malam itu Bagas mengajaknya naik ke teras atap. Aileen mengira ia hanya akan menemani Bagas mencari udara, tetapi di sudut dekat pagar berdiri sebuah benda panjang di atas tripod hitam, kedua kakinya terkunci rapat, lensanya mengarah ke langit utara.
"Itu apa?"
"Teleskop." Bagas berjongkok dan menyesuaikan satu sekrup kecil, tangannya agak kaku. "Kubeli kemarin sore. Penjualnya bilang pemula butuh yang diameternya lebih kecil, tapi aku tidak mau yang kecil."
"Kamu beli yang mahal."
"Aku beli yang bisa melihat dengan jelas." Ia berdiri dan menepi dari lensa. "Silakan. Pakai ini dulu." Ia melepas jaketnya, memegangnya setinggi dada. "Boleh?"
Aileen mengangguk. Bagas menyampirkan jaket itu di bahunya tanpa menyentuh kulitnya sama sekali, hanya kain di atas kain, lalu mundur setengah langkah. Jaket itu hangat dan berbau sabun cuci, bukan parfum. "Sekarang cari Orion. Aku sudah mencoba sendiri dan hanya menemukan sesuatu yang kurasa lampu pesawat."
Aileen mendekat. Besi di bawah telapak kakinya dingin. Lampu kota di kejauhan membuat langit memutih di sebelah selatan, tetapi di utara, di atas sederet atap seng dan antena, bintang-bintang cukup terang. Ia menunduk ke lensa, memejamkan satu mata, dan menggeser sedikit tabung teleskop.
"Pelan-pelan," gumamnya, lebih kepada diri sendiri. "Ayah bilang cari tiga yang paling lurus. Jangan buru-buru."
"Ayahmu mengajarimu ini?"
"Di halaman belakang. Aku naik di bahunya karena belum cukup tinggi." Satu titik terang bergeser ke tengah lensa, lalu satu lagi. "Dia nggak punya teleskop. Cuma jari. Dia bilang, kalau kamu bisa menemukan sesuatu dengan mata sendiri, kamu tidak akan pernah merasa kehilangan arah."
Di bawah, di jendela lantai dua yang menghadap teras, bayangan Aira berdiri di balik kaca. Ia tidak berani naik lebih tinggi, tetapi wajahnya menempel pada jendela dengan binar yang tak butuh kata.
"Ketemu," bisik Aileen. Tiga bintang berjajar, tajam, jelas. Ia menyingkir dari lensa. "Lihat."
Bagas menunduk. Diam cukup lama.
"Kamu dulu bilang hari yang indah untuk mati," ucapnya akhirnya, tanpa mengangkat kepala.
Aileen menatap punggungnya. Angin membawa bau besi dan debu. Beberapa saat ia menimbang berbagai kalimat, tetapi tidak ada yang lebih jujur daripada satu.
"Dulu."
Bagas menegakkan badan perlahan. Ponsel di sakunya berdering tepat pada saat itu, nada nyaring yang mengiris ketenangan, dan ia mengeluarkannya dengan alis berkerut. Di layar tertera nama Daren. Ia mengaktifkan pengeras suara karena Aileen berdiri tepat di sebelahnya.
"Bagas, Aileen ada di situ?" Suara Daren terdengar riang dan sedikit terengah. "Jangan putus. Aku makan malam di rumah kalian hari Kamis."