Kursi lipat di sebelah ranjang infus itu kosong.
Aileen sudah tahu akan begitu. Gio berdiri di dekat tirai, mengisi formulir, dan perawat yang sama dengan dua siklus lalu sedang memasang jarum di punggung tangan kirinya. Tidak ada yang salah. Tetapi sejak ia duduk, matanya sudah tiga kali melirik kursi itu, lalu cepat-cepat ke langit-langit.
"Ketiga," sebuah suara cempreng berkata dari sisi kanan. "Aku hitung."
Rachel duduk di ujung ranjang dengan kaki bersilang, rambut pirang pucatnya berkilau samar di bawah lampu neon. Di sudut ruangan, Mardiana merajut dengan tenang, jarum bergerak tanpa suara.
Aileen menatap langit-langit lagi, berpura-pura.
"Mana suamimu?" lanjut Rachel dengan nada paling polos. "Biasanya dia duduk di situ seperti satpam yang ketakutan. Aku sudah siapkan komentar."
"Bocah," tegur Mardiana tanpa mengangkat mata. "Biarkan dia."
"Aku cuma bertanya, Bu Mar."
Aileen menggerakkan bibir tanpa suara, cukup agar mereka paham. Dia kerja. Gio ada di dekat sini, perawat ada. Ia tak bisa menjawab lebih panjang dari itu.
"Dia kerja," ulang Rachel, tak percaya. "Orang yang kerja nggak sampai tiga kali melirik pintu waktu perawat lewat, Bocah Gila. Itu bukan kerja. Itu kamu yang menunggu."
Mardiana akhirnya menaikkan wajahnya. "Nak, dengarkan Ibu. Orang yang pergi karena butuh waktu tidak perlu menjelaskan apa pun. Kamu hanya perlu mendengarkan dirimu sendiri."
Aileen menarik napas, menatap tetesan bening yang jatuh ke selang. Ya, ia mendengarkan. Dan dirinya sendiri sedang berbicara lebih keras dari yang ia kira.
***
"Pulang ke mana?" tanya Gio ketika mereka sudah di mobil, tangannya di kemudi, mesin menyala tapi belum bergerak.
Aileen menatap kaca depan. Matahari siang menimpa dasbor, memantul di logam bundar kalung di lehernya. Ia sudah menyiapkan jawaban sepanjang malam dan sepanjang jalan ke rumah sakit, dan sekarang tak ada yang cocok.
"Kamu sudah tahu, kan?"
"Saya tahu apa yang Aileen bilang kemarin malam." Gio menoleh sedikit. Di sudut bibirnya ada gerak yang hampir menyerupai senyum. "Saya hanya memastikan itu masih berlaku."
"Berlaku."
"Rumah Pak Bagas?"
Aileen mengangguk. Kepalanya terasa ringan dan agak pusing, entah karena infus atau karena hal lain. "Tapi pelan-pelan. Kalau dia nanya, kamu antar aku karena itu rute pulang dari rumah sakit. Bukan karena keputusan."
"Itu memang rute pulang dari rumah sakit," ujar Gio, dan memasukkan gigi.
***
Rumah itu tampak sama. Gerbang besi, taman belakang yang mulai dirapikan tukang kebun, pot-pot kaktus Denis berjejer di ambang jendela kamar tamu yang bisa dilihat dari halaman. Tetapi ketika mobil memasuki pekarangan, Aileen melihat hal yang membuat jantungnya mengencang: mobil Bagas sudah terparkir di tempatnya. Jam baru menunjuk pukul tiga.
Bagas berdiri di teras dengan jas di lengan, dasi dilonggarkan. Ia tidak bergerak mendekat. Hanya berdiri, seperti seorang yang sedang menunggu hasil ujian yang tidak bisa ia pengaruhi.
Gio menurunkan jendela dan, dengan kepekaan yang hampir mengagumkan, mengangguk kepada Bagas lalu memarkir mobil di sisi garasi dan pergi lewat pintu samping tanpa menoleh.
Aileen turun. Kakinya sedikit goyah, dan ia berhenti di anak tangga pertama, memegang pagar teras.
"Kamu pulang cepat," katanya.
"Rapatnya kupindahkan." Bagas mengangkat bahu sedikit, gerak yang tak tampak santai. "Aku tidak bisa duduk di kantor sambil menebak apakah Gio akan membawamu ke sini atau ke sana."
"Kamu makan?"
"Kemarin dan tadi pagi." Ia mengatakannya seperti melapor kepada dokter. "Di meja makan, dengan Mama. Dua piring. Gio pasti cerita."
"Gio sudah cerita kemarin."
"Aku menyuruhnya jangan." Bagas mendengus pendek. "Dia tetap cerita. Dia selalu begitu kalau menurutnya penting."
Aileen menaiki satu anak tangga lagi. Dua. Mereka kini hanya berjarak dua langkah.
"Aku kembali," ujarnya, pelan dan jelas, supaya tidak ada yang bisa disalahartikan. "Bukan karena kontrak. Bukan karena aku nggak punya tempat lain. Aku punya Paman, aku punya Denis. Pintunya terbuka dan aku yang masuk."
Bagas menatapnya begitu lama hingga Aileen mengira ia tidak mendengar. Lalu ia menarik napas, dalam, gemetar di ujung, dan mengangguk.
"Terima kasih," ucapnya, hampir tak bersuara.
"Tapi ada aturan baru."
"Apa pun."
"Jangan bilang apa pun sebelum dengar." Aileen mengangkat satu jari. "Pertama, sesi malam tidak wajib lagi. Kalau aku capek, aku boleh bilang tidak, dan kamu tidak boleh marah atau ngambek."
"Aku tidak ngambek."
"Kamu ngambek di ruang kerja waktu aku bilang kamu cengeng. Dua hari."
"Kalimat itu tidak salah." Bagas mengerutkan dahi. "Baik. Kedua?"
"Kamu boleh bertanya. Apa pun. Soal obat, soal Aira, soal aku. Tapi aku boleh tidak menjawab."
"Itu adil."
"Ketiga..." Aileen melirik jendela kamar tamu. "Nanti kupikirkan. Aku simpan dulu."
"Boleh."
Bagas merogoh saku celana dan mengeluarkan sesuatu yang berkilau kecil. Sebuah kunci perak dengan gantungan kulit sederhana, tanpa label. Ia tidak mengulurkannya langsung. Ia mengangkatnya setinggi dada dan menunggu.
"Ini kunci pintu depan," ujarnya. "Duplikat. Bukan supaya kamu keluar-masuk dengan izinku, tapi supaya kamu tidak perlu mengetuk. Rumah ini bukan penjara. Kalau kamu bosan padaku, kamu bisa masuk dan pergi tanpa harus berpapasan denganku."
"Kamu serius."
"Boleh?"
Aileen menengadahkan telapak tangan. Bagas meletakkan kunci itu tanpa menyentuh kulitnya, hanya menjatuhkannya dari jarak satu jengkal. Logamnya dingin dan lebih berat dari kelihatannya.
Sebuah pekik pecah dari taman, dari balik pot besar di pojok teras. "Ai! Ai! Kamu pulang!"
Aira melesat keluar dari balik pot, rambut ikalnya melayang, kedua tangan terangkat tinggi. Ia melompat-lompat di tempat seperti anak kecil yang dijanjikan hadiah, memekik tanpa suara bagi siapa pun selain Aileen, dan berputar mengelilingi mereka berdua sampai gaunnya mengembang. "Dia menunggu di teras dari jam dua! Dari jam dua, Ai! Dia sampai pindahin pot dua kali!"
Aileen menutup mulut dengan punggung tangan.
"Ada apa?" Bagas mengerutkan kening.
"Aira bilang kamu sampai pindahin pot dua kali."
Bagas menatap pot di dekat kakinya, lalu ke arah kosong tempat Aileen memandang. Telinganya memerah, merembet ke leher.
"Itu bukan... aku cuma..."
Aileen tertawa. Ia tidak sempat menahannya. Tawanya pecah, keras, tidak anggun, memantul di lantai teras dan membuat seekor burung terbang dari pagar. Bagas menatapnya seperti menatap sesuatu yang sudah lama ia dengar dalam mimpi dan baru kini nyata. Bahunya melemas, dan sudut bibirnya tertarik ke atas, canggung, kaku, seperti otot yang lama tak dipakai.
Aira berhenti berputar dan memeluk dirinya sendiri, tersenyum sampai matanya basah.
"Masuklah," kata Bagas akhirnya. "Mama sudah memasak. Aku..." Ia berdeham dan menegakkan punggung. "Sabtu ini Dokter Mahesa memeriksa ulang dan menetapkan tanggal operasi."